NovelToon NovelToon
Rumah Yang Kami Pilih

Rumah Yang Kami Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Healing / Chicklit / Dark Romance
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Anggriani

Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”

Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27- Tamu yang Tak Diharapkan

Pukul delapan pagi. Udara masih terasa dingin, namun bagi Alea, atmosfer di dalam toko bukunya terasa sangat menyesakkan. Ia baru saja membuka kunci pintu kaca saat sebuah bayangan tinggi muncul di balik jendela. Jantungnya sempat berhenti berdetak selama satu detik. Itu dia. Pria yang selama empat hari ini membuat pikirannya seperti neraka.

Aksa berdiri di sana. Mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, wajahnya tetap datar, tetap tenang, seolah empat hari kemarin hanyalah kedipan mata yang tidak berarti apa-apa.

Alea menarik napas panjang, mencoba menekan gemuruh di dadanya yang terasa seperti ingin meledak. Ia tidak akan lari ke gudang dan menangis. Tidak lagi. Dengan gerakan kaku, ia berjalan menuju meja kasir tanpa menyapa sedikit pun.

“Pagi.” Suara berat itu terdengar saat pintu berdenting terbuka. Aksa melangkah masuk, tangannya membawa sebuah kantong plastik kecil.

Alea tidak mendongak. Ia sibuk menata mesin kasir dan tumpukan struk, seolah-olah benda-benda itu adalah hal paling penting di dunia. “Toko belum siap melayani pelanggan. Silakan tunggu di luar kalau kamu mau beli sesuatu.”

Aksa terhenti tepat di depan meja kasir. Ia meletakkan kantong plastik itu dengan pelan. “Aku ke sini bukan untuk beli buku, Al. Aku mau selesaikan janji yang kemarin. Gudangnya sudah kamu bereskan?”

Mendengar kata janji, emosi Alea yang sudah ia bendung sejak hari pertama akhirnya retak total. Ia mendongak, menatap Aksa dengan tatapan yang tajam, terluka, dan penuh kebencian.

“Janji yang mana, Aksa? Janji empat hari yang lalu?” Alea tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan.

“Sudah basi. Lampunya sudah aku matikan sendiri. Barangnya sudah aku bereskan sendiri. Kamu terlambat empat hari. Untuk orang sepertimu, bukankah empat hari itu waktu yang sangat lama?”

Aksa mengernyitkan dahi. “Aku ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggal, Al. Benar-benar mendesak. Aku baru bisa ke sini sekarang.”

“Urusan mendadak selama empat hari tanpa satu pun pesan?” Alea melipat tangannya di depan dada, suaranya mulai bergetar.

“Kamu tahu tidak? Orang yang benar-benar berniat memegang janji itu akan memberi kabar sesibuk apa pun dia. Satu menit, Aksa. Kamu cuma butuh satu menit untuk mengetik aku tidak bisa datang. Tapi kamu tidak lakukan itu. Kamu sengaja membiarkan aku menunggu seperti orang bodoh.”

“Aku tidak bermaksud meremehkanmu, Al. Ada hal yang benar-benar mendesak di kantor dan—“

“Alasan klasik! Aku sudah bosan dengar alasan seperti itu!” potong Alea, suaranya kini naik satu oktav, membuat suasana toko yang sepi menjadi tegang. “Mungkin buat kamu ini sepele. Cuma soal lampu gudang, cuma soal tumpukan kardus yang berdebu. Tapi buatku, ini soal menghargai orang lain. Aku benci menunggu tanpa kepastian. Dan aku lebih benci lagi menyadari bahwa aku tidak cukup penting untuk sekadar diberi kabar.”

“Al, dengarkan aku dulu,” suara Aksa masih mencoba untuk tenang, tapi matanya menunjukkan bahwa dia mulai tertekan.

“Dengarkan apa lagi? Dulu ada orang yang juga selalu bilang sibuk dan mendesak setiap kali dia ingin lari dari tanggung jawab. Setiap kali dia ingin menjauh dariku, alasannya selalu pekerjaan!” Alea memalingkan wajah, air matanya mulai menggenang.

“Dan tahu tidak? Ternyata aku memang tidak pernah masuk dalam daftar prioritasnya. Ternyata, sedisiplin apa pun kamu, kamu sama saja seperti dia. Kalian semua sama.”

Aksa terdiam. Tatapannya berubah menjadi intens dan sedikit dingin. “Kamu sedang membandingkan aku dengan mantanmu yang brengsek itu?”

“Ya! Karena polanya sama, Aksa! Persis!” teriak Alea. Ia tidak peduli lagi jika suaranya terdengar sampai ke luar toko. “Kamu datang ke sini, buat aku merasa aman, buat aku percaya kalau ada orang yang bisa diandalkan setelah sekian lama aku hidup sendiri, lalu kamu hilang begitu saja! Kamu memicu trauma yang sudah susah payah aku kubur, Aksa. Kamu membuatku merasa dejavu!”

“Al, aku minta maaf kalau tindakanku membuatmu ingat masa lalumu. Tapi aku bukan dia. Aku bukan pria itu.” Aksa mencoba mendekat, namun Alea mundur satu langkah.

“Kalau kamu bukan dia, kamu pasti sudah kirim pesan!” Alea memukul meja kasir dengan telapak tangannya, membuat beberapa pulpen jatuh ke lantai.

“Cuma satu pesan, Aksa! Maaf aku tidak bisa datang. Sesulit itu? Kenapa tidak kamu lakukan? Karena menurutmu aku ini cuma perempuan kesepian di toko buku yang akan selalu ada setiap kali kamu mau kembali, kan? Kamu pikir aku ini tempat persinggahan yang tidak perlu diberi penjelasan?”

“Bukan begitu maksudku, Al. Kondisinya kemarin benar-benar kacau—“

“Pergi, Aksa. Silakan bawa urusan mendesakmu itu pergi dari sini.” Alea menunjuk pintu keluar dengan tangan yang gemetar hebat. “Aku tidak butuh bantuanmu lagi. Aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri, sejak dulu, bahkan sebelum kamu datang. Jangan buat aku berharap lagi pada orang yang tidak punya komitmen soal hal kecil sekalipun.”

Aksa tidak bergerak. Ia menatap Alea yang dadanya naik turun karena emosi yang meluap-luap. “Aku tidak akan pergi sampai kamu tenang dan mau dengar penjelasanku.”

“Aku tidak akan tenang selama kamu berdiri di depanku! Kamu itu cuma pengingat kalau aku ini bodoh karena sempat percaya padamu! Kamu membuatku merasa tidak berharga lagi!”

Alea berbalik, berniat lari ke gudang agar Aksa tidak melihatnya menangis tersedu-sedu, namun tangan Aksa yang besar dan hangat menahan lengannya dengan lembut tapi sangat kuat.

“Lepas! Jangan sentuh aku!”

“Al, lihat aku. Tolong, lihat aku dulu,” perintah Aksa. Suaranya kali ini tidak lagi datar, ada nada lelah dan frustrasi di sana.

Alea terpaksa menoleh. Ia menatap wajah Aksa dan baru menyadari sesuatu yang luput dari perhatiannya tadi. Kantung mata pria itu menghitam, wajahnya tampak sangat tirus, dan ada kelelahan yang luar biasa di matanya. Pria di depannya ini tampak seperti orang yang tidak tidur selama berhari-hari.

“Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf,” bisik Aksa, suaranya merendah. “Aku salah karena tidak memberi kabar. Aku mengaku salah. Tapi tolong, demi apa pun, jangan samakan aku dengan pria yang membuangmu dulu. Aku ke sini sekarang karena aku ingin memperbaiki semuanya, bukan untuk pergi lagi.”

Alea terdiam, napasnya masih memburu. Di antara rasa marah yang masih menyala, ada bagian kecil di hatinya yang ingin percaya, tapi rasa takutnya akibat trauma Hanif masih terlalu mendominasi. Ia merasa seperti berdiri di atas kaca tipis yang siap pecah kapan saja.

“Kamu pikir, maaf saja cukup setelah membuatku merasa seperti sampah selama empat hari?” tanya Alea dengan suara lirih yang hampir habis.

Aksa menatapnya dalam. “Tentu tidak cukup. Karena itu, beri aku waktu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu, kalau kamu tetap mau aku pergi, aku akan pergi dan tidak akan pernah mengganggumu lagi.”

1
Gaza Nesia
dewasa bnr si aksa
Gaza Nesia
tapi emang rata rata gitu gak sih, klo banyak masalah jdi nggak fokus kerja😓
falea sezi
Lea ini egois bgt males
Aviciena
thor, aku tinggal dulu ya,. nanti aku balik lagi klo sdh sengganng waktunya
AtNy Aby
😭apa sesulit itu alea keluaf dari zona itu
Ika Anggriani: orang klo kecintaan ya susah kak😭
total 1 replies
Aviciena
kayaknya lbh enak di baca dlm bentuk buku nih novel
Ika Anggriani: kenapa kak?😭
semoga yaa kak
total 1 replies
Aviciena
nungguin arahnya kmn
Aviciena
misterius
Ranita Rani
cwe bego gk pny otak,,,,jelas2 cwonya dh gk beres tetep ja ngemis2 kyak gk pny hrg dri ja,,,mbok yo sadar,pngalaman ortumu jgn d bikin truma tp bikin itu sebuah pelajaran,,,,
Ika Anggriani: emang ngeselin banget si alea ya kak😭
total 1 replies
Aviciena
karya sastra luar biasa
Aviciena
maaf thor, d awal penulisan , pake sudut pandang orang 1 ya... kemudian setelahnya jadi berubah
Ika Anggriani: tetap sudut pandang orang ketiga kok kak dari pertama juga
total 1 replies
falea sezi
wanita malu maluin aja ngemis2
Ika Anggriani: sabar kak😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh siapa ya
Panda%Sya🐼
giliran selingkuh gak malu tuch
Panda%Sya🐼
Kenapa sih lelaki selalu gini, udah bagi harapan malah di balas santapan 😤
Anonymous
brengseknya nggak kira" bangett tuh cowok
Anonymous
dominan banget auranya si aksa
Panda%Sya🐼
Alea please sadar, kamu gak kurang apa-apa dia aja yang tidak tahu menghargai 🤧
Ika Anggriani: Han yang kurang padahal😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ihhh Han lu benar-benar bego! 😡
Panda%Sya🐼
Dia laki-laki gak tahu apa itu wanita setia! emang kampret lu ya Han, gue masak lu campur seblak biar lu tahu panasnya hati Al yang selalu nungguin pesan-pesan chat lu 😤😤
Ika Anggriani: banyak modelan han di dunia nya wkwkw
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!