NovelToon NovelToon
DINIKAHI MANTAN MERTUA

DINIKAHI MANTAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Dunia Andini Kharisma Sulistia (21 tahun) runtuh seketika saat kecelakaan maut merenggut nyawa suaminya, Keenan Adiwijaya. Di tengah duka yang masih basah, Andini harus menghadapi kenyataan pahit tanpa sosok pendamping. Namun, hadirnya Farhady Sastranegara (41 tahun) membawa kebimbangan baru.
​Farhady bukanlah orang asing; ia adalah mantan ayah mertua yang ternyata hanyalah ayah sambung Keenan. Meski tak ada ikatan darah, lamaran Farhady memicu badai emosi dan stigma sosial yang tajam. Terjebak antara kesetiaan pada mendiang suami dan kasih sayang tulus Farhady, Andini harus menentukan arah hatinya dalam balutan dilema cinta yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Penjemput Takdir

​Bandar Udara Soekarno-Hatta sore itu dibalut oleh semburat jingga yang hangat. Di area kedatangan internasional, suasana tidak seperti biasanya. Jika setahun lalu kepulangan dari sebuah perjalanan adalah hal yang biasa, kali ini ada getaran yang berbeda di udara. Di balik pembatas kaca, sekelompok orang telah berdiri menunggu dengan gelisah. Ada Paman Andini, bibi-bibinya, dan beberapa orang kepercayaan Farhady. Tidak ada lagi wajah kaku atau tatapan menghakimi; yang ada hanyalah mata yang berkaca-kaca dan tangan yang saling menggenggam erat.

​Saat pintu otomatis terbuka, sosok yang dinanti pun muncul. Farhady melangkah keluar terlebih dahulu. Ia tampak begitu berwibawa dengan kain seragam umroh yang rapi, wajahnya yang lebih segar, dan sorot mata yang kini memiliki "nyawa" kembali. Di belakangnya, melangkah Andini. Ia tampak begitu anggun dalam balutan hijab putih bersih, wajahnya yang tanpa riasan justru memancarkan aura ketenangan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

​Mereka berjalan beriringan, tidak bergandengan tangan, namun jarak di antara mereka terasa begitu penuh dengan pelindungan.

​Paman Andini adalah yang pertama maju. Pria yang dulu paling keras menentang itu kini memeluk Farhady dengan erat. Isak tangis pecah di tengah keramaian bandara.

​"Maafkan aku, Farhady... Maafkan kekerdilan hatiku dulu," bisik Paman di telinga Farhady.

​Farhady menepuk bahu pria tua itu dengan lembut. "Sudahlah, Paman. Semua sudah diatur oleh-Nya. Kita hanya pelakon yang terkadang salah membaca naskah."

​Andini pun tenggelam dalam pelukan bibi-bibinya yang menangis sesenggukan. Mereka meminta maaf berkali-kali atas setiap kata sadis yang dulu pernah terlontar. Di momen itu, dinding-dinding tinggi yang selama ini memisahkan mereka runtuh seketika. Gunjingan masyarakat yang dulu menjadi monster menakutkan, kini musnah tersapu oleh ketulusan yang lahir dari penyesalan.

​Seminggu kemudian, di sebuah pagi yang berkabut namun cerah di Lembang, rumah batu itu bersolek. Tidak ada dekorasi mewah yang berlebihan, tidak ada pesta pora yang mengundang ribuan mata. Hanya ada hiasan bunga melati segar yang aromanya memenuhi setiap sudut ruangan, mencerminkan sebuah kesucian yang telah lama dinanti.

​Farhady datang bukan lagi sebagai seorang mertua yang mengantar buah tangan, melainkan sebagai seorang pria yang datang menjemput separuh jiwanya. Ia mengenakan beskap putih tulang yang sangat serasi dengan tubuh tegapnya. Saat ia duduk di depan meja akad, tangannya tidak lagi gemetar. Ia menatap paman Andini yang bertindak sebagai wali dengan kemantapan seorang pejuang yang telah memenangkan perang batinnya.

​"Saya terima nikah dan kawinnya Andini binti... dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

​Kata "Sah!" menggema, disambut dengan isak tangis haru dari keluarga besar yang hadir. Di dalam kamar, Andini yang mendengar kalimat itu merasa seluruh beban di pundaknya selama setahun terakhir lenyap seketika. Ia keluar dengan langkah anggun, mendekati Farhady yang kini telah resmi menjadi suaminya.

​Saat Farhady menyentuh dahi Andini untuk memberikan doa, waktu seolah berhenti. Seluruh mata yang hadir menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat hati terenyuh. Bukan hanya karena romansa mereka, tapi karena keberanian dua manusia ini untuk bertahan di tengah badai yang hampir menghancurkan mereka.

​Sore harinya, setelah acara yang bersahaja itu usai, Farhady mengajak Andini duduk di teras belakang—tempat yang dulu penuh dengan elegi dan jarak. Kini, mereka duduk berdampingan tanpa ada lagi sekat "apa kata dunia".

​"Dini," panggil Farhady lembut. Ia mengambil tangan Andini dan mencium punggung tangannya dengan sangat lama. "Terima kasih sudah tidak menyerah. Terima kasih sudah tetap kuat saat aku sendiri sempat ingin melarikan diri."

​Andini menyandarkan kepalanya di bahu tegap Farhady, menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur dengan wangi melati. "Aku tidak pernah menyerah, Yah. Aku hanya sedang menunggu Tuhan selesai menulis bab yang rumit ini. Ternyata, Dia ingin kita belajar bahwa cinta yang paling indah adalah cinta yang diperjuangkan lewat doa-doa di tengah malam."

​Farhady tersenyum, lalu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya ada sebuah cincin sederhana dengan satu permata kecil yang bersinar terang. "Ini bukan mas kawin tadi. Ini adalah janji. Janji bahwa aku tidak akan pernah lagi membiarkanmu menghadapi dunia sendirian. Di mana pun kamu berada, di sanalah rumahku."

​Momen itu begitu manis hingga membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa gemas sekaligus terharu. Bagaimana mungkin dua orang yang dulunya berada dalam posisi yang dianggap "salah" oleh norma, kini bisa terlihat begitu suci dan benar dalam balutan pernikahan yang sah? Itu adalah bukti bahwa ketika manusia berhenti menghakimi dan mulai menggunakan nurani, keajaiban akan terjadi.

​Di kejauhan, Tony yang melihat foto pernikahan mereka melalui media sosial, hanya bisa menghela napas panjang. Ia menutup ponselnya, lalu menatap Cindy yang sedang duduk di sampingnya. Kali ini, Tony benar-benar tersenyum—senyum yang tulus. Ia akhirnya merelakan. Ia menyadari bahwa cinta Farhady dan Andini adalah sesuatu yang sudah dipahat di langit sebelum bumi diciptakan.

​"Kita juga harus bahagia, kan Cin?" tanya Tony pelan. Cindy tersenyum, sebuah awal yang baru juga bagi mereka.

​Malam kembali turun di Lembang. Kabut masih ada, namun kali ini kabut itu tidak lagi terasa dingin dan mengancam. Kabut itu seolah menjadi tirai yang menjaga privasi kebahagiaan Andini dan Farhady. Di dalam rumah batu yang kini penuh dengan kehangatan, dua pengembara takdir itu akhirnya beristirahat dalam damai.

​"Selamat tidur, Istriku," bisik Farhady di telinga Andini sebelum mematikan lampu tidur.

​"Selamat tidur, Suamiku," jawab Andini dengan nada yang penuh dengan kemenangan hati.

​Elegi yang dulu pilu kini telah resmi berakhir. Sebagai gantinya, sebuah simfoni kehidupan yang baru telah dimulai. Sebuah cerita yang akan selalu dikenang oleh masyarakat Bandung bukan sebagai sebuah skandal, melainkan sebagai hikayat tentang keteguhan, kesucian, dan kekuatan takdir yang melampaui segala logika manusia. Cinta memang tidak dapat dipaksakan, namun jika Tuhan yang memaksakannya melalui takdir, maka tak ada satu pun kekuatan di bumi yang mampu menghalanginya.

1
ayu cantik
sukaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!