Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34- Hadir Tanpa Tanya
Lonceng pintu toko buku berdenting pelan, menyebarkan bunyi logam yang biasanya terasa ceria, namun sore ini terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sesuatu di telinga Alea. Ia tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma maskulin yang familiar, campuran antara kayu cendana dan dinginnya AC mobil sudah cukup memberi tahu indranya. Aksa berdiri di sana, tidak jauh dari meja kasir, sedang membolak-balik sebuah buku arsitektur tanpa benar-benar membacanya.
Alea mencoba fokus pada layar komputer di depannya, pura-pura sibuk memeriksa inventaris buku yang sebenarnya sudah ia hafal di luar kepala. Namun, jemarinya terasa kaku di atas papan ketik.
“Al, Pak Aksa sudah lima belas menit berdiri di sana cuma buat liatin rak yang sama,” bisik Dinda sambil menyenggol lengan Alea, suaranya nyaris tak terdengar di antara gumam pelanggan lain. “Samperin gih. Kasihan, kayak patung pajangan toko yang paling mahal.”
Alea menghela napas, matanya tetap tertuju pada monitor. “Dia nggak minta dibantu, Din. Mungkin dia memang lagi pengin baca.”
“Dia nggak butuh dibantu cari buku, Al. Dia butuh dibantu biar nggak kelihatan kayak penguntit profesional,” goda Dinda pelan, namun matanya memancarkan kecemasan yang tulus. “Samperin aja. Sejak dia dateng, kamu jadi salah pencet tombol terus di komputer.”
Alea akhirnya menyerah. Ia berjalan menghampiri Aksa dengan langkah yang diseret. “Sa, kamu nggak bosen liatin rak arsitektur itu terus? Itu buku edisi tahun lalu.”
Aksa menutup bukunya tanpa menoleh, jemarinya yang panjang mengelus sampul keras buku itu. “Buku ini menarik.”
“Itu buku teknik sipil, Sa. Kamu kan pengusaha properti, harusnya sudah khatam isinya sampai ke titik komanya.”
Aksa akhirnya menoleh, menatap mata Alea yang masih tampak redup dan berkabut. “Aku nggak lagi baca isinya, Al. Aku lagi nunggu kamu selesai kerja.”
“Masih dua jam lagi, Sa. Kamu nggak harus nunggu di sini seolah-olah aku bakal hilang kalau kamu kedip.”
“Dinda bilang kamu bisa pulang lebih awal hari ini,” sahut Aksa tenang, suaranya rendah dan memiliki otoritas yang tidak bisa didebat. “Ayo. Udara di toko ini lagi nggak bagus buat kamu. Terlalu banyak debu buku lama yang bikin kamu sesak.”
Alea mengernyit, mencoba mencari celah untuk menolak. “Maksudnya? Aku sehat-sehat saja.”
“Wajahmu pucat, napasmu pendek-pendek sejak aku masuk tadi. Kamu kayak orang yang lagi lari maraton padahal cuma berdiri di balik kasir. Ayo, kita keluar sebentar. Cari oksigen yang bener.”
Mereka berakhir di sebuah taman yang sepi, duduk di bangku kayu yang menghadap ke kolam teratai yang airnya tenang. Angin sore bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Alea yang tidak terikat.
“Kenapa kita ke sini, Sa?” tanya Alea setelah keheningan yang cukup lama, memecah kesunyian yang mulai terasa berat.
“Cuma mau duduk. Memangnya harus ada alasan logis untuk setiap langkah yang kita ambil?”
“Ya... biasanya orang ke taman itu buat ngobrol. Atau seenggaknya punya tujuan. Tapi dari tadi kamu cuma diem, ngelihatin air kolam kayak ada emasnya di sana.” Alea menoleh ke arah Aksa, menatap profil samping wajahnya yang tajam.
“Kamu nggak mau nanya sesuatu? Aku tahu kamu punya banyak pertanyaan di kepala.”
Aksa balas menatapnya, sudut bibirnya sedikit terangkat namun tidak sampai menjadi senyuman. “Tanya apa?”
“Ya apa saja. Soal kenapa aku tiba-tiba mati rasa, soal amplop cokelat yang aku simpan di tas kayak barang terlarang, atau kenapa aku nggak seceria minggu lalu. Kamu nggak penasaran atau ngerasa aku ini beban yang aneh?”
Aksa menggeleng pelan, gerakannya sangat pasti. ”Enggak.”
“Kenapa? Semua orang di toko nanya. Dinda nanya terus sampai aku pusing nyari alasan. Pelanggan langganan bahkan nanya kenapa aku nggak banyak bercanda lagi. Tapi kamu kayak nggak peduli sama sekali.”
“Bukan nggak peduli, Al,” potong Aksa lembut, suaranya merambat masuk ke sela-sela pertahanan Alea. “Tapi aku tahu kamu nggak punya energi buat ngejelasin semuanya sekarang. Kalau aku nanya kenapa, kamu bakal terbebani buat cari jawaban yang masuk akal agar aku puas, padahal kamu sendiri mungkin nggak tahu kenapa duniamu mendadak jadi abu-abu. Benar, kan?”
Alea tertegun. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya yang berberbu. Suaranya nyaris hilang. “Iya. Aku nggak tahu harus jawab apa kalau ditanya kenapa aku begini. Aku cuma ngerasa kosong.”
“Makanya aku nggak tanya,” lanjut Aksa. “Aku nggak butuh laporan medis atau kronologi kesedihan kamu buat tetep ada di sini. Kamu mau diem sampai besok pagi pun di bangku ini, aku nggak keberatan nemenin.”
“Tapi ini nggak masuk akal, Sa.” Suara Alea mulai bergetar, emosi yang ia tahan mulai merembes keluar. “Kamu itu orang sibuk. Waktumu itu bisa dikonversi jadi uang. Kenapa kamu malah buang-buang jam berhargamu cuma buat duduk bareng orang yang bahkan nggak bisa ngajak kamu ngobrol seru?”
Aksa terkekeh pendek, tipe tawa yang kering namun ada nada kasih sayang di sana. “Kamu pikir hubunganku sama orang lain itu kayak transaksi di bursa saham? Harus ada profit di akhir hari?”
“Bukannya dunia kamu emang gitu? Semuanya tentang efisiensi?”
“Enggak buat aku. Terutama nggak buat kamu.” Aksa memutar tubuhnya agar lebih menghadap Alea, menghalangi angin yang menerpa wajah gadis itu. “Al, dengerin aku baik-baik. Kamu nggak harus berfungsi supaya aku mau nemenin kamu. Kamu nggak harus pinter, nggak harus lucu, nggak harus cerita rahasiamu supaya aku nggak mutusin buat pergi. Aku bukan lagi investasi, aku lagi berteman.”
“Tapi aku ngerasa nggak adil buat kamu, Sa. Aku ngerasa aku cuma ngerepotin. Aku cuma bawa energi negatif.”
“Ngerepotin itu kalau aku ngerasa terpaksa. Apa dari tadi aku kelihatan kayak orang yang pengin cepet-cepet kabur?”
Alea menatap mata Aksa yang tajam namun memiliki kehangatan yang asing baginya. “Enggak. Tapi aku takut kamu cuma kasihan karena ngelihat aku kayak kucing kecebur got.”
“Kasihan itu punya tanggal kedaluwarsa yang cepet, Al. Kita sudah lewat dari fase itu jauh hari.” Aksa meraih botol air mineral dari sampingnya, membukanya dengan satu tangan yang kuat, dan memberikannya pada Alea. “Minum dulu. Napasmu mulai berantakan lagi, dada kamu naik turunnya terlalu cepet.”
Alea meminumnya sedikit, merasakan dinginnya air meredakan panas di tenggorokannya. “Sa, soal amplop cokelat itu…isinya mungkin bakal bikin kamu benci sama aku.”
“Jangan dibahas kalau kamu belum siap memegangnya,” sela Aksa cepat, mencegah Alea masuk ke lubang kegelisahan.
“Aku cuma mau bilang, aku takut isinya bakal ngerusak segalanya. Benda itu kayak punya nyawa sendiri yang mau narik aku balik ke tempat yang nggak mau aku datangi lagi.”
“Al, nggak ada satu pun benda atau masa lalu di dunia ini yang bisa ngerubah cara aku ngelihat kamu di depanku sekarang. Paham? Kamu yang sekarang bukan bayangan yang ada di dalam amplop itu.”
Alea mengangguk pelan, air mata yang sudah lama ia bendung mulai menggenang. “Aku nggak pernah dapet orang yang mau nungguin aku tanpa nanya-nanya sebelumnya. Biasanya orang minta penjelasan dulu baru mau bantu.”
“Nah, sekarang kamu punya satu yang berbeda. Jadi, berhenti mikir kapan aku bakal bosen dan mulai mikir buat napas lebih tenang.” Aksa berdiri, mengulurkan tangannya yang lebar. “Ayo pulang. Udah makin sore, anginnya mulai tajam buat paru-paru kamu yang lagi rapuh.”
Alea menyambut tangan Aksa. Genggaman itu terasa sangat kokoh, seolah-olah jika dunia ini hancur berkeping-keping, tangan itulah yang akan menahannya agar tidak ikut pecah.
Di dalam mobil, keheningan kembali tercipta, namun kali ini tidak lagi menyesakkan. Aksa memutar musik instrumen yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.
“Sa,” panggil Alea lirih saat mobil berhenti di lampu merah.
“Iya?”
“Besok, kalau aku beneran runtuh dan nggak bisa bangun lagi dari tempat tidur, apa kamu bakal tetep dateng ke pagar kost aku?” tanya Alea, matanya menatap kosong ke jalanan.
Aksa menepi sejenak setelah lampu hijau, ia menatap Alea lama, seolah sedang menanamkan janjinya lewat tatapan mata yang tidak tergoyahkan. “Aku nggak bakal ke mana-mana, Al. Runtuh saja kalau memang bebannya sudah terlalu berat. Biar aku yang jagain puing-puingnya sampai kamu siap buat bangun lagi.”
Alea terdiam, sebuah gumpalan besar terasa menyangkut di tenggorokannya. Ia tidak tahu bahwa besok, kata-kata Aksa itu bukan lagi sekadar janji manis, melainkan kenyataan pahit yang harus ia hadapi saat pertahanannya meledak total.