NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Semua Orang Panik, Ia Menguap

...Chapter 27...

"BANGUN, DASAR PEMALAS!" teriak seorang anggota timnya yang bertubuh kekar, wajahnya merah padam karena amarah sekaligus kelelahan, sambil berusaha menahan serangan dari tiga lawan sekaligus. 

"KITA BUTUH TENAGAMU!" 

Huan Zheng tidak menjawab—ia hanya berguling sedikit ke samping, menghindari setitik cahaya matahari yang tiba-tiba menyorot matanya, lalu menghela napas panjang dengan suara yang terdengar seperti orang yang baru saja meminum teh hangat di pagi hari yang sejuk. 

"Tenang, kawan," ucapnya dengan nada malas yang terdengar seperti nyanyian pengantar tidur, "permainan ini tidak akan berakhir hanya karena satu orang tidur. Lagipula, lihatlah—" 

Ia mengangkat satu jari telunjuknya, menunjuk ke arah timur di mana bendera musuh berkibar dengan angkuh.

"Tim kalian masih aman. Bendera kalian belum diambil. Jadi tidak ada alasan untuk panik." 

Anggota tim itu hampir meludahi wajah Huan Zheng, tetapi serangan dari lawan memaksanya untuk kembali bertarung dengan sumpah serapah yang masih terus keluar dari mulutnya, sementara Huan Zheng hanya tersenyum kecil—senyum yang tidak terlihat oleh siapa pun kecuali mungkin Ling Xu yang mengamatinya dari kejauhan dengan perasaan antara ingin tertawa dan ingin melempar batu ke kepala pria itu.

Di sisi lain lapangan, tim Ling Xu justru mengalami kesulitan yang tidak terduga—sebuah tim yang terdiri dari para kandidat rekrutan dari Sekte Pedang Berdarah, salah satu sekte paling berpengaruh di Tianzhu, bergerak dengan koordinasi yang begitu rapi hingga terlihat seperti satu tubuh dengan seribu tangan, menekan pertahanan tim Ling Xu dari segala arah dengan gerakan-gerakan yang tidak pernah berhenti, tidak pernah jeda, seperti ombak yang terus-menerus menghantam karang tanpa pernah lelah. 

"Lin Xue!" teriak pemimpin tim wanita itu, suaranya parau karena sudah terlalu banyak mengeluarkan perintah.

“Kita perlu bantuanmu di lini tengah! Pertahanan kita mulai jebol!" 

Ling Xu menghela napas—napas yang sama seperti yang sering ia keluarkan ketika Huan Zheng melakukan sesuatu yang sangat bodoh, tetapi kali ini napas itu keluar karena ia tahu bahwa ia harus menunjukkan sedikit kemampuannya jika tidak ingin timnya kalah telak dan menarik perhatian yang lebih besar dari yang sudah ada. 

Ia melesat ke depan, jubah biru tuanya berkibar seperti sayap burung hantu di malam hari, dan dengan gerakan yang cepat namun terkendali, ia melepaskan tiga puluh jarum beracun sekaligus.

Bukan racun mematikan, hanya racun pelumpuh sementara yang ia racik dari herbal-herbal biasa—tepat mengenai tiga puluh musuh di bagian bahu dan lengan, menyebabkan senjata mereka berjatuhan ke tanah dengan bunyi berderang seperti lonceng-lonceng kecil yang jatuh dari menara. 

"Hei, kau hebat juga ternyata!" seru seorang anggota tim dengan kagum, tetapi Ling Xu tidak menghiraukan pujian itu—ia malah menoleh ke arah timur lapangan di mana Huan Zheng masih terbaring telentang, dan untuk sesaat, pandangan mereka bertemu di antara celah-celah tubuh para kultivator yang bertarung, dan Ling Xu bisa melihat sudut bibir Huan Zheng terangkat sedikit.

Bukan senyum bangga, melainkan senyum yang mengatakan:

"Aku tahu kau bisa, Nona Racun. Aku tidak pernah meragukan itu."

Di tengah hiruk-pikuk pertandingan yang mulai memasuki babak kritis—di mana tim Huan Zheng tertinggal jauh karena para anggotanya kelelahan menghadapi gempuran musuh yang lebih terkoordinasi, sementara satu-satunya harapan mereka masih terbaring telentang di bawah pohon sakura buatan dengan tangan dijadikan bantal dan mata terpejam seperti orang yang sedang berlibur di pantai pribadi—sebuah keheningan yang aneh tiba-tiba menyelimuti lapangan.

Bukan karena pertarungan berhenti, melainkan karena semua orang merasakan getaran yang berbeda, getaran yang datang bukan dari langit atau bumi melainkan dari tubuh seorang pria yang baru saja menguap dan mulai menggaruk kepalanya dengan gerakan malas yang justru terlihat sangat disengaja. 

"Akhirnya bangun juga, Dasar Pemalas!" teriak anggota tim yang bertubuh kekar tadi, wajahnya kini tidak hanya merah padam karena amarah tetapi juga karena kelegaan yang hampir membuatnya menangis.

"CEPAT TARIK BENDERANYA SEBELUM KITA MATI SEMUA!" 

Huan Zheng—yang masih bergelar Zheng Huan untuk sementara waktu—menghela napas panjang seperti orang yang baru saja diberitahu bahwa tehnya habis dan tidak ada yang bisa membelikan lagi, lalu berdiri dengan gerakan yang sangat lambat, sangat malas, sangat tidak tergesa-gesa, seolah-olah ia sedang meregangkan otot-ototnya setelah tidur siang yang terlalu lama meskipun sebenarnya ia hanya berbaring selama kurang dari setengah jam. 

"Baiklah, baiklah," ucapnya sambil menggaruk pantatnya—benar-benar menggaruk pantatnya, di depan puluhan kultivator yang menatapnya dengan berbagai ekspresi antara putus asa, bingung, dan ingin membunuh—lalu berjalan menuju tiang bendera timnya dengan langkah sempoyongan seperti orang yang baru bangun dari koma.

“Jangan teriak-teriak. Kepalaku pusing."

Dan kemudian, dengan satu tangan yang masih setengah terangkat karena selesai menggaruk pantatnya, Huan Zheng meraih bendera timnya.

Bukan dengan gerakan cepat seperti kilat, bukan dengan ledakan Qi yang dahsyat, melainkan dengan tarikan yang begitu biasa, begitu malas, begitu tidak bersemangat hingga beberapa anggota tim lawan sempat tertawa melihatnya, mengira bahwa pria ini hanya bahan ejekan baru yang akan menambah hiburan di hari yang membosankan. 

Tapi tawa mereka terputus di tengah jalan ketika sesuatu terjadi: seluruh anggota tim yang dilawan oleh tim Huan Zheng—yang berjumlah lebih dari empat puluh orang, dengan tingkat kultivasi mulai dari Lintang Esa hingga Supranatural Lintang Tingkat Kedua Puluh—terpental ke belakang secara serempak seperti boneka kain yang ditiup angin topan, tubuh mereka berguling-guling di atas rumput yang rimbun, beberapa di antaranya memegang bahu atau pinggang dengan ekspresi kesakitan meskipun luka yang mereka derita hanya ringan, hanya goresan, hanya memar yang akan hilang dalam beberapa jam, tetapi yang membuat mereka terdiam bukanlah rasa sakit—melainkan kesadaran bahwa satu tarikan malas dari seorang pria yang baru saja menggaruk pantatnya telah mengirim mereka semua terbang seperti dedaunan kering di musim gugur. 

"Apa... apa yang baru saja terjadi?" bisik seorang kultivator wanita dengan mata terbelalak, rambutnya yang tersusun rapi kini berantakan karena berguling di tanah, sementara di sebelahnya, rekan setimnya hanya bisa menggelengkan kepala dengan ekspresi kosong seperti orang yang baru saja menyaksikan keajaiban yang terlalu absurd untuk dipercaya. 

Huan Zheng tidak menjawab pertanyaan itu.

Ia hanya melepaskan bendera dari tangannya, membiarkannya jatuh ke tanah dengan suara kepak kain yang terdengar sangat biasa di tengah keheningan yang mencekam, lalu berbalik dan berjalan kembali ke bawah pohon sakura buatan dengan langkah yang sama malasnya, sama sempoyongannya, sama tidak tergesa-gesanya, seolah-olah apa yang baru saja ia lakukan hanyalah sekadar membuka jendela di pagi hari, bukan mengalahkan puluhan kultivator dengan satu tarikan yang bahkan tidak ia anggap sebagai sebuah usaha. 

"Zheng Huan," panggil Ling Xu dari kejauhan, suaranya bergetar antara kagum dan kesal—kagum karena ia tahu bahwa tidak ada seorang pun di lapangan ini yang bisa melakukan apa yang baru saja dilakukan Huan Zheng, dan kesal karena pria itu melakukannya dengan sikap yang membuat semua orang ingin menonjoknya, "bisakah kau setidaknya berpura-pura sedikit lelah? Supaya mereka tidak terlalu curiga?" 

Huan Zheng menoleh, mengangkat satu alisnya dengan ekspresi malas yang khas, lalu menjawab dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh semua orang di lapangan—mungkin sengaja, mungkin tidak, tidak ada yang tahu pasti karena wajahnya tetap datar seperti batu nisan. 

"Lelah? Untuk apa? Aku hanya menarik bendera, bukan mengangkat gunung."

Fhooooh!!

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!