Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Dulu Carisa pernah jatuh pada seorang pria bernama Reynanda. Mereka satu perguruan tinggi, sering bertemu tanpa rencana, sampai hubungan itu terbentuk dengan sendirinya, cinta lokasi, kata orang.
Awalnya semuanya terasa ringan dan manis. Hubungan anak muda yang penuh euforia, di tengah padatnya kuliah dan pekerjaan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, sampai batas-batas pribadi perlahan kabur tanpa disadari Carisa.
Namun seiring waktu, sikap Reynanda berubah. Ia menjadi terlalu mengikat dan mengatur. Carisa tidak lagi leluasa berteman dengan siapa pun. Saat itu, ia menganggap semuanya masih wajar, seolah rasa cemburu adalah bentuk cinta yang bisa dimaklumi.
Reynanda mulai sering memeriksa ponselnya setiap kali mereka bertemu. Hal-hal kecil seperti tawa Carisa bersama teman-teman pun bisa menjadi masalah. Bahkan ketika ada teman laki-laki yang hanya mengantarnya pulang, itu cukup untuk memicu pertengkaran panjang yang melelahkan.
Lambat laun, Carisa merasa terkekang, tapi ia tidak segera pergi. Ia bertahan sampai akhirnya semua yang ia miliki, termasuk dirinya sendiri, ia berikan tanpa tersisa. Setelah itu, Reynanda pergi begitu saja.
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada rasa bersalah yang terlihat.
Pesan terakhir darinya hanya singkat:
“Kamu akan dapat yang lebih baik dariku.”
Setelah itu, Carisa diblok. Tanpa memberikan kesempatan untuk mengatakan bahwa di perutnya ada darah dagingnya.
Carisa hanya bisa tersenyum miring saat membacanya. Di kepalanya saat itu, tidak ada lagi yang benar-benar bisa ia harapkan dari dirinya sendiri.
"Siapa yang mau menerima wanita bekasmu." gumamnya getir.
Hari-hari setelahnya berjalan lambat. Minggu berganti bulan, sampai akhirnya Carisa ketahuan hamil oleh orang tuanya saat ia di larikan ke rumah sakit karena overdosis obat tidur.
Di ruang rawat itu, Carisa terbaring lemah. Tubuhnya sudah tidak punya cukup tenaga untuk menolak apa pun yang terjadi di sekitarnya. Ia seperti hanya ikut mengapung di antara sadar dan tidak.
Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang berbeda. Janin di dalam kandungannya tetap bertahan, diam tapi nyata, seolah tidak ikut runtuh bersama dirinya. Sesuatu yang kecil itu justru terasa paling kuat di antara semuanya.
“Maafkan Carisa, Yah…” itu satu-satunya kalimat yang keluar dari bibirnya saat sadar sesaat di antara kabut obat dan rasa sakit di kepalanya.
Ayahnya berdiri kaku di sisi ranjang, wajahnya tegang, sulit menyembunyikan marah yang bercampur panik.
“Siapa pria itu?” tanyanya akhirnya, suara berat menahan emosi.
Carisa tidak menjawab. Ia justru memalingkan wajah. Tidak sanggup menatap ayahnya, apalagi ibunya yang sudah jatuh terduduk di lantai sejak kabar itu keluar, syok tanpa kata.
Luka itu tidak pernah benar-benar sembuh, hanya mengendap dan diam-diam mengubah Carisa menjadi pribadi yang lebih tertutup. Ia tetap menjalani hidup, tetapi tidak lagi dengan versi dirinya yang dulu.
Sementara itu, kabar tentang Reynanda datang tanpa ia minta. Pria itu melanjutkan hidupnya dengan mudah. Tertawa, berganti pasangan, seolah tidak ada yang pernah terjadi. Hal itu justru membuat luka Carisa semakin dalam, bukan karena kehilangan, tetapi karena merasa tertinggal sendirian dengan semua beban yang tidak ia minta.
Rasa sakit itu perlahan berubah menjadi amarah yang dipendam lama. Dalam diam, Carisa sering meluapkan semuanya lewat doa-doa dan sumpah serapahnya yang ia sendiri tahu tidak seharusnya diucapkan.
Namun waktu tetap berjalan. Hingga suatu hari, hidup membawanya pada keputusan yang tidak sepenuhnya ia pilih. Ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria lain. Anak dari teman lama ibunya, yang katanya saat itu sudah di usia matang untuk menikah dan sedang mencari calon istri.
Carisa yang sudah tidak berminat lagi menjalani hubungan, awalnya menolak mentah-mentah permintaan ibunya. Ia merasa tidak ada alasan untuk bertemu siapa pun lagi, apalagi memulai sesuatu yang baru.
Namun desakan ibunya tidak berhenti di satu dua kali ucapan. Pada akhirnya, Carisa mengalah, bukan karena yakin, tapi karena ingin menghormati. Satu kali saja, begitu pikirnya.
Sampai akhirnya, ia duduk berhadapan dengan seorang pria di depannya. penampilannya begitu rapih dan pembawaan nya sangat tenang. Karakter yang sangat sulit di tebak, pikir carisa
“Aku tidak berniat menjalin hubungan dengan siapa pun,” kata Carisa saat itu. “Aku hanya menjalankan kewajiban pada orang tuaku.”
Pria itu menatapnya tenang sebelum menjawab, “Aku pun hanya menjalankan keinginan ibuku. Kita menikah saja. Hidup damai, tanpa saling mengusik.”
Carisa terdiam. Ia tidak menyangka jawaban itu sesederhana itu.
“Aku bukan perempuan yang sempurna,” ucapnya kemudian, datar. “Aku sudah… tidak suci lagi. Aku bahkan pernah....”
“Tidak ada manusia yang sempurna,” jawab pria itu memotong, tanpa bertanya lebih jauh.
Tidak ada penggalian masa lalu. Tidak ada tuntutan penjelasan. Dan dari situ, Carisa mulai masuk ke kehidupan yang baru.
Pernikahan itu tidak langsung menghapus luka yang ia bawa. Tapi perlahan, hidupnya menjadi lebih stabil. Lebih tenang. Tidak sempurna, tidak sepenuhnya pulih, tetapi cukup untuk membuatnya kembali berdiri.
Di titik itu, Carisa belajar bahwa trauma tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk dan terkadang, hanya bisa diredam oleh hidup yang perlahan memberi ruang baru untuk bertahan.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak