"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GANTIAN MENJADI TAMENG
Malam yang tenang itu seketika pecah oleh suara gedoran pintu yang tidak beraturan. Dina yang sedang asyik merapikan kerudung untuk bersiap istirahat langsung terlonjak. Jantungnya berdegup kencang—trauma masa lalunya sempat terbersit, namun ia segera sadar bahwa ketukan ini terdengar panik, bukan mengancam.
Dina bergegas membukakan pintu. Di depannya, Bu Ani berdiri dengan wajah pucat pasi, napasnya tersengal-sengal, dan tangannya gemetar hebat.
"Bu Ani? Ada apa, Bu? Kenapa rusuh begini?" tanya Dina panik, langsung memegang pundak wanita tua itu untuk menenangkannya.
"Aduh, tolong dong Nduk... bantu Ibu," ucap Bu Ani terbata-bata, matanya berkaca-kaca.
"Bantu apa, Bu? Pak RW kenapa-kenapa?" Dina semakin khawatir melihat ekspresi tetangganya itu.
"Bukan Pak RW, Nduk... Itu, Mas Adrian!"
Mendengar nama Adrian disebut, jantung Dina seolah merosot ke perut. "Mas Adrian kenapa, Bu? Kecelakaan?"
"Bukan... tadi sore katanya ada latihan berat atau apa di asrama, terus barusan anggota asrama telepon ke rumah Bapak, katanya Mas Adrian ambruk. Badannya panas tinggi sekali sampai menggigil hebat, tapi dia keras kepala nggak mau dibawa ke rumah sakit tentara, maunya istirahat di rumah dinas saja," lapor Bu Ani dengan nada cepat.
Bu Ani menarik tangan Dina. "Bapak lagi di balai desa ada rapat penting, Ibu mau ke sana sendirian nggak berani, asramanya kan agak sepi kalau malam begini. Kamu punya motor kan sekarang? Tolong antar Ibu ke sana, Nduk. Ibu sudah anggap dia anak sendiri, Ibu nggak tega dengar dia sakit sendirian begitu."
Tanpa pikir panjang, Dina langsung menyambar jaket dan kunci motor matic birunya. Rasa takutnya berkendara di malam hari kalah oleh rasa khawatir yang membuncah untuk pria yang selama ini menjadi tameng baginya.
"Ayo, Bu! Kita berangkat sekarang!" seru Dina tegas.
Ini adalah pertama kalinya Dina mengendarai motornya di malam hari tanpa kawalan Adrian. Jalanan menuju asrama TNI di pinggir kota itu cukup sepi dan minim penerangan, namun Dina memutar gasnya dengan mantap. Ia mengingat semua pesan Adrian: Fokus, jangan tegang, motor ini mengikuti perasaanmu.
Sesampainya di gerbang asrama, penjaga sempat menghentikan mereka, namun begitu melihat Bu Ani dan Dina, mereka langsung memberi jalan. Mereka tahu siapa "Mbak Dina" yang belakangan ini sering disebut-sebut sebagai murid kesayangan Letnan mereka.
Dina memarkirkan motornya dengan terburu-buru di depan rumah dinas Adrian yang sederhana namun rapi. Begitu masuk ke dalam, suasana sunyi menyambut mereka. Di dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit, tampak sosok Adrian terbaring di atas ranjang dengan masih mengenakan kaos loreng pendek.
Dina terpaku di ambang pintu. Pria yang biasanya tampak tak tergoyahkan seperti karang itu kini terlihat sangat rapuh. Wajahnya merah padam karena demam, bibirnya pucat, dan tubuh tegapnya tampak bergetar di balik selimut tipis.
"Mas Adrian..." bisik Dina pelan.
Bu Ani langsung mendekat, menempelkan punggung tangannya ke dahi Adrian. "Astaga, panas sekali ini! Ini pasti tipesnya kambuh gara-gara kecapekan dan telat makan terus."
Dina mendekat, memberanikan diri duduk di pinggir ranjang. Ia melihat segelas air putih yang masih penuh di atas meja nakas, seolah tidak disentuh sama sekali.
"Mas... Mas Adrian, bangun sebentar. Minum dulu," ucap Dina lembut sambil menyentuh lengan Adrian yang panas.
Adrian membuka matanya perlahan. Sorot matanya yang biasanya tajam kini tampak redup dan sayu. Saat melihat wajah Dina di depannya, ia sempat mengerutkan kening, mengira dirinya sedang berhalusinasi karena demam.
"Mbak... Dina? Kenapa... di sini? Malam-malam..." suaranya parau dan sangat lemah.
"Bu Ani khawatir, Mas. Saya juga," jawab Dina jujur, suaranya sedikit bergetar. "Kenapa nggak mau ke rumah sakit? Badannya panas sekali begini."
Adrian mencoba tersenyum tipis, meski tampak sangat kesakitan. "Cuma... butuh tidur. Nggak apa-apa."
"Nggak apa-apa gimana! Ini bahaya, Mas!" protes Dina. Ia menoleh ke Bu Ani. "Bu, saya cari kompresan dulu di dapur ya."
Malam itu, peran pun bertukar. Dina, yang selama ini selalu dijaga dan dilindungi, kini menjadi sosok yang sigap merawat. Ia telaten mengganti kompres di dahi Adrian, menyuapinya air hangat sedikit demi sedikit, dan memastikan pria itu tetap merasa nyaman.
Suasana kamar yang tadinya tegang dan penuh kekhawatiran mendadak berubah drastis saat Dina melangkah ke dapur untuk mengambil baskom air hangat. Begitu sosok Dina menghilang di balik pintu, Bu Ani yang tadi tampak menangis tersedu-sedu dan gemetar hebat, tiba-tiba tegak berdiri. Ia mengusap air mata buatannya dengan ujung daster, lalu menoleh ke arah Adrian dengan senyum penuh kemenangan.
Bu Ani membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Adrian yang masih terbaring lemah, lalu berbisik dengan nada yang sangat jahil.
"Gimana, Mas? Bagus nggak akting Ibu tadi? Sampai rusuh begitu lho Ibu gedor pintu kosnya. Si Nduk Dina sampai pucat pasi, langsung gas pol naik motor barunya ke sini," ucap Bu Ani sambil terkikik pelan.
Adrian, yang tadinya memejamkan mata menahan pusing, perlahan membuka matanya. Ia mencoba menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, namun rasa sakit di kepalanya membuat ringisan kecil lebih dulu muncul. Suara tawanya terdengar parau dan berat, khas orang yang sedang dihantam demam tinggi.
"Aduh, Ibu... aktingnya juara dunia," sahut Adrian pelan, suaranya serak. "Tapi Mas ini sakit beneran, Bu... nggak akting. Badan rasanya kayak digebukin satu batalion."
"Ya Ibu tahu kamu sakit beneran, makanya Ibu jemput 'obatnya' ke kos sebelah," timpal Bu Ani sambil membenarkan letak bantal Adrian. "Habisnya kamu itu keras kepala. Disuruh ke poliklinik nggak mau, disuruh makan nggak mau. Kalau Dina yang suruh, mana berani kamu nolak?"
Adrian hanya bisa pasrah. Memang benar, sejak tadi sore badannya mulai menggigil hebat akibat kelelahan memimpin latihan gabungan di bawah hujan deras dua hari berturut-turut. Tipus lamanya kambuh, ditambah ia memang jarang memperhatikan jam makan jika sudah terjun di lapangan.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki Dina yang terburu-buru kembali dari dapur. Bu Ani dengan kecepatan kilat langsung mengubah ekspresinya kembali menjadi muram dan penuh duka. Ia duduk di kursi kayu samping tempat tidur, memegangi tangan Adrian seolah sedang meratapi nasib sang Letnan.
"Ini air hangatnya, Bu," ucap Dina terengah-engah. Ia meletakkan baskom di atas nakas, lalu dengan telaten mencelupkan handuk kecil ke dalamnya.
Dina duduk di pinggir kasur. Ia tidak menyadari sandiwara kecil Bu Ani tadi. Fokusnya hanya satu: menurunkan panas pria yang selama ini selalu menjadi tembok pelindung baginya. Dengan gerakan lembut, Dina menempelkan kompres hangat itu ke dahi Adrian.
Sentuhan tangan Dina yang dingin karena gugup terasa sangat kontras dengan kulit dahi Adrian yang membara. Adrian bernapas berat, matanya menatap Dina dengan sayu.
"Mbak... maaf ya, jadi merepotkan malam-malam begini," bisik Adrian. Kali ini suaranya tulus, tanpa ada nada perintah militer sedikit pun.
"Mas Adrian diam saja, jangan banyak bicara dulu," potong Dina tegas. "Mas itu pahlawan buat warga, tapi kalau Mas sendiri ambruk begini, siapa yang mau jagain desa? Mas harus sembuh."
Bu Ani yang melihat pemandangan itu dari sudut ruangan hampir saja kelepasan tertawa. Ia bangkit berdiri, pura-pura meregangkan punggungnya.
"Aduh, Dina... Ibu mendadak ingat kalau tadi Bapak RW belum Ibu buatin kopi buat rapat di balai desa. Ibu pulang sebentar ya, Nduk? Kamu nggak apa-apa kan di sini temani Mas Adrian sebentar? Nanti Ibu balik lagi sama Pak RW bawa makanan," ucap Bu Ani, memberikan alasan paling klasik sedunia.
"Eh, Bu? Tapi..." Dina tampak bimbang. Tinggal berdua saja di rumah dinas Letnan dalam kondisi seperti ini terasa sangat canggung baginya.
"Sudah, nggak apa-apa. Di luar ada penjaga asrama kok, aman. Ibu cuma sebentar," Bu Ani langsung ngacir keluar sebelum Dina sempat memprotes.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib