NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Aku Pergi, Jangan Cari Aku

📖 BAB 15: Saat Aku Pergi, Jangan Cari Aku

Malam semakin larut ketika jamuan keluarga Qin berakhir.

Gedung megah itu masih dipenuhi cahaya, tawa palsu, dan kamera yang belum puas memakan gosip. Namun di lantai atas ruang privat, suasana jauh lebih dingin dari udara luar.

Lin Qingyan berdiri di dekat jendela tinggi, menatap kota yang berkilau seperti lautan kaca.

Besok pagi ia akan masuk ke kediaman keluarga Qin.

Atas pilihannya sendiri.

Atau setidaknya, begitulah ia ingin percaya.

Di belakangnya, suara pintu tertutup pelan.

Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa.

“Kau marah?” tanya Beichen.

Qingyan tersenyum tipis tanpa humor.

“Kalau aku bilang iya, apa kau akan berubah jadi manusia yang mudah diajak bicara?”

“Tidak.”

“Kalau begitu pertanyaanmu sia-sia.”

Ia mendengar langkah kaki mendekat.

Pria itu berhenti di sampingnya, ikut memandang kota.

Beberapa detik mereka diam.

Anehnya, diam bersama Gu Beichen kadang lebih melelahkan daripada bertengkar.

---

“Aku tidak setuju kau pergi,” katanya akhirnya.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa tetap memutuskan?”

Qingyan menoleh.

“Karena untuk pertama kali semua orang berhenti memutuskan hidupku selama lima menit.”

“Kau bisa memilih hal lain.”

“Aku memilih jawaban.”

Ia menatap lurus ke matanya.

“Selama ini aku hidup dengan nama palsu, masa lalu kosong, dan orang-orang yang tahu lebih banyak dariku. Aku lelah jadi orang terakhir yang tahu tentang diriku sendiri.”

Beichen tak menjawab.

Qingyan melanjutkan lebih pelan.

“Kalau aku terus bersembunyi di belakangmu, aku akan aman.”

“Itu tujuan utamanya.”

“Tapi aku tak akan pernah bebas.”

Tatapan pria itu mengeras.

“Bebas tidak berguna kalau kau mati.”

“Dan hidup seperti tahanan juga tidak berguna.”

Mereka saling menatap cukup lama hingga udara terasa menegang.

---

Han mengetuk pintu dua kali lalu masuk dengan hati-hati.

“Tuan, mobil sudah siap.”

Tak ada yang menjawab.

Han menatap langit-langit, dinding, karpet—apa saja selain dua orang di ruangan itu.

“Aku bisa kembali nanti.”

“Keluar,” kata mereka berdua bersamaan.

Han langsung pergi.

---

Dalam perjalanan pulang ke penthouse, tak satu pun dari mereka bicara.

Qingyan menatap lampu kota yang berlari di balik kaca.

Beichen menatap layar tablet, meski jelas tidak membaca apa pun.

Di antara mereka ada jarak kurang dari satu meter.

Namun terasa seperti dua benua.

Setelah beberapa lama, Qingyan berkata pelan,

“Apa kau takut?”

“Ya.”

Ia menoleh, terkejut karena jawaban itu datang terlalu cepat.

“Takut aku diculik?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Takut kau berubah setelah masuk ke sana.”

Qingyan menatapnya lama.

“Kau pikir aku semurah itu?”

“Aku pikir orang yang terluka bisa berubah demi bertahan.”

“Dan kalau aku berubah?”

“Aku akan menarikmu keluar.”

“Dengan paksa?”

“Kalau perlu.”

Ia menghela napas.

“Menyebalkan sekali.”

“Sudah sering kau bilang.”

“Masih berlaku.”

---

Sesampainya di penthouse, Qingyan langsung menuju kamar tamu tempat ia biasa tidur.

Namun Beichen memanggil dari ruang tengah.

“Bicaralah sebentar.”

“Aku lelah.”

“Justru karena itu.”

Ia berbalik dengan kesal.

“Kau selalu bicara seperti teka-teki miskin kasih sayang.”

“Aku anggap itu pujian.”

Ia duduk di sofa, memberi isyarat agar Qingyan ikut duduk.

Dengan malas ia menjatuhkan diri di seberang.

Beichen meletakkan sebuah kotak hitam kecil di meja.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya ada cincin tipis berwarna perak matte. Sangat sederhana. Hampir polos.

Qingyan mengernyit.

“Kalau ini cara melamarku, buruk sekali.”

“Bukan lamaran.”

“Syukurlah.”

“Itu alat pelacak dan tombol darurat.”

Ia berhenti sebentar.

“Dan cincin anti-panik.”

“Apa?”

“Kalau kau memutarnya dua kali, sistem akan mengirim lokasi ke Han.”

Qingyan menatap benda itu.

“Aku bukan tahanan.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu berhenti memasang alat di tubuhku.”

“Kalau kau pintar menjaga diri, aku berhenti.”

“Kasar.”

“Efisien.”

Ia ingin melempar kotak itu.

Namun diam-diam... ia memakainya.

---

Malam semakin larut.

Qingyan masuk ke kamarnya, tetapi tak bisa tidur.

Ia berdiri di depan cermin.

Masih wajah yang sama.

Masih dirinya.

Namun kini satu keluarga kaya mengakuinya, satu keluarga kaya lain melindunginya, dan setengah kota membicarakannya.

Ia menyentuh liontin tua dari Nenek Lan.

“Siapa aku sebenarnya...” bisiknya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Ia ragu, lalu mengangkat.

Suara perempuan terdengar pelan.

“Jangan pergi besok.”

Qingyan menegang.

“Siapa ini?”

“Kalau kau masuk rumah Qin, kau akan sulit keluar.”

“Siapa Anda?”

“Aku orang yang dulu gagal menyelamatkanmu.”

Sambungan terputus.

Qingyan menatap layar kosong.

Jantungnya berdetak keras.

---

Pagi datang terlalu cepat.

Langit kota pucat ketika para staf mulai bergerak di penthouse.

Gaun, koper, pengawal, kendaraan.

Semuanya terasa seperti pemindahan tahanan berkelas.

Qingyan turun ke ruang makan dengan pakaian sederhana. Celana hitam, blus putih, rambut dikuncir.

Beichen sudah duduk sambil membaca berita.

“Aku kira kau akan pakai setelan perang,” katanya.

“Aku sudah pakai. Namanya wajahku.”

Ia menutup koran digital.

“Kau tidur?”

“Sedikit.”

“Bohong.”

“Kau juga.”

“Benar.”

Mereka sarapan dalam keheningan aneh.

Bukan canggung.

Lebih seperti dua orang yang sama-sama tak ingin jam bergerak.

---

Saat hendak berangkat, Han membawa koper kecil.

“Nona, semua kebutuhan sudah disiapkan.”

“Terima kasih, Han.”

Pria itu tampak sungguh khawatir.

“Kalau ada apa pun, tekan cincin itu. Bahkan kalau cuma bosan.”

Qingyan tersenyum kecil.

“Bosan bisa berbahaya juga.”

“Di keluarga kaya, sangat berbahaya.”

---

Di lobi pribadi, mobil keluarga Qin sudah menunggu.

Hitam, panjang, terlalu mengilap.

Empat pengawal berdiri seperti patung.

Qingyan menarik napas.

Saat ia hendak melangkah, Beichen memanggil.

“Qingyan.”

Ia menoleh.

Pria itu berjalan mendekat hingga hanya berjarak satu langkah.

“Apa?”

“Jangan percaya siapa pun di rumah itu.”

“Aku tahu.”

“Termasuk orang yang terlihat ramah.”

“Itu semua orang kaya.”

“Termasuk orang yang terlihat lemah.”

“Spesifik sekali.”

“Dan terutama...” ia berhenti sebentar, “jangan percaya dirimu saat sedang kesepian.”

Qingyan terdiam.

Itu kalimat paling jujur yang pernah ia dengar darinya.

“Kenapa?”

“Karena orang kesepian sering menerima racun yang dibungkus perhatian.”

Ia ingin bercanda.

Namun tak bisa.

Jadi ia bertanya pelan,

“Kalau aku jatuh?”

“Aku tangkap.”

“Kalau aku memilih jatuh?”

“Aku marah dulu, lalu tangkap.”

Tanpa sadar ia tertawa.

Mata Beichen melembut tipis.

Lalu, tanpa peringatan, ia meraih tengkuk Qingyan dan mengecup keningnya singkat.

Hangat. Tegas. Menenangkan.

Han spontan memalingkan wajah ke tanaman hias.

Para pengawal Qin pura-pura buta.

Qingyan membeku.

“Kau—”

“Itu tanda keberangkatan.”

“Itu pelecehan budaya.”

“Pergi sebelum aku tambah.”

Wajahnya memanas.

Menyebalkan.

---

Ia masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.

Kalau menoleh, ia mungkin ragu.

Saat kendaraan mulai bergerak, ia akhirnya melihat ke belakang melalui kaca.

Beichen masih berdiri di lobi.

Tangan di saku.

Tatapan lurus ke arah mobil yang menjauh.

Tak mengejar.

Tak memanggil.

Namun entah kenapa, justru itu terasa lebih berat.

Qingyan berbisik sangat pelan, seolah pria itu masih bisa mendengar.

“Saat aku pergi... jangan cari aku.”

Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.

Pesan masuk dari Gu Beichen.

Mustahil.

Qingyan menatap layar lalu tertawa kecil sendiri.

Dan untuk pertama kali sejak semua kekacauan ini dimulai...

ia merasa takut kehilangan seseorang.

---

Satu jam kemudian, gerbang besar kediaman keluarga Qin terbuka perlahan.

Rumah itu bukan rumah.

Lebih seperti kerajaan yang belajar memakai jas modern.

Pilar batu tinggi, taman luas, air mancur marmer, dan puluhan staf berjajar menyambut.

Di puncak tangga utama berdiri Madam Qin Lirong.

Senyumnya sempurna.

“Selamat datang pulang, Qin Yue.”

Qingyan keluar dari mobil.

Menatap mansion megah itu.

Lalu menjawab datar,

“Aku datang mencari kebenaran. Jangan salah paham.”

Madam Qin tersenyum lebih tipis.

“Semoga kau cukup kuat menemukannya.”

Pintu utama terbuka.

Dan Qingyan melangkah masuk ke sarang yang sejak awal ingin memilikinya.

Tanpa ia sadari, dari atap mansion, sepasang mata sedang mengawasinya.

Dan di tangan orang itu ada foto lama dirinya saat masih bayi.

BERSAMBUNG

1
Karo Karo
terus Madan gu itu siapa Thor ahhhhhhh pusing pala Barbie 🫨
Karo Karo
kamu asisten di mna2 Han 🤣
Karo Karo
lah aku kira dah mati
Karo Karo
🤣 kurang romantis Han
Karo Karo
🤣🤣🤣 antrian kemana alam baka 🤭
Karo Karo
kau membuat pembaca seperti ku mumet thor belum selesai Maslah 1 muncul lagi untung di selingi tawa 😭 serah lu lah Thor 🫰🏻
Karo Karo
sabar Han 🤣
Karo Karo
aku kira benci dulu nanti cinta 🤣🤣🤭
Karo Karo
aku juga baiming 🤣🤣🤣🤣
Karo Karo
mantap aku suka gayamu 🤭🤣
Karo Karo
🤣 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!