Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari Sebuah Kebohongan
WUSSS!!!
Vas kristal berat itu meluncur cepat tepat menuju kepala Arga. Semua terjadi begitu cepat. Clara bahkan sempat menjerit ketakutan.
"ARGA WASPADA!!!"
Namun, Arga sudah siap. Dengan refleks yang cepat dan tangkas, ia menangkis benda itu menggunakan lengan kirinya dengan kuat.
BRUKKK!!!
Vas itu terpental jauh dan menghantam dinding hingga pecah berkeping-keping. Serpihan kaca bertebaran di mana-mana.
"GILA YA LO?!" bentak Arga tak terima, emosinya memuncak melihat kelakuan ayah mertuanya yang tidak tahu diri itu.
Tuan Wijaya tidak berhenti di situ. Seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat, ia meraih barang apa saja yang ada di dekatnya—buku, piala, gelas—dan melemparinya ke arah Arga dan Clara dengan penuh amarah.
"PERGII!!! KELUAR DARI RUMAH SAYA!!! KALIAN PEMBAWA SIAL!!!" teriaknya histeris, air mata dan ingus bercampur membasahi wajahnya yang kini terlihat menyedihkan.
"Ayah sudah gila! Ayah sadar!!!" teriak Clara sambil menangis. Ia sangat kecewa. Bukan karena ayahnya jahat, tapi karena ayahnya tidak pernah mau mengakui kesalahan.
Arga melangkah maju, menatap tajam ke arah Tuan Wijaya yang kini sudah mundur ketakutan sampai terpojok di sudut ruangan.
"Sudah cukup, Wijaya. Permainanmu sudah selesai," ucap Arga dingin dan berwibawa. "Anda pikir dengan melempar barang Anda bisa menghilangkan bukti? Anda pikir dengan kekerasan Anda bisa menutupi dosa Anda?"
"Aku tidak bersalah! Aku tidak bersalah!" Tuan Wijaya memeluk kepalanya gemetar. "Aku hanya ingin sukses... aku hanya ingin keluarga ini menjadi yang terhebat..."
"Kesuksesan yang didapat dari menumpuk darah dan air mata orang lain tidak akan membawa kebahagiaan, Pak. Lihat diri Anda sekarang. Anda punya segalanya, tapi Anda sendirian. Anda kaya raya, tapi jiwa Anda miskin dan hancur."
Kata-kata Arga itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkan Tuan Wijaya. Pria itu terdiam, tubuhnya lemas, lalu perlahan ia melorot jatuh ke lantai.
Tepat saat itu, suara sirine polisi kembali terdengar. Kali ini bukan untuk menangkap Arga, tapi benar-benar datang untuk menangkap pelaku kejahatan sesungguhnya.
Tuan Leonard masuk diikuti oleh beberapa petugas polisi yang berseragam lengkap.
"Wijaya... kau sudah kalah," ucap Tuan Leonard dengan nada sedih. "Dokumen yang Arga temukan itu cukup buat mengurungmu seumur hidup. Pasrahkan dirimu."
Tuan Wijaya menatap Clara, putri satu-satunya. Matanya memancarkan rasa penyesalan yang mendalam, tapi sudah terlambat.
"Clara... Ayah minta maaf..." bisiknya lemah.
Clara menangis terisak-isak, tapi ia tidak mendekat. "Kenapa baru bilang maaf sekarang, Yah... Kenapa tidak dari dulu?"
Dua petugas polisi maju, lalu memborgol tangan Tuan Wijaya. Pria yang dulu angkuh, kaya raya, dan ditakuti banyak orang, kini pergi dengan kepala tertunduk dalam, digiring keluar seperti penjahat biasa.
Rumah mewah itu kini terasa sunyi dan kosong. Hanya tersisa Arga, Clara, dan Tuan Leonard.
Clara tidak kuat menahan emosinya lagi. Ia berbalik lalu memeluk Arga erat-erat, menangis di dada bidang suaminya.
"Sudah selesai, Sayang... Semuanya sudah selesai," bisik Arga lembut sambil mengelus rambut istrinya. "Kita sudah menang. Ayahmu akan mendapatkan hukumannya, dan ayahku akhirnya bisa tenang di sana."
"Terima kasih ya Mas... Terima kasih sudah berjuang sejauh ini untuk kita," isak Clara.
Tuan Leonard mendekat, lalu menepuk bahu mereka berdua dengan lembut.
"Kalian berdua anak yang hebat. Kakekmu pasti bangga melihat kalian sekarang, Clara. Dan ayahmu juga pasti tersenyum melihat keadilan sudah ditegakkan, Arga."
"Lalu... bagaimana dengan kami, Om? Apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya Arga.
Tuan Leonard tersenyum lebar.
"Sekarang? Sekarang waktunya kalian hidup bahagia! Kalian sudah melewati badai, sekarang waktunya menikmati pelangi. Jalani hidup kalian, kembangkan bengkel itu, dan cintailah satu sama lain selamanya."