NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 4 - CH 22 : Dukun Bintang Empat Setengah

Siang itu, di halaman belakang ruko Bara's Kitchen yang sempit dan berdekatan dengan selokan, sebuah ritual pembakaran sedang berlangsung. Bukan pembakaran pastry yang gagal, melainkan pembakaran aset.

Bara berlutut di depan tong sampah seng yang sudah penyok. Di tangannya, dia memegang sebatang korek api gas panjang yang biasa dipakai untuk menyalakan kompor. Wajahnya kusut masai, matanya merah menahan tangis. Di dalam tong sampah itu, teronggok tumpukan uang kertas lima puluh ribu rupiah emisi 1999 bergambar W.R. Supratman.

Bau kapur barus dan anyir darah masih menguar kuat dari lembaran-lembaran kaku tersebut, bertarung dengan bau comberan di dekat mereka.

"Mas... cepetan bakar, Mas. Gue udah nggak kuat nyium baunya. Hidung gue berasa disumpal kain kafan," keluh Lintang yang berdiri sejauh tiga meter dari tong sampah, menutup hidung dan mulutnya menggunakan celemek berlapis masker medis.

Mang Ojak berdiri di samping Lintang, komat-kamit membacakan Ayat Kursi sambil memegang botol air mineral yang sudah dia doakan, bersiap menyiram kalau-kalau api dari uang gaib itu menyambar ke ruko.

Bara menelan ludah. Tangan kanannya yang memegang korek bergetar hebat. Ini adalah momen paling menyayat hati dalam sejarah hidupnya.

"Dua juta, Tang... Ini value-nya dua juta rupiah," ratap Bara, menatap uang di dalam tong itu seolah menatap anak kandungnya yang mau dikirim ke panti asuhan. "Lu tau nggak sih, kalau uang kuno tahun '99 ini gue jual ke kolektor numismatik di grup Facebook, harganya bisa naik jadi lima juta! Kolektor bule suka yang ada bercak darahnya gini, historical value katanya!"

"MAS BARA ISTIGHFAR, MAS!" jerit Lintang histeris, nyaris melempar sepatunya ke kepala bosnya. "Otak lu bener-bener udah digadai ke pinjol ya?! Itu duit dari dedemit korban kebakaran! Duit itu yang ngundang bau mayat ke ruko kita! Lu mau jualan ke kolektor gimana caranya?! Mau lu kirim pake ekspedisi JNE Jalur Neraka Express?!"

"Iya, Den. Jangan main-main sama barang ginian. Uang dari alam sana kalau disimpan bakal minta tumbal nyawa," tambah Mang Ojak dengan nada memperingatkan yang sangat serius. "Bakar, Den. Ikhlasin. Rezeki mah udah ada yang ngatur."

Dengan erangan frustrasi yang panjang dan menyayat hati layaknya serigala kehilangan mangsa, Bara akhirnya menekan pelatuk korek gas itu.

CTIK. WUSHH.

Api biru menyambar lembaran W.R. Supratman teratas. Anehnya, uang itu terbakar dengan sangat cepat. Asap yang mengepul bukan berwarna kelabu atau hitam seperti kertas biasa, melainkan asap tebal berwarna kehijauan yang membawa hawa dingin.

Bara, Lintang, dan Mang Ojak mundur serempak. Mereka melihat bagaimana tumpukan uang itu hangus menjadi abu dalam hitungan detik. Saat lembaran terakhir lenyap dimakan api, terdengar samar-samar suara rintihan wanita dari dalam tong sampah. Suara rintihan yang sangat mirip dengan suara ibu berkebaya hitam di teras Blok C.

Lalu, hening.

Asap hijau itu menguap tertiup angin siang. Suhu di halaman belakang ruko perlahan kembali normal, sehangat aspal Kota X. Bau kapur barus dan formalin lenyap, digantikan oleh bau knalpot motor dan debu jalanan.

Bara jatuh terduduk di aspal, mengusap wajahnya yang cemong terkena jelaga. Dua juta rupiah menguap menjadi abu.

"Hilang, sudah…," gumam Bara hampa. Dia menoleh ke arah Mang Ojak. "Sekarang, kita ke tempat dukun kenalan lu. Mang Ojak bilang tadi punya kenalan orang pinter yang paten, kan?"

"Ada, Den. Ada banget," Mang Ojak mengangguk penuh semangat, merogoh ponsel Android jadulnya. Layarnya sudah retak seribu, tapi Mang Ojak dengan lincah membuka aplikasi WhatsApp. Dia membuka grup 'Silaturahmi Bapak-Bapak RT 04'. "Abah denger dari Pak RT, ada dukun sakti di daerah kampung sebelah. Namanya Ki Ronggo Segoro. Beliau ini spesialis netralisir tempat usaha, buang sial, sama pager gaib."

"Ki Ronggo Segoro?" Bara mengerutkan kening. Namanya terdengar meyakinkan. "Pasti rate card-nya mahal nih. Dia pake tarif seikhlasnya atau ada pricelist-nya?"

"Nah, itu dia kelebihannya, Den!" Mang Ojak tersenyum lebar. Dia membuka aplikasi Google Maps, mengetik sesuatu, lalu menyodorkan layar retak itu ke wajah Bara. "Beliau ini dukun modern, Den. Udah terdaftar di Google Maps. Liat nih, rating-nya empat koma lima bintang dari dua ratus ulasan! Ada review-nya segala!"

Bara dan Lintang refleks mendekat, memicingkan mata melihat layar HP Mang Ojak.

Benar saja. Di layar Google Maps, terdapat titik lokasi bernama "Klinik Supranatural Ki Ronggo Segoro (Buka 24 Jam)".

Bara membaca salah satu ulasan teratas dengan suara keras: "Alhamdulillah, setelah diruqyah sama Ki Ronggo, warung pecel lele saya yang tadinya sepi karena ditabur tanah kuburan sama saingan, sekarang jadi rame lagi. Pelayanan ramah, tempat nunggu ber-AC, dapet free air mineral gelas. Recomended buat UMKM."

Lintang melongo. "Gila. Dukun zaman now mainannya SEO Google Maps."

"Valid ini mah. Kalau review-nya bagus, berarti track record-nya jelas," Bara mengangguk mantap, jiwa pengusaha kapitalisnya langsung merasa relate dengan sistem rating dukun tersebut. Setidaknya dukun ini punya reputasi yang harus dijaga. "Gas. Kita tutup ruko hari ini. Bikin tulisan di depan rolling door: 'Tutup Sementara, Sedang Maintenance Spiritual'. Kita ke tempat Ki Ronggo sekarang."

Empat puluh lima menit kemudian, Si Putih sudah terparkir di pinggir jalan sebuah perkampungan padat penduduk di pinggiran Kota X.

Gang menuju tempat praktek Ki Ronggo sangat sempit, hanya muat untuk dua motor berpapasan. Bara, Lintang, dan Mang Ojak berjalan kaki menyusuri gang yang lembap tersebut. Aroma dupa dan kemenyan mulai tercium samar-samar, bercampur dengan bau gorengan dari ibu-ibu yang sedang berjualan di teras rumah.

Di ujung gang buntu, terdapat sebuah rumah bercat hijau lumut dengan plang kayu besar di atas pintunya: "PRAKTEK PENGOBATAN ALTERNATIF & SPIRITUAL - KI RONGGO SEGORO. Menerima: Buka Aura, Pelaris Usaha, Pager Gaib, dan Jodoh."

"Ini tempatnya, Den," bisik Mang Ojak, menelan ludah. "Aura mistisnya kerasa banget ya."

Bara mengangguk. Dia memang merasakan hawa yang berbeda.

Mereka mendorong pintu kayu yang tidak dikunci itu. Bunyi lonceng angin bergemerincing di atas kepala mereka.

Ruang tunggu klinik itu ternyata cukup nyaman, tidak seperti gubuk dukun di film-film horor. Ada deretan kursi stainless seperti di puskesmas, kipas angin dinding yang berputar kencang, dan sebuah dispenser air minum. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja resepsionis kecil. Bau kemenyannya sangat kuat, tapi anehnya, ada campuran aroma bubblegum yang nyempil di antaranya.

"Permisi..." sapa Bara ragu-ragu.

Dari balik tirai manik-manik bambu di belakang meja resepsionis, muncul seorang pemuda tanggung berambut cepak, mengenakan kaos oblong partai dan sarung. Di tangannya terdapat sebuah vape elektrik berukuran besar. Asap tebal berbau bubblegum mengepul dari mulutnya.

"Siang, Bang. Mau daftar berobat atau konsultasi gaib?" tanya pemuda itu santai sambil mengisap vape-nya lagi.

Bara dan Lintang saling berpandangan.

"Eh... iya, mau konsultasi sama Ki Ronggo. Ada masalah sama tempat usaha," jawab Bara.

"Oke. Nama pasien siapa? Udah booking via WhatsApp belom?" pemuda itu membuka sebuah buku tulis lecek yang berfungsi sebagai buku tamu.

"Bara. Belom booking, langsung walk-in aja bisa kan?"

"Bisa. Kebetulan pasien sebelum Abang baru aja kelar buka aura pesona buat interview kerja. Abang dapet nomor antrean tiga," pemuda itu merobek secarik kertas dan menyerahkannya pada Bara. "Tunggu bentar ya, Mbah Ronggo lagi cooling down nyerap energi alam."

Bara duduk di kursi stainless dengan kaku. Lintang merapatkan tubuhnya ke lengan Bara, sementara Mang Ojak terus berdzikir pelan.

Tidak sampai lima menit, sebuah suara bariton yang berat dan bergema terdengar dari balik tirai bambu ruangan dalam.

"Suruh pasien selanjutnya masuk... Hawa negatifnya sudah tercium sampai ke sini..."

Bara menelan ludah. Gertakan pertamanya cukup meyakinkan.

Mereka bertiga bangkit berdiri, menyibakkan tirai manik-manik bambu itu, dan melangkah masuk ke ruang praktek utama.

Ruangan itu sangat gelap. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari dua buah lilin merah besar yang menyala di atas sebuah meja pendek (lesehan). Asap dupa mengepul tebal dari sebuah wadah kuningan. Di dinding ruangan, terpampang berbagai macam rajah bertulisan Arab gundul, keris-keris yang disilangkan, dan sebuah kalender bergambar artis dangdut tahun 2015.

Di balik meja pendek itu, duduklah sosok Ki Ronggo Segoro dengan posisi bersila.

Penampilannya sangat nyentrik. Dia mengenakan blangkon hitam, baju pangsi serba hitam, dan kalung tasbih kayu sebesar biji salak melingkar di lehernya. Kumisnya tebal melintang. Matanya terpejam rapat. Tangan kanannya memegang sebuah keris kecil yang sarungnya berukir naga.

"Duduk," perintah Ki Ronggo tanpa membuka matanya. Suaranya berat dan berwibawa.

Bara, Lintang, dan Mang Ojak langsung duduk lesehan di seberang meja. Karpet di bawah mereka terasa berdebu.

Ki Ronggo menarik napas panjang, menghirup asap dupa dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya tiba-tiba terbuka lebar, menatap tajam langsung ke arah mata Bara.

"Anak muda..." suara Ki Ronggo mendesis. "Kamu datang kemari... membawa hawa kematian."

Lintang langsung memekik tertahan dan mencengkeram lengan Bara makin erat. Mang Ojak pucat pasi.

Bara sendiri nyaris jantungan. “Gila, ini dukun beneran sakti. Belom ngomong apa-apa dia udah tau.” bisik dalam hatinya

"Tangan kananmu..." Ki Ronggo menunjuk telapak tangan kanan Bara dengan ujung kerisnya. "...baru saja menyentuh sesuatu yang berasal dari alam kubur. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang bernoda merah."

Bara terbelalak. Sumpah demi Tuhan, dukun ini tidak sedang menebak-nebak! Dia tahu soal uang kuno W.R. Supratman bernoda darah itu! Bulu kuduk Bara merinding sejadi-jadinya. Pria di depannya ini adalah real deal.

"B-bener, Mbah!" Bara mengangguk cepat, suaranya bergetar. Dia merendahkan egonya serendah mungkin. "Mbah Ronggo sakti banget. Bener, Mbah. Saya abis nganter pesenan kue ke rumah kosong di Perumahan Asri Indah Blok C. Yang beli ternyata dedemit korban kebakaran. Duitnya berubah jadi uang jadul bau formalin, Mbah. Tolongin saya, Mbah... ruko saya diikutin sama hawa negatifnya. Gimana cara bersihinnya, Mbah?"

Ki Ronggo memejamkan matanya kembali. Dia mulai merapal mantra-mantra dalam bahasa Jawa kuno yang tidak dimengerti Bara, suaranya berdengung seperti lebah. Tangan kirinya memutar-mutar tasbih kayunya dengan cepat.

Suasana di ruangan itu semakin tegang. Asap dupa terasa semakin menyesakkan napas.

Tiba-tiba, Ki Ronggo membuka matanya dan menggebrak meja dengan keras. BRAK!

Ketiga pasiennya melompat kaget.

"Berat! Ini sangat berat!" seru Ki Ronggo dengan wajah panik yang dramatis. Keringat buatan tampak menetes di dahinya. "Ini bukan dedemit biasa, anak muda! Ini adalah Jin Qorin kelas atas! Arwah penasaran yang mati karena api, mereka membawa dendam panas! Tempat usahamu sekarang sedang ditandai. Mereka menaburkan abu gaib di rukomu. Kalau dibiarkan, rukomu bakal bangkrut, terbakar, atau lebih parah... nyawamu yang jadi gantinya!"

"Astagfirullah!" Mang Ojak nyaris pingsan.

"Mbah! Jangan nakut-nakutin dong, Mbah!" Lintang mulai menangis. "Terus syaratnya apa, Mbah, biar ruko kita bersih? Mbah minta ayam cemani? Kembang tujuh rupa? Air dari tujuh sumur? Kita cariin sekarang, Mbah!"

Ki Ronggo mengangkat tangannya, meminta ketenangan. Dia membelai kumis tebalnya dengan perlahan, wajahnya kembali tenang namun penuh aura misteri.

"Syarat untuk membersihkan Jin Qorin api tidak semudah itu," kata Ki Ronggo, matanya menatap tajam ke arah Bara. "Mereka menempel padamu karena sebuah perantara. Perantara itu adalah makanan yang kamu berikan pada mereka."

Bara mengerutkan kening. "Maksud Mbah... kue Black Forest legam itu?"

"Tepat," Ki Ronggo mengangguk mantap. "Untuk mencabut kutukan itu, kita harus melakukan ritual Tukar Sesajen. Saya harus mengundang panglima jin putih untuk mengusir mereka dari rukomu. Tapi, panglima jin putih ini punya syarat khusus untuk turun tangan."

"Apa syaratnya, Mbah? Duit? Saya bawa cash nih, Mbah," Bara yang sudah panik langsung merogoh sakunya, mengeluarkan dompet. Berapapun harganya, asal rukonya selamat.

"Duit itu urusan belakangan," Ki Ronggo menepis pelan. "Syarat utamanya adalah sesajen yang setara. Panglima jin putih meminta... sebuah kue."

Bara terdiam. "Kue?"

"Ya. Sebuah kue custom raksasa," Ki Ronggo menatap langit-langit, seolah sedang membaca pesan dari alam gaib. "Panglima jin putih meminta sebuah kue Red Velvet, tiga tingkat. Lapisan tengahnya harus memakai cream cheese premium, tidak boleh terlalu manis. Di luarnya harus dihias dengan fondant warna merah muda cerah dan biru muda. Oh, dan satu lagi..."

Ki Ronggo menunduk, menatap Bara lagi. "...Panglima jin putih meminta agar di puncak kue itu, ditaruh patung mainan karakter Robocar Poli."

Hening. Bunyi kipas angin di ruang depan terdengar sangat jelas.

Otak Bara yang tadinya sudah mencair karena teror gaib, mendadak membeku. Roda gigi kapitalis di dalam kepalanya, yang selalu peka terhadap segala bentuk penipuan marketing, tiba-tiba berputar kembali dengan kecepatan maksimal.

Tunggu dulu.

Bara memicingkan matanya. Dia menatap wajah Ki Ronggo lekat-lekat.

“Red Velvet? Cream cheese premium kurang manis? Warna merah muda dan biru cerah? Karakter Robocar Poli?!”

Sejak kapan jin putih nusantara update selera dessert kebersihan ala kafe Jaksel dan minta mainan Korea untuk sesajen?!

Bara menoleh perlahan ke arah kanan, menembus asap dupa yang mulai menipis. Di sudut ruangan, tepat di belakang tubuh Ki Ronggo, terdapat sebuah laptop Asus yang layarnya menyala terang, disembunyikan di balik tumpukan buku primbon.

Sebagai mantan admin sosial media yang matanya setajam elang, Bara bisa melihat jelas layar laptop tersebut. Itu adalah layar WhatsApp Web.

Dan di layar obrolan yang sedang terbuka, ada sebuah chat dari kontak bernama "Bunda Sayang (Istriku)".

Pesannya berbunyi: "Pak, kue ultah buat Dede Ical yang tema Robocar Poli udah dipesen belom? Besok acaranya di TK lho! Awas kalau lupa lagi, mama suruh tidur di luar!"

Dan balasan terakhir yang baru saja dikirim beberapa menit lalu dari laptop itu berbunyi: "Aman, Ma. Ini Bapak lagi usaha dapet kue premium gratisan dari koki tolol yang ruko-nya lagi sepi. Berdoa aja."

Urat di pelipis Bara langsung menonjol sebesar sedotan boba.

Rasa takut, horor, dan trauma karena bertemu hantu Perumahan Asri Indah menguap tak bersisa, digantikan oleh murka murni seorang tukang roti yang skill-nya sedang diremehkan.

"Oh," suara Bara tiba-tiba berubah menjadi sangat tenang. Terlalu tenang, dingin, dan mematikan. "Jadi... panglima jin putihnya Mbah Ronggo suka sama Red Velvet tema Robocar Poli ya, Mbah?"

"Betul sekali, anak muda," Ki Ronggo mengangguk dengan wajah sangat serius, sama sekali tidak menyadari bahwa kedoknya sudah terbongkar. "Itu syarat mutlak. Kamu buatan kue itu, bawa kemari besok pagi sebelum jam tujuh. Dan untuk mahar ritual penarik jinnya... cukup dua juta rupiah saja dimasukkan ke dalam amplop."

Bara menunduk, bahunya bergetar hebat.

"M-mas Bara? Lo kenapa, Mas? Kesurupan?" Lintang bergeser menjauh, ngeri melihat bosnya yang tiba-tiba tertawa tertahan.

Bara mengangkat wajahnya. Senyum psikopat terlukis di bibirnya. Dia menggebrak meja lesehan itu jauh lebih keras daripada gebrakan Ki Ronggo tadi. BRAAAK! Lilin merah di atas meja sampai terguling dan padam.

"DUA JUTA RUPIAH PLUS RED VELVET TIGA TINGKAT?!" raung Bara dengan volume maksimal yang membuat gendang telinga Ki Ronggo berdenging.

Bara berdiri secara mendadak, menendang meja kecil itu ke samping hingga keris dan tasbih Ki Ronggo berhamburan ke lantai.

"DEN BARA! ISTIGHFAR, DEN! NANTI DIKUTUK!" Mang Ojak menjerit histeris, memeluk kaki Bara.

"LEPASIN MANG! INI BUKAN DUKUN! INI BAPAK-BAPAK GILA HORMAT!" Bara meronta, tangannya menunjuk lurus tepat di depan hidung Ki Ronggo yang kini melotot kaget melihat 'pasiennya' mengamuk.

"Hei! Apa-apaan kamu anak muda! Jangan kurang ajar di tempat suci saya!" bentak Ki Ronggo, mencoba mempertahankan wibawanya, meski suaranya sedikit gemetar melihat Bara yang kesetanan.

"TEMPAT SUCI MATA LU PICEK! LU LIAT TUH WHATSAPP WEB LU DI LAPTOP!" Bara menuding ke arah sudut ruangan. "Panglima jin putih dari mana yang besok ulang tahun di TK minta tema Robocar Poli, HAH?! LU MAU NIPU GUE BUAT DAPET KUE ULTAH ANAK LU GRATISAN KAN?!"

Mata Ki Ronggo langsung melotot ke arah laptopnya. Dia lupa mematikan brightness layarnya. Wajah dukun sakti itu seketika berubah sepucat kertas HVS.

"E-eh... i-itu... itu komunikasi gaib via teknologi fiber optik..." Ki Ronggo tergagap parah, kumis tebalnya bergetar lucu. "S-sekarang jin juga pake WiFi..."

"WIFI NDASMU!"

Bara melompati meja, mencengkeram kerah baju pangsi Ki Ronggo dengan kedua tangannya. Sisa-sisa adrenalin dan amarahnya dari stres selama berhari-hari akhirnya menemukan sasaran empuk.

"Lu mau main-main sama Bara's Kitchen?! Lu tau nggak harga cream cheese premium sekarang sekilo berapa?! Dua ratus ribu, Bangsat! Dan lu minta dibikinin tiga tingkat gratisan berkedok sesajen?! GUE KEMAREN ABIS NGEBELEK PERUT BUAYA BUAT BOS MAFIA, DAN SEKARANG GUE HARUS NGADEPIN DUKUN MISKIN YANG MAU NYOLONG RESEP RED VELVET GUE?!"

Lintang yang baru menyadari situasi sebenarnya, matanya langsung berubah sinis. Rasa takutnya hilang. Dia mengambil sandal jepitnya dan bersiap melemparnya ke arah kepala Ki Ronggo. "Wah, penipuan publik! Dukun scammer! Report Google Maps-nya sekarang, Mang Ojak! Kasih bintang satu! Tulis review: DUKUN MINTA KUE ULTAH GRATIS!"

"J-jangan, Mbak! Ampun, Mbak! Rating klinik saya bisa anjlok!" Ki Ronggo merengek memelas, memegang tangan Bara yang mencengkeram kerahnya. Semua wibawa gaibnya runtuh menjadi bapak-bapak menyedihkan.

"Gue laporin lu ke polisi atas tuduhan penipuan sama pemerasan!" ancam Bara tepat di depan wajah Ki Ronggo.

"Ampun, Mas Bara! Ampun! Jangan dilaporin, cicilan Nmax saya belom lunas!" tangis Ki Ronggo pecah. "Tadi saya cuma nebak-nebak doang, Mas! Saya nyium bau vanila sama rhum kuat banget dari celemek Mbak Lintang, terus muka Mas Bara keliatan stres banget kayak orang abis dikerjain customer. Jadi saya karang aja cerita Black Forest sama jin Qorin! Saya aslinya cuma tukang pijit keseleo yang rebranding jadi dukun gara-gara sepi!"

Mendengar pengakuan jujur dan menyedihkan itu, Bara melepaskan kerah baju Ki Ronggo dengan kasar. Dukun palsu itu tersungkur ke belakang, memeluk lututnya sambil menangis meratapi nasib.

Bara berdiri tegak, merapikan kemejanya. Napasnya masih memburu. Dia menatap Lintang dan Mang Ojak yang kini menatap Ki Ronggo dengan pandangan jijik.

"Ayo balik," perintah Bara dingin. Dia berbalik menuju pintu keluar. "Buang-buang waktu gue ngurusin marketing s3 dukun abal-abal."

Mereka bertiga berjalan keluar dari klinik supranatural palsu itu, meninggalkan Ki Ronggo yang masih sesenggukan meratapi ancaman bintang satu di Google Maps.

Begitu sampai di dalam mobil Si Putih yang panas, keheningan menyelimuti mereka bertiga.

Bara menatap lurus ke depan melalui kaca mobil. Dukun sakti bintang empat setengah di Google Maps ternyata hanyalah scammer berkedok agama. Dan uang dua juta miliknya sudah terlanjur hangus dibakar.

Bara mengusap wajahnya kasar. "Kita balik ke titik nol."

"Terus... gimana ruko kita, Mas?" tanya Lintang pelan dari kursi belakang. "Dedemit ibu kebaya dari Blok C itu masih ngikutin kita lho, Mas. Semalem gue denger suara air netes di deket wastafel."

Bara memejamkan matanya, menghela napas panjang yang sarat akan beban berat seorang kapitalis yang terjebak masalah gaib.

Tidak ada dukun sakti. Tidak ada orang pintar. Kalau makhluk alam gaib itu berani mengganggu aset Bara's Kitchen, maka Bara Mahendra akan melawan mereka menggunakan bahasa yang paling dia pahami.

"Mang Ojak, gas ke ruko," suara Bara berubah menjadi sangat datar, dingin, dan penuh determinasi. "Gue nggak butuh dukun. Kalau dedemit Blok C itu berani nunjukin wujudnya lagi di ruko gue malam ini... gue bakal tagih ongkos bikin kue lima juta rupiah langsung ke mukanya. Pake parang daging."

Lintang dan Mang Ojak menelan ludah serempak. Mereka sadar, Bara yang pelitnya sedang kumat jauh lebih menakutkan daripada Jin Qorin manapun di Kota X.

Malam pembalasan dendam koki bakery kepada dunia supranatural, baru saja dimulai.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!