Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Cahaya lilin di atas meja balkon restoran Le Papillon menari-nari, memantul di mata Ambar yang tampak begitu jernih malam itu.
Di depannya, sepiring Wagyu Steak dengan kematangan sempurna dan saus truffle aromatik tersaji cantik. Ambar memotong daging lembut itu, menyesap rasanya, lalu tersenyum lebar.
"Enak sekali, Bas," ucap Ambar tulus.
"Aku belum pernah makan daging selembut ini seumur hidupku."
Baskara hanya menyandarkan punggungnya, memutar-mutar gelas berisi jus anggur di tangannya sambil tersenyum tipis.
Tatapannya yang tadi tajam saat menghadapi pelayan, kini berubah menjadi sangat lembut dan penuh rasa ingin tahu.
"Sayang, boleh aku bertanya sesuatu?" suara Baskara tiba-tiba merendah, sedikit lebih serius dari sebelumnya.
Ambar meletakkan pisau dan garpunya, lalu menganggukkan kepala dengan saksama.
"Tentu, Bas. Tanya saja."
Baskara terdiam sejenak, matanya turun menatap kakinya yang tertutup celana kain mahal namun tak bergerak di atas kursi roda.
"Bagaimana kalau kakiku ini tidak berfungsi selamanya? Sejak kecelakaan itu, aku tidak pernah bisa memegang kendali lagi atas tubuh bawahku. Sejujurnya, aku tidak tahu apakah aku akan bisa berjalan lagi atau tidak."
Baskara mendongak, menatap dalam ke netra Ambar.
"Jika keajaiban itu tidak pernah datang, apakah kamu akan tetap di sampingku? Ataukah suatu saat kamu akan merasa lelah dan memilih pergi?"
Suasana di balkon itu mendadak sunyi, hanya deru angin malam yang terdengar.
Ambar menatap suaminya tanpa ragu sedikit pun.
Ia meraih tangan Baskara yang ada di atas meja, menggenggamnya erat.
"Bas, tentu saja aku akan pergi," jawab Ambar dengan nada bicara yang datar, membuat jantung Baskara sempat berhenti berdetak sesaat karena terkejut.
Namun, Ambar segera menyambung kalimatnya dengan senyuman jahil yang sangat manis.
"Tapi aku perginya tetap di samping kamu. Ke mana pun kamu pergi, mau itu pakai kursi roda atau pakai tongkat, aku akan tetap berjalan di sebelahmu. Kamu tidak akan bisa lepas dariku, Tuan Mahendra."
Baskara tertegun, lalu tawa kecilnya pecah. Rasa sesak yang sempat menghimpit dadanya seketika menguap digantikan perasaan hangat yang luar biasa. Ia menarik tangan Ambar dan mengecup jemarinya dengan gemas.
"Dasar nakal," ucap Baskara sambil menggelengkan kepala.
"Hampir saja aku jantungan mendengar kalimat pertamamu tadi."
Ambar tertawa renyah. "Itu hukuman karena kamu meragukanku. Kamu sudah memberiku dunia, Bas. Sekarang, dunia itu tidak akan berarti apa-apa kalau pusatnya bukan kamu."
Baskara menatap istrinya dengan penuh janji. "Maka aku akan menjadi pusat duniamu yang paling kokoh, Ambar. Meskipun aku harus melakukannya dari atas kursi roda ini."
Suasana romantis di balkon restoran Le Papillon yang kini telah menjadi milik mereka terasa semakin intim.
Sinar rembulan dan cahaya lilin yang temaram seolah memberikan privasi mutlak bagi sepasang suami istri yang baru saja mengikat janji suci itu.
Ambar baru saja menyuap potongan terakhir dari Wagyu Steak-nya yang sangat lezat, sementara Baskara terus memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman dan gairah yang tertahan.
Baskara tiba-tiba memajukan tubuhnya sedikit, mendekat ke arah Ambar.
"Ayo lekas dihabiskan makanannya, Sayang," ucap Baskara dengan suara bariton yang rendah dan serak, yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Ambar meremang.
Ambar mendongak, menatap mata suaminya. "Kenapa terburu-buru, Bas? Makanannya masih sangat enak."
Baskara menyeringai tipis, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan sangat menggoda.
"Karena aku sudah tidak sabar untuk melakukan poin ketiga seperti semalam. Bukankah aku sudah mencoret larangan itu dari kontrak kita?"
Wajah Ambar seketika memerah sempurna, panas menjalar hingga ke telinganya.
Ia teringat kembali bagaimana malam pertama mereka di hotel—saat Baskara menghapus poin kontrak yang melarang hubungan suami istri, dan bagaimana pria itu membuktikan bahwa keterbatasan fisiknya bukanlah penghalang untuk memberikan kebahagiaan lahir batin bagi istrinya.
Ambar memukul pelan punggung tangan Baskara yang ada di atas meja, mencoba menutupi rasa malunya.
"Bas, kamu mulai nakal ya. Ingat, kita masih di tempat umum!" bisiknya sambil melirik ke arah pelayan yang berdiri jauh di sudut.
Baskara tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat puas melihat reaksi istrinya.
"Tempat umum ini milikku, Ambar. Dan jika aku mau, aku bisa menyuruh mereka semua menutup mata sekarang juga."
Ia kemudian menggenggam jemari Ambar, menariknya lembut dan mengecup punggung tangannya dengan durasi yang lama.
"Tapi kau benar, rumah kita jauh lebih nyaman untuk melanjutkan 'diskusi' tentang poin ketiga itu. Aku ingin memilikimu seutuhnya lagi, tanpa gangguan siapa pun."
Ambar hanya bisa menunduk, tersenyum malu namun hatinya dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.
"Baiklah, Tuan Mahendra yang tidak sabaran. Mari kita pulang."
Baskara segera memberikan isyarat kepada Gabby untuk menyiapkan mobil.
Di sepanjang jalan menuju kediaman utama Mahendra, tangan Baskara tidak pernah lepas dari pinggang Ambar, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Malam ini tampaknya akan menjadi malam yang jauh lebih panjang dan membara daripada malam sebelumnya.
Mobil Rolls-Royce itu berhenti dengan halus di depan lobi kediaman utama Mahendra.
Dengan cekatan, para pelayan membukakan pintu dan membantu Ambar mendorong kursi roda Baskara menuju lift pribadi yang langsung terhubung ke lantai paling atas, area kekuasaan sang tuan rumah.
Begitu pintu kamar utama yang megah itu terbuka, Ambar seketika mematung di ambang pintu. Napasnya tertahan.
Aroma harum yang sangat ia kenali—campuran antara wangi hujan dan kesegaran bunga alami—langsung menyerbu indra penciumannya.
Seluruh sudut kamar itu telah berubah. Di atas meja rias, di sudut sofa, hingga di samping ranjang king size mereka, berjejer vas-vas kristal berisi rangkaian bunga Blue Himalayan Poppy dan Blue Hydrangea yang sangat cantik.
Warna birunya begitu murni, persis seperti warna dinding kamar masa kecil yang selalu Ambar ceritakan.
"Bas, bunga ini?" bisik Ambar lirih.
Ia melangkah mendekat, menyentuh kelopak bunga yang terasa dingin dan lembut itu dengan ujung jarinya. Air mata haru mulai menggenang di pelupuk matanya.
Baskara memutar kursi rodanya, mendekat ke arah Ambar.
Ia menatap istrinya dengan binar mata yang hangat.
"Aku ingat kamu bilang ibumu sangat mencintai warna biru. Jadi, aku ingin malam kedua kita di rumah ini dikelilingi oleh sesuatu yang membuatmu merasa dicintai, bukan hanya olehku, tapi juga oleh kenangan indah ibumu."
Ambar menoleh, menatap Baskara dengan tatapan tidak percaya.
"Tapi Bas, ini bunga Blue Poppy. Ini bunga mahal dan sangat susah dicari. Mereka hanya tumbuh di ketinggian tertentu di pegunungan Himalaya. Bagaimana bisa kamu mendatangkannya sebanyak ini dalam waktu singkat?"
Baskara terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar sangat jantan di keheningan kamar.
Ia meraih tangan Ambar dan mengecup punggung tangannya.
"Sayang, jangan pernah bertanya 'bagaimana' pada suamimu jika itu menyangkut kebahagiaanmu," ucap Baskara penuh otoritas namun lembut.
"Aku menyuruh tim logistikku menyewa pesawat kargo khusus hanya untuk membawa bunga-bunga ini dari Nepal sore tadi. Bagiku, tidak ada yang terlalu mahal atau terlalu susah jika itu bisa membuatmu tersenyum seperti ini."
Ambar berlutut di depan Baskara, memeluk pinggang suaminya erat-erat.
"Kamu gila, Bas. Benar-benar gila."
"Aku memang gila karenamu, Ambar," balas Baskara sambil mengelus rambut panjang istrinya.
Kemudian ia merendahkan suaranya, memberikan tatapan yang sangat dalam.
"Nah, sekarang bunganya sudah ada, suasananya sudah sempurna. Nukankah kita punya janji tentang 'poin ketiga' yang harus segera diselesaikan?"
Ambar mendongak, wajahnya merona merah di antara kepungan bunga-bunga biru yang indah.
Ia tersenyum manis, lalu berdiri dan perlahan mulai membuka kancing blazer-nya, membiarkannya jatuh ke lantai tepat di hadapan Baskara.
"Baiklah, Tuan Mahendra. Malam ini, aku menjawab milik mu,"
Pintu kamar utama itu seolah mengunci seluruh dunia di luar, menyisakan ruang hampa yang hanya diisi oleh aroma magis bunga Blue Poppy yang langka.
Cahaya lampu kamar diredupkan hingga menyisakan pendar keemasan yang eksotis, memantul pada kelopak-kelopak bunga biru yang mengepung ranjang besar mereka.
Baskara duduk di tepi ranjang, matanya menggelap penuh damba saat melihat Ambar berdiri di hadapannya.
Tanpa ragu lagi, Ambar melangkah mendekat. Jemari lentiknya bergerak lincah membuka kancing kemeja sutra Baskara satu per satu, menyingkap dada bidang suaminya yang kokoh.
"Bas, malam ini, biarkan aku yang memegang kendali," bisik Ambar tepat di telinga Baskara, napasnya yang hangat membuat pria itu memejamkan mata menahan gejolak.
Ambar kemudian melakukan kegilaan yang tak terduga.
Dengan gerakan anggun namun berani, ia naik ke atas pangkuan Baskara.
Ia melingkarkan kakinya di pinggang suaminya, menempelkan tubuhnya yang hangat tanpa celah.
Ambar mulai menghujani leher dan rahang Baskara dengan ciuman-ciuman panas yang menuntut, membuat napas Baskara memburu seketika.
Tangan Baskara yang kuat mencengkeram pinggang Ambar, menuntun gerakan istrinya yang semakin liar dan penuh gairah.
Di tengah lautan bunga biru itu, suara desahan mereka berdua mulai bersahutan, memecah keheningan malam dengan melodi penyatuan yang begitu intens.
Ambar tidak lagi malu-malu; ia bergerak dengan ritme yang menantang, memberikan balasan atas setiap sentuhan posesif yang diberikan Baskara.
"Sayang, kamu nakal sekali malam ini," ucap Baskara dengan suara bariton yang serak dan berat, menahan gairah yang hampir meledak saat Ambar menggigit lembut daun telinganya.
Ambar tertawa rendah, sebuah tawa yang menggoda sekaligus mematikan.
'Bukankah ini yang kamu inginkan, Bas? Poin ketiga tanpa batasan..."
Kamar itu menjadi saksi bisu bagaimana Ambar melayani suaminya dengan seluruh jiwa dan raganya.
Meskipun Baskara memiliki keterbatasan pada kakinya, namun kekuatan tangan dan tatapan matanya yang membara membuat Ambar merasa menjadi wanita paling diinginkan di dunia.
Keduanya tenggelam dalam lautan kenikmatan yang tak berujung, di mana setiap sentuhan adalah janji dan setiap desahan adalah pengakuan cinta yang paling jujur.
Malam itu, di bawah saksi bunga-bunga biru yang mahal, mereka tidak hanya menyatukan tubuh, tetapi juga menyembuhkan luka-luka masa lalu dengan api gairah yang baru saja mereka nyalakan bersama.