Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pembalasan Dendam di Lembah
"Bagaimana... Bagaimana mungkin?!" seru Zhang Wei, suaranya bergetar karena tidak percaya. "Dia menghancurkan formasi hanya dengan satu langkah! Dia bahkan tidak menggunakan Qi!"
Ia tidak tahu bahwa dengan mata seorang Kaisar Alkimia, Jiang Chen bisa melihat aliran energi formasi itu dengan jelas. Tiga batu yang ia hancurkan adalah simpul kunci dari formasi tersebut. Menghancurkannya sama saja dengan mencabut jantung formasi itu.
"Sekarang setelah mainan kalian rusak," kata Jiang Chen sambil meregangkan lehernya, "giliran aku yang bermain."
Sebelum ada yang bisa bereaksi, sosok Jiang Chen kabur. Ia tidak menyerang kelompok utama di atas tebing, melainkan melesat ke arah dua anggota keluarga Zhang yang bersembunyi di pintu masuk lembah, yang bertugas mencegahnya melarikan diri.
Langkah Bayangan Berkabut.
Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan mereka.
"Terlalu cepat!" hanya itu yang bisa dipikirkan oleh kedua pemuda itu sebelum tinju Jiang Chen menghantam dada mereka.
BAM! BAM!
Dua suara gedebuk terdengar saat mereka terlempar ke belakang, langsung pingsan, suar sinyal mereka secara "tidak sengaja" hancur dalam prosesnya.
"Sialan! Dia menyerang titik terlemah kita!" raung Zhang Wei dari atas tebing. "Jangan biarkan dia kabur! Semuanya, serang!"
Seluruh anggota keluarga Zhang yang tersisa melompat turun dari tebing, membentuk formasi kipas untuk mengepung Jiang Chen sekali lagi. Dipimpin oleh Zhang Wei, sebelas ahli tingkat lima dan satu tingkat enam melepaskan aura mereka secara bersamaan, menciptakan tekanan yang luar biasa di lembah kecil itu.
"Jiang Chen, kau mungkin bisa menghancurkan formasi kami, tapi kau tidak bisa melawan kami semua!" teriak Zhang Wei. "Aktifkan 'Formasi Pedang Jaring Langit'!"
Para junior keluarga Zhang bergerak serempak, pedang mereka terhunus. Qi dari pedang mereka saling terhubung, menciptakan jaring energi biru pucat yang menebas ke arah Jiang Chen dari segala arah. Ini adalah formasi serangan gabungan yang bisa menjebak dan mengiris-iris lawan yang levelnya jauh lebih tinggi.
Di tengah jaring pedang yang mematikan, Jiang Chen tetap tenang.
"Formasi lagi? Kalian benar-benar tidak belajar," desahnya.
Ia tidak mencoba menembus jaring itu. Sebaliknya, ia melesat lurus ke depan, tepat ke arah Zhang Wei, pusat dari formasi tersebut.
"Mencari mati!" ejek Zhang Wei. Menyerang pusat adalah hal paling bodoh yang bisa dilakukan, karena di sanalah kekuatan formasi paling terkonsentrasi.
Ia menuangkan seluruh kekuatan tingkat enamnya ke dalam pedangnya, siap untuk memberikan serangan fatal pada Jiang Chen.
Namun, tepat saat Jiang Chen hampir memasuki jangkauan pedangnya, sosoknya tiba-tiba berbelok dengan sudut yang mustahil, seperti daun yang tertiup angin.
Gerakannya begitu tak terduga sehingga merusak aliran energi formasi untuk sepersekian detik. Celah kecil itu, yang tidak akan terlihat oleh siapa pun, bagi Jiang Chen adalah sebuah jalan raya.
Ia meluncur melewati tebasan pedang Zhang Wei dan masuk ke dalam barisan keluarga Zhang.
"Dia masuk!" seru salah satu dari mereka dengan panik.
Kekacauan langsung terjadi. Formasi pedang mereka dirancang untuk menyerang musuh dari luar, bukan dari dalam. Kini, dengan Jiang Chen di tengah-tengah mereka, mereka tidak bisa menyerang tanpa risiko mengenai rekan mereka sendiri. Formasi itu langsung runtuh.
"Inilah perbedaan antara petarung sejati dan sekelompok anak manja yang hanya bisa mengandalkan formasi," kata suara dingin Jiang Chen, yang kini terdengar tepat di belakang salah satu junior tingkat lima.
Sebelum pemuda itu bisa berbalik, sebuah pukulan menghantam tengkuknya. Ia jatuh tanpa suara.
"Lindungi dirimu!"
"Dia di belakangmu!"
Teriakan panik bergema di lembah. Sosok Jiang Chen bergerak di antara mereka seperti dewa kematian. Setiap kali ia muncul, seorang anggota keluarga Zhang akan jatuh. Ia tidak menggunakan Qi yang berlebihan, hanya gerak kaki yang efisien dan pukulan presisi yang menargetkan titik-titik lemah.
Bagi para junior keluarga Zhang ini, pertarungan itu adalah mimpi buruk. Musuh mereka terlalu cepat, terlalu licin, dan serangannya terlalu mematikan. Mereka seperti sekelompok serigala yang mencoba menangkap hantu.
Dalam waktu kurang dari dua menit, semua junior tingkat lima terbaring di tanah, pingsan. Kini, hanya Zhang Wei yang tersisa, berdiri sendirian di tengah rekan-rekannya yang terkapar, wajahnya pucat pasi karena syok dan ketakutan.
Ia, seorang jenius tingkat enam, bersama dengan sepuluh ahli tingkat lima dan formasi rangkap, telah dikalahkan dengan begitu mudah oleh satu orang.
"Sekarang tinggal kau dan aku," kata Jiang Chen, berjalan perlahan ke arah Zhang Wei.
"Jangan... jangan mendekat!" Zhang Wei mundur selangkah, pedangnya bergetar. Kepercayaan dirinya hancur total. "Aku... aku akan menggunakan suar sinyal!"
Ia merogoh sakunya, tetapi Jiang Chen lebih cepat. Sebuah batu kerikil melesat dari jari Jiang Chen dan menghantam tangan Zhang Wei dengan akurat.
KRAK!
"AARGH!"
Zhang Wei menjerit saat pergelangan tangannya patah dan suar sinyalnya jatuh ke tanah. Jiang Chen menginjaknya hingga hancur.
"Aku tidak bilang kau boleh pergi," kata Jiang Chen dingin.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Zhang Wei dengan suara gemetar. "Uang? Sumber daya? Aku akan berikan semua milikku!"
"Aku ingin kau menyampaikan pesan," kata Jiang Chen. Ia berjalan mendekat dan menepuk pipi Zhang Wei, sebuah tindakan yang sangat menghina. "Katakan pada Patriark Zhang, ini baru permulaan. Semua penghinaan yang telah ia dan keluarganya berikan padaku, akan aku kembalikan seratus kali lipat."
Setelah itu, ia melayangkan pukulan ke perut Zhang Wei.
BLUGH!
Zhang Wei memuntahkan darah dan jatuh berlutut, *Qi*-nya benar-benar kacau. Jiang Chen tidak membunuhnya, tetapi pukulan itu telah merusak meridiannya. Tanpa pil penyembuhan tingkat tinggi dan istirahat berbulan-bulan, kultivasinya akan mandek, atau bahkan mungkin mundur.
Jiang Chen kemudian dengan santai berjalan ke arah setiap anggota keluarga Zhang yang pingsan, mengambil semua kantong inti monster mereka, dan mengosongkannya ke dalam kantongnya sendiri. Ia juga mengambil semua barang berharga lainnya yang ia temukan.
"Terima kasih atas kerja keras kalian," katanya sambil tersenyum ke arah tumpukan tubuh yang terkapar itu.
Dengan panen besar—lebih dari seratus inti monster dari berbagai tingkat—Jiang Chen berjalan keluar dari lembah, meninggalkan kekacauan dan keputusasaan di belakangnya.