Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sore itu, suhu tubuhku sudah stabil di angka 37 derajat. Perawat baru saja mencabut selang infus, menyisakan plester kecil dan rasa pegal di punggung tanganku. Danesha sudah berdiri di samping ranjang, menenteng tas plastik berisi obat-obatan rawat jalan yang harus kuminum di rumah.
"Sudah siap? Ayo, mobilku sudah di depan lobi. Kamu harus istirahat total di apartemen," ucap Danesha sambil membantuku turun dari brancard.
Langkahku masih sedikit gontai saat kami menyusuri koridor rumah sakit menuju pintu keluar. Namun, tepat di depan pintu kaca lobi, langkahku membeku. Di sana, berdiri dua sosok yang sangat tidak ingin kutemui dalam kondisi selemah ini.
Baskara dan Rasya.
"Mbak Aruna!" Rasya berseru cemas, ia langsung menghampiriku dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Di tangannya ada sebuah keranjang buah kecil yang dibungkus rapi. "Tadi aku tanya Pak Hendra, katanya Mbak Aruna masuk IGD. Ya ampun, Mbak, kok sampai begini?"
Aku menoleh sekilas ke arah Baskara. Pria itu berdiri kaku dua langkah di belakang Rasya. Wajahnya kembali ke setelan pabrik: datar, dingin, dan tidak terbaca. Seolah-olah pria yang menitipkan bubur ayam pagi tadi dan menyentuh keningku subuh tadi hanyalah hantu dalam halusinasiku.
"Hanya kelelahan, Rasya. Terima kasih sudah repot-repot ke sini," jawabku dengan suara yang masih agak serak.
"Untung tadi aku paksa Bas buat mampir ke sini dulu sebelum kita ke kantor vendor. Tadi dia bilang Mbak Aruna pasti sudah pulang, tapi firasat aku Mbak masih di sini," lanjut Rasya tanpa curiga sedikit pun.
Gema kebohongan kembali berdenyut di kepalaku. Baskara tahu aku masih di sini. Dia bahkan tahu apa yang kumakan tadi pagi. Namun di depan kekasihnya, ia berpura-pura acuh seolah keberadaanku hanyalah gangguan kecil dalam jadwal kerjanya.
"Bas, bantuin dong bawa tasnya Mbak Aruna ke mobil Danesha," pinta Rasya sambil melirik kekasihnya.
Baskara melangkah maju, namun sebelum tangannya menyentuh tasku yang dipegang Danesha, aku langsung menariknya. "Tidak usah. Danesha bisa membantuku. Terima kasih, Rasya."
Tatapan mata kami bertemu selama sedetik. Ada kilat frustrasi di mata Baskara yang tertutup oleh topeng kebosanan. Ia tahu aku sedang menjaga jarak, dan ia juga tahu aku sedang melindunginya dari kecurigaan Rasya.
"Ya sudah kalau begitu," suara Baskara terdengar berat dan sangat formal. "Semoga cepat sembuh, Aruna. Jangan biarkan sakitmu menunda tenggat waktu proyek kita minggu depan."
Kalimatnya tajam, sangat profesional, namun aku tahu itu adalah caranya untuk mengusir rasa canggung yang mencekik. Aku hanya mengangguk pelan, membiarkan Danesha menuntunku menuju mobil.
Saat aku masuk ke dalam mobil, aku melihat dari kaca spion Rasya yang sedang merangkul lengan Baskara sambil berjalan menjauh. Pemandangan itu menyadarkanku; di mata dunia, mereka adalah pasangan yang sempurna. Dan aku? Aku hanyalah masa lalu yang harus tetap terkubur, meski gema kebaikannya terus menghujam rasa bersalahku.
Mobil Danesha perlahan bergerak meninggalkan area rumah sakit. Aku menyandarkan kepala pada jok kulit yang dingin, menatap kosong ke arah luar jendela sementara bayangan Baskara dan Rasya yang bersisian tadi masih membekas di pelupuk mataku.
Keheningan di dalam mobil hanya dipecah oleh suara sein yang berdetak teratur. Danesha melirikku sekilas melalui kaca spion tengah, raut wajahnya tampak penuh tanda tanya yang sejak tadi ia tahan.
"Na," panggil Danesha pelan. "Perempuan tadi... itu pacarnya Baskara yang sekarang?"
Aku menghela napas berat, merasakan sisa-sisa sesak di dada yang bukan berasal dari infeksi paru-paruku. "Iya, Dan. Namanya Rasya. Dia perwakilan dari vendor kreatif untuk proyek kantorku."
Danesha terdiam sejenak, mencerna informasi itu. "Cantik. Dan keliatannya... sangat tulus ya? Cara dia menatap Baskara, cara dia mengkhawatirkanmu tadi."
"Memang," jawabku getir. "Dia kebalikan dariku dalam segala hal. Dia hangat, dia peduli, dan dia tidak pernah mengabaikan Baskara. Itulah sebabnya Baskara terlihat begitu melindunginya."
"Pantas saja Baskara mati-matian menyuruhku tutup mulut soal dia yang menelepon semalam dan datang ke IGD subuh tadi," gumam Danesha, yang seketika membuatku tersentak dan menoleh padanya.
"Maksudmu?"
Danesha menggigit bibir, seolah menyadari ia baru saja membocorkan sesuatu yang seharusnya dirahasiakan. "Maaf, Na. Aku nggak tahan. Baskara itu meneleponku berkali-kali semalam cuma buat nanya keadaanmu. Dan tadi subuh, saat aku ketiduran, dia benar-benar datang ke ruang observasimu. Dia menjaga jarak karena dia tahu ada Rasya di hidupnya sekarang, tapi hatinya... dia masih punya sisa-sisa rasa manusiawi yang besar buat kamu."
Aku memalingkan wajah kembali ke arah jendela, air mataku nyaris jatuh. Gema kenyataan ini jauh lebih menyakitkan daripada kebohonganku di depan Rasya tadi. Baskara mencintai Rasya, namun dia tetap tidak bisa membiarkanku hancur—dan itu adalah bentuk hukuman yang paling menyiksa bagi rasa bersalahku.
"Dia bukan mencintaiku, Dan," bisikku pelan. "Dia hanya orang baik yang kebetulan pernah aku sakiti. Dan melihatnya bersama Rasya... itu menyadarkanku bahwa aku benar-benar tidak boleh muncul lagi di hadapannya setelah proyek ini selesai."
Danesha tidak membantah. Ia hanya memegang tanganku erat, membiarkan keheningan kembali menguasai mobil seiring kami menjauh dari gema masa lalu yang terus mengejar.