Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.9 Sendiri Melawan Ilusi (Nyx perspektif)
Aku berdiri hampir di tengah sungai, tetapi masih berada du tepinya. Kak Ely berada beberapa langkah di belakang, masih mengatur napas setelah lari tadi. Aku bisa mendengar detak jantungnya — cepat, tapi mulai melambat. Aku tahu dia khawatir. Aku bisa merasakannya meskipun dia tidak bilang apa-apa.
Malam sudah semakin dalam. Kabut menipis, tapi udara tetap dingin. Air sungai mengalir pelan di depanku. Suaranya seperti hembusan napas yang tenang. Aku menarik napas dalam-dalam. Dada terasa lebih ringan setelah menggunakan Night Whisper tadi. Tapi ada sesuatu yang masih mengganggu. Seperti ada bisikan yang belum selesai.
Aku menutup mata. Telingaku berdiri tegak. Ekor melengkung pelan di belakang. Aku mendengarkan. Bukan suara dari luar. Bukan langkah kaki musuh yang mendekat. Ini dari dalam. Dari pikiranku sendiri.
Bisikan itu datang lagi. Lebih jelas dari sebelumnya.
*Nyx… mengapa kau lari?*
Suara itu terdengar seperti Mama. Lembut. Hangat. Tapi ada nada sedih di dalamnya. Aku membuka mata. Tidak ada Mama di depanku. Hanya sungai. Hanya batu. Hanya Kak Ely yang duduk di belakang.
Aku menutup mata lagi. Bisikan itu terus berlanjut.
*Kau meninggalkan kami. Kau lari sendirian. Papa dan Kakak mati karena kau tidak cukup kuat.*
Aku menggigit bibir bawah. Rasa sakit kecil di bibir membuatku tetap sadar. Aku tahu ini ilusi. Aku tahu ini bukan suara Mama yang sebenarnya. Tapi suara itu terasa nyata. Terlalu nyata.
Aku menarik napas dalam. Dada terasa sesak. Aku membuka mata. Kak Ely masih di sana. Ia menatapku dengan mata yang penuh perhatian. Aku menggeleng pelan ke arahnya. Artinya: jangan mendekat. Ini harus aku sendiri.
Aku berdiri. Kaki terasa lebih mantap dari sebelumnya. Tubuh yang baru ini terasa lebih kuat.
Bisikan itu semakin keras.
*Kau tidak pantas hidup. Darahmu membawa kutukan. Desa terbakar karena kau. Mama mati karena kau. Kakak mati karena kau.*
Aku menutup mata lagi. Aku tidak menjawab. Aku hanya mendengarkan. Night Whisper mulai bekerja. Aku bisa merasakan bisikan itu bukan dari luar. Ia dari dalam pikiranku. Dari kenangan yang tersembunyi. Dari rasa bersalah yang selama ini aku simpan rapat.
Aku membuka mata. Aku melihat bayangan di permukaan air sungai. Bayangan itu bukan pantulan tubuhku. Bayangan itu berbentuk Mama. Rambut hitam panjang. Mata kuning keemasan. Senyum yang lembut. Tapi senyum itu tidak mencapai mata.
Bayangan Mama mengulurkan tangan.
*Kembalilah, Nyx. Kembalilah ke kami. Kau bisa menyelamatkan kami jika kau mati.*
Aku menggeleng pelan. “Tidak. Kalian sudah pergi. Kalian sudah aman. Aku tidak bisa menyelamatkan kalian lagi.”
Bayangan Mama tersenyum lebih lebar. Tapi senyum itu terasa salah. Seperti topeng yang retak.
*Kau bohong. Kau tahu kau penyebabnya. Darahmu adalah kutukan. Guardian bukan pelindung. Guardian adalah pembawa malapetaka.*
Aku menarik napas dalam. Dada terasa lebih sesak. Tapi aku tidak mundur. Aku melangkah maju. Kaki menyentuh air sungai. Air dingin naik hingga ke pergelangan kaki. Aku merasakan aliran Night Whisper di dalam darah. Cahaya perak samar muncul di telapak tangan.
Aku mengangkat tangan kanan. Cahaya perak membesar. Ia membentuk bola kecil. Bola itu berputar pelan. Aku mengarahkan bola itu ke bayangan Mama di permukaan air.
“Kalau kau benar-benar Mama,” kataku pelan, “kau akan tahu aku tidak akan menyerah. Kau akan tahu aku ingin hidup. Untuk Kak Ely. Untuk Lyre. Untuk Cae. Untuk kalian juga.”
Bayangan Mama mulai bergetar. Senyumnya retak. Wajahnya mulai memudar. Tapi sebelum menghilang, bayangan itu berubah. Sekarang menjadi Papa. Tubuh tinggi. Tangan kuat. Mata yang selalu penuh kasih sayang.
*Nyx… Papa bangga padamu. Tapi kau harus bergabung dengan kami. Di sini tidak ada sakit. Di sini tidak ada takut.*
Aku menggigit bibir. Rasa sakit kecil di bibir membuatku tetap sadar. Aku mengarahkan bola cahaya perak ke bayangan Papa.
“Kau bukan Papa. Papa akan bilang aku harus hidup. Papa akan bilang aku harus kuat. Papa tidak akan memintaku mati.”
Bayangan Papa mulai memudar. Ia berubah lagi. Sekarang menjadi Kakak. Kakak yang selalu melindungi aku. Kakak yang mati di depan mata Mama untuk memberi kami waktu lari.
*Nyx… kakak gagal melindungimu. Tapi kau bisa memperbaikinya. Kembalilah. Bergabunglah dengan kami.*
Aku merasakan air mata mengalir di pipi. Tapi aku tidak menyekanya. Aku mengangkat tangan kedua. Cahaya perak di kedua telapak tangan membesar. Ia membentuk lingkaran kecil di depan dada.
“Kakak tidak gagal. Kakak berhasil memberi aku waktu untuk hidup. Untuk bertemu Kak Ely. Untuk menjadi lebih kuat. Aku tidak akan menyia-nyiakan itu.”
Cahaya perak membesar. Ia menyentuh bayangan Kakak. Bayangan itu bergetar. Lalu memudar. Lalu menghilang sepenuhnya.
Ruangan dalam pikiranku menjadi sunyi. Tidak ada bisikan lagi. Hanya suara air sungai. Hanya hembusan angin malam. Hanya napasku sendiri.
Aku membuka mata. Cahaya perak di mataku meredup. Tubuhku terasa lebih ringan. Dada tidak lagi sesak. Aku menyeka air mata dengan punggung tangan. Air mata itu sudah kering.
Aku menoleh ke Kak Ely. Dia berdiri di belakangku. Matanya penuh perhatian. Tapi dia tidak mendekat. Dia tahu aku perlu ruang.
“Aku berhasil,” kataku pelan. “Aku melawan mereka. Sendiri.”
Kak Ely mengangguk pelan. Ia melangkah mendekat. Ia tidak memelukku. Hanya berdiri di depanku. Tangan kanannya menyentuh bahuku secara pelan.
“Kau kuat, Nyx. Kau selalu kuat.”
Aku tersenyum kecil. Aku menggenggam tangannya. Tangan yang hangat. Tangan yang selalu menunggu.
“Terima kasih karena kau menunggu,” bisikku.
Kak Ely tersenyum kecil. Ia mengangguk.
“Kita lanjut,” katanya. “Kita harus sampai ke desa kecil itu sebelum pagi.”
Aku mengangguk. Aku mengikuti langkahnya. Kaki yang lebih panjang membuat aku bisa berjalan di sampingnya tanpa harus berlari kecil. Malam masih panjang. Tapi sekarang aku tidak lagi takut pada masa lalu.
Karena masa lalu sudah kuhadapi.
Sendiri.
Dan aku menang.