Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
***
Suasana siang di Desa Sukamaju terasa kian menyengat. Suara kipas angin di ruang tengah berderit pelan, mencoba menghalau hawa gerah yang mengepung rumah dinas Kepala Desa. Di atas karpet, Gilang dan Arka telah tenggelam dalam tidur siang yang lelap, kelelahan setelah petualangan singkat mereka di pasar pagi tadi. Televisi masih menyala dengan volume rendah, menyiarkan gumam berita yang tak terdengar jelas.
Laras, setelah menyelesaikan tugas memasak dan menyajikan makan siang yang sayangnya hanya dinikmati Bagas dengan lahap sementara dirinya sendiri hanya sanggup menelan beberapa suap nasi karena mual—kini berada di kamar belakang. Tumpukan baju bersih yang kering baru saja ia angkat dari jemuran.
Dengan napas yang masih pendek-pendek, Laras duduk di lantai beralaskan tikar pandan. Perut tujuh bulannya terasa sangat tegang. Ia mulai melipat baju satu per satu. Setiap kali ia membungkuk untuk meraih pakaian di dalam keranjang, ia harus meringis menahan nyeri yang menusuk di punggung bawahnya.
Tiba-tiba, saat ia menarik sehelai jarik lama milik ibunya yang ia bawa saat pindah dulu, sebuah buku catatan bersampul kumal terselip jatuh. Jantung Laras berdegup sedikit lebih kencang. Itu adalah buku harian sekaligus buku sketsanya saat masih duduk di bangku SMA.
Laras membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, terpampang sketsa-sketsa gaun yang indah—hasil imajinasinya enam tahun lalu. Ada tulisan tangan yang rapi di sudut kertas: "Mimpi : Menjadi Perancang Busana di Jakarta". Laras tersenyum sedih, jemarinya mengusap sketsa gaun pengantin yang belum sempat ia warnai.
"Jakarta..." bisiknya lirih. Air mata hampir menetes. Di usia 23 tahun, ia seharusnya mungkin sedang sibuk mengejar karier atau setidaknya menikmati masa muda. Namun kenyataannya, ia berada di sini, menjadi istri Kepala Desa, mengandung anak ketiga, dan punggungnya terasa seperti akan patah hanya karena melipat baju.
"Wah, rajin sekali istriku. Jam segini sudah rapi-rapi baju," suara berat Bagas tiba-tiba menggelegar dari ambang pintu kamar.
Laras tersentak kaget. Dengan gerakan cepat yang membuat perutnya kram sesaat, ia menyelipkan buku catatan itu di bawah tumpukan daster yang sudah rapi. Ia berusaha menenangkan ekspresi wajahnya.
"Eh, Mas. Iya, mumpung anak-anak tidur, kalau nggak segera dilipat nanti malah diacak-acak lagi," jawab Laras sambil memaksakan senyum.
Bagas berjalan mendekat, ia sudah tidak merokok lagi. Bau tembakau samar masih tercium dari bajunya. Ia berjongkok di samping Laras posisi yang jarang ia lakukan—lalu mengusap kepala Laras dengan lembut.
"Kamu memang luar biasa, Ras. Rumah selalu bersih, baju selalu rapi, masakan selalu enak. Aku beruntung sekali punya istri sepertimu. Ibu pasti bangga melihat menantunya sehebat ini," puji Bagas dengan nada yang sangat manis.
Laras merasa dadanya sesak. Pujian itu terdengar seperti pengukuhan bahwa perannya hanyalah sebatas pelayan rumah tangga yang sempurna. "Terima kasih, Mas. Itu kan sudah kewajiban Laras."
Namun, Laras menyadari ada yang berbeda dari tatapan Bagas. Mata suaminya tidak sedang tertuju pada tumpukan baju, melainkan pada leher Laras yang basah oleh keringat dan daster batiknya yang sedikit terbuka di bagian kancing atas.
Tangan Bagas yang tadinya di kepala, kini turun ke pundak Laras, memijatnya pelan namun dengan tekanan yang penuh maksud.
"Ras... anak-anak tidurnya pulas sekali ya di depan?"
Laras menelan ludah. Ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini. "Iya, Mas. Mungkin sampai sore mereka baru bangun. Kenapa?"
"Mas... Mas lagi merasa senang hari ini. Pasar lancar, warga tadi banyak yang memuji keluarga kita," Bagas merapatkan duduknya, menarik Laras ke dalam pelukannya.
"Mumpung suasana tenang, bagaimana kalau kita... istirahat sebentar?"
"Tapi Mas... ini masih siang. Laras belum selesai melipat baju. Nanti kalau anak-anak bangun bagaimana?" Laras mencoba menolak dengan halus, meski sebenarnya punggungnya benar-benar menjerit butuh istirahat yang sebenarnya: tidur.
"Bentar saja, Sayang. Mereka nggak akan bangun secepat itu. Mas kangen kamu," bisik Bagas seraya mulai mengecup tengkuk Laras. "Kamu cantik sekali kalau berkeringat begini."
Bagas mulai membujuk dengan kata-kata manis, mengingatkan Laras betapa pentingnya menjaga keharmonisan mereka sebagai pasangan pemimpin desa. Ia juga menyinggung soal keinginannya agar anak di dalam kandungan ini merasa "disambut" dengan kasih sayang orang tuanya.
Laras menghela napas pasrah. Ia melihat tumpukan baju yang tinggal sedikit lagi, lalu melihat suaminya yang sudah dikuasai keinginan. Di tengah rasa nyeri punggung dan letih yang mendalam, Laras kembali mengalah. Ia menutup pintu kamar perlahan, menguncinya agar anak-anak tidak tiba-tiba masuk.
Bagas merebahkan Laras di atas tempat tidur kayu yang berderit pelan. Ia menyangga punggung Laras dengan dua bantal besar agar perut istrinya tetap nyaman.
"Pelan-pelan ya, Mas... Laras capek sekali badannya," bisik Laras saat Bagas mulai membuka kancing dasternya satu per satu.
"Iya, Sayang... Mas tahu. Mas akan buat kamu enak," sahut Bagas serak.
Cahaya matahari yang menerobos gorden tipis menerangi kulit Laras yang pucat. Bagas memulai dengan cumbuan yang menuntut, menjelajahi setiap inci tubuh istrinya yang kini kian berisi karena kehamilan. Laras memejamkan mata, mencoba mengikuti irama suaminya.
Rasa nikmat yang dibangun Bagas perlahan mulai menutupi rasa sakit di pinggang Laras. Rintihan-rintihan halus mulai lolos dari bibir Laras saat sentuhan Bagas mencapai titik-titik sensitifnya.
"Nngghh... Mas Bagas... ahh..." rintih Laras, tangannya meremas sprei dengan kencang.
Bagas bergerak dengan ritme yang terjaga, sesekali berhenti untuk menciumi perut besar Laras, seolah memberikan salam pada calon anak ketiganya. Erangan rendah Bagas mulai bersahutan dengan napas Laras yang kian memburu.
"Kamu... ahh... luar biasa, Laras..." gumam Bagas di tengah napasnya yang tersengal.
Siang yang panas itu menjadi saksi bisu keintiman mereka yang intens. Di tengah peluh yang membanjiri tubuh keduanya, Laras mengeluarkan desahan panjang yang menandakan ia pun terbawa dalam gairah yang diciptakan suaminya. Erangan dan rintihan keduanya memenuhi kamar yang pengap itu, sebuah pelepasan dari segala beban yang mereka pikul di luar sana.
Setelah semuanya berakhir, Bagas berbaring di samping Laras, memeluk istrinya dari samping sambil mengelus perut buncit itu. "Terima kasih, Ras. Mas jadi semangat lagi buat kerja besok."
Laras terengah-engah, matanya menatap langit-langit kamar. Rasa lelah yang sempat hilang kini kembali dengan kekuatan ganda. Ia merasa tubuhnya benar-benar lemas.
"Mas... Laras mau tidur sebentar saja sebelum anak-anak bangun," pinta Laras lirih.
Bagas mengecup kening Laras. "Iya, tidurlah. Mas mau ke depan, lihat anak-anak."
Bagas beranjak, mengenakan kembali pakaiannya dan keluar kamar dengan wajah puas. Sementara itu, Laras tetap berbaring, mencoba memejamkan mata. Namun, tangannya tanpa sengaja menyentuh buku catatan lama yang tadi ia sembunyikan di bawah tumpukan baju di lantai samping tempat tidur.
Ia mengambil buku itu, memeluknya di dada. Di tengah rasa perih dan lelah yang ia rasakan setelah melayani suaminya, Laras menyadari satu hal: tubuhnya mungkin milik Bagas dan tugas-tugas rumah tangga, tapi mimpinya di dalam buku ini adalah satu-satunya hal yang tetap menjadi miliknya sendiri, meski hanya tersimpan dalam diam.
***
Bersambung....