NovelToon NovelToon
Arsitektur Pengkhianatan

Arsitektur Pengkhianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Effendik89

Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.

Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.

Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.

Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Kabut dan Memori yang Terhapus

Terik matahari pagi Surabaya menyusup di sela-sela gorden sutra yang tersingkap. Menusuk langsung ke kelopak mata Adnan. Ia tersentak, badannya menegang secara refleks. Sendi-sendinya terasa agak kaku tidak seperti biasanya.

 

 

Namun, alih-alih merasakan empuknya kasur King size. Punggungnya justru menghantam sandaran keras sofa chesterfield di ruang tamu. Gerobyak.. Adnan mengerang kesakitan sambil memegang punggungnya. Kepalanya terasa seberat beton, berdenyut-denyut dengan irama yang menyiksa.

 

 

Pandangannya berkunang-kunang, agak sedikit kabur, memaksanya memejamkan mata. Lalu kembali selama beberapa detik sebelum akhirnya ia benar-benar terjaga. Sampai benar-benar pening kepalanya hilang. Sampai kabut di matanya benar-benar hilang.

 

 

"Apa yang terjadi?" bisiknya parau. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Belum pernah ia menjadi sekalut dan sebingung pagi ini. Walau ia terjaga semalaman pun, tak pernah ia sampai ketiduran, ini aneh, ucapnya dalam hati.

 

Ia duduk tegak, mencoba mengumpulkan kepingan ingatan. Hal terakhir yang ia ingat adalah duduk di ruang kerja kedap suara miliknya semalam. Menonton siaran langsung yang menghancurkan jiwanya. Arini dan Bagaskara dengan penuh guratan nafsu menjijikkan di dalamnya. Lalu kegelapan secara tiba-tiba dan ia tak sadar lagi, tak ingat lagi. Seolah-olah seseorang baru saja mencabut kabel daya dari otaknya.

 

Adnan melihat ke meja kaca di depannya, masih rapi. Ponselnya tergeletak di sana dengan tangan sedikit gemetar. Ia menyambar benda itu,  jemarinya menari di atas layar, membuka aplikasi pesan perlahan-lahan. Jantungnya seolah berhenti berdetak, saat ia melihat semuanya hilang.

 

Kosong!

 

Semua pesan dari Ayah mertuanya tentang rahasia operasi Arini di Singapura. Pesan dari Ibunya tentang halte tua dan bayangan yang di yakini Arini oleh Ibunya. Hingga laporan mendetail dari Jo dan Bima, semuanya lenyap.

 

 

Tidak ada jejak, bahkan folder cloud cadangan yang biasanya menyimpan foto-foto dan video bukti perselingkuhan Arini pun bersih tanpa sisa. Seolah-olah sejarah dua hari terakhir telah dihapus secara permanen oleh tangan yang sangat ahli. Seolah ada beberapa orang semalam menerobos masuk tanpa seizinnya di dalam rumahnya.

 

 

Adnan berdiri dengan sempoyongan. Ia menyadari sesuatu yang janggal telah terjadi. Pintu depan rumahnya terbuka lebar, membiarkan udara pagi masuk dengan bebas. Sesuatu yang tidak pernah terjadi di rumah yang menjunjung tinggi privasi ini.

 

Ia melangkah keluar, menghirup udara luar untuk menjernihkan pikirannya. Di halaman depan, ia melihat Bi Sum sedang menyiram tanaman dan bunga-bunga dengan gerakan yang kaku, membelakangi pintu tidak biasanya. Terdengar sedikit terisak, seolah Bi Sum menangis dan menyimpan rahasia siapa yang datang semalam. Mungkin karena suatu tekanan mental atau sebuah ancaman.

 

"Bi Sum?" panggil Adnan menghampirinya dengan cepat.

 

Wanita tua itu tersentak, bahunya bergidik ngeri. Sebelum akhirnya berbalik perlahan menatap Adnan dengan wajah cemas agak ketakutan. Adnan terpaku, mata Bi Sum sembab, merah seperti habis menangis hebat. Dan yang lebih mengejutkan, ada bekas kemerahan yang jelas di pipi kirinya. Sebuah bekas tamparan yang masih baru.

 

"Bi, pipimu kenapa, seperti habis di tampar orang?" tanya Adnan, suaranya dalam dan penuh selidik.

 

Bi Sum buru-buru menunduk, menyeka matanya dengan ujung daster, "E-eh, Den Adnan, ini... ini tidak apa-apa. Tadi malam saya refleks, Den. Seperti digigit serangga besar, jadi saya tampar sendiri terlalu keras, jangan dipikirkan, Den."

 

Adnan menyipitkan mata. Kebohongan itu terlalu kasar, "Di mana Arini? Dia sudah pulang jam satu malam tadi, kan?"

 

Bi Sum menggeleng pelan, tangisnya hampir pecah kembali, "Belum, Den, Ibu, Ibu belum pulang dari kemarin."

 

Rahang Adnan mengeras. Belum pulang? Lalu siapa yang ia lihat memakai syal semalam? Apakah itu juga bagian dari halusinasi?

 

Adnan berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia menuju ruang kerja kedap suaranya. Ruangan yang pintu rahasianya disamarkan sebagai rak buku. Ruangan yang seharusnya tidak diketahui oleh siapa pun, termasuk Arini.

 

Pintu itu terbuka,

 

Adnan mematung di ambang pintu. Laptop di atas meja kerjanya tertutup rapat. Padahal ia ingat betul semalam ia membiarkannya menyala untuk memantau siaran langsung dari tas Arini. Ia membukanya dengan kasar, memeriksa semua folder file.

 

Nol, tidak ada apa-apa, semua video laporan dari Jo dan Bima, semua rekaman live semalam, hilang tanpa sisa. Adnan merasa dunianya sedang dimainkan.

 

 

Ia kembali ke ruang tamu, terduduk di kursi dengan kepala yang kian pening. Saat ia menunduk, hidungnya menangkap aroma aneh yang menempel di kerah jas yang masih ia kenakan. Bau kimia, manis namun tajam, bau bius.

 

 

Ia menghirupnya dalam-dalam, mencoba mengenali jenisnya. Namun, sebelum ia bisa menganalisis lebih jauh, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia mengenali foto profilnya. Rendra, salah satu pelukis abstrak yang sering mengisi pameran di galeri seni milik Arini.

 

 

“Mas Adnan, maaf mengganggu pagi-pagi. Ini Arini ada di studio di daerah Surabaya Barat seperti biasanya. Semalam dia datang mabuk berat bersama teman-temannya. Sampai sekarang belum sadar sepenuhnya. Tolong dijemput ya Mas, saya tidak enak kalau dia kelamaan di sini.” Ucap Rendra dari suara telepon. Adnan menatap pesan itu dengan tatapan kosong, kepalanya berdenyut hebat.

 

 

"Mabuk berat?" gumamnya.

 

"Lalu siapa yang kulihat semalam? Apa aku benar-benar bermimpi?"

 

Ingatannya tentang konfrontasi semalam, tentang syal sutra, tentang bekas merah di leher Arini, dan tentang telepon Ayah mertuanya. Semuanya terasa begitu nyata, namun kini bukti fisik di tangannya menyatakan sebaliknya. Seolah ada seseorang yang dengan sengaja membius dirinya dan membersihkan semua jejak digital dalam satu malam.

 

Adnan berdiri dengan sisa tenaganya. Ia tidak boleh menyerah pada kabut di kepalanya. Jika Arini ada di studio Rendra, ia harus memastikannya. Ia harus melihat leher istrinya. Jika bekas merah itu ada, maka ingatannya benar. Jika leher itu bersih, maka ia harus mempertanyakan kewarasannya sendiri.

 

"Bi Sum!" teriak Adnan dari ruang tengah.

 

"Saya pergi jemput Arini. Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan saya!"

 

Adnan menyambar kunci mobil, mengabaikan pening yang luar biasa. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Surabaya Barat. Di dalam mobil, ia terus mengusap kerah bajunya yang berbau bius.

 

Bi Sum hanya menatap Tuan yang sudah ia jaga sejak bayi yang sudah seperti anaknya sendiri itu dengan tatapan Iba. Dalam hatinya sangat retak dan hancur, dalam hati kecilnya sebagai Ibu. Bi Sumi merasa sangat ingin marah dan berkata dalam hati, apa aku adukan pada Ibu dan Bapak besar saja? Kasihan Tuan Adnan.

 

Ada permainan yang lebih besar di sini. Dan ia mulai merasa, lawan yang ia hadapi mungkin bukan sekadar Bagaskara yang licik. Melainkan sesuatu yang jauh lebih dekat, yang mengerti setiap inci sudut rumahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1
Apem Crispy
Asik nih. Konfliknya pelik tapi realistis. Gak kartunal ataupun templated. 👍
Bagus Effendik: hehe ia kak terima kasih ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut dong seru nih
Bagus Effendik: siap pasti up tiap hari
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
semangat ya thor aku mendukungmu🤭
Bagus Effendik: terima kasih ya sudah berkunjung
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut thor up yang banyak
Bagus Effendik: pasti kak pasti up banyak🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
aduh, aduh mana tidur sendiri lagi aku baca ini🤣 mantap thor
Bagus Effendik: hayo jangan kebawa baper ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
waduh berani sekali Arini
Bagus Effendik: ia bilangin dong itu nggak boleh🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
loh jadi boleh ya rekues nama kita masuk novel ini hehe mau dong
Bagus Effendik: boleh kak asal gif hehe
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
kan kan di jebak Adnan kan hehe
Bagus Effendik: memang Arini tuh🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Arini ya hem jadi pingin cubit aku wkwkwk keren keren
Bagus Effendik: cubit aja dia kak😄
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut thor suka aku
Bagus Effendik: terima kasih atas sukanya👍
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Arini mulai main-main ini
Bagus Effendik: lah ia ya kak
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
hem mulai kelihatan nih ya ketemu mantan 🤭
Bagus Effendik: hehe mantan apa ketan
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Oh jadi tokoh utama cowoknya, Adnan ya semangat thor bagus
Bagus Effendik: benar kak
total 1 replies
Rohad™
Triple up thor 👍
Bagus Effendik: diusahakan sabar ya hehe🙏👍
total 4 replies
Rohad™
Tidak sabar untuk menunggu kehancuran Arini dan dukungannya 🤣👍
Bagus Effendik: hehe sabar ya
total 1 replies
Rohad™
Ngeri lah Adnan ini 👏
Bagus Effendik: harus ngeri dong hehe😄👍
total 1 replies
Agus Tina
Jangan bilang kalau Laras nanti jadi pengganti Arini, cerita spt itu sudah terlaku banyak thor. Orang kaya, berkuasa, matang jatuh cinta dgn gadia biasa dari kalangan biasa, polos, muda. Apa memang karakter lelaki seperti itu, harus merasa lebih berkuasa dan dominan. Jarang sekali saya menemukan cerita dgn tokoh laki2 yg kuat berkuasa bertemu dengan perempuan cerdas, sama2 punya kuasa walaupun tidak sebesar sg lelaki. Selalu kebalikannya ... agak bosan juga ....
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...
Bagus Effendik: oh ya terima kasih loh sudah membaca saya menghargai itu👍👍👍
total 2 replies
Larasz Ati
nah kan mulai retak Arini sih🤣 thor seru nih
Bagus Effendik: ia nih Arini dasar emang😄
total 1 replies
Larasz Ati
nah loh CLBK ets suami gimana tuh Adnan nih Arini selingkuh😄🤣 cakep dah Author nih nulis
Bagus Effendik: ia bilangin tuh Arini sudah punya suami juga🤣🤭👍
total 1 replies
Larasz Ati
nah loh nah loh ketemu mantan
Bagus Effendik: waduh ia hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!