NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: JEJAK TEPUNG DI BALIK TIRAI

Keheningan yang menyusul setelah badai kemarahan Reihan terasa jauh lebih menekan daripada pertengkaran itu sendiri.

Apartemen yang luas itu kini terasa seperti sebuah kotak vakum yang kedap udara.

Laluna masih berdiri di dapur, menatap nampan donat yang tadi ia siapkan dengan penuh semangat. Kata-kata Reihan bahwa aroma kue itu membuatnya "muak" terngiang-ngiang di telinganya seperti sembilu.

Dengan tangan yang masih gemetar, Laluna tidak membuang donat-donat itu. Ia tidak akan membiarkan kerja kerasnya terbuang hanya karena ego seorang pria yang tidak mampu mengendalikan emosinya.

Ia memasukkan donat-donat itu ke dalam kotak-kotak cantik bermotif floral, membungkusnya rapi, lalu meletakkannya di sudut paling belakang lemari pendingin, tersembunyi di balik deretan botol air mineral premium milik Reihan.

Malam itu, Reihan tidak keluar dari kamarnya. Laluna pun memilih untuk tidur di sofa panjang di ruang tengah, tidak sanggup membayangkan harus berbaring di tempat tidur yang sama dengan pria yang baru saja mengancam akan menghancurkan hidupnya.

Keesokan paginya, suasana masih membeku. Reihan berangkat sangat pagi tanpa sepatah kata pun. Laluna menggunakan kesempatan itu untuk memulai misinya. Ia membuka ponsel dan melihat akun Instagram @Khay_Delights miliknya.

Foto-foto yang ia unggah kemarin ternyata mendapat respon yang tidak terduga.

Ada sepuluh pesan masuk. Semuanya bertanya tentang ketersediaan stok donat dan chiffon cake-nya. Salah satu pemesan ternyata adalah seorang influencer gaya hidup yang tinggal di kompleks apartemen yang sama, hanya beda beberapa lantai.

"Aku butuh kesibukan, atau aku akan gila," bisik Laluna pada dirinya sendiri.

Ia mulai sibuk di dapur sejak pukul delapan pagi. Kali ini ia bekerja dengan sangat efisien, memastikan tidak ada ceceran tepung di lantai marmer dan aroma panggangan tidak merembes ke ruang kerja Reihan.

Ia menggunakan air purifier dengan pengaturan maksimal untuk menyedot setiap partikel aroma vanila yang keluar dari oven.

Pukul satu siang, pesanan pertama siap diantar. Laluna menggunakan jasa kurir instan, menemuinya di lobi bawah dengan penyamaran sederhana: kacamata hitam besar dan topi baseball.

Baginya, ini bukan sekadar berjualan kue, ini adalah caranya merebut kembali kemerdekaan yang dirampas oleh kontrak pernikahan itu.

Namun, keberuntungan tidak selalu berpihak padanya.

Sore harinya, saat ia baru saja selesai membersihkan dapur hingga mengkilap, pintu depan terbuka. Reihan pulang jauh lebih awal dari biasanya.

Wajah pria itu tampak pucat, dan langkah kakinya tidak seberat kemarin. Ia tampak kelelahan, bahkan mungkin sedikit sakit.

Reihan tidak melihat ke arah Laluna.

Ia langsung menuju dapur untuk mengambil air. Saat ia membuka pintu kulkas, tangannya terhenti. Matanya tertuju pada tumpukan kotak kue yang belum sempat dikirim karena pembelinya membatalkan pesanan di menit terakhir.

"Aku sudah bilang untuk membuangnya, Laluna," suara Reihan serak, terdengar letih daripada marah.

"Aku tidak suka membuang makanan, Reihan. Itu dosa," jawab Laluna, berdiri tegak sambil melipat tangan di depan dada.

"Dan aku sudah menjual sebagian besar dari mereka. Aku menghasilkan uang hari ini."

Reihan berbalik, menyandarkan tubuhnya ke pintu kulkas yang masih terbuka.

Ia memijat pangkal hidungnya. "Kau benar-benar tidak bisa diatur, ya?"

Laluna mendekat, menyadari sesuatu yang aneh.

"Kau sakit?"

"Hanya pusing. Pertemuan dewan komisaris tadi sangat menguras tenaga,"

Reihan mencoba melangkah menuju kamarnya, namun tubuhnya sedikit oleng.

Tanpa pikir panjang, Laluna menangkap lengan Reihan. Ia bisa merasakan panas yang menjalar dari kulit pria itu.

"Kau demam tinggi, Reihan! Kau harus istirahat."

"Aku tidak punya waktu untuk sakit," protes Reihan lemah, namun ia tidak menolak saat Laluna menuntunnya menuju sofa.

Laluna membiarkan Reihan berbaring di sana. Ia segera berlari ke dapur, mengambil air hangat dan handuk kecil.

Dengan telaten, ia mulai mengompres dahi sang "Ice King". Untuk sesaat, suasana tegang di antara mereka mencair, digantikan oleh rasa kemanusiaan yang sederhana.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Reihan pelan, matanya terpejam saat merasakan sentuhan air hangat di dahinya.

"Setelah apa yang kukatakan kemarin... kau seharusnya membiarkanku pingsan di sini."

Laluna terdiam sejenak.

"Karena aku bukan kau, Reihan. Aku tidak melihat segalanya sebagai transaksi atau ancaman. Kau suamiku, meskipun hanya di atas kertas. Dan merawat orang sakit adalah hal yang normal bagi manusia yang memiliki hati."

Reihan membuka matanya sedikit, menatap wajah Laluna yang berada sangat dekat dengannya.

Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat butiran tepung yang tertinggal di dekat pelipis Laluna, jejak dari kerja keras gadis itu seharian ini.

"Maafkan aku soal kemarin," bisik Reihan.

Suaranya hampir tenggelam oleh desis mesin pendingin ruangan.

"Saka... dia adalah ancaman bagi reputasi perusahaan. Aku tidak bisa membiarkan celah sekecil apa pun terbuka."

"Aku mengerti tentang bisnismu, tapi kau tidak punya hak untuk menghina pekerjaanku," balas Laluna lembut namun tegas.

Reihan terdiam, lalu matanya melirik ke arah kotak kue di dapur. "Apakah kue itu... benar-benar enak? Sampai-sampai kau rela bertaruh melawan perintahku?"

Laluna tersenyum kecil.

"Kau sudah mencicipinya kemarin malam, kan? Jangan pura-pura lupa. Aku melihat sisa potongan di piring."

Wajah Reihan yang memerah karena demam tampak semakin memerah. Ia memalingkan wajahnya.

"Aku hanya lapar."

"Tunggu di sini. Aku akan buatkan bubur dan sesuatu yang hangat," ucap Laluna.

Laluna kembali ke dapur. Ia membuat bubur ayam lembut dengan kaldu asli dan sedikit irisan jahe untuk menghangatkan tubuh Reihan.

Sambil menunggu bubur matang, ia mengambil satu donat dari kotak, menghiasnya dengan sedikit glaze cokelat hitam, tanpa pemanis berlebih, karena ia tahu Reihan tidak suka sesuatu yang terlalu menggelegar di lidahnya.

Saat ia membawakan nampan berisi makanan itu ke ruang tengah, ia mendapati Reihan sudah tertidur lelap. Wajah pria itu saat tidur tampak jauh lebih muda, tanpa beban, dan... rapuh.

Laluna meletakkan nampan di meja kopi, lalu duduk di lantai di samping sofa. Ia memandangi pria yang selama ini menjadi misteri baginya.

Reihan Arta Wiguna, pria yang memiliki segalanya namun seolah tidak memiliki siapa-siapa.

Tiba-tiba, ponsel Reihan yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal:

"Reihan, rahasiamu sudah mulai tercium oleh dewan. Pastikan 'istrimu' itu tidak melakukan kesalahan bodoh yang bisa menghancurkan kita semua. C"

Laluna membaca pesan itu dengan jantung berdebar. 'C' pasti Clarissa. Ia menyadari bahwa posisinya bukan hanya sebagai istri rahasia, tapi juga sebagai tameng hidup bagi Reihan.

Ia menoleh ke arah Reihan, lalu beralih ke donat cokelat yang ia siapkan. Perlahan, Laluna mengulurkan tangannya, menyentuh rambut Reihan yang sedikit berantakan di dahinya.

"Duniaku mungkin hanya seputar tepung dan gula, Reihan," bisiknya pelan.

"Tapi aku akan memastikan bahwa rahasia ini tidak akan menghancurkan kita."

Malam itu, Laluna tidak tidur di sofa. Ia tetap berjaga di samping Reihan, mengganti kompresnya setiap jam, sementara aroma bubur jahe dan cokelat hitam memenuhi ruangan, menciptakan kehangatan yang perlahan mulai menembus lapisan es di apartemen itu.

Tanpa mereka sadari, benih-benih perasaan mulai tumbuh di antara sela-sela kontrak yang kaku, tumbuh diam-diam seperti ragi yang membuat adonan mengembang di dalam kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!