Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan yang Canggung
Lantai lima puluh lima.
Lana menatap angka digital di dalam lift yang bergerak naik dengan kecepatan yang membuat telinganya berdenging dan perutnya terasa mencelos. Ia mencengkeram erat tali tas anyaman pandan buatannya sendiri, satu-satunya benda yang membuatnya merasa masih memiliki kaitan dengan tanah kelahirannya di tengah gedung pencakar langit Jakarta yang angkuh ini. Di dalam tas itu, selain baju ganti yang sudah mulai pudar warnanya, ada sepuluh butir telur asin titipan Ibu dan harapan besar untuk kuliah di kota besar.
Ting!
Pintu lift terbuka otomatis, menyajikan pemandangan yang belum pernah Lana lihat bahkan dalam mimpi paling indahnya sekalipun. Sebuah lobi pribadi yang luas dengan lantai marmer hitam mengilap yang saking bersihnya, Lana bisa melihat pantulan wajahnya yang kusam dan rambutnya yang sedikit berantakan karena perjalanan bus selama dua belas jam. Di ujung ruangan, terdapat sebuah pintu besi raksasa berwarna hitam dop tanpa gagang pintu konvensional.
"Ini beneran rumah Kak Arka?" bisik Lana pada dirinya sendiri, suaranya gemetar tertelan sunyi.
Ia melangkah ragu. Kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit karet murahan terasa sangat tidak pantas menginjak marmer semahal itu. Setiap langkahnya meninggalkan jejak debu tipis yang membuatnya merasa sangat bersalah. Lana sampai di depan pintu raksasa itu. Tidak ada lubang kunci, tidak ada slot untuk memasukkan anak kunci kuningan yang biasa ia gunakan di rumah desa. Yang ada hanyalah sebuah panel kaca hitam kecil yang tertanam di dinding samping pintu, berkedip-kedip dengan cahaya biru yang dingin dan misterius.
Lana teringat pesan Ibunya sebelum ia berangkat: "Kalau bertamu, ketuk pintunya pelan-pelan ya, Lan. Jangan bikin orang kaget atau keganggu."
Lana pun mengikuti nasehat itu. Ia mengepalkan tangan kecilnya dan mengetuk panel kaca itu dengan sangat hati-hati. Tok, tok, tok.
Tidak ada jawaban. Panel itu justru menyala lebih terang, menampilkan barisan angka yang melayang di balik kaca seolah-olah hidup. Lana terlonjak mundur, tas anyamannya hampir jatuh. "Loh, kok ada angkanya? Kayak kalkulator di pasar?" gumamnya bingung.
Kepala Lana mulai dipenuhi pikiran buruk. Ia mengira telah merusak sesuatu hanya dengan ketukan jarinya. Karena takut dianggap tidak sopan jika berlama-lama berdiri mematung di depan pintu, Lana mencoba menekan panel itu. Ia bermaksud mencari tombol bel, tapi jarinya justru menyentuh angka-angka secara acak. Ia menekan angka satu, lalu tujuh, lalu nol.
Tit! Tit! Biiiip!
"Aduh!" Lana memekik. Panel itu berubah warna menjadi merah darah yang berkedip cepat. Suara alarm nyaring tiba-tiba meledak dari sudut plafon, menggema di seluruh lorong yang sepi itu dengan suara yang memekakkan telinga.
"Mati aku... Lana rusakin pintunya! Tolong!" Lana mulai menangis sesenggukan. Ia mencoba menarik-narik tepian pintu besi itu dengan tangan gemetar, berharap alarm itu berhenti jika ia berhasil membukanya. Ia membayangkan harus mengganti rugi pintu secanggih ini. Menjual seluruh sawah milik keluarganya di desa pun rasanya tidak akan cukup untuk membayar satu baut dari pintu ini.
Tiba-tiba, suara mekanisme pengunci yang berat terdengar—Klak!—dan pintu itu bergeser terbuka dengan sendirinya, seolah-olah raksasa baru saja terbangun dari tidurnya.
Seorang pria tinggi berdiri di sana. Ia mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan garis rahang yang tajam dan tatapan mata yang semula terlihat sangat kesal karena tidurnya terganggu. Namun, begitu matanya menangkap sosok gadis kecil di depannya yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk tas anyaman lusuh, tatapan itu langsung melunak.
"Lana?"
Suara itu berat, tenang, namun kini terdengar lebih santai. Arka.
"Kak Arka! Maafin Lana, Kak... Aku tadi cuma mau ketuk pintu, terus kotaknya marah, terus teriak-teriak... Lana gak sengaja ngerusak, Kak Arka," isak Lana. Bahunya naik turun karena ketakutan yang teramat sangat. Ia menunduk dalam, tidak berani menatap mata Arka.
Arka terdiam sejenak, menatap panel smart lock yang masih berkedip merah karena salah input kode berkali-kali. Detik berikutnya, tawa kecil yang rendah keluar dari bibirnya. Ia melangkah keluar dari ambang pintu, berdiri tepat di depan Lana yang tingginya hanya sebatas dadanya.
"Gila, Ar! Ini siapa sih pagi-pagi udah bikin rusuh? Gue kira ada intel nyergap apartemen kita, nyet!" Sebuah suara lain muncul dari dalam rumah, terdengar sangat santai namun penuh nada protes.
Lana mengintip dari balik lengan Arka yang kokoh. Seorang pria dengan rambut agak berantakan dan memakai headset besar di lehernya muncul. Itu Jeno. Ia menatap Lana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan alis terangkat sebelah.
"Lah, ini cewek yang lo ceritain itu? Yang dari desa?" tanya Jeno tanpa basa-basi sambil mengunyah permen karet. "Cakep juga sih, tapi kenapa dia nangis? Lo apain dia? Jangan bilang lo galakin dia pas baru nyampe?"
"Diem lo, Jen. Bacot banget pagi-pagi," sahut Arka tegas namun santai, tipikal cara bicara pria kota. Ia kembali memfokuskan perhatiannya sepenuhnya pada Lana. "Udah, jangan nangis. Cengeng banget sih lo, Lan. Pintunya nggak rusak, sumpah. Dia cuma kaget aja gara-gara lo pencet sembarangan kodenya."
Arka kemudian melakukan sesuatu yang membuat napas Lana tertahan. Pria itu mengulurkan tangan besarnya, lalu dengan lembut mengusap air mata di pipi Lana menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu terasa sangat hangat, kontras dengan bahasa "Gue-Lo" yang terdengar sedikit asing di telinga Lana yang terbiasa dengan bahasa halus.
"Ini namanya smart lock, Lana. Dia nggak bakal terbuka kalau lo nggak masukin kode yang bener atau pakai sidik jari," jelas Arka. Suaranya melembut, meskipun kata-katanya tetap menggunakan dialek santai.
Arka meraih tangan kanan Lana. Jemari Lana yang kecil dan agak kasar karena sering membantu memanen padi di desa, kini tenggelam dalam genggaman tangan Arka yang halus, bersih, dan sangat wangi parfum mahal. Arka menuntun jari telunjuk Lana menuju panel kaca tersebut.
"Sini, Kakak ajari cara 'kenalan' sama pintunya supaya dia nggak marah lagi ke lo," ucap Arka.
Lana merasa wajahnya memanas sampai ke telinga. Posisi Arka yang sedikit membungkuk di belakangnya membuat Lana bisa mencium aroma sandalwood dan mint yang sangat maskulin dari tubuh Arka. "Iya, Kak Arka. Maafin aku ya udah bikin Kakak repot."
"Santai aja kali, Lan. Di sini emang barangnya pada 'rewel' semua kalau lo belum kenal," Arka terkekeh pelan, napasnya terasa hangat di puncak kepala Lana. "Sekarang, tempel telunjuk lo di sini. Gue mau daftarin sidik jari lo sekarang juga, supaya besok-besok lo nggak perlu berantem sama pintu ini lagi tiap mau masuk."
Lana mengikuti instruksi Arka dengan patuh, jantungnya berdegup kencang—bukan lagi karena takut, tapi karena kedekatan fisik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Saat sidik jarinya terbaca, panel itu berbunyi ting! yang merdu dan berubah warna menjadi hijau lembut yang menenangkan.
"Wih, selamat bergabung di sirkus ini, Lan!" seru Jeno dari ruang tengah sambil melempar stik PS-nya ke sofa kulit yang tampak sangat mahal. "Eh, Ar! Bilangin ke si Ezra, jangan tidur mulu kayak simulasi mati! Gue laper nih, suruh dia pesen makanan kek. Gak asik banget jadi orang kalau perut kosong mah, bisa-bisa gue makan orang!"
"Bawel lo, pesen sendiri kenapa sih? Tangan lo masih lengkap kan, nggak cacat?" balas sebuah suara dingin dari arah koridor kamar. Ezra muncul dengan wajah bantal, hanya memakai kaus dalam hitam yang memamerkan otot lengannya yang kokoh, hasil dari hobinya di tempat gym dan kerja lapangan sebagai arsitek.
Ezra berhenti melangkah saat melihat Lana. Ia memperhatikannya dengan tatapan intens—terutama pada sandal jepit hijau yang sudah tipis dan tas anyaman yang didekap erat oleh Lana.
"Ini orangnya? Yang mau numpang di sini?" tanya Ezra pendek, nadanya datar.
Lana membungkuk dalam-dalam, merasa sangat minder. "Halo, Kak Ezra. Nama aku Lana... Lana mohon bantuannya ya selama aku tinggal di sini. Maaf kalau nanti aku sering nanya-nanya."
Ezra hanya mendengus pelan, tapi Lana tidak menyadari kalau sudut bibir pria itu sedikit terangkat melihat tingkah polosnya. "Yaudah, masuk gih. Jangan diri di situ mulu kayak patung selamat datang, ganggu pemandangan gue aja lo."
"Ezra! Jaga mulut lo, dia tamu gue!" Arka memperingatkan dengan nada yang tidak main-main.
Arka kemudian mengambil alih tas anyaman dari tangan Lana tanpa permintaan izin. "Ayo masuk, Lan. Anggap aja rumah sendiri, jangan sungkan. Nanti gue kenalin sama yang lain. Mereka emang mulutnya pada rombeng dan nggak disekolahin, tapi aslinya mereka nggak bakal gigit lo, kok."
Lana berjalan mengekor di belakang Arka, memasuki ruang tamu yang luasnya mungkin sepuluh kali lipat dari rumahnya di desa. Ia menatap sekeliling dengan mata membulat sempurna. Lampu kristal yang menjuntai indah, televisi yang besarnya hampir menutupi satu sisi dinding, dan aroma kemewahan yang menyeruak dari pembersih udara otomatis di setiap sudut ruangan.
Lana menelan ludah. Ia merasa seperti masuk ke dimensi lain.
"Terima kasih banyak ya, Kak Arka. Lana janji bakal rajin bantu-bantu bersih-bersih di sini biar nggak ngerepotin Kakak sama temen-temen Kakak," ucap Lana tulus sambil menatap Arka dengan mata bulatnya yang jernih.
Arka berhenti melangkah secara mendadak, membuat Lana hampir menabrak punggungnya yang lebar. Arka berbalik dan menatap Lana dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit rasa iba namun juga ada ketertarikan yang mulai tumbuh.
"Lana, dengerin gue," Arka memegang kedua bahu Lana, membuat gadis itu mendongak. "Lo ke sini buat kuliah, bukan buat jadi pembantu gue atau temen-temen gue. Di sini ada orang yang tiap pagi dateng buat bersih-bersih. Tugas lo cuma satu: belajar yang bener, dan jangan bikin diri lo susah sendiri gara-gara mikirin hal nggak penting kayak gini. Paham nggak lo?"
Arka kembali mengacak rambut Lana dengan gerakan yang sedikit kasar namun penuh kasih sayang, membuat rambut hitam panjang gadis itu sedikit berantakan. "Paham, Lan?"
Lana mengangguk pelan, meskipun hatinya masih terasa penuh dengan kebingungan akan dunia baru yang serba "Gue-Lo" ini. "Paham, Kak Arka. Terima kasih."
Di kejauhan, ia mendengar suara-suara lain dari balik pintu kamar yang terbuka. Suara tawa yang keras, suara orang berdebat soal strategi game, dan suara denting alat musik dari kejauhan. Lana menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Inilah awal petualangannya di lingkaran elit, dikelilingi oleh tujuh pria yang dunianya berbanding terbalik dengan dunianya yang sunyi di desa.
Lana tidak tahu bahwa di balik sikap "Gue-Lo" mereka yang cuek, ketujuh pria itu sudah mulai merasa tertarik dengan kehadiran cahaya kecil yang polos di tengah-tengah gaya hidup mereka yang dingin dan penuh kemewahan.