Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: RITUAL HATI NAGA
Malam di lembah tersembunyi terasa berbeda.
Udara hangat, tenang, dan damai. Tapi di dalam paviliun kecil, ketegangan justru memuncak. Ha-neul duduk bersila di lantai kayu, menghadap Hyeol-geon yang melayang di depannya. Di atas meja di sampingnya, Hati Naga berdenyut samar, memancarkan cahaya merah yang berirama seperti detak jantung.
Soo-ah duduk di sudut ruangan, memeluk lutut, matanya tidak lepas dari kakaknya. Ia sudah diberi tahu bahwa ritual ini berbahaya, tapi Ha-neul bersikeras melakukannya.
"Oppa, yakin?" tanyanya lirih.
Ha-neul menoleh, tersenyum tipis. "Yakin. Oppa harus kuat. Buat kita berdua."
Soo-ah menggigit bibir, menahan air mata. Ia hanya bisa mengangguk.
"Dengar, Ha-neul." Hyeol-geon memulai dengan suara serius. "Ritual ini bukan main-main. Hati Naga akan memaksa meridianmu terbuka dengan cara yang keras. Rasanya seperti seribu pisau mengiris dari dalam. Kau bisa pingsan, kau bisa kejang, kau bisa..." Ia berhenti.
"Mati," sambung Ha-neul tenang.
"...Iya."
Ha-neul menarik napas dalam. Ia sudah memikirkan ini sejak pertama kali melihat batu itu. Hidupnya selama ini penuh risiko. Apa bedanya satu lagi?
"Guru, kalau aku mati..." Ia menatap Soo-ah. "Jaga dia."
"Kau tidak akan mati. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Hyeol-geon menatapnya tajam. "Tapi kau harus janji: apa pun yang terjadi, kau bertahan. Jangan menyerah pada rasa sakit. Kau dengar?"
"Janji."
"Baik. Minum ini dulu." Hyeol-geon menunjuk botol ramuan di samping Hati Naga. "Ramuan penstabil. Buat tubuhmu lebih tahan."
Ha-neul mengambil botol itu, membukanya, dan menenggak isinya. Rasanya pahit, seperti empedu, tapi ia tahan.
"Sekarang, pegang Hati Naga di kedua tangan. Letakkan di dada, tepat di ulu hati."
Ha-neul mematuhi. Batu itu terasa hangat, lalu panas. Sangat panas. Tangannya hampir melepaskan, tapi ia tahan.
"Tutup mata. Fokus pada napas. Rasakan aliran Qi di tubuhmu. Aku akan memandu."
Ha-neul memejamkan mata. Napasnya mulai teratur. Di balik kelopak matanya, ia bisa melihat cahaya merah dari batu itu menembus.
"Sekarang, tarik energi dari batu itu. Perlahan. Jangan paksa."
Ha-neul mencoba. Awalnya tidak terjadi apa-apa. Tapi perlahan, ia merasakan sesuatu—aliran panas menjalar dari dadanya, menyebar ke seluruh tubuh. Hangat, nyaman, seperti berendam di air hangat.
Lalu tiba-tiba—
SREEEET!
Rasa sakit luar biasa menyambar. Seperti ada yang merobek urat-uratnya dari dalam. Ha-neul menjerit, tubuhnya kejang. Matanya terbuka lebar, putih, mulutnya terbuka tapi suara tersekat.
"OPPA!" Soo-ah bangkit, ingin mendekat.
"JANGAN SENTUH!" hardik Hyeol-geon. "Kau bisa ikut terbakar!"
Soo-ah terpaku, menangis tersedu-sedu.
Ha-neul berguling di lantai, tubuhnya mengejang hebat. Hati Naga masih menempel di dadanya, cahaya merah semakin terang, berdenyut cepat. Ia merasakan meridian-meridiannya—yang selama ini tersumbat—mulai terbuka paksa. Seperti bendungan yang jebol, energi mengalir deras, menghantam setiap sudut tubuh.
Titik pertama di ulu hati. Terbuka.
Rasa sakitnya seperti ditusuk ribuan jarum.
Titik kedua di dada. Terbuka.
Ha-neul menjerit lagi, suaranya serak.
Titik ketiga di tenggorokan. Terbuka.
Ia tersedak, merasa seperti tenggelam. Tapi ia ingat janjinya: bertahan.
"BENAM! BERTAHAN!" teriak Hyeol-geon.
Ha-neul menggertakkan gigi. Darah merembes dari sudut mulutnya. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Tapi ia tidak menyerah.
Titik keempat di ubun-ubun. Terbuka.
Seluruh tubuhnya seperti meledak. Cahaya merah memancar dari setiap pori. Dan tiba-tiba—
Hening.
Ha-neul terkulai lemas di lantai. Napasnya tersengal-sengal, tapi masih ada. Hati Naga di dadanya telah berubah menjadi abu-abu, kehilangan cahayanya.
"Oppa... Oppa..." Soo-ah berbisik, takut mendekat.
Ha-neul membuka mata. Mata itu—sekarang bersinar merah samar, lalu kembali normal. Ia tersenyum lemah.
"Oppa... baik-baik saja."
Soo-ah menangis keras, berlari memeluknya. Ha-neul membalas pelukan itu, meski tubuhnya masih lemas.
"Berhasil..." Hyeol-geon terkesiap. "Kau berhasil, Ha-neul. Segelmu terbuka."
Ha-neul tersenyum. Ia bisa merasakannya—energi mengalir bebas di tubuhnya, kuat, hangat, seperti sungai yang kembali mengalir setelah kemarau panjang. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasa utuh.
---
Tiga hari kemudian, Ha-neul sudah pulih sepenuhnya.
Bahkan lebih dari pulih. Tubuhnya terasa ringan, penuh tenaga. Ia bisa melompat lebih tinggi, berlari lebih cepat, dan yang paling penting—ia bisa mengeluarkan energi pedang.
Hari itu, ia berlatih di tepi danau. Dengan sebatang ranting sebagai pedang, ia mengayunkan jurus-jurus dasar. Dari ujung ranting, energi tak terlihat menyembur, memecah permukaan danau. Soo-ah bertepuk tangan dari pinggir.
"Oppa keren!"
Ha-neul tertawa. Ini pertama kalinya ia tertawa lepas sejak lama.
"Jangan sombong," tegur Hyeol-geon, tapi nadanya bangga. "Ini baru awal. Segel terbuka, tapi kau harus mengisi meridianmu dengan Qi. Butuh waktu dan latihan."
"Aku siap, Guru."
"Bagus. Karena mulai besok, latihanmu akan lebih berat." Hyeol-geon tersenyum misterius. "Sekarang kau bisa mulai belajar jurus-jurus Iblis Pedang yang sesungguhnya."
Ha-neul menatap gurunya dengan semangat membara. Di tepi danau, Soo-ah tersenyum melihat kakaknya bahagia.
Untuk pertama kalinya, masa depan terlihat cerah.