NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Hitam di Perbatasan Utara

Hujan turun seperti jarum-jarum es yang menghujam kulit saat Arkan dan Liana merayap di antara akar-akar pohon raksasa yang menonjol di lereng bukit Pine Ridge.

Di belakang mereka, sinar lampu sorot dari tiga helikopter Project Phoenix menyapu kanopi hutan, menciptakan kilatan cahaya perak yang mengerikan di antara batang pohon yang gelap. Suara baling-baling yang menderu rendah terasa seperti detak jantung kematian yang terus mengejar.

​Arkan menarik Liana ke dalam celah batu besar yang tertutup lumut tebal. Napas mereka memburu, menciptakan uap putih di udara malam yang membeku. Arkan segera meraih pergelangan tangannya, menemukan pelacak magnetik kecil yang menempel di jaket taktisnya. Dengan geraman rendah, ia mencabut alat itu dan menempelkannya pada seekor musang hutan yang kebetulan lewat di dekat mereka.

​"Lari, kecil... bawa mereka menjauh," bisik Arkan sembari menepuk pelan punggung hewan itu.

Musang itu melesat ke arah berlawanan, membawa sinyal palsu menjauh dari posisi mereka.

Liana bersandar pada dinding batu yang dingin, tangannya gemetar hebat saat mencoba mengisi ulang magazin Glock-17 miliknya.

"Arkan... data ini. Elena bukan hanya ingin menguasai tanah. Protokol Project Phoenix ini... ini adalah kunci pemusnah massal digital. Jika dia berhasil mengaktifkannya, dia bisa mematikan seluruh infrastruktur negara dalam satu kedipan mata. Dia tidak butuh tentara, dia hanya butuh kode ini."

​Arkan menatap Liana dengan tatapan yang dalam dan penuh rasa bersalah.

"Ibuku bukan lagi manusia yang aku kenal, Liana. Dia adalah arsitek kehancuran yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang ayahku. Kita harus mencapai Zona Utara sebelum fajar. Hanya di sana kita punya kesempatan."

​"Siapa sebenarnya penguasa Zona Utara itu?" tanya Liana, suaranya bergetar karena kedinginan.

"Namanya Gideon. Dia adalah mantan tangan kanan ibuku sebelum ibuku mengkhianatinya sepuluh tahun lalu—tepat di malam yang sama saat rumahmu dibakar.

Elena menjadikannya kambing hitam atas kegagalan operasi besar, dan Gideon menghabiskan satu dekade membangun tentara bayarannya sendiri di zona tak bertuan itu. Dia membenci ibuku lebih dari siapapun di dunia ini."

​Mereka melanjutkan pelarian, menembus semak berduri yang merobek pakaian dan kulit mereka. Medan di perbatasan Utara terkenal sangat mematikan; penuh dengan ranjau sisa perang saudara lama dan jebakan-jebakan buatan para penyelundup. Arkan memimpin di depan, menggunakan instingnya untuk membaca jejak tanah dan pergerakan angin.

​Tiba-tiba, Arkan berhenti mendadak. Ia merentangkan tangannya, memberi isyarat agar Liana tidak bersuara.

​Dari balik kegelapan hutan di depan mereka, muncul selusin titik merah laser yang membidik tepat ke dada Arkan dan dahi Liana. Suara kokangan senjata otomatis bergema serempak, memecah kesunyian malam.

"Berhenti di sana, Tuan Muda Dirgantara," sebuah suara berat dan serak muncul dari balik bayang-bayang pohon jati.

​Seorang pria raksasa dengan satu mata tertutup penutup kulit hitam melangkah maju. Ia mengenakan jubah militer usang yang penuh dengan lencana yang sudah pudar. Itulah Gideon. Di tangannya, ia memegang cerutu yang apinya menyala merah di tengah kegelapan.

​"Gideon," Arkan berdiri tegak, meski puluhan moncong senjata siap mencabik tubuhnya. "Aku membawa apa yang kau inginkan selama sepuluh tahun ini. Kepala Elena Dirgantara dalam bentuk data digital."

​Gideon tertawa, suara tawanya terdengar seperti gesekan batu tajam. Ia mendekati Arkan, mengembuskan asap cerutu tepat ke wajah pria muda itu.

"Putra dari wanita jalang yang menusukku dari belakang... datang meminta suaka? Kau punya nyali, Arkan. Atau mungkin kau hanya putus asa."

Gideon menatap Liana, matanya yang satu menatap tajam pada flash drive yang digenggam erat oleh gadis itu.

"Dan kau... bunga kecil dari Sektor Selatan. Kau membawa kunci Phoenix, bukan? Elena pasti sedang mengamuk sekarang karena mainan mahalnya dicuri oleh seorang gadis toko bunga."

​"Kami tidak datang untuk bernegosiasi, Gideon," ucap Liana tegas, meski kakinya terasa lemas.

"Kami datang untuk menawarkan aliansi. Kau ingin balas dendam pada Elena, dan kami ingin menghentikan kegilaannya. Bantu kami menembus firewall pusat Project Phoenix di Singapura, dan kau akan mendapatkan nama baikmu kembali di dunia bawah."

​Gideon terdiam sejenak. Ia mengamati kedua orang di depannya. Ia melihat api yang sama di mata Liana—api yang dulu ia lihat pada Elena, namun kali ini murni, bukan dipenuhi keserakahan.

​"Dunia bawah tidak peduli pada nama baik, Nak," Gideon membuang cerutunya.

"Tapi dunia bawah sangat peduli pada utang darah."

Tiba-tiba, suara ledakan besar terdengar dari arah bukit yang baru saja mereka tinggalkan. Tim pengejar Project Phoenix telah menemukan jejak mereka kembali. Sinar lampu sorot helikopter mulai mendekati wilayah perbatasan Gideon.

​"Cepat masuk ke dalam bunker!" perintah Gideon pada anak buahnya. Ia menoleh ke arah Arkan dan Liana.

"Ikut aku jika kalian ingin tetap bernapas saat matahari terbit. Tapi ingat satu hal, Arkan... jika kau berkhianat seperti ibumu, aku sendiri yang akan menguliti wajahmu."

​Mereka berlari menuju sebuah pintu baja yang menyamar di balik tebing batu. Saat pintu itu tertutup dengan suara dentuman berat, Arkan dan Liana menyadari bahwa mereka baru saja memasuki labirin hitam yang lebih berbahaya. Mereka aman dari helikopter di luar, namun kini mereka berada di dalam sarang serigala yang lapar akan balas dendam.

​Di dalam bunker yang remang-remang, penuh dengan monitor radar dan senjata berat, Gideon menoleh ke arah sebuah peta dunia digital yang berkedip merah.

"Elena baru saja mengaktifkan fase pertama Project Phoenix di satelit. Dalam enam jam, jaringan komunikasi Sektor Selatan akan lumpuh total. Itu hanyalah pemanasan."

​Liana menatap Arkan dengan cemas.

"Dia akan menghancurkan rumah kita lagi, Arkan. Bukan dengan api kali ini, tapi dengan kegelapan digital."

​Arkan mengepalkan tinjunya.

"Tidak selama kita masih memegang kuncinya."

​Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.

Dari toko bunga yang damai, kini mereka harus belajar menguasai medan perang global yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Di Zona Utara yang dingin, aliansi haram antara sang pewaris mafia, gadis penyintas, dan sang pengkhianat veteran mulai terbentuk di bawah ancaman kehancuran dunia.

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!