Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
***
Mobil mewah itu tidak membelok ke arah Menteng. Karina yang tadinya sudah bersandar nyaman di dada Darma, tiba-tiba menegakkan punggungnya saat menyadari rute jalan yang asing. Ia melirik ke jendela, lalu beralih ke wajah suaminya yang masih tampak sebeku bongkahan es di kutub utara.
"Kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang," tanya Karina dengan nada ketus yang masih tersisa. "Mas mau membuang saya di pinggir jalan karena saya sudah mempermalukan 'rekan bisnis' kesayangan Mas tadi?"
Darma tidak menjawab. Ia tetap tenang, jemarinya sibuk menggeser laporan saham di tabletnya. "Diam dan duduklah. Kamu tadi bilang lapar, bukan?"
"Saya lapar nasi, bukan lapar diculik!"
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kedai artisan gelateria bergaya Eropa klasik di kawasan Senopati. Tempat itu biasanya dipenuhi sosialita, namun sore ini, pintu masuknya dijaga oleh dua pria berjas hitam dengan earpiece. Papan di depan pintu bertuliskan: Closed for Private Event.
"Turun," perintah Darma singkat.
Karina mengerjap. "Mas... Mas menyewa satu kedai es krim ini? Hanya untuk membuat saya diam?"
"Satu toko es krim ini sudah saya pesan hanya untukmu. Makanlah sampai amarahmu membeku," sahut Darma datar sambil melangkah keluar mobil tanpa menunggu jawaban.
Di dalam kedai, suasana begitu sunyi dan elegan. Aroma vanila dan cokelat panggang menyerbu indra penciuman. Darma duduk di kursi kayu melengkung, sementara seorang pelayan datang membawa nampan berisi sepuluh varian rasa es krim terbaik mereka.
"Satu toko? Mas pikir aku ini anak kecil yang kalau nangis dikasih permen langsung diam?" gerutu Karina, namun tangannya sudah meraih sendok perak kecil di depannya.
Matanya berbinar melihat gumpalan es krim yang menggoda. "Mas benar-benar berlebihan. Efisiensi bisnis Mas ke mana? Ini pemborosan logistik!"
"Logistik untuk ketenangan rumah tangga adalah investasi jangka panjang yang masuk akal," jawab Darma dingin, meskipun matanya tak lepas dari wajah Karina. "Pilih rasanya. Saya tahu kamu benci cokelat yang terlalu manis."
Karina tertegun sejenak. Sendoknya menggantung di udara. "Mas... tahu dari mana?"
"Saya membaca profilmu saat kesepakatan kontrak pertama kali dibuat. Kamu juga selalu memesan dark chocolate pahit atau buah-buahan asam saat kita makan malam formal. Kamu pikir saya hanya memperhatikan angka?"
Karina merasakan sensasi hangat yang aneh menjalar di dadanya, namun gengsinya segera menepis itu. Ia menyendok es krim berwarna hijau pucat. "Tapi... yang rasa pistachio ini boleh juga. Tidak terlalu buruk untuk ukuran pria kaku seperti Mas."
"Makan saja, Karina. Jangan banyak bicara. Wajahmu kalau sedang marah terlihat lebih tua lima tahun."
"MAS DARMA!" Karina hampir melempar sendoknya. "Mas itu benar-benar tidak bisa romantis sedikit saja ya? Tadi di lapangan golf Mas bilang saya seksi, sekarang bilang saya terlihat tua? Mas punya gangguan kepribadian atau bagaimana?"
Darma sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Karina tepat di matanya. "Seksi saat melindungi milikmu, dan terlihat tua saat merajuk karena hal yang tidak penting. Keduanya adalah fakta. Sekarang, habiskan es krim itu sebelum saya berubah pikiran dan membawa kamu ke markas latihan militer ayahmu untuk belajar disiplin."
Karina mendengus, menyuapkan es krim dengan kasar ke mulutnya. "Coba saja. Papa pasti lebih membela aku daripada menantu 'kulkas' seperti Mas."
****
Bersambung..
mbk karin keren. pkirin diri sm calon debay aja mbk. yg lain biarin. 😁