NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Mata Ketiga di Balik Kanvas

​Lampu merah kecil itu berkedip lambat. Berdenyut seperti detak jantung mekanis yang sedang menertawakan kebodohanku.

​Aku berdiri mematung di tengah ruang tamuku sendiri. Udara di penthouse mewah ini mendadak terasa ditarik keluar, menyisakan ruang hampa yang mencekik paru-paruku. Di balik lukisan abstrak—hadiah ulang tahun terakhir dari mendiang Adrian—tertanam sebuah lensa kamera seukuran kancing kemeja dan sebuah modul pemancar hitam yang menempel rapi di dinding.

​"Ssst..." Bumi mengangkat satu jarinya ke bibir, memberikan isyarat mutlak agar aku tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun.

​Matanya yang tajam menyapu perangkat itu dengan cepat, menilainya. Dia tidak langsung mencabutnya. Sebaliknya, Bumi meletakkan laptopnya di atas lantai, jemarinya terbang di atas keyboard tanpa menimbulkan suara berisik. Baris-baris kode hijau dan putih berlarian di layar hitam, memantulkan cahaya redup ke wajahnya yang mengeras oleh konsentrasi.

​Aku hanya bisa melihat dalam diam. Kakiku mulai gemetar. Setiap kali lampu merah itu berkedip, aku merasa seperti ditelanjangi.

​Berapa lama benda itu ada di sana? Sebulan? Setahun? Sejak Adrian meninggal??

​Pikiranku berputar liar bagai gasing yang lepas kendali. Apakah seseorang menontonku saat aku menangis sendirian di sofa itu?! Apakah mereka mendengar setiap keluh kesahku?! Apakah mereka... melihatku saat aku mengira aku sendirian?! Rasa jijik dan ngeri merayap naik dari ujung kaki hingga ke pangkal tenggorokanku, memicu rasa mual yang luar biasa.

​Klik. Bumi menekan tombol Enter untuk terakhir kalinya.

​"Selesai," bisik Bumi lega. Dia berdiri, lalu dengan tenang mencabut perangkat kecil itu dari dinding.

​Aku terkesiap, mundur selangkah. "Kau... kau mencabutnya? Bukankah mereka akan tahu?"

​"Saya baru saja menyuntikkan looping script ke frekuensi mereka," jelas Bumi, suaranya kini kembali normal. Dia meletakkan alat penyadap itu di atas meja kaca, menatapnya dengan jijik. "Untuk dua belas jam ke depan, siapa pun yang menonton dari ujung sana hanya akan melihat rekaman ruang tamu kosong dan mendengar suara dengung pendingin ruangan. Mereka tidak tahu kalau mata mereka sudah kita butakan."

​Aku menatap alat kecil itu. Sebuah benda sekecil koin yang berhasil merenggut sisa-sisa kewarasanku.

​Tiba-tiba, pertahananku runtuh. Lututku kehilangan daya topangnya. Aku merosot jatuh ke atas karpet wol tebal, memeluk kedua lututku sendiri. Udara seolah menolak masuk ke paru-paruku. Aku mencoba menarik napas, tapi yang keluar hanyalah suara isakan tertahan yang menyedihkan.

​"Aruna?!" Suara Bumi berubah, dari tenang menjadi penuh kekhawatiran.

​Aku menggelengkan kepala, menyembunyikan wajahku di antara kedua lutut. "Setiap jengkal privasiku... mereka mengulitiku, Bumi. Rumah ini... ini satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu memakai topeng sialan itu. Dan mereka ada di sini. Di tempatku."

​Panic attack. Aku tahu apa ini. Aku pernah mengalaminya tepat di hari pemakaman Adrian. Rasanya seperti tenggelam di tengah lautan gelap dengan batu besar terikat di kakiku.

​Sebuah bayangan menutupi cahaya lampu ruang tamu. Bumi ikut duduk bersimpuh di depanku. Dia tidak langsung menyentuhku—sebuah kebiasaan yang mulai kupahami sebagai bentuk penghormatan terbesarnya terhadap batasan kami.

​"Aruna, dengarkan saya," suaranya mengalun, rendah, dalam, dan dipenuhi otoritas yang lembut. "Tarik napas perlahan. Fokus pada suaraku."

​Aku menggeleng. Dada ini terlalu sesak. "Bagaimana jika ada di kamar mandi?! Bagaimana jika ada di kamarku?! Bumi, aku tidak bisa... aku tidak aman—"

​"Aruna!."

​Kali ini, panggilannya lebih tegas. Aku mendongak, menatapnya dengan mata yang kabur oleh air mata ketakutan.

​"Izinkan saya," ucapnya pelan, membalas tatapanku dengan intensitas yang menghentikan isakanku sejenak.

​Tanpa menunggu jawaban verbal—karena dia sudah membaca keputusasaanku—Bumi mengulurkan kedua tangannya dan menggenggam kedua pergelangan tanganku. Sentuhannya hangat dan kokoh. Dia tidak menarikku ke dalam pelukan romantis yang tidak pada tempatnya; dia hanya memberikan sebuah jangkar fisik yang sangat kubutuhkan.

​"Lihat mata saya," perintahnya lembut.

​Aku mematuhi. Di dalam sepasang mata cokelat gelap itu, aku tidak melihat seorang bawahan, aku tidak melihat pria asing. Aku melihat seorang pelindung.

​"Tarik napas bersama saya. Satu... dua... tiga..." Bumi menarik napas panjang, memberikan contoh.

​Aku mengikutinya dengan gemetar. Udara perlahan mulai masuk.

​"Buang perlahan. Bagus." Ibu jari Bumi mengusap pelan denyut nadiku di pergelangan tangan, sebuah ritme menenangkan yang mengusir kepanikan. "Anda aman sekarang. Tidak ada kamera lain. Saya sudah memindai seluruh frekuensi elektromagnetik di apartemen ini saat saya mencari arah kiblat tadi. Hanya ada satu, dan benda itu sudah mati."

​"Kau yakin?" bisikku, suaraku serak dan menyedihkan.

​"Saya berani bersumpah demi nama Allah, Aruna. Rumah ini sudah aman. Anda aman bersama saya malam ini," ucapnya tanpa keraguan sedikit pun.

​Kehangatan dari kata-katanya meresap ke dalam dadaku yang dingin. Dia melepaskan pergelangan tanganku perlahan, seolah memastikan aku sudah bisa bernapas sendiri sebelum benar-benar melepaskannya.

​Aku menunduk, menghapus sisa air mata di pipiku dengan kasar. "Maaf. Kau pasti muak melihat bosmu menangis tersedu-sedu di lantai seperti anak kecil."

​Bumi tersenyum tipis—sebuah senyum tulus pertama yang ia berikan padaku tanpa beban. "Saya sedang tidak melihat bos saya, Aruna. Saya melihat istri saya yang sedang ketakutan, dan adalah tugas saya untuk menenangkannya."

​Jantungku berdenyar hebat. Kata-kata itu diucapkannya dengan begitu natural, tanpa maksud merayu, murni keluar dari tanggung jawab spiritualnya.

​"Terima kasih," balasku lirih.

​Bumi berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku bangkit. Setelah aku berdiri, dia berbalik menuju laptopnya. "Istirahatlah, Aruna. Hari ini Anda sudah bertarung layaknya panglima perang di kantor. Malam ini, biar saya yang berjaga."

​Aku menatap punggungnya yang tegap saat ia duduk bersila di atas karpet, menghadap layar laptop yang menyala. Dia benar-benar berniat tidur di ruang tamu, menjagaku.

​Sebuah perasaan asing yang hangat perlahan mekar di dadaku saat aku melangkah menuju kamarku. Malam ini, di tengah segala kehancuran dan ancaman, untuk pertama kalinya aku tidak merasa sendirian.

​Aku terbangun dengan sensasi dingin yang menyentuh kulit lenganku.

​Melirik jam beker di nakas, angka digital menunjukkan pukul 04.15 pagi. Mataku masih terasa berat, sisa kelelahan dan tangisan semalam. Aku beranjak dari ranjang king-size yang terasa terlalu luas ini, meraih piyama kimono sutraku, dan melangkah keluar kamar.

​Apartemenku sunyi, namun bukan sunyi yang menyiksa seperti biasanya. Ada sebuah kedamaian yang aneh menggantung di udara.

​Langkahku terhenti di ujung lorong saat melihat pemandangan di ruang tamu.

​Lampu utama dimatikan, hanya menyisakan cahaya keemasan dari lampu tidur di sudut ruangan dan pendaran lampu jalanan Jakarta yang menembus jendela kaca. Di sudut itu, Bumi sedang sujud di atas sajadahnya.

​Gerakannya lambat, penuh penyerahan diri. Dalam keheningan sepertiga malam itu, aku bisa mendengar lamat-lamat suaranya merapal doa yang tidak kumengerti artinya, namun getarannya menembus hingga ke dasar hatiku.

​Aku menyandarkan bahuku di dinding lorong, memperhatikannya dalam diam.

​Pria ini... dia tidak memiliki apa pun. Tabungannya kosong demi Sifa. Bajunya hanya kemeja kusam dan batik murah. Posisinya di kantorku adalah yang paling bawah, selalu diinjak-injak oleh manajer yang tak tahu diri. Namun, melihatnya menundukkan wajah di hadapan Tuhannya saat ini... Bumi Arkan terlihat jauh lebih kaya dan lebih merdeka daripada siapa pun yang pernah kukenal.

​Termasuk diriku.

​Dulu, Adrian tidak pernah salat. Kami terlalu sibuk mengejar dunia. Kami menghitung keuntungan saham di meja makan, meributkan ekspansi perusahaan di ranjang, dan akhirnya... dunia menelannya dalam sebuah 'kecelakaan' yang sampai sekarang masih menjadi misteri.

​Bumi mengakhiri salatnya dengan salam ke kanan dan ke kiri. Dia menengadahkan tangannya cukup lama. Entah apa yang ia doakan. Apakah dia mendoakan Sifa? Atau mungkin... apakah ia menyesali pernikahannya denganku?

​Aku tidak ingin mengganggunya, jadi aku melangkah pelan menuju dapur berniat membuat kopi. Namun, suara mesin kopi espresso yang mendengung memecah kesunyian, membuat Bumi menoleh.

​"Anda sudah bangun?" tanyanya sambil melipat sajadah.

​Aku menoleh, tersenyum canggung. "Ya. Maaf kalau aku mengganggumu. Lanjutkan saja doamu."

​Bumi berjalan mendekat ke arah dapur. Rambutnya masih sedikit basah karena air wudu. Dia tidak mengenakan kemeja atau jas, hanya kaus oblong hitam yang pas di badannya dan celana training. Tiba-tiba saja, jarak di antara kami terasa sangat... intim. Kami berada di satu dapur, di pagi buta, dengan pakaian tidur.

​"Doanya sudah selesai," jawabnya tenang. Dia berhenti di sisi lain meja pantry, melihatku berjuang dengan mesin kopi kapsul yang entah kenapa pagi ini tampak memusuhi tanganku yang gemetar karena lapar.

​"Sini, biar saya saja," ucap Bumi perlahan.

​Dia tidak meminta izin dengan kata-kata kali ini, tapi dia melangkah menyamping agar tidak menyentuhku saat mengambil alih posisi di depan mesin kopi. Aromanya kembali menyapaku—bersih, segar, dan menenangkan.

​"Kau tahu cara memakainya?" tanyaku ragu, mengingat mesin ini adalah keluaran terbaru dari Italia.

​Bumi tersenyum kecil tanpa menoleh padaku. "Saya ini tukang bikin kopi lembur divisi back-end, Aruna. Memahami mesin adalah pekerjaan saya. Bedanya, mesin di kantor menggunakan bubuk kopi sisa, sedangkan punya Anda ini..." dia membaca label kapsulnya, "...biji kopi murni dari Kolombia."

​Aku tanpa sadar tersenyum. Humornya yang kering sangat menyegarkan.

​Dalam hitungan menit, dua cangkir espresso panas sudah tersaji di atas meja marmer. Tapi Bumi tidak berhenti di situ. Dia membuka kulkas raksasaku, mengerutkan kening melihat isinya yang sebagian besar hanya berisi air mineral, sparkling water, dan beberapa botol wine peninggalan Adrian yang tak pernah kusentuh.

​Dia menemukan dua lembar roti gandum yang hampir kedaluwarsa dan sedikit selai stroberi. Dengan cekatan, dia memanggangnya sebentar, lalu menyodorkannya ke hadapanku di atas piring kecil.

​"Makanlah," perintahnya lembut. "Gula darah Anda rendah sejak kemarin. Menangis dan marah membutuhkan banyak kalori."

​Aku menatap roti panggang sederhana itu. Seumur hidupku, asisten rumah tangga atau koki pribadi yang menyiapkan sarapanku. Baru kali ini, ada seseorang yang menyiapkannya untukku hanya karena dia peduli pada kondisi fisikku.

​"Terima kasih," gumamku sambil menggigit roti itu. Rasanya luar biasa enak.

​Bumi menyesap kopinya sambil bersandar di konter dapur. Dia menatapku lekat, membuatku sedikit salah tingkah.

​"Apa Sifa baik-baik saja?" tanyaku mencoba mengalihkan tatapannya.

​Mata Bumi meredup sejenak, namun dia mengangguk. "Ibu bilang kondisinya stabil semalam. Jika tidak ada infeksi, besok lusa dokter akan mencoba membangunkannya dari koma induksi."

​"Syukurlah..."

​"Aruna," panggil Bumi, memotong ucapanku dengan nada yang tiba-tiba berubah serius. Zirah programmer-nya seolah kembali terpasang. "Sambil menunggu Anda bangun, saya membedah modul penyadap yang kita temukan semalam."

​Aku langsung berhenti mengunyah. Nafsu makanku menguap seketika. "Kau menemukan sesuatu?"

​Bumi berjalan ke arah ruang tamu dan kembali membawa laptopnya. Dia membukanya di atas meja pantry, tepat di depanku.

​"Alat itu bukan alat murah yang bisa dibeli di toko daring," Bumi mulai menjelaskan, jari telunjuknya menunjuk pada gambar komponen yang ia potret semalam. "Ini teknologi micro-transmission tingkat militer. Dan yang lebih menarik, alat ini menggunakan jaringan Wi-Fi apartemen ini sebagai host pembawa sinyalnya, tapi disembunyikan di balik layer yang sangat tebal."

​"Apakah pelakunya Lukman? Dia punya uang untuk membeli alat seperti itu."

​Bumi menatapku lekat. "Lukman memang punya uangnya. Tapi masalahnya bukan siapa yang membeli, melainkan ke mana alat ini mengirimkan datanya."

​Jantungku berdegup kencang. "Kau melacaknya?"

​Bumi mengangguk. Dia menekan satu tombol, dan sebuah peta jaringan muncul di layar, menunjukkan garis merah yang meluncur dari apartemenku menuju sebuah titik kordinat yang sangat kukenali.

​"Sinyal ini memantul ke beberapa server bayangan di luar negeri, tapi titik akhirnya bermuara di satu tempat," suara Bumi terdengar berat, seolah enggan menyampaikan kenyataan ini padaku. "Gedung Wiratmadja Tech."

​Aku menghela napas lega. "Kalau begitu jelas Lukman. Ruangannya ada di lantai yang sama denganku."

​"Bukan ruangan Lukman, Aruna." Bumi menelan ludah, matanya menatapku dengan penuh rasa iba—sebuah tatapan yang membuat darahku membeku seketika. "IP Address penerima ini adalah alamat IP statis. Saya sangat hafal karena saya sering berurusan dengan jaringan lantai atas. Ini bukan komputer dewan direksi."

​"Lalu komputer siapa, Bumi?! Jangan bertele-tele!" suaraku meninggi tanpa sadar, panik mulai mencekik leherku.

​Bumi menutup laptopnya perlahan, menyisakan keheningan yang memekakkan telinga di dapur itu.

​"Sinyal dari kamar dan ruang tamu Anda," ucap Bumi pelan, "dikirim langsung secara real-time ke komputer milik Sekretaris Eksekutif. Komputer Sarah."

Napas ku tercekat. Tentu saja. Sarah adalah orang yang selama ini mengatur pemasangan smart-home dan mengganti kata sandi Wi-Fi apartemenku secara berkala. Dia punya akses penuh ke sistem keamanan rumahku!

​Prang. Cangkir kopi yang kupegang merosot dari tanganku, hancur berkeping-keping menghantam lantai marmer. Cairan hitam pekat itu menyiprat mengotori piyama sutra dan kaki telanjangku.

​Sarah?!

​Wanita yang mendampingiku sejak lima tahun lalu? Wanita yang memegang seluruh jadwalku, rahasiaku, bahkan jadwal obat-obatanku? Wanita yang menangis bersamaku saat aku menceritakan ancaman Lukman?!

​Duniaku benar-benar hancur berantakan. Tidak ada lagi tempat yang aman. Musuhku bukan berada di luar gerbang, melainkan duduk manis tepat di depan pintu ruanganku setiap hari.

​"Aruna—" Bumi mencoba melangkah mendekat karena melihatku gemetar hebat.

​"Jangan sentuh aku!" teriakku histeris, mundur hingga punggungku menghantam dinding kulkas. Napasku memburu, air mataku tumpah tanpa bisa dicegah. "Semuanya palsu! Semuanya pengkhianat! Adrian mati... Sarah mengawasiku... kalian semua hanya menginginkan sesuatu dariku!"

​Di tengah histeriaku, ponselku yang tergeletak di atas meja dapur tiba-tiba bergetar dan menyala, menampilkan ID penelepon yang membuat kami berdua membeku.

​Di layar itu, tertulis nama Sarah.

​Dan ini baru pukul setengah lima pagi.

​____________________________________________

Ponsel itu terus bergetar hebat di atas meja dapur, seolah menjadi bom waktu yang siap meledak. Aruna menggelengkan kepalanya dengan ngeri, menolak menyentuhnya. Namun Bumi melangkah maju, meraih ponsel itu, dan tanpa keraguan, dia menekan tombol hijau dan me-loudspeaker panggilan tersebut. Terdengar isakan tangis yang sangat keras dari seberang sana. "Bu Aruna... tolong saya, Bu... Pak Lukman... dia menculik anak saya..."

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!