(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 116: Roda Bintang Takdir
Jauh di luar jangkauan langit keemasan yang menutupi Dunia Tianyun, melintasi lautan galaksi yang tak berujung, terletak pusat dari Benua Barat Alam Atas.
Di dalam Aula Bintang Utama milik Klan Dewa Bintang, sebuah artefak primordial yang telah tertidur selama ratusan ribu tahun tiba-tiba meledak dengan cahaya yang menyilaukan. Artefak itu adalah Roda Bintang Takdir, sebuah piringan bulat raksasa yang mencatat setiap garis keturunan dari klan terkuat tersebut.
Patriark Shen Tianzong, yang sedang memimpin rapat pencarian putrinya, terhenti seketika. Seluruh Tetua dan anggota inti Klan Dewa Bintang membelalakkan mata mereka.
Piringan raksasa itu berputar dengan liar. Bukan enam, bukan tujuh, bukan sembilan... melainkan sepuluh bayangan bola hitam pekat perlahan terproyeksi di tengah aula, memancarkan aura penindasan yang membuat ruang dan waktu di sekitar mereka retak!
"S-Sepuluh Roda Bintang?!" Paman Tertua terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. "Itu... itu adalah legenda Monster Zun Penghancur Dewa! Entitas yang kekuatannya setara dengan God Emperor!"
Nenek menggebrakkan tongkat bintangnya yang bergetar hebat. Matanya memancarkan keterkejutan bercampur harapan yang membara. "Pancaran darah ini... ini adalah cabang dari garis keturunan Yue'er! Putriku masih hidup, dan dia telah melahirkan seorang keturunan yang memicu anomali primordial!"
"Keturunan dengan Sepuluh Roda?!" Suara Patriark Shen menggelegar, mengguncang seluruh konstelasi bintang di luar aula. "Jika klan-klan kuno lain di Alam Atas mengetahui bahwa pewaris Monster Zun telah lahir, mereka akan mengirimkan Kaisar Dewa mereka untuk membunuhnya sebelum ia dewasa! Kunci rapat koordinat ini! Kirimkan armada elit kita dalam diam. Kita harus membawa cucuku dan ibunya pulang dengan selamat, apa pun harganya!"
Alam semesta mulai bergerak karena satu tarikan napas dari seorang remaja berusia dua belas tahun di dunia fana.
Sementara itu, di ruang bawah tanah perkebunan rahasia Ibukota Zhao.
Zhao Xuan membuka matanya perlahan. Pendaran cahaya perak keunguan dari Roda Bintang pertamanya meredup, menyatu kembali ke dalam jiwanya. Ia mengepalkan telapak tangannya. Udara di sekitarnya terdistorsi dan meledak dalam letupan kecil.
Mata hitam Zhao Xuan menyipit penuh perhitungan.
Fisikku sekarang memiliki kepadatan yang setara dengan Puncak Foundation Establishment, analisis Zhao Xuan dalam hati. Tidak ada Qi fana yang mengalir di nadiku. Sebagai gantinya, Roda Bintang Pertama ini memberikanku pasif Manipulasi Gravitasi. Setiap pukulanku sekarang membawa berat sebuah meteorit kecil.
Namun, kejeniusannya sebagai mantan Asura segera menyadari sebuah kejanggalan besar. Ia menatap Cincin Jiwa Kuno di jarinya yang kembali kusam.
"Ini bukan kekuatan Cincin Jiwa Kuno. Ini adalah kekuatan yang mengakar pada garis darah daging fana ini," gumam Zhao Xuan. Ia memusatkan kesadarannya pada sembilan Roda Bintang lain yang masih gelap dan tersegel di dalam jiwanya.
Setiap roda adalah sebuah pintu. Roda pertama memberinya kendali gravitasi ekstrem. Apa yang disembunyikan oleh sembilan roda lainnya? Api primordial? Ruang hampa? Kehancuran waktu?
"Darah fana tidak bisa melahirkan entitas kosmik," Zhao Xuan mengelus dagunya, Niat Membunuhnya mereda digantikan oleh rasa penasaran yang tajam. "Ayahanda jelas seorang manusia fana murni. Yang berarti... Ibunda. Ratu Kerajaan Zhao yang selalu mencemaskan apakah aku memakai mantel tebal atau tidak, ternyata menyembunyikan rahasia yang bisa mengguncang dunia kultivasi."
Zhao Xuan tidak marah. Sebaliknya, ia merasa lucu. Di istana itu, sang ibu berpura-pura menjadi wanita lemah, sementara sang anak bungsu berpura-pura menjadi balita polos. Keduanya saling melindungi di balik topeng kepalsuan.
"Aku akan mencari tahu dari mana kekuatan ini berasal nanti," Zhao Xuan bangkit berdiri. "Untuk saat ini, kekuatan fisik ini cukup untuk membantai anjing-anjing Klan Yao. Namun, satu Jue Ying saja tidak akan cukup untuk menghadapi perang benua ini."
Zhao Xuan melangkah keluar dari ruang altar menuju aula bawah tanah yang lebih luas.
Di sana, tidak hanya lima bayangan yang berlutut, melainkan seratus remaja yatim piatu yang telah diselamatkan dan dilatih secara brutal selama setahun terakhir. Mereka adalah bibit-bibit iblis yang selamat dari seleksi alam. Berkat hujan sumber daya dari Xiao Mei dan rampasan Klan Yao, sebagian besar dari mereka telah mencapai tahap awal Qi Condensation.
"Mulai malam ini, Sekte Langit Asura tidak lagi hanya bergerak sebagai bayangan tunggal," suara Zhao Xuan bergema ke seluruh ruangan, sedingin es abadi. "Kita akan menyebar menjadi lima sayap kematian. Masing-masing akan menguasai satu aspek dari teror."
Zhao Xuan menatap lima remaja yang berlutut di barisan paling depan.
"Jue Ying," panggil Zhao Xuan. Mantan ketua pengemis berbekas luka itu menunduk. "Kau tetap menjadi Pedang dalam Kegelapan. Pimpin Paviliun Bayangan (Assassin). Tugasmu adalah infiltrasi, eksekusi, dan sabotase intelijen."
"Sesuai kehendak Tuan," jawab Jue Ying tanpa ragu.
"Jian Yi," Zhao Xuan menatap seorang remaja kurus dan pendiam yang memeluk sebuah pedang besi berkarat. Sorot matanya sangat mirip dengan mendiang Jian Wuhen. "Kau hidup untuk pedang, dan kau akan mati untuk pedang. Pimpin Paviliun Pedang. Jadilah barisan depan yang merobek formasi sihir kultivator musuh."
Jian Yi hanya mengangguk pelan, auranya memancarkan ketajaman yang mengerikan.
"Xin'er," pandangan Zhao Xuan beralih pada seorang gadis muda bertubuh mungil dengan tatapan mata yang sangat inosen, namun kulitnya kebal terhadap bisa mematikan. "Pimpin Paviliun Racun. Buatlah pil dan kabut yang bisa melelehkan meridian ahli Foundation Establishment tanpa mereka sadari."
Gadis itu tersenyum manis, memamerkan deretan giginya. "Akan kulakukan dengan rapi, Tuan."
"Tie Ba," kali ini, seorang remaja raksasa berotot kawat yang posturnya menyerupai Long Chen melangkah maju. "Kau adalah perisai. Pimpin Paviliun Fisik. Ajarkan mereka bagaimana meremukkan tulang kultivator arogan menggunakan tangan kosong."
Tie Ba memukul dadanya hingga berdebam keras. "Tidak ada sihir yang bisa menembus tulang kami!"
"Dan terakhir, Mu Bai," Zhao Xuan menatap remaja pucat yang sangat cerdas. "Pimpin Paviliun Alkimia. Gunakan resonansi kinetik yang kuajarkan untuk mengekstrak darah Binatang Iblis dan rampasan musuh menjadi pil. Kalian adalah jantung yang akan memompa kekuatan untuk seluruh sekte."
"Kebijaksanaan Tuan adalah panduan kami," Mu Bai membungkuk dalam-dalam.
Malam itu, lima pilar Sekte Langit Asura resmi ditegakkan. Dari seratus remaja jalanan ini, kelak akan lahir dewa perang paling menakutkan yang akan membuat dewa-dewa Benua Tengah menyesal pernah menginjakkan kaki di Dunia Tianyun.
Keesokan paginya, matahari musim semi menyinari taman Paviliun Bunga Persik di Istana Zhao.
Suasana istana sedikit tegang setelah mendengar desas-desus pembantaian di Hutan Timur semalam, namun keluarga kerajaan tetap berkumpul untuk sarapan pagi. Sang Ratu, yang matanya sedikit sembab karena terjaga semalaman memikirkan anomali bintang itu, menuangkan teh untuk suaminya.
Zhao Xuan duduk di kursinya, dengan wajah polos memakan bubur teratai.
Ia memutuskan sudah waktunya untuk menguji air.
"Ibunda," panggil Zhao Xuan tiba-tiba, suaranya jernih dan kekanak-kanakan.
Sang Ratu menoleh dengan senyum lembut yang sedikit dipaksakan. "Ada apa, Xuan'er sayang? Buburnya kurang manis?"
"Tidak, Ibunda. Hanya saja..." Zhao Xuan memiringkan kepalanya, menatap lurus ke mata ibunya dengan ekspresi pura-pura bingung. "Semalam aku bermimpi sangat aneh. Aku melihat sepuluh bola hitam besar melayang di udara, berputar-putar seperti bintang di langit, tapi gelap sekali. Apakah Ibunda pernah mendengar dongeng tentang bola hitam yang bisa memakan cahaya?"
PRANG!
Sendok porselen jatuh dari tangan Sang Ratu, pecah berkeping-keping di atas lantai batu.
Seluruh keluarga terdiam. Raja Zhao, Zhao Tian, dan Zhao Ling menatap Sang Ratu dengan kebingungan.
Napas Sang Ratu tercekat. Wajahnya memucat, matanya membelalak menatap putra bungsunya. Jantungnya berdebar sekeras genderang perang. Sepuluh bola hitam? Mimpi? Tidak mungkin ini hanya kebetulan! Roda Bintang Primordial... apakah garis darah itu mengalir di dalam tubuh Xuan'er?!
Namun, di bawah tatapan penasaran keluarganya, Sang Ratu dengan cepat memaksa dirinya menelan kepanikan itu. Pengalaman bertahan hidupnya dari kejaran musuh Benua Barat mengambil alih. Ia mengukir senyum keibuan yang sangat natural, meski tangannya di bawah meja masih gemetar.
"Ya ampun, Ibunda sangat ceroboh hari ini," ucap Sang Ratu dengan nada menyesal, memanggil pelayan untuk membersihkan pecahan sendok. Ia lalu menatap Zhao Xuan dengan tatapan lembut. "Itu pasti hanya mimpi buruk karena kau terlalu banyak membaca buku mitologi utara, sayang. Tidak ada bola hitam yang memakan cahaya di dunia ini."
Zhao Xuan tidak berekspresi. Ia mengambil sepotong bakpao daging.
Akting yang sempurna, puji Zhao Xuan dalam hati, memastikan kecurigaannya 100% benar. Jantungnya melompat dua kali lebih cepat, dan pupilnya membesar 30%. Ibunda pasti tahu apa itu Sepuluh Roda Bintang. Dia adalah kultivator rahasia.
"Begitu ya. Syukurlah itu hanya mimpi," jawab Zhao Xuan dengan polos, menggigit bakpaonya.
Di meja makan yang hangat itu, sepasang ibu dan anak saling tersenyum. Sang Ratu diam-diam bersumpah akan membakar esensi nyawanya untuk menyembunyikan kekuatan anaknya dari kejaran Alam Atas. Di sisi lain meja, sang anak diam-diam bersumpah akan mematahkan leher siapa pun dari Alam Atas yang berani mengusik kedamaian ibunya.