"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: AMARAH SANG PENYELAMAT BISU
Malam di Mansion Ryker seharusnya kembali tenang setelah kegaduhan wartawan tadi pagi. Namun, udara di sekitar air terjun kristal itu terasa bergetar, seolah-olah alam sendiri sedang menahan napas.
Alurra tertidur pulas di sofa balkon, kelelahan setelah menguras sihir manipulasinya. Nael duduk di sampingnya, memandangi wajah bidadarinya yang tampak begitu rapuh saat terlelap. Tangan Nael bergerak perlahan, hanya berani mengusap ujung rambut emas Alurra tanpa menyentuhnya, takut bidadari itu akan menguap menjadi cahaya jika ia terlalu kasar.
Tiba-tiba, mata Nael menangkap bayangan di balik semak-semak taman bawah. Jantungnya mencelos.
Di bawah sana, Jayden berdiri dengan wajah yang tak lagi terlihat seperti manusia—matanya merah karena dendam, dan di sampingnya berdiri Ki Gendeng yang memegang sebuah keris hitam yang mengeluarkan asap pekat berbau busuk.
"Ki... sekarang!" bisik Jayden, suaranya terdengar sampai ke balkon karena keheningan malam. "Tangkap dia selagi cahayanya redup! Aku ingin melihatnya membusuk di dalam sangkar besi!"
Nael melompat berdiri. Ia ingin berteriak, tapi kerongkongannya tetap terasa seperti disemen beton. Ia segera meraih ponselnya, namun tangannya bergetar hebat hingga ponsel itu jatuh ke lantai balkon.
Prak!
Ki Gendeng mulai merapalkan mantra. Dari ujung keris hitam itu, melesat jaring-jaring energi gelap yang merambat di udara, menuju tepat ke arah Alurra yang masih terlelap.
Nael tidak punya waktu. Ia tidak bisa mengetik. Ia tidak bisa memberi isyarat. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menjadi tameng. Nael menerjang, mendekap tubuh Alurra erat-erat, membelakangi jaring hitam yang sebentar lagi akan menghantam punggungnya.
Jangan... jangan dia... kumohon, ambil aku saja! teriak Nael dalam batinnya yang tersiksa.
Ketakutan akan kehilangan Alurra menghancurkan tembok trauma yang sudah lima tahun mengunci pita suaranya. Rasa perih yang amat sangat menjalar dari dada ke tenggorokannya, seolah ada pedang yang memaksa keluar.
"JAYDENNN!!! BERHENTIII!!!"
Suara itu meledak. Berat, parau, dan sangat dalam, menggetarkan seluruh balkon hingga pot-pot bunga pecah.
Alurra tersentak bangun, matanya membelalak kaget. Ia tidak melihat jaring hitam yang mendadak hancur menjadi debu karena getaran suara Nael, ia hanya melihat wajah Nael yang memerah karena amarah yang luar biasa.
"Nael...?" bisik Alurra, suaranya bergetar. "Kau... kau baru saja..."
Nael sendiri terpaku. Ia memegang lehernya, merasakan getaran yang masih tersisa di sana. Air mata mengalir di pipinya, bukan karena sedih, tapi karena rasa sakit yang luar biasa saat suaranya pertama kali pecah.
Di bawah sana, Jayden dan Ki Gendeng mematung seperti patung garam.
"K-kau... kau bisa bicara?" suara Jayden mencicit ketakutan. "Lima tahun kau diam... kau menipuku, Nael?!"
Nael melangkah ke tepi balkon, ia mencengkeram pagar besi hingga jarinya memutih. Matanya menatap Jayden dengan sorot mata yang bisa membunuh.
"Pergi dari sini," suara Nael keluar lagi, kali ini lebih rendah dan sangat mengancam. "Pergi... sebelum aku benar-benar menghancurkan hidupmu, Jayden."
"Ayo lari, Tuan!" Ki Gendeng menarik baju Jayden. "Pria ini... dia bukan lagi manusia biasa yang lemah! Auranya sudah menyatu dengan aura bidadari itu! Kita tidak akan menang!"
Jayden lari terbirit-birit menembus kegelapan, meninggalkan Mansion Ryker dalam ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Di atas balkon, keheningan kembali jatuh. Nael berbalik, kakinya lemas hingga ia jatuh terduduk di depan Alurra.
Alurra segera berlutut, ia memegang wajah Nael dengan kedua tangannya yang hangat. "Nael... katakan lagi. Tolong, katakan sesuatu lagi untukku."
Nael menatap mata ungu Alurra yang kini berkaca-kaca. Ia meraih tangan Alurra, mencium telapak tangannya dengan lembut, lalu berbisik dengan suara yang masih sangat kaku:
"Jangan... jangan tinggalkan aku, Alurra."
Alurra langsung menghambur ke pelukan Nael, menangis sesenggukan di bahu pria itu. "Bodoh! Bagaimana aku bisa meninggalkanmu kalau suaramu saja seindah ini? Kau pangeranku... kau benar-benar suaraku sekarang."
Nael memejamkan mata, mendekap Alurra erat-erat. Ia menyadari bahwa selama ini suaranya tidak hilang—ia hanya menyimpannya untuk sebuah alasan yang sangat berharga. Dan malam ini, alasan itu sedang menangis bahagia di pelukannya.
...****************...
aku suka namanya Nael ....