Janu Manggala adalah seorang pemuda polos yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki kesaktian Tiada Tanding... Segala jenis pusaka tunduk di hadapannya, ucapannya langsung menjadi kenyataan, dan orang orang yang menunjukan kesaktiannya di mata Janu mereka hanyalah orang gila...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ikut pergi
"Tunggu dulu, apa maksudnya Patung paling di takuti?" Tanya Janu dengan ekspresi aneh.
"Lupakan, aku harus membawa mbah ini kerumah sakit." Batin Janu yang berpikir Pak Wijoyo pasti hanya bicara ngelantur.
"Dasar bodoh! Apakah kamu masih tidak paham dengan apa yang aku katakan? Di sana ada Patung yang sangat mengerikan!" Ucap Wijoyo.
Janu menghela nafas panjang, sejak pertama kali ia bertemu dengan Pak Wijoyo, Pak Wijoyo ini selalu mengatakan hal hal yang ngelantur.
"Ah bodo amat! Aku harus pergi!" Ucap Janu yang kembali menarik gas motor..
"Wei! Wei! Jangan! Jangan!" Ucap Wijoyo yang berlari kecil mengejar Janu. Sementara Tarjo dan Mbah Sukini menelan ludahnya dengan gugup.
Wijoyo benar benar gelisah saat ini, ia yakin dekki janu yang hanyalah manusia biasa tak akan bisa bertahan dari serangan Patung Madono berbeda ddngan dirinya. Begitu pula dengan Tarjo, ia takut duel antara Tuan Janu melawan Patung Madono benar benar terjadi, mengingat Patung Madono itu tidak takut dengan baju pemberian Tuan Janu.
"Jo-- jo-- Tarjo, lihat itu!" Bisik Mbah Sukini kepada Tarjo.
Mata Tarjo langsung melebar ketika melihat Patung Manusia yang berdiri di kejauhan sana, seolah ingin mencegat mereka lewat.
Tarjo mengamati Tuan Janu, sepertinya Tuan Janu sepertinya Tuan Janu terlalu fokus menyetir hingga tak menyadari di depan ada sebuah patung yang berdiri.
"Ba..bagaimana ini?" Tanya Mbah Sukini yang pada saat ini penuh keraguan. Menurut Prasasti yang di baca oleh Mbah Sukini Patung Madono itu tak bisa di hancurkan hanya bisa di hancurkan dengan pusaka dewa.
Patung Madono itu bertugas mencegah siapapun keluar dari tempat ini.
"Mati! Kali ini pasti kami mati!" Ucap Mbah Sukini dalam hatinya penuh rasa putus asa. Ia yakin Janu tak akan bisa mengalahkan Patung Madono, karena Patung itu hanya bisa di hancurkan dengan Pusaka dari Dewata.
Tiba tiba Mbah Sukini berucap kepada Janu, "Pak Janu, terimakasih sudah membantu saya, saya benar benar bersyukur anda memiliki niat yang sangat baik..."
"Waduh!" Ucap Janu yang kaget mendengar ucapan dari Mbah Sukini dari belakang. Janu berpikir Mbah Sukini sedang semakin sekarat dan ingin mengucapkan kata kata perpisahan?
Janu semakin menarik gasnya, ia harus buru buru menuju kerumah sakit..
"Lah? Apa itu?!" Ucap Janu yang melihat seperti ada seseorang yang berdiri di depan sana, "apakah itu orang?" Tanya Janu sambil memandangi sosok itu yang masih samar samar.
"Mati! Mati kalian! Cepat berbalik, Patung itu bisa membunuh kalian!" Teriak Wijoyo yang masih mengejar dengan nafas ngos ngosan.
"Patung?" Janu segera turun dari motornya ketika menyadari itu bukan manusia melainkan patung.
"Aduh!! Mati kita!" Ucap Mbah Sukini dan Tarjo secara bersamaan.
Ketika Janu berdiri di depan patung itu mencoba mengamatinya seketika itu juga Tarjo, Wijoyo, dan Mbah Sukini terdiam. Mereka memandangi Janu denga pandangan kaget.
"Me.. mengapa Patung itu tidak menyerang?" Tanya Wijoyo yang kaget dan heran.
"Apakah itu bukan Patung Madono?" Tanya Mbah Sukini dalam hatinya.
"Hahaha..!!" Tarjo tertawa dalam hatinya, "astaga betapa bodohnya aku... bisa bisanya aku meragukan kehebatan Tuan Janu! Setelah melihat Tuan Janu menundukan tempat ini aku masih ragu Tuan Janu akan kalah hanya dengan patung kayu itu? Hahaha... patung ini diam saja pasti karen dia ketakutan dengan Tuan Janu!" Ucap Tarjo dalam hatinya.
Sementara itu Janu bergumam memandangi Patung itu dengan seksama, "hmm..." Janu terdiam ketika mengamati detail patung di depannya.
"Kenapa kamu melamun Janu? Cepat singkirkan oramg orangan sawah itu, kita harus membawa Mbah Sukini kerumah sakit!" Teriak Rina.
Janu tersentak kaget.. Janu langsung menendang Patung Madono itu.
Baaamm!!
Kemudian ia langsung melempar Patung itu hingga tubuhnya menghantam pohon. Seketika itu juga Patung itu berubah bentuk menjadi patah patah. Setengah hancur karena Janu.
Janu berbalik ia sedikit heran melihat Pak Tarjo dan Mbah Sukini melongo.
"Ada apa dengan kalian?" Tanya Janu heran.
Begitu pula dengan Wijoyo, ia melongo dengan rahang yang jatuh, "ba.. bagaimana bisa?"
"Ada apa Pak Tarjo, Mbah Sukini. Aku hanya menyingkirkan orang orangan sawah yang di taruh orang iseng di tengah jalan." Ujar Janu. Ia dengan cepat menaiki motornya dan kembali menarik gasnya.
Meninggalkan Wijoyo yang berdiri dengan ekspresi kosong.
"Ba.. bagaimana bisa?" Ia masih bertanya tanya tentang hal ini. Mengapa Janu orang bodoh dan polos itu bisa menghancurkan Patung Madono yang kemunculannya sangat di takuti oleh para penghuni dunia lain ini.
Wijoyo tersentak kaget, ketika ia menyadari satu hal... di sekelilingnya terdapat banyak sekali hantu dari berbagai jenis yang bersembunyi hingga memenuhi tempat ini bagaikan kabut.
Melihat hal ini Wijoyo menjadi merinding, ia bahkan merasa hampir pingsan saat ini.
"Tu... tunggu!" Ucap Wijoyo yang menahan dirinya agar tidak pingsan, dia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini, mengapa tiba tiba seluruh penghuni dunia lain ini keluar.
Wijoyo mengamati para hantu itu yang ternyata memasang ekspresi lega dan kebahagiaan. Beberapa bahkan ada yang mengelus dada mereka sendiri.
Namun satu hal yang membuat Tarjo sangat tercengang, mereka semua menatap ke arah kepergian Janu.
Sebelum ini Wijoyo menyimpulkan sosok yang membuat takut hantu di dunia ini adalah Patung Madono. Namun apabila di lihat dari reaksi semua hantu ini, yang paling di takuti tidak lain tidak bukan adalah Janu.
Wijoyo bimbang, perasaan dalam hatinya campur aduk. Dia sering kali meremehkan Janu semenjak pertama kali kehadirannya di dunia ini. Menganggapnya hanya pemuda bodoh yang di jebak oleh seseorang untuk masuk kesini.
Ia menjadi sedikit bimbang, apakah ia bisa keluar dari sini bersama dengan Tuan Janu sementara ia selalu meremehkannya.
Namun keinginan keluar dari sini benar benar besar di hati Wijoyo, ia langsung berlari dan berteriak, "tu... tunggu Tuan Janu! Tuan tunggu... aduh! Kepleset!"
"Tuan Janu ingin pergi dari tempat ini? Dengan kekuatannya yang mampu menghancurkan Patung Madono ia pasti bisa pergi dari sini, aku harus ikut! Ini adalah kesempatan emas!" Wijoyo tidak akan pernah melepaskan kesempatannya untuk pergi dari sini.
"Tuan! Tuan! Tolong maafkan saya! Tolong tunggu saya!" Wijoyo berlari sekuat tenaga dan tampak sempoyongan.
Namun Janu fokus menyetir dan menatap kedepan.
Mata Tarjo dan Mbah Sukini terbelalak ketika merasakan perubahan udara yang tiba tiba segar dan membaik berbeda dengan udara di dunia itu yang sangat pengap.
"A.. apa itu? Apakah itu kebun?" Hati kedua orang ini bergetar ketika melihat hamparan kebun yang sangat luas.
Menandakan bahwa mereka hampir tiba keluar.