Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Penyangkalan Pengecut
Dominic menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti disumpal bongkahan batu panas. Jarak wajahnya dan wajah Harper begitu dekat hingga dia bisa merasakan hembusan napas wanita itu yang memburu.
Untuk sepersekian detik, benteng pertahanan Dominic nyaris runtuh. Dia ingin berteriak 'Ya! Aku cemburu setengah mati!'. Tapi otak bisnisnya yang penuh perhitungan logis dan ego maskulinnya yang tidak pernah kalah, langsung mengambil alih kendali dengan paksa. Mengakui perasaan pada seorang bawahan sama saja dengan menyerahkan senjata paling mematikan untuk menjatuhkan harga dirinya.
Dominic memundurkan kepalanya perlahan, menarik jarak aman. Pria itu tertawa sumbang. Tawa kering yang sangat dipaksakan dan terdengar begitu hampa di udara sempit kabin mobil.
"Cemburu?" Dominic mengulang kata itu dengan nada mencemooh yang luar biasa menyebalkan. "Otak cerdasmu sepertinya mulai mengalami disfungsi malam ini, Harper. Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Kau memang sekretaris yang sangat berguna, tapi kau tetap bawahanku."
Mata Harper menyipit tajam. "Lalu apa namanya semua tindakan gila dan manipulatifmu malam ini, Dominic? Menyelamatkan dunia?"
"Ini namanya manajemen risiko tingkat tinggi!" dalih Dominic cepat, menciptakan kebohongan baru untuk menutupi kepanikan di dadanya. "Kau adalah investasi terbesarku! Otakmu menyimpan data triliunan rupiah milik Vance Corp. Semua kode keamanan, jadwal rahasia, dan strategi negosiasiku ada di kepalamu! Aku tidak bisa membiarkan aset sepenting dirimu terdistraksi atau dimanfaatkan oleh pria antah-berantah yang mungkin saja mata-mata saingan bisnisku!"
Harper menatap bosnya dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi. Alasan itu adalah kebohongan paling bodoh dan paling menyedihkan yang pernah keluar dari mulut seorang Dominic Vance.
"Kau benar-benar pria pengecut, Dom," bisik Harper tajam. Suaranya tidak lagi meledak-ledak, melainkan dingin dan menusuk tulang. "Kau bahkan tidak punya keberanian untuk jujur pada dirimu sendiri."
"Aku murni bersikap profesional melindungi perusahaanku!" bantah Dominic bersikeras.
"Terserah apa katamu, Bos." Harper meraih gagang pintu mobil. Dia menoleh untuk terakhir kalinya, menatap lurus ke mata Dominic. "Teruslah hidup dengan ego raksasamu itu sampai kau membusuk sendirian di puncak sana."
Harper mendorong pintu mobil, melangkah keluar, lalu membanting pintu tebal Vancelo itu dengan tenaga penuh. Bunyi dentuman keras membuat mobil mewah itu sampai berguncang hebat.
Dominic mematung di kursi belakang. Tangannya terkepal kuat meninju jok kulit di sebelahnya. Umpatan kasar meluncur deras dari mulutnya. Dia baru saja menang telak memisahkan Harper dari pria itu, tapi entah mengapa dia merasa seperti pihak yang kalah telak dalam peperangan ini.
***
Tumpukan dokumen melayang kasar ke atas karpet lantai eksekutif Vance Corp. Bunyi kertas berserakan memecah keheningan ruangan.
Dominic berdiri berkacak pinggang di balik meja kerjanya dengan napas memburu. Kemejanya sengaja dibiarkan berantakan tanpa dasi.
"Batalkan semua rapat hari ini! Kosongkan jadwalku sampai akhir pekan!" bentak Dominic dengan suara menggelegar ke seluruh penjuru ruangan.
Harper berdiri di ambang pintu dengan postur sangat tegap. Wajah wanita itu benar-benar datar seperti tembok beton.
Tidak ada senyum sinis, tidak ada bantahan tajam. Sejak menginjakkan kaki di kantor, Harper memberlakukan perang dingin yang sangat profesional. Sesuatu yang justru membuat Dominic makin frustasi dan ingin meledak.
"Baik, Pak. Semua jadwal dibatalkan. Ada lagi yang bisa kubantu sebelum aku kembali ke mejaku?" jawab Harper dengan nada mekanis dan sangat kaku.
"Jangan berani-berani keluar dari ruangan ini, Harper Sloane!" tunjuk Dominic marah. "Kita punya urusan bisnis yang sangat mendesak. Siapkan koper dan barang-barangmu. Kita berangkat siang ini juga."
Alis Harper terangkat sebelah. "Berangkat? Ke mana? Paris tidak ada dalam jadwalku."
"Bukan ke Paris. Kita akan pergi ke Pulau Karang Kembar," ucap Dominic mutlak. "Tuan Wijaya, pemilik proyek pelabuhan baru itu, menolak menandatangani kontrak kerja sama kalau kita tidak menemuinya langsung di resor pulau pribadinya. Orang tua itu keras kepala dan banyak permintaan. Negosiasinya akan sangat alot."
"Kalau begitu bawa divisi pemasaran dan pengacara perusahaan. Aku akan tetap di sini menjaga kelancaran komunikasi kantor pusat," tolak Harper cepat. Berada di satu pulau terpencil dengan bos yang sedang tantrum adalah definisi neraka bocor.
"Kau asisten utamaku! Kau yang menyusun draf kontrak Tuan Wijaya! Kau wajib ikut!"
"Ini di luar deskripsi pekerjaan utamaku, Dom. Aku menolak dinas luar kota tanpa pemberitahuan jauh-jauh hari."
Dominic menyunggingkan senyum licik yang sangat menyebalkan. Pria itu memutari mejanya, melangkah mendekati Harper dengan aura intimidasi penuh.
"Ini perintah mutlak dari CEO. Kalau kau menolak melangkah naik ke kapal siang ini, seluruh bonus retas lima ratus juta milikmu itu akan kutahan secara permanen," ancam Dominic tanpa ampun. "Pilih mana? Temani aku negosiasi di pulau terpencil, atau ucapkan selamat tinggal pada uang perawatan kulit mahalmu itu?"
Harper mengatupkan rahangnya rapat-rapat hingga terdengar bunyi gemeletuk gigi. Dominic selalu tahu cara paling kotor untuk menekannya. Uang.
***
Angin laut bertiup sangat kencang, membawa aroma garam yang pekat. Suara deburan ombak yang menabrak dermaga beton terdengar bersahutan.
Harper berdiri kaku di pinggir pelabuhan pribadi milik Vance Corp. Tangannya mencengkeram erat koper kecilnya. Matanya menatap horor pada sebuah yacht mewah berwarna putih yang terombang-ambing cukup keras dihantam ombak laut yang sedang tidak bersahabat. Perut Harper mendadak terasa diaduk-aduk. Dia sangat membenci lautan dan segala kendaraan yang mengapung di atasnya.
Dominic melangkah turun dari mobilnya dengan kacamata hitam bertengger angkuh di hidung mancungnya. Pria itu berjalan menghampiri Harper, berdiri tepat di sebelah sekretarisnya sambil menatap kapal pesiar kecil itu dengan bangga.
Namun, saat menoleh ke arah Harper, langkah Dominic sedikit melambat. Dia melihat wajah Harper yang tadinya segar kini berubah pucat pasi seperti mayat. Wanita itu bahkan menelan ludah berulang kali sambil memegangi perutnya.
Dominic menyeringai lebar. Kesempatan untuk membalas dendam atas kekalahannya semalam terbuka lebar.
"Kenapa wajahmu pucat sekali, Nona Sloane?" ejek Dominic dengan nada kemenangan yang sangat kentara. Pria itu mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Harper. "Jangan bilang asisten utamaku yang sangat garang ini ternyata mabuk laut?"
Rasax semangat banget klu baca alurx👌Tiap hari kerjaan rmh cpt2 saya selesaikan Krn satu tujuan 🤭 mau lanjt lanjut baca karya KK Savana Liora 🥰🥰🥰🥰
sehat dan sukses sell ya Thor & ditunggu karya selanjutnya 🤲🤲🤲🤲🤲
TETAP SEMANGAT 💪💪💪💪💪
Kalo perlu si Dom tu sruh tdur di atas air laut pake sekoci ,,
biar Tau rasa dy ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makany jgn natckal Pak bos ,, nnti di tinggal Harper baru Tau anda ,,
😑😑😑
boleh ta ,, 🤭🤭🤭😁😁😁
next kak