Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27. Ketika jarak tidak lagi menyembunyikan rasa
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah tirai jendela kamar kecil itu.
Sakira sudah bangun sejak lama.
Ia tidak benar-benar tidur semalam. Tubuhnya memang berbaring di ranjang sempit itu, tetapi pikirannya terus berkelana—kembali pada rumah besar Rafael, pada percakapan terakhir mereka, pada tatapan mata pria itu yang sulit ia pahami.
Sakira menghela napas pelan.
Tangannya menggenggam cangkir kopi instan yang sudah mulai dingin.
“Kenapa semuanya terasa berbeda sekarang…” gumamnya lirih.
Dulu, tinggal bersama Rafael hanyalah bagian dari kontrak. Semua jelas. Semua punya batas.
Tapi sekarang?
Batas itu terasa kabur.
Perasaannya yang berubah membuat segalanya menjadi rumit.
Ia menatap keluar jendela kecil. Jalanan di bawah sudah mulai ramai. Orang-orang berjalan cepat, sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing.
Beruntung, pikir Sakira pahit, hidup orang lain tidak sekompleks hidupnya.
Ia menutup mata sejenak.
“Ini keputusan yang benar,” bisiknya mencoba meyakinkan diri sendiri.
Pergi dari Rafael adalah satu-satunya cara agar ia tidak semakin tenggelam dalam perasaan yang tidak seharusnya.
Karena pada akhirnya, semua ini hanya kontrak.
Kontrak yang suatu hari pasti berakhir.
Dan Sakira tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang terluka ketika hari itu datang.
Namun meskipun ia mencoba berpikir logis, ada satu hal yang tidak bisa ia bohongi—
Hatinya masih tertinggal di sana.
Di rumah Rafael.
Di sisi pria yang sejak awal seharusnya tidak ia cintai.
Sementara itu, di rumah besar keluarga Rafael.
Rumah itu terasa terlalu sepi.
Rafael berdiri di ruang kerja dengan wajah dingin seperti biasa, tetapi aura di sekitarnya terasa jauh lebih berat.
Ia menatap meja kerjanya.
Di sana masih ada cangkir kopi yang biasanya Sakira buat setiap pagi.
Kosong.
Tidak ada aroma kopi hangat yang biasa memenuhi ruangan ini.
Hal kecil itu seharusnya tidak berarti apa-apa.
Namun entah kenapa, Rafael justru merasa terganggu.
“Pak Rafael, jadwal rapat Anda sudah siap.”
Suara asistennya, Daniel, terdengar dari pintu.
Rafael mengangguk singkat tanpa menoleh.
“Mulai dalam sepuluh menit.”
“Baik, Pak.”
Daniel sempat ragu sebelum akhirnya bertanya, “Nyonya Sakira… belum kembali?”
Rafael akhirnya mengangkat kepala.
Tatapannya tajam.
“Sejak kapan kamu ikut mencampuri urusan pribadi saya?”
Daniel langsung menunduk.
“Maaf, Pak.”
Namun setelah asistennya pergi, Rafael tetap berdiri diam.
Pertanyaan itu kembali terngiang di kepalanya.
Belum kembali.
Benar.
Sakira belum kembali.
Sudah dua hari sejak wanita itu pergi.
Dua hari tanpa pesan.
Tanpa kabar.
Rafael mengepalkan tangannya tanpa sadar.
“Apa dia benar-benar berniat pergi seperti itu saja…” gumamnya pelan.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini tidak penting.
Hubungan mereka hanyalah kontrak.
Tidak lebih.
Namun setiap kali ia berjalan melewati ruang makan, ia teringat bagaimana Sakira sering duduk di sana sambil membaca.
Setiap kali ia turun pagi hari, ia hampir secara refleks mencari sosok wanita itu di dapur.
Dan setiap kali ia sadar Sakira tidak ada—
Perasaan aneh itu kembali muncul.
Kosong.
Rafael menghela napas panjang.
Ia mengambil ponselnya.
Jarinyanya berhenti di nama Sakira.
Beberapa detik berlalu.
Ia bisa saja menelponnya.
Bisa saja memintanya kembali.
Namun ego pria itu menahannya.
“Aku tidak punya alasan untuk mencarinya,” katanya pada dirinya sendiri.
Tapi bahkan saat ia mengatakan itu, hatinya sendiri tidak sepenuhnya percaya.
Di sisi lain kota, Sakira sedang berjalan keluar dari minimarket kecil setelah membeli beberapa kebutuhan.
Ia mencoba menjalani hari seperti biasa.
Mencari pekerjaan sementara.
Mengisi waktu.
Melupakan Rafael.
Namun langkahnya tiba-tiba berhenti ketika sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Mobil itu sangat familiar.
Jantung Sakira langsung berdegup lebih cepat.
Pintu mobil terbuka.
Seseorang keluar dari dalamnya.
Dan ketika pria itu berdiri tegak di bawah cahaya matahari siang—
Sakira langsung mengenalinya.
Rafael.
Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang, seperti biasa.
Setelan jasnya rapi.
Wajahnya dingin.
Namun matanya menatap lurus pada Sakira.
Sakira membeku di tempat.
“Rafael…?”
Ia bahkan tidak sadar telah memanggil nama pria itu.
Rafael berhenti tepat di depannya.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Udara di antara mereka terasa penuh dengan hal-hal yang tidak terucap.
Akhirnya Rafael membuka suara.
“Jadi di sini kamu bersembunyi.”
Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang sulit dijelaskan.
Sakira menelan ludah.
“Aku tidak bersembunyi.”
“Lalu apa?”
Sakira terdiam.
Rafael menghela napas pelan, lalu berkata dengan suara rendah,
“Tanpa satu kata pun kamu pergi dari rumahku.”
Rumahku.
Bukan rumah kita.
Kata itu menusuk hati Sakira sedikit.
“Aku pikir… itu tidak masalah,” jawabnya pelan.
“Kenapa?”
Pertanyaan Rafael datang cepat.
Tatapan pria itu menajam.
“Karena ini hanya kontrak?” lanjutnya.
Sakira menunduk.
“Bukankah memang begitu?”
Hening.
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Lalu Rafael tiba-tiba berkata sesuatu yang membuat Sakira mengangkat kepalanya lagi.
“Kalau memang hanya kontrak… kenapa kamu terlihat seperti seseorang yang patah hati?”
Kata-kata itu membuat napas Sakira tercekat.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena untuk pertama kalinya—
Rafael melihat tepat ke dalam perasaannya.
Dan Sakira tidak lagi yakin bisa menyembunyikannya.
Di antara keramaian jalan itu, dua orang yang sejak awal terikat oleh kontrak kini berdiri berhadapan dengan satu kenyataan yang semakin sulit dihindari.
Bahwa mungkin—
Perasaan mereka sudah lama melampaui batas yang mereka buat sendiri.
Dan kali ini…
Tidak ada kontrak yang bisa melindungi hati mereka lagi.
Sakira menggenggam kantong plastik belanjaannya sedikit lebih erat.
Tatapan Rafael masih tertuju padanya, tajam namun sulit ditebak. Pria itu berdiri hanya beberapa langkah di depannya, seolah jarak kecil itu sudah cukup untuk memisahkan dunia mereka.
Angin siang berhembus pelan, membuat rambut Sakira sedikit berantakan. Namun ia bahkan tidak sadar.
Yang ia rasakan sekarang hanya satu hal—
Degup jantungnya yang semakin tidak terkendali.“Apa kamu benar-benar berniat pergi begitu saja?” tanya Rafael lagi, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
Sakira mengalihkan pandangannya ke jalan.
“Aku hanya… memberi kita jarak.”
“Jarak?” Rafael mengulang kata itu pelan.
Sakira mengangguk kecil.
“Iya. Bukankah itu yang paling masuk akal?”
Rafael mengerutkan kening.
“Masuk akal menurut siapa?”
Pertanyaan itu membuat Sakira terdiam.
Ia tidak punya jawaban sederhana untuk itu.
Karena sebenarnya, keputusan pergi itu bukan hanya tentang logika.
Itu tentang hatinya yang mulai terlalu dalam terlibat.
“Aku tidak ingin membuat semuanya menjadi lebih rumit,” akhirnya ia berkata pelan.
Rafael menatapnya beberapa detik lebih lama.
“Lebih rumit dari apa?”
Sakira menarik napas panjang sebelum akhirnya menatap pria itu lagi.
“Dari hubungan yang seharusnya tidak melibatkan perasaan.”
Kata-kata itu menggantung di udara di antara mereka.
Rafael tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu siang itu, pria itu terlihat berpikir cukup lama.
Sakira hampir berharap Rafael akan menyangkalnya.
Mengatakan bahwa ia salah.
Bahwa semuanya memang hanya kontrak.
Namun Rafael justru berkata pelan,
“Kalau begitu, kenapa kamu terlihat seperti orang yang kehilangan sesuatu?”
Pertanyaan itu kembali menghantam Sakira.
Ia menggigit bibirnya pelan.
“Karena aku manusia,” jawabnya akhirnya dengan suara pelan.
Rafael sedikit mengangkat alis.
“Apa maksudnya?”
Sakira tersenyum tipis, meskipun matanya terlihat lelah.
“Bahkan dalam kontrak, manusia tetap bisa merasa sesuatu.”
Kali ini Rafael tidak membantah.
Suasana kembali hening.
Mobil-mobil berlalu di jalan. Orang-orang berjalan di trotoar tanpa memperhatikan dua orang yang berdiri saling berhadapan dengan perasaan yang berantakan.
Beberapa detik kemudian, Rafael melangkah sedikit lebih dekat.
Gerakan itu membuat Sakira refleks menegang.
“Jadi kamu pergi,” kata Rafael pelan, “karena kamu mulai merasa sesuatu?”
Sakira tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup jelas.
Rafael menatapnya lama.
Lalu ia menghela napas pelan, seolah sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
“Bahkan dalam kontrak, manusia tetap tetap bisa merasa sesuatu.”
Kali ini Rafael tidak membantah.
Suasana kembali hening.
Mobil-mobil berlalu di jalan. Orang-orang berjalan di trotoar tanpa memperhatikan dua orang yang berdiri saling berhadapan dengan perasaan yang berantakan.
Beberapa detik kemudian, Rafael melangkah sedikit lebih dekat.
Gerakan itu membuat Sakira refleks menegang.
“Jadi kamu pergi,” kata Rafael pelan, “karena kamu mulai merasa sesuatu?”
Sakira tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup jelas.
Rafael menatapnya lama.
Lalu ia menghela napas pelan, seolah sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
“Aku mencarimu.”
Kalimat itu begitu sederhana.
Namun cukup membuat Sakira terkejut.
“Apa…?”
“Aku datang ke apartemen lamamu,” lanjut Rafael. “Kamu sudah tidak di sana.”
Sakira benar-benar tidak menyangka itu.
Rafael, seorang CEO yang selalu sibuk, mencarinya?
“Kenapa?” tanya Sakira tanpa sadar.
Rafael tidak langsung menjawab.
Tatapan pria itu sedikit melembut, meskipun wajahnya masih terlihat tenang seperti biasa.
“Karena kamu pergi tanpa mengatakan apa pun.”
Jawaban itu terasa setengah jujur.
Seolah ada sesuatu yang masih Rafael sembunyikan.
Sakira menunduk lagi.
“Maaf.”
“Maaf?” Rafael mengulang.
Sakira mengangguk kecil.
“Aku hanya tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya.”
Rafael menatapnya dalam-dalam.
Lalu dengan suara yang jauh lebih pelan dari sebelumnya, ia berkata,
“Kalau begitu… jelaskan sekarang.”
Sakira mengangkat kepalanya perlahan.
Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Tidak ada kontrak.
Tidak ada aturan.
Hanya dua orang yang sama-sama mencoba memahami perasaan mereka sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai—
Sakira mulai sadar bahwa mungkin…
Pergi dari Rafael tidak akan pernah semudah yang ia kira.
Bersambung…