Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kedua
Aron menatap Aca dengan mata biru yang menyala panas. Tubuh gadis itu yang sebelumnya berputar dan tertawa di bar kini ada di pangkuannya di mobil, masih basah sedikit oleh rintik hujan.
Tangan Aron mencengkeram lengan Aca, matanya tak lepas dari wajah galak itu.
“Baju apa yang kau pakai, baby girl? Kenapa kau nakal sekali malam ini?” Suara Aron rendah, namun setiap kata tersirat marah dan cemburu.
Aca menatapnya tajam, bibirnya mengerucut. “Ya kenapa sih, Om? Hidup-hidup Aca kenapa Om yang repot terus?” ujarnya tegas, meski napasnya masih bergetar karena takut sekaligus adrenalin.
“Gak usah protes deh,” balas Aron sambil tersenyum miring, menekan pedihnya rasa cemburu yang tiba-tiba muncul.
Ia tak suka tubuh Aca terlihat bebas di hadapan banyak pria hidung belang. Namun senyum itu hanya membuat Aca makin kesal.
Aca menolak dengan cepat. “Om jangan gila ya, jangan anter gue pulang, nanti bisa berabe urusannya!”
Aron hanya mengangkat bahu santai, tapi matanya menatap tajam. “Biar Papamu tau sekalian.”
Aca mengerutkan alis, suara kerasnya terdengar dalam kabin. “LO GAK BERHAK ATAS HIDUP GUE, BODOH!”
Mobil langsung berhenti di tengah jalan. Aron menatapnya, matanya berkilat. Dalam sekejap, ia menarik Aca ke pangkuannya, jarak mereka sangat dekat.
“Kau terlalu nakal, Aca. Bagaimana kalau kau mati malam ini, hm?” Ucapnya sambil menodongkan pistol ke arah kepala gadis itu, nada suara menakutkan.
Aca menelan ludah, tak gentar. “Lo gak usah ngancem Om!” teriaknya keras, menantang sekaligus panik.
“Huaaa jangan bunuh Aca, Om!” gumamnya sendiri, kepanikan dan rasa takut bercampur. Ia tahu ia harus hidup, tak boleh mati malam ini.
Aron tetap diam, menatapnya dengan intensitas yang membuat jantung Aca berdegup kencang.
Hujan di luar menambah sunyi di dalam mobil itu sementara ketegangan antara dua badai ini meningkat, siap meledak kapan saja.
Aron tetap menatap Aca dengan mata yang nyaris membara, birunya seakan menembus langsung ke dalam hati gadis itu.
Mobil meluncur perlahan di jalanan kota yang basah oleh hujan rintik. Lampu jalan memantul di kaca depan, menambah bayangan kelam yang menari di kabin.
“Kenapa kau selalu bikin orang repot, nakal sekali, hm.” geram Aron, suaranya rendah tapi penuh dominasi.
Tangan kanannya tetap mencengkeram pinggang Aca, menekan sedikit agar gadis itu tak bisa bergerak bebas.
Aca menepis tangan Aron dengan cepat, menatap lurus ke matanya. “Om jangan sok keras! Gue bukan boneka yang bisa lo kendaliin seenaknya!” Suaranya keras, penuh kemarahan, tapi tetap gemetar karena ketakutan yang membara di dadanya.
Aron mencondongkan tubuh, wajahnya dekat dengan wajah Aca. Napas mereka saling berdesir.
“Boneka? Haha kau pikir aku main-main? Kalau kau mati malam ini, dunia ini akan kehilangan satu rubah liar, dan aku akan kehilangan sesuatu yang terlalu berharga.” Suaranya serak, antara marah, cemburu, dan obsesi.
Aca menelan ludah, matanya membesar. Ia menepis wajah Aron dengan tangan kecilnya. “Om gila! Lepasin gue sekarang juga!”
Aron menatapnya, bibirnya menegang. “Nakal kau terlalu nakal. Tapi justru itu yang bikin aku makin tergila-gila.” Ia menekan sedikit lebih erat, membuat Aca terhuyung di pangkuannya.
“Gue… gue gak takut sama lo, Om! Jangan kira bisa bikin gue gemetar gitu doang!” ujar Aca, meski hatinya berdegup kencang saat ini.
Aron tersenyum tipis, tapi matanya tetap dingin. Ia menyalakan mesin mobil kembali, memutar setir ke arah jalanan sepi.
“Kau pikir bisa lari? Aku selalu tahu kemana kau pergi. Dan kali ini aku yang tentukan kemana kau pulang.”
Aca menunduk, menatap mini dress hitamnya sendiri yang menempel di tubuhnya. “Om jangan gila, nanti kita kena masalah!” katanya panik.
“Masalah?” Aron tertawa rendah, suaranya menggema di kabin. “masalah itu ada supaya kau tahu siapa yang memegang kendali. Dan akulah yang selalu pegang kendali atas hidupmu.”
Gadis itu menatap lurus ke Aron, mata berkilat marah dan menantang. “Kalau Om pegang kendali, kenapa Om yang repot sendiri? Gue hidup Om ngerti gak? Gue…gue gak mau mati malam ini!”
Aron mencondongkan tubuhnya lebih dekat, menempelkan dagunya ke pundak Aca. “Aku tau, cantik. Aku hanya mau kau tetap hidup. Tapi kau jangan pernah coba-coba bikin aku cemburu atau main-main lagi.”
Aca menggigit bibirnya, berusaha menahan campuran rasa takut, panik, dan gairah yang membingungkan. Ia mencoba mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat hujan yang jatuh di kota gelap.
“Om berhenti main-main. Gue… gue mau pulang sekarang!” teriaknya, suara bercampur gemetar.
“Baiklah, tapi dengarkan aku.” Aron menatapnya tajam, mata biru menyala, tangan masih menahan pinggang Aca.
“Kalau kau nakal lagi, aku tak segan-segan membawa kau ke tempat yang akan membuatmu mengingat malam ini selamanya.”
Aca menelan ludah, kepalanya mulai pusing. “Om sialan, kenapa Om gila banget sih bahkan kita gak saling kenal loh Om.” jawab Aca kesal setengah mati.
Aron tersenyum tipis, senyum yang memabukkan sekaligus menakutkan. “Aca kau terlalu liar dan itu membuat ku tak bisa berhenti memikirkanmu.”
Mobil terus melaju di jalan basah, hujan deras semakin menjadi. Aca menatap Aron, matanya mencerminkan campuran marah, takut, dan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
Malam ini, dua badai bertemu, saling bentrok, dan ketegangan mereka meningkat tak terkendali.
“Cukup kali ini aja lo ikutin gue Om. Gue gak mau kenal ataupun deket sama lo. Gue bukan barang dan gue gak bisa di claim seenaknya oleh siapapun termasuk lo Om.” suara Aca terdengar nyaris memohon, namun tetap ada keberanian yang membara di matanya.
Aron menatapnya, tangan mengusap rambut hitamnya sedikit. “Gak masalah, yang perlu kamu tau. Kamu milikku itu aja cukup.”
Aca menatap lurus, napasnya masih cepat. “Kalau Om bilang begitu, berarti Om gila. Gue gak mau ikut Om gila juga!”
Aron menahan napasnya sejenak, tersenyum dingin. “Berhenti omong kosong Aca. Kau tau di bar itu bahaya jangan macem macem di sana.”
Hujan di luar semakin deras. Kota gelap, jalanan basah, dan mobil itu terus melaju, membawa dua badai liar ini menuju pertarungan berikutnya.
Pertarungan penuh obsesi, cemburu, dan kekuatan antara Aron dan Aca, yang tak ada satu pun dari mereka yang mau kalah.
Tak lama ponsel Ara berbunyi. “Pulang sekarang Aca!” ujar Papanya dengan tegas.
“Huaa Om Aca bakal mati kali ini.” ujar Aca sambil memeluk erat tubuh Aron.
DEG!
“Ouh shit!”