NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Viona kembali datang

Sore itu, sinar matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang menyusup melalui jendela apartemen Arka. Udara di dalam ruangan terasa lebih berat dari biasanya. Cantika duduk di sofa ruang tamu, tangannya memegang secangkir teh hangat yang sudah mulai dingin. Matanya masih sedikit bengkak karena menangis semalaman, tapi ia berusaha tersenyum kecil setiap kali Arka meliriknya. Mereka berdua hampir tidak bicara sejak pagi. Hanya obrolan ringan tentang sarapan dan cuaca yang terasa kaku.

Arka berdiri di dekat jendela, tangannya dimasukkan ke saku celana training hitamnya. Pikirannya masih dipenuhi gumaman semalam. Ia belum tidur nyenyak, dan sekarang, beban itu terasa semakin berat. Cantika adalah istrinya, meski pernikahan itu dadakan dan penuh paksaan dari Warga. Tapi Viona… Viona adalah tunangannya yang  sudah ditetapkan antara dua keluarga,dan diharapkan semua orang, termasuk orang tuanya.

"kamu jangan terlalu berharap hubungan kita,dan jangan kamu sampai terbawa perasaan,kamu tahu sendiri aku sudah punya tunangan." Arka memulai bicara dengan nada masih terkesan dingin .

"Saya paham,Tuan,jangan khawatir masalah itu,saya juga tahu posisi saya,kita memang sudah menikah,tapi Tuan tidak ada perasaan cinta karena Tuan menikahi saya karena paksaan warga." Bagus kalau kamu paham masalah itu." Kembali Arka dan Cantika terdiam .

Tiba-tiba, bel apartemen berbunyi. Arka langsung menegang. Cantika juga ikut tersentak, matanya melebar ketakutan.

“Siapa,?” tanya Cantika pelan, suaranya hampir berbisik.

Arka menggeleng. “Aku nggak tahu. Kamu masuk ke kamar dulu!,Jangan keluar sampai aku yang meminta kamu keluar .”

Cantika mengangguk cepat. Ia bangkit dan berjalan cepat menuju kamar tamu, langkahnya ringan tapi penuh kecemasan. Arka menunggu sampai pintu kamar tertutup rapat sebelum ia berjalan ke pintu depan. Melalui layar interkom, ia melihat wajah Viona yang tersenyum manis, rambutnya tergerai indah, mengenakan dress putih selutut yang lembut dengan motif bunga kecil. Wajahnya sok polos, seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa.

"Kenapa sih dia datang lagi? Jangan sampai dia melihat Cantika?" Gumam Arka dengan rasa kesal

kembali Bel pintu berbunyi,Arka sengaja mengonci apartemennya ,karena ia tidak mau kalau viona langsung masuk kedalam dan mendapati Cantika tinggal bersamanya

Arka segera membuka kunci,ia tidak mau sampai Viona curiga padanya,dan membuat keributan .

Arka membuka pintu dengan ekspresi datar. “Viona? Kamu lagi?”

Viona langsung melangkah masuk tanpa menunggu diundang, tangannya memegang lengan Arka dengan manja. “Iya, Baby. Aku kangen banget sama kamu. Semalam kan kita nggak sempat … apa-apa. Jadi sore ini aku ajak kamu belanja yuk? Ada diskon besar di mall baru deket sini. Kita bisa cari baju couple, terus makan malam romantis. Gimana?”

Arka menarik napas dalam-dalam. Ia bisa mencium parfum Viona yang mahal, yang biasanya membuatnya lemah. Tapi kali ini, pikirannya langsung tertuju ke Cantika yang sedang bersembunyi di kamar tamu. Ia tidak tega meninggalkannya sendirian di apartemen ini, apalagi kalau Viona tiba-tiba memaksa masuk lebih jauh.

“Maaf, Vi. Hari ini aku nggak bisa,” jawab Arka pelan tapi tegas. “Ada pekerjaan mendadak dari kantor. Harus selesai malam ini juga.”

Viona mengerucutkan bibirnya, ekspresi sok manisnya semakin kentara. Ia mendekat, tangannya naik ke dada Arka, jari-jarinya bermain di kancing kemeja pria itu. “Ih, masa sih? Kamu kan bosnya, bisa atur jadwal dong. Aku udah dandan cantik gini buat kamu lho. Please … kita jarang quality time akhir-akhir ini.”

Arka menahan tangan Viona dengan lembut, menjauhkannya dari dadanya. “Beneran, Vi. Aku nggak bohong. Besok aja, ya? Atau lusa.”

Viona menatap Arka dengan mata yang mulai berkaca-kaca, tapi Arka tahu itu bukan air mata sungguhan. Viona pandai bermain peran. “Kamu berubah, Arka. Dulu kamu nggak pernah nolak ajakanku. Apa ada yang salah? Atau … ada orang lain?”

Pertanyaan itu membuat jantung Arka berdegup kencang. Ia buru-buru menggeleng. “Nggak ada apa-apa. Kamu jangan mikir macam-macam. Aku cuma capek aja akhir-akhir ini.”

Untuk menghindari kecurigaan lebih lanjut, Arka merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet. Ia mengambil kartu kredit miliknya yang limitnya sangat tinggi, lalu menyerahkannya ke tangan Viona. “Ini, belanja aja sendiri dulu. Beli apa yang kamu suka. Dress baru, sepatu, tas … apa saja. Anggap ini maaf karena aku nggak bisa nemenin hari ini. Nanti malam aku telepon kamu, kita atur ulang janji ya.”

Viona menerima kartu itu dengan mata berbinar, tapi senyumnya masih dipaksakan. Ia memutar-mutar kartu kredit di jarinya. “Beneran? Kamu nggak ikut? Padahal aku mau pilih baju couple biar cocok buat foto-foto di IG.”

“Iya, beneran. Kamu belanja aja senang-senang. Aku janji besok aku usahain luangin waktu,” kata Arka sambil tersenyum tipis, berusaha terlihat tulus

Viona tidak segera berbalik pergi meski kartu kredit sudah berada di genggamannya. Alih-alih melangkah menuju pintu keluar, ia justru menyandarkan tubuhnya pada meja konsol di lorong masuk, matanya menyisir setiap sudut ruangan dengan tatapan yang tajam sekaligus menyelidik. Arka merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia tahu betul bahwa Viona bukan tipe wanita yang mudah dipuaskan hanya dengan materi jika egonya merasa terusik.

"Arka, kamu yakin hanya karena pekerjaan?" tanya Viona lembut, namun nadanya mengandung kecurigaan yang kental. Ia berjalan mendekat kembali, mengabaikan jarak aman yang coba dibangun Arka. "Apartemenmu terasa.... berbeda. Wanginya tidak seperti biasanya. Ada aroma teh melati?"

Arka menelan ludah. Ia teringat cangkir teh Cantika yang masih tertinggal di atas meja ruang tamu. "Itu tehku, Vi. Aku sedang mencoba rileks agar bisa fokus bekerja. Sudahlah, kamu berangkat sekarang ya? Nanti tokonya keburu ramai."

Viona tertawa kecil, suara yang biasanya terdengar merdu di telinga Arka kini justru terdengar seperti peringatan bahaya. Ia melingkarkan tangannya di leher Arka, memaksa pria itu menunduk menatapnya.

"Pekerjaan bisa menunggu,Baby, Lihat aku. Apa kamu benar-benar tega membiarkan tunanganmu yang cantik ini pergi sendirian? Kartu ini tidak bisa memelukku di mal nanti."

Ia mulai merayu, jemarinya mengusap tengkuk Arka dengan gerakan perlahan yang menuntut. Viona mencondongkan tubuh, membisikkan kata-kata manis tepat di telinga Arka, mencoba membangkitkan kembali pesona yang biasanya membuat Arka bertekuk lutut. "Kita batalkan saja rencana belanja itu. Aku lebih suka menghabiskan sore di sini, bersamamu. Di dalam kamar ... hanya kita berdua. Aku kangen kamu yang dulu, yang selalu memprioritaskan aku di atas segalanya."

Jantung Arka berpacu hebat, bukan karena gairah, melainkan karena ketakutan bahwa Cantika akan mendengar semua ini. Di balik pintu kamar tamu yang tertutup rapat, ia membayangkan istrinya sedang meringkuk ketakutan, mendengarkan setiap kalimat mesra yang diucapkan wanita lain kepada suaminya. Rasa bersalah mulai menggerogoti nurani Arka.

"Viona, cukup," ujar Arka sambil melepaskan tangan wanita itu dari lehernya dengan gerakan yang lebih kasar dari sebelumnya. "Aku sudah bilang, aku tidak bisa. Tolong hargai privasiku sore ini."

Wajah Viona berubah seketika. Sorot matanya yang manja berganti menjadi kilatan kemarahan yang tertahan.

"Privasi? Sejak kapan ada kata privasi di antara kita, Arka? Kita akan menikah! Semua milikmu adalah milikku juga."

Viona melangkah maju, seolah hendak merangsek masuk lebih dalam ke arah ruang tengah. Arka dengan sigap menghalangi jalan wanita itu, berdiri kokoh di depan lorong menuju kamar-kamar.

"Kamu aneh sekali hari ini. Kenapa kamu menghalangi aku? Apa ada sesuatu di sana? Atau ... seseorang?" Viona mencoba melongok ke arah ruang tamu yang sedikit berantakan. Ia melihat dua buah bantal sofa yang letaknya tidak beraturan dan cangkir teh yang masih mengepulkan sisa uap tipis.

"Jangan kekanak-kanakan, Vi," potong Arka cepat, berusaha mengontrol nada suaranya agar tidak bergetar. "Aku sedang stres karena tekanan kantor. Kalau kamu terus-menerus menekan begini, aku malah semakin malas bicara denganmu. Pergilah belanja, dinginkan kepalamu. Aku tidak mau kita bertengkar hanya karena masalah sepele."

Viona terdiam sebentar, menatap Arka dengan saksama seolah sedang membaca kebohongan yang tersimpan di balik mata pria itu. Keheningan itu terasa mencekam selama beberapa detik. Namun, akhirnya Viona menghela napas panjang, merapikan dress putihnya yang sedikit kusut.

"Baiklah," ucap Viona dengan nada dingin yang menusuk. Ia mengangkat kartu kredit di tangannya. "Aku pergi. Tapi ingat, Arka, jangan pernah coba-coba menyembunyikan sesuatu dariku. Aku selalu tahu jika milikku sedang diganggu oleh orang lain.

1
Nadia Zalfa
double up thorr. ..suka sama ceritanya cantika😍
MayAyunda: diusahakan kak🙏
total 1 replies
Lovelynzeaa🌷
lanjut thor, up yg bnyk
MayAyunda: di usahakan kak ..🙏🙏
total 1 replies
Alex
semoga segera kebongkar kebusukan mu viona dan Cantika gak sedih lagi arka gak bngung lagi 🥰
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!