Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELINDA MELAWAN BRAM
Di dalam kapal Belinda meringkuk terdiam, tenaganya sudah habis. Dia diam membisu. Sementara Bram duduk di sebelah nahkoda yang mengendalikan laju kapal. Angin laut agak kencang malam itu.
Sesampainya di hotel, Bram masuk ke dalam kamar dan menyuruh pengawal memasukkan Belinda ke dalam kamar itu juga.
"Serius bos?"
"Lakukan kataku!"
"Siap bos!"
Belinda diangkat masuk ke dalam kamar itu, dia didudukan di atas tempat tidur.
"Keluarlah!"
"Aku ingin sendiri!"
"Siap Bos!"
kaki tangannya keluar.
Bram duduk di sofa tempat biasa dia melepas lelah. Kali ini entah kenapa Bram ingin seruangan dengan tawanan itu.
Gadis itu tertidur di atas tempat tidur yang biasa ditidurinya.
Biasanya tawanan ditempatkan di kamar di lantai paling atas, tapi entah kenapa ia ingin tawanan itu ada di kamarnya kali ini.
Ia meneguk soda yang sedari tadi dipegangnya.
Dua hari ini dia harus menyandera gadis ini sebagai ancaman agar Presiden dan Jendral Gondesh menjadi ciut dan bisa membuat presiden negara Belva mau tanda tangani perjanjian.
Tiga jam Bram tidak tidur.
Dia memandangi gadis itu, meminum sodanya, dan memakan dua potong pizza yang disediakan kaki tangannya.
Mereka menyediakan makanan untuk gadis itu di meja makan, lengkap dengan snack, serta minuman dingin. Baju ganti juga disiapkan untuk dipakai gadis itu. Tiga jam diamatinya gadis itu, gadis yang imut, sayangnya harus jadi korban kekuasaan dinasti keparat orang tuanya.
Lelaki yang akan menjadi suami gadis itu pun sudah dia ketahui perangainya.
Ia tahu anak presiden adalah lelaki hidung belang, yang banyak meniduri beberapa perempuan bayaran mahal. Langganannya adalah private girls yang hanya dia sendiri yang menidurinya. Dan gadis muda ini, masih terlihat lugu, nanti akan dinikahi lelaki bejat itu. Naif sekali kamu gadis.
...
Belinda, bangun, ikatan di tangannya sudah terbuka, dia meregangkan badannya, sakit sekali rasanya badannya, lebih kepada capek dan pegal, tapi dia masih bersyukur masih dibiarkan hidup sampai sekarang.
Dia meregangkan badannya kembali, gaunnya tersingkap, paha putihnya menyembul dari balik gaunnya.
Bram yang melihat pemandangan itu tidak ayal menahan ludahnya.
Nafsu lelakinya bangkit melihat Belinda yang demikian.
Ia lalu berdiri.
Bram berdiri menghampiri kaca kamarnya yang mengarah menghadap ke arah laut.
Setannnn, dari banyak perempuan yang ditemuinya mengapa nafsu birahinya malah tersulut melihat anak kecil ini.
Gadis belasan tahun ini entah kenapa menggelitik saraf neuron di otaknya. Membuatnya berpikir untuk kembali ke jalan yang benar, menjadi lelaki yang benar.
Dammm, egoku dikalahkan oleh keluguan gadis kecil ini.
"Hei, bangunnn!!!"
"Makan itu!"
Bram menunjuk makanan di atas meja dengan pistolnya.
Dia memerintahkan Belinda untuk bangun dan makan.
Belinda lalu duduk dan mendekap kakinya.
"Tidak mau!"
"Buat apa aku kamu suruh makan paman, toh nanti kamu akan membunuhku!"
"Kamu kubunuh ataupun tidak nantinya, tetap saja kamu butuh makan sekarang!"
"Makan!!!"
"Tidak mau!"
Bram menjadi emosi.
Dia menarik paksa Belinda dan mendorongnya duduk di meja makan.
Belinda menghentakkan tangannya.
Dia injak kaki Bram yang besar itu.
Digigitnya tangan Bram sampai Bram mengaduh.
"Aghhhh!"
Kaki tangannya merangsek masuk ke dalam kamar.
"Bos kenapa bos?"
"Keluar!"
Kaki tangannya sebanyak lima orang itu lalu keluar. Bram berdiri dan mengambil plester dari kotak obat di tembok.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆