Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahit di Balik Meja Makan
Aroma mentega yang gurih dan kopi yang kuat membumbung dari nampan perak yang dibawa Rebecca. Langkah kakinya terasa berat saat ia menaiki tangga menuju kamar utama. Kejadian tadi pagi—penolakan dingin Maximilian atas tawaran pengabdiannya—masih menyisakan rasa sesak di dadanya. Namun, bagi Rebecca, melayani adalah satu-satunya bahasa yang ia punya untuk menunjukkan bahwa ia masih ingin berada di sini.
Saat pintu kamar terbuka, Maximilian sudah tidak lagi berada di bawah selimut. Pria itu berdiri di depan cermin besar, mengenakan kemeja hitam yang belum dikancingkan, menampakkan otot-otot perutnya yang keras dan beberapa bekas luka lama yang menghiasi tubuhnya. Ia sedang merapikan jam tangan di pergelangan tangannya saat mata mereka bertemu melalui pantulan cermin.
Suasana kembali membeku. Topeng es Maximilian belum cair.
"Om ... aku sudah menyiapkan sarapan," ucap Rebecca lirih, meletakkan nampan itu di meja kecil dekat jendela.
Maximilian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Rebecca sekilas, lalu beralih mengancingkan kemejanya satu per satu dengan gerakan metodis. Rebecca mendekat, tangannya gemetar saat ia mencoba membantu merapikan kerah kemeja Maximilian. Pria itu sempat menegang, namun ia tidak menolak sentuhan Rebecca. Keheningan di antara mereka begitu pekat, hanya menyisakan suara deru napas yang tertahan.
"Turunlah ke meja makan. Aku akan makan di bawah," perintah Maximilian akhirnya. Suaranya datar, namun tidak lagi mengandung kemarahan meledak-ledak seperti tadi pagi. Itu adalah tanda perdamaian kecil yang sangat berarti bagi Rebecca.
Di meja makan jati yang megah, Maximilian duduk dengan punggung tegak. Rebecca menyajikan Omelet Truffle yang masih hangat di hadapannya. Ia berdiri di samping meja, menanti reaksi pria itu dengan jantung yang berdebar kencang.
Maximilian memotong omelet itu dan menyuapkannya ke mulut. Ia mengunyah perlahan. Rebecca menahan napas. Pria yang terbiasa dengan rasa pahit dan kerasnya dunia itu terdiam sejenak. Kelembutan telur dan aroma mewah dari truffle yang dipadukan Rebecca benar-benar pas di lidahnya yang pemilih.
"Rasanya pas. Tidak terlalu manis seperti kue kemarin," ucap Maximilian tanpa menoleh. "Kau tahu seleraku dengan baik."
Rebecca merasakan sedikit kelegaan menyusup di hatinya. "Terima kasih, Om. Aku senang Om menyukainya."
"Tapi jangan berpikir pujian ini berarti aku setuju dengan idemu untuk menjadi pelayan," Maximilian meletakkan garpunya, menatap Rebecca dengan tatapan yang mengunci pergerakan gadis itu. "Hari ini, kau tidak akan ke kampus. Vargo dan Liam akan menjagamu di sini. Kejadian semalam di perjamuan Valenti adalah deklarasi perang terbuka. Aku tidak ingin kau menjadi sasaran empuk saat aku tidak ada."
"Tapi Om mau ke mana?" tanya Rebecca cepat. Rasa khawatir mulai menggerogoti ketenangannya. Bayangan penembakan semalam kembali menghantui.
Maximilian berdiri, merapikan jasnya yang tersampir di kursi. "Urusan bisnis. Tetaplah di dalam rumah, jangan keluar dari radius pengamanan tanpa seizinku."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Maximilian melangkah keluar. Suara deru mesin mobil yang menjauh meninggalkan mansion pegunungan itu membuat Rebecca merasa tiba-tiba kesepian. Ia berdiri di jendela, menatap jalanan berliku yang membawa Maximilian pergi menuju dunia yang penuh dengan amis darah dan pengkhianatan. Ia khawatir. Ia sangat khawatir bahwa Maximilian akan melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar memberi pelajaran kepada Julian Valenti.
Maximilian tiba di pelabuhan pribadi Moretti saat matahari mulai naik tinggi. Pelabuhan ini adalah jantung dari kekuasaannya—jalur ekspor-impor yang menghubungkan Moretti dengan jaringan internasional. Puluhan kontainer berlogo jangkar emas berjejer rapi, sementara para pekerja yang melihat kedatangannya segera menunduk hormat.
"Tuan, ada laporan ketidakkonsistenan di dermaga tujuh," lapor salah satu mandor kepercayaannya. "Beberapa muatan dari kapal kargo semalam tampaknya ditahan oleh pihak yang tidak dikenal."
Maximilian menyipitkan mata. Ia tahu ini bukan sekadar masalah administrasi. Ini adalah sisa-sisa sengketa lama atau mungkin musuh baru yang mencoba memanfaatkan kekacauan dengan Valenti untuk menusuknya dari samping.
Ia berjalan menuju dermaga tujuh, dikawal oleh beberapa pria bersenjata. Suasana di sana terasa berbeda—terlalu sunyi untuk sebuah pelabuhan yang aktif. Bau laut yang asin bercampur dengan bau karat yang tajam.
Tiba-tiba, dari balik tumpukan kontainer biru, serentetan tembakan meletus. RAT-TAT-TAT-TAT!
"Penyergapan!" teriak salah satu pengawal Maximilian.
Maximilian dengan cepat mencabut pistol dari balik jasnya, berlindung di balik forklift besi yang berat. Ia mengutuk dalam hati. Rupanya bukan hanya Valenti yang ingin kepalanya. Ada faksi lain—mungkin kelompok dari utara yang selama ini mengincar jalur pelabuhan ini.
"Keluar kalian, pengecut!" teriak Maximilian, membalas tembakan dengan presisi yang mematikan. Dua penyerang jatuh dari atas kontainer, namun jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang ia perkirakan.
Konfrontasi itu berlangsung brutal dan sengit. Maximilian bergerak seperti bayangan di antara besi-besi tua, memuntahkan peluru ke arah siapa pun yang berani mendekat. Namun, sebuah ledakan dari granat kecil di dekat posisinya membuatnya terlempar. Telinganya berdenging, dan pandangannya sempat mengabur.
Saat ia mencoba bangkit, seorang pria berbadan besar dengan parang panjang menerjang dari arah buta. Maximilian berhasil menghindar, namun peluru dari penembak jitu yang bersembunyi di menara pengawas mengenai sisi perutnya.
"Ugh!" Maximilian mengerang, merasakan panas yang membakar merobek dagingnya. Darah segar mulai membasahi kemeja hitamnya yang mahal.
Ia tidak menyerah. Dengan satu tangan menekan lukanya, ia membidik penembak jitu itu dan melepaskan satu tembakan terakhir yang tepat mengenai kepala lawan. Namun, darah yang hilang terlalu banyak. Maximilian jatuh bertumpu pada satu lutut, napasnya memburu, sementara sisa-sisa pengawalnya berusaha mati-matian menutup celah agar ia tidak dihabisi.
Di mansion pegunungan, Rebecca duduk di sofa ruang tengah, tidak mampu menyentuh buku hukumnya sama sekali. Perasaannya tidak enak. Ia menatap jam dinding yang terus berdetak, merasa setiap detiknya seperti siksaan.
Ponsel di atas meja berdering. Itu adalah nomor Vargo. Rebecca segera mengangkatnya dengan tangan gemetar.
"Nona ... Tuan Maximilian ..." suara Vargo terdengar terengah-engah dan penuh dengan suara kebisingan latar belakang yang kacau. "Terjadi serangan di pelabuhan. Tuan terluka parah. Kami sedang dalam perjalanan kembali."
Jantung Rebecca seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi. Bayangan Maximilian yang tadi pagi berdiri gagah di depan cermin kini digantikan oleh bayangan pria itu bersimbah darah.
"Siapkan peralatan medis di kamar utama! Dokter keluarga sedang dalam perjalanan, tapi kami butuh bantuan segera begitu sampai!" teriak Vargo sebelum sambungan terputus.
Rebecca segera berdiri. Rasa takutnya yang melumpuhkan tadi pagi tiba-tiba menguap, digantikan oleh dorongan adrenalin yang kuat. Ia tidak lagi peduli apakah ia seorang pelayan atau seorang Moretti. Yang ia tahu, pria yang mempertaruhkan nyawa demi melindunginya kini sedang meregang nyawa.
Ia berlari menuju lemari medis, menyiapkan kain kasa, antiseptik, dan air hangat. Ia memerintahkan Liam untuk berjaga di gerbang depan dengan pengamanan maksimal. Tangannya tidak lagi gemetar saat ia menyusun peralatan itu di samping tempat tidur tempat mereka tidur bersama tadi malam.
"Bertahanlah, Om Max ..." bisik Rebecca, matanya menatap tajam ke arah jalan masuk. "Jangan berani-berani meninggalkan aku sekarang."
Beberapa menit kemudian, deru mobil yang melaju kencang terdengar mendekat. Suara decitan rem yang memekakkan telinga menandakan kepulangan yang penuh darah. Pintu depan terbanting terbuka, dan Rebecca melihat Vargo serta dua pengawal lainnya membopong tubuh Maximilian yang terkulai lemas. Kemeja hitamnya kini benar-benar basah oleh darah yang mengalir deras dari perutnya.
Maximilian tampak sangat pucat, kesadarannya berada di ambang batas. Namun saat matanya yang meredup melihat Rebecca berlari ke arahnya, ia mencoba memberikan senyum tipis yang getir.
"Kau ... tidak patuh ... kubilang jangan keluar kamar ..." gumam Maximilian sebelum kepalanya jatuh terkulai di bahu Vargo.
"Bawa dia ke atas! Sekarang!" teriak Rebecca, suaranya kini terdengar penuh otoritas, bukan lagi suara gadis manja yang ketakutan. Malam ini, di tengah amis darah dan luka yang menganga, Rebecca menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa menjadi sekadar pelayan. Ia adalah satu-satunya orang yang bisa menjaga detak jantung sang monster agar tetap berdenyut.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣