NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Musim semi kembali datang, membawa serta kehangatan dan harapan baru.

Hari ini adalah hari yang sangat membanggakan bagi keluarga Xin. Xin Yi resmi dinyatakan lulus dari Sekolah Menengah Atas dengan predikat terbaik yang pernah ada.

Sebuah pesta perayaan sederhana namun mewah digelar di halaman rumah mereka yang luas. Bunga-bunga bermekaran indah menghiasi setiap sudut, dan tamu-tamu undangan hadir dengan wajah gembira.

Semua orang yang dikenal dan disayangi Xin Yi hadir di sana.

Xin Yuning tampak gagah dan bangga berdiri di samping adiknya. Zhao Yun dan Rong Yuan pun datang membawa hadiah besar serta ucapan selamat yang riuh. Bahkan Huo Feilin dan Xing Fuyang tampak sangat bahagia menyambut para tamu.

Namun... ada satu sosok yang tidak terlihat di mana pun.

Quan Yubin.

Pria itu tidak hadir.

Xin Yi menyadari hal itu sejak awal kedatangan tamu. Ia sesekali melirik ke arah pintu gerbang atau sekeliling ruangan, berharap melihat sosok tinggi dengan tatapan tenang itu muncul seperti biasa.

Namun harapannya pupus. Kesibukan Quan Yubin yang semakin padat membuatnya tidak bisa hadir untuk merayakan momen penting ini bersama mereka.

Meskipun sedikit kecewa dan merasa ada yang kurang, Xin Yi tetap tersenyum dan menikmati perayaan ini. Lagipula, ia sudah memiliki segalanya: keluarga yang utuh, teman-teman yang baik, dan masa depan yang cerah terbentang di depannya.

"Selamat menuju dunia baru, Yi Yi!" seru Xin Yuning sambil mengangkat gelasnya.

"Selamat menjadi dewasa yang sesungguhnya!"

Satu bulan lagi akan berlalu, dan waktu terus berjalan dengan cepatnya.

Tidak terasa, sebentar lagi Xin Yi akan menginjak usia sembilan belas tahun.

Masa remajanya telah berlalu; kini ia berdiri di persimpangan jalan menuju masa depan. Xin Yi berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, mengasah ilmu lebih dalam lagi sebagaimana cita-citanya dulu.

Namun, keputusan itu belum bulat.

Huo Feilin berharap putrinya dapat mulai belajar membantu urusan perusahaan keluarga di kantor pusat milik keluarga Huo. Wanita itu ingin Xin Yi belajar dunia bisnis dan mulai mempersiapkan diri sebagai pewaris yang tangguh.

Hal itulah yang membuat Xin Yi masih ragu dan bimbang.

Malam harinya, setelah keramaian pesta mereda dan semua tamu pulang, Xin Yi masuk ke kamarnya. Ia duduk di depan meja belajar yang luas, menyalakan komputer pribadinya untuk bersantai sejenak.

Jari-jemari halusnya menekan tombol tetikus, menggeser layar dan membuka folder foto-foto kenangan yang ia ambil sendiri selama setahun terakhir ini.

Ia melihat foto dirinya bermain pasir, foto stroberi, dan foto pemandangan laut.

Namun saat ia sedang menggeser layar dengan santai...

KLIK.

Sebuah gambar terbuka di layar.

Itu adalah foto seorang pria yang duduk tenang di bawah naungan pohon rindang yang penuh dengan bunga kuning. Cahaya matahari menyelinap di antara dedaunan, menerangi wajah tenang itu dengan sangat indah dan artistik.

Pria itu adalah Quan Yubin.

"......"

Mata Xin Yi membelalak lebar.

Ia menatap layar monitor dengan napas tertahan.

Kenapa ada foto ini di komputernya?!

Ia sama sekali tidak ingat pernah memotret atau menyimpan foto wajah pria itu dengan sebaik ini. Tampaknya saat kejadian di taman dulu, saat ia sibuk memotret pemandangan, tanpa sadar lensa kameranya menangkap sosok Quan Yubin dengan sangat sempurna.

Dan tanpa sadar juga... ia menyimpannya.

Xin Yi menatap foto itu lama sekali. Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang dari biasanya.

Jadi... selama ini dia diam-diam menyimpan wajah orang yang bahkan tidak hadir di pestanya hari ini... batinnya bingung menelisik perasaannya sendiri.

Xin Yi segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah ingin membuang jauh-jauh pikiran aneh itu.

"Apa yang aku pikirkan..." gumamnya pelan.

Perasaan tidak nyaman yang aneh itu muncul kembali, membuat dadanya terasa sesak dan kepalanya terasa pusing campur aduk. Ia sadar, memikirkan hal-hal yang melampaui batas seperti ini hanya akan membuatnya bingung dan tidak tenang.

"Sudahlah, lebih baik tidak dipikirkan. Itu hanya foto biasa, tidak ada artinya," ucapnya mencoba meyakinkan diri sendiri. Dengan cepat ia menutup layar dan mematikan komputer, memutus untuk segera tidur dan melupakan segalanya.

Beberapa hari kemudian, suasana berubah menjadi lebih dewasa dan sedikit liar.

Xin Yuning menerima sebuah alamat lokasi yang dikirimkan oleh teman-temannya. Akhirnya mereka sepakat untuk berkumpul dan melepas penat di sebuah klub malam terkenal yang terletak di tengah kota.

Pria itu masuk dengan gaya yang santai namun tetap keren. Ia diantar oleh pelayan menuju ruangan VIP yang sudah disewa.

Di sana, Rong Yuan dan Zhao Yun sudah menunggu dengan gelas minuman di tangan mereka. Suasana di dalam ruangan itu berisik namun asik, penuh dengan musik dan cahaya lampu warna-warni.

"Eh, Yuning akhirnya datang juga!" seru Zhao Yun sambil melambaikan tangan.

"Aku sudah mengundang Yubin. Dia bilang sebentar lagi sampai; dia baru saja selesai rapat," tambahnya santai.

Namun mendengar nama itu, wajah Xin Yuning tidak langsung bersinar. Justru ia terlihat sedikit mendengus dan cemberut.

"......"Zhao Yun dan Rong Yuan saling bertukar pandang singkat.Mereka berdua sama-sama menyadari hal yang sama.

Sejak kejadian di pantai tiga bulan yang lalu, ada sesuatu yang aneh pada Quan Yubin. Pria itu seolah-olah sedang menghindari mereka.Sibuk memang alasan yang logis, tetapi ketidakhadirannya yang terus-menerus dan jaraknya yang semakin jauh terasa tidak wajar.

Terutama terhadap Xin Yuning.

Dan Xin Yuning... dia tahu alasannya.

Dia sadar betul, tatapan Quan Yubin terhadap Xin Yi bukanlah tatapan biasa.

Beda dengan dirinya, Zhao Yun, atau Rong Yuan yang memandang gadis itu sebagai adik kecil yang lucu dan sayang...

Tatapan Quan Yubin... berbeda.

Sangat berbeda.

Pria itu memandang Xin Yi bukan seperti seorang adik teman, melainkan seperti seorang pria yang sedang memandang wanita yang dicintainya. Tatapan yang dalam, penuh perhatian, dan memiliki rasa kepemilikan yang samar namun kuat.

Xin Yuning menghela napas panjang sambil menunduk.

Dasar Yubin... kenapa harus dia yang jatuh cinta pada adikku? Kenapa harus sesulit ini situasinya?

Meskipun di satu sisi ia merasa tidak nyaman karena menganggap Xin Yi masih anak-anak,di sisi lain ia juga mengerti perasaan temannya itu. Dan itulah yang membuat Xin Yuning merasa bersalah, seolah ia telah menjadi tembok penghalang.

Pintu ruangan VIP diketuk, dan ketiganya segera menoleh serentak.

Quan Yubin mendorong pintu masuk, namun langkahnya terhenti seketika saat melihat tatapan ketiga temannya. Wajah mereka dipenuhi ekspresi aneh yang bercampur aduk: rasa kasihan, penyesalan, dan entah kenapa juga terlihat seperti memberi dukungan.

"......"

Pria itu terdiam bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Kenapa suasana terasa begitu canggung dan berat?

Belum sempat ia bertanya, tiba-tiba ponsel Xin Yuning berdering nyaring memecah keheningan.

Nomor yang tertera di layar adalah Xin Yi.

Xin Yuning menyadari tatapan Quan Yubin yang seketika berubah tajam dan tertuju penuh perhatian ke arah layar ponsel itu.

"Yah, siapa lagi kalau bukan si kecil," gumam Xin Yuning. Ia menerima panggilan itu, namun dengan sengaja ia menekan tombol speaker agar suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan.

"Halo, Yi Yi. Ada apa?" sapanya dengan nada yang dibuat biasa saja.

Di ujung sana, Xin Yi sedang duduk di kamarnya memegang secarik kertas berwarna biru muda yang ia temukan terselip di dalam sebuah buku pinjaman dari rak kakaknya.

"Kakak..." suara gadis itu terdengar pelan dan penuh rasa ingin tahu."Apakah Kakak mendapatkan surat cinta? Ada surat terselip di buku yang saya pinjam."

"......"Keempat pria di ruangan itu saling bertukar pandang.

Xin Yuning menggeleng cepat; sadar adiknya tak bisa melihatnya, dia segera menjawab,"Tidak, mana mungkin. Kakak tidak pernah menerima surat macam itu."

"Tapi benar adanya," bantah Xin Yi dengan wajah bingung. "Buku yang Kakak berikan padaku, di dalamnya ada surat. Baunya harum sekali... wanginya seperti parfum pria, Kakak..."

Gadis itu berhenti sejenak, lalu bertanya dengan nada serius yang membuat jantung semua orang di sana mencelos:

"Kamu... bukan homoseksual kan?"

"......"Xin Yuning hampir tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya memerah padam karena kaget dan marah.

"Apa yang kamu bicarakan! Kakak suka wanita! Suka gadis yang cantik dan baik! Bukan pria!"serunya tak terima dengan suara tinggi.

Mendengar jawaban keras itu, Zhao Yun dan Rong Yuan di sebelahnya hanya bisa saling melirik dan menahan tawa dengan susah payah, sementara Quan Yubin tetap diam namun sudut bibirnya sedikit bergerak.

"Oke, cukup," ucap Xin Yuning sambil membuang napas kasar, mencoba menenangkan diri dan memelototi rekan-rekannya.

"Mungkin itu cuma surat biasa atau catatan lama. Bukan surat cinta."

"Tapi bentuknya seperti surat cinta," jawab Xin Yi tetap pada pendiriannya. "Dan tidak ada nama pengirimnya sama sekali."

Karena penasaran dan ingin tahu isi sebenarnya, gadis itu pun membuka lipatan kertas itu perlahan, lalu mulai membacanya dengan suara lantang agar kakaknya bisa mendengar.

"Halo, mungkin kamu akan menemukan ini lebih lama dari yang kukira... Kebiasaanmu membaca buku lama tak berubah... Tapi tak masalah walaupun kamu terlambat mengetahui atau membaca surat ini.... Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku...."

Suara Xin Yi mendadak terhenti.

Jari-jemari halusnya menggenggam kertas itu kuat-kuat.Ia sadar sekarang. Surat ini... bukan ditujukan untuk Xin Yuning.

Isinya, sapanya, dan cara penulisannya jelas sekali ditujukan untuk.....dirinya sendiri.

Di ruangan VIP, keheningan total melanda.

Mereka tidak perlu mendengar kalimat selanjutnya untuk mengerti kebenarannya.

Dari nada pembuka saja, mereka sudah sadar.

Xin Yuning, Rong Yuan, dan Zhao Yun perlahan-lahan menolehkan kepala mereka secara bersamaan ke arah satu orang saja.

Ke arah Quan Yubin.

Pria itu sedang duduk tenang memegang gelas minumannya, wajahnya tampak datar dan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun mata mereka bisa melihat... tatapan mata pria itu gelap pekat, dan tangannya yang memegang gelas terlihat memutih karena menahan sesuatu yang sangat kuat.

Jelas sudah sekarang.

Surat itu isinya... untuk Xin Yi.

1
Yang Xiu
Tinggalkan jejak🙏
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!