Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Perasaan yang tidak bisa di sangkal
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Nadira berdiri di balkon apartemen kecilnya sambil memandang lampu-lampu kota yang berkelip dari kejauhan. Angin malam menyentuh lembut wajahnya, membawa hawa dingin yang perlahan meresap hingga ke dalam hati.
Tangannya masih menggenggam ponsel.
Pesan dari Raka Pradipta masih terpampang di layar.
"Besok ikut aku ke acara makan malam keluarga."
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Nadira, rasanya seperti sebuah beban yang tiba-tiba jatuh di pundaknya.
Ia menghela napas panjang.
Sejak pernikahan kontrak itu dimulai, hidupnya benar-benar berubah.
Semua yang dulu terasa biasa kini menjadi sesuatu yang rumit.
Termasuk perasaannya sendiri.
Nadira memejamkan mata.
"Aku tidak boleh lupa… ini hanya kontrak," bisiknya pelan.
Namun semakin ia mencoba meyakinkan dirinya, semakin sulit pula hatinya untuk benar-benar percaya pada kata-kata itu.
Karena semakin hari…
Raka tidak lagi terasa seperti orang asing.
Pagi hari datang dengan cepat.
Nadira hampir tidak bisa tidur semalaman.
Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan tentang makan malam keluarga yang disebutkan Raka.
Ia tahu keluarga besar Raka adalah keluarga terpandang.
Orang-orang dengan status tinggi.
Orang-orang yang mungkin tidak akan pernah benar-benar menerima wanita biasa seperti dirinya.
Nadira berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri.
Ia mengenakan gaun sederhana yang diberikan oleh Raka beberapa minggu lalu.
Cantik.
Tapi tetap terasa asing baginya.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Nadira berjalan membuka pintu.
Dan seperti yang sudah ia duga—
Raka berdiri di sana.
Pria itu mengenakan jas hitam yang membuatnya terlihat semakin berwibawa. Rambutnya tersisir rapi, dan aroma parfum khasnya langsung memenuhi udara.
"Sudah siap?" tanya Raka.
Nadira mengangguk kecil.
"Iya."
Raka menatapnya beberapa detik.
Sorot matanya sedikit berubah.
"Apa?" tanya Nadira gugup.
Raka menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa."
Namun sebenarnya, dalam hatinya Raka terdiam.
Nadira terlihat… sangat cantik malam ini.
Dan pikiran itu membuatnya sedikit tidak nyaman dengan dirinya sendiri.
Raka berdeham pelan.
"Ayo. Kita tidak boleh terlambat."
Mobil hitam milik Raka melaju menembus jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu malam.
Di dalam mobil, suasana terasa canggung.
Nadira duduk dengan tangan saling menggenggam di pangkuannya.
Sementara Raka fokus mengemudi.
Namun sesekali pria itu melirik ke arah Nadira.
"Apa kamu gugup?" tanya Raka akhirnya.
Nadira tertawa kecil.
"Sangat."
Raka sedikit tersenyum.
"Keluargaku memang… tidak mudah."
"Itu yang membuatku makin gugup."
Raka menghela napas.
"Lakukan saja seperti biasa."
"Seperti biasa?" ulang Nadira.
Raka mengangguk.
"Kamu adalah istriku."
Kalimat itu membuat Nadira terdiam.
Meski ia tahu itu hanya bagian dari kontrak, tetap saja mendengar Raka mengatakannya membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Rumah keluarga Pradipta berdiri megah di kawasan elit kota.
Bangunan besar dengan lampu-lampu taman yang indah.
Begitu mobil berhenti di halaman, Nadira langsung merasakan perutnya semakin mual karena gugup.
Raka mematikan mesin mobil.
Ia menoleh ke arah Nadira.
"Hei."
Nadira menatapnya.
"Tenang saja."
Untuk pertama kalinya malam itu, Raka menggenggam tangan Nadira.
Hangat.
Dan menenangkan.
"Selama kamu di sini," kata Raka pelan, "aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkanmu."
Mata Nadira sedikit melebar.
Entah kenapa, kalimat itu membuat dadanya terasa hangat.
Begitu mereka masuk ke dalam rumah, beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka.
Ruang makan besar itu sudah dipenuhi anggota keluarga.
Dan suasana langsung berubah sunyi.
Seorang wanita paruh baya berdiri dari kursinya.
Dialah ibu Raka.
Sorot matanya langsung tertuju pada Nadira.
"Inikah wanita yang kamu nikahi?" tanyanya dingin.
Nadira menelan ludah.
Raka menggenggam tangannya lebih erat.
"Iya, Bu."
Wanita itu mendekat beberapa langkah, menatap Nadira dari atas sampai bawah.
Ekspresinya sulit dibaca.
"Namamu?"
"Nadira," jawabnya pelan.
Wanita itu tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang membuat suasana semakin tegang.
Lalu akhirnya ia berkata,
"Duduklah."
Nadira sedikit lega.
Setidaknya ia tidak langsung diusir.
Namun makan malam itu tidak berjalan mudah.
Beberapa anggota keluarga terus melemparkan pertanyaan.
"Pekerjaanmu apa?"
"Kamu dari keluarga mana?"
"Kapan kalian menikah?"
Pertanyaan demi pertanyaan terasa seperti ujian bagi Nadira.
Namun setiap kali Nadira terlihat kesulitan menjawab—
Raka selalu menyela dengan tenang.
Melindunginya tanpa terlihat terlalu mencolok.
Dan itu membuat Nadira sedikit lebih berani.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Salah satu sepupu Raka tiba berkata dengan nada sinis,
"Raka, kamu yakin pernikahan ini bukan hanya keputusan gegabah?"
Ruangan langsung sunyi.
Nadira menunduk.
Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa—
Raka meletakkan sendoknya dengan suara pelan.
Lalu ia berkata dengan tenang tapi tegas,
"Aku tidak pernah gegabah dalam mengambil keputusan."
Sepupunya tersenyum tipis.
"Termasuk menikahi wanita yang bahkan tidak berasal dari lingkungan kita?"
Kalimat itu seperti pisau yang menembus udara.
Namun Raka langsung menjawab,
"Justru karena itu aku memilihnya."
Semua orang menatap Raka.
Termasuk Nadira.
Pria itu melanjutkan dengan suara yang lebih serius.
"Nadira mungkin tidak berasal dari keluarga kaya. Tapi dia jauh lebih tulus daripada banyak orang yang pernah aku temui."
Nadira membeku.
Jantungnya berdegup kencang.
Ia tidak tahu apakah Raka mengatakan itu hanya untuk menjaga citra di depan keluarga.
Atau…
Karena pria itu benar-benar mempercayainya.
Setelah makan malam selesai Nadira keluar ke taman belakang untuk mencari udara segar.
Dadanya masih terasa penuh.
Langit malam terlihat indah.
Namun pikirannya jauh dari tenang.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar.
Raka.
Pria itu berjalan mendekat.
"Kamu baik-baik saja?"
Nadira mengangguk pelan.
"Iya."
Raka menatapnya beberapa detik.
"Maaf."
Nadira menoleh.
"Untuk apa?"
"Keluargaku."
Nadira tersenyum kecil.
"Aku sudah menduganya."
Raka terdiam.
Lalu tiba-tiba ia berkata pelan,
"Tapi semua yang aku katakan tadi… bukan kebohongan."
Nadira tertegun.
Raka menatap langit sebentar sebelum melanjutkan.
"Aku benar-benar berpikir kamu berbeda."
Angin malam bertiup lembut.
Jantung Nadira berdetak semakin cepat.
Hubungan mereka seharusnya hanya kontrak.
Namun perlahan…
Batas itu mulai terasa kabur.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai—
Nadira takut.
Karena hatinya mulai terlibat lebih dalam daripada yang seharusnya.
Dan jika kontrak ini suatu hari berakhir…
Ia tidak tahu apakah hatinya akan tetap baik-baik saja.
Nadira menunduk pelan.
Kata-kata Raka masih terngiang di kepalanya.
"Aku benar-benar berpikir kamu berbeda."
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat hatinya bergetar.
"Apa maksudmu?" tanya Nadira akhirnya, suaranya hampir seperti bisikan.
Raka tidak langsung menjawab. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap ke arah taman yang diterangi lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak.
"Aku sudah bertemu banyak orang dalam hidupku," katanya pelan. "Banyak yang mendekat karena nama keluargaku… karena perusahaan… atau karena uang."
Nadira terdiam.
"Lalu kamu datang," lanjut Raka. "Kamu bahkan tidak ingin terlibat dengan semua ini sejak awal."
Nadira mengingat hari pertama mereka bertemu.
Saat ia hampir menolak pernikahan kontrak itu.
Ia menghela napas kecil.
"Itu karena aku tahu dunia kita berbeda."
Raka menoleh menatapnya.
Tatapannya dalam, seolah mencoba membaca isi hatinya.
"Mungkin," katanya pelan.
"Atau mungkin… aku justru menemukan sesuatu yang tidak pernah aku temukan di dunia itu."
Nadira merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Hanya suara angin malam yang berhembus lembut di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak itu dimulai, Nadira merasa hubungan mereka perlahan berubah… menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar kesepakatan.
Bersambung..