Janu Manggala adalah seorang pemuda polos yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki kesaktian Tiada Tanding... Segala jenis pusaka tunduk di hadapannya, ucapannya langsung menjadi kenyataan, dan orang orang yang menunjukan kesaktiannya di mata Janu mereka hanyalah orang gila...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patung Madono
"Dari mana kamu mendapatkan ini?" Tanya Wijoyo dengan ekspresi serius ke arah Janu.
Janu mengedutkan matanya, memandangi Wijoyo dengan ekspresi kesal.
Janu ingin membantu Wijoyo yang baru saja sadar dari pingsan, namun Wijoyo banyak bicara.
"Kalau tidak mau ya sudah!" Ucap Janu yang mulai mengambil anggur di atas piring kemudian memakannya.
"Tidak! Aku tidak bilang aku tidak mau!" Buru buru Wijoyo juga mengambil buah buahan yang ada di sana dan memasukannya ke dalam mulut.
Sama seperti Tarjo ketika Wijoyo memakan buah buahan ini, mata Wijoyo mulai berkaca kaca dan tak lama kemudian air mata mulai mengalir dari matanya.
"Enaknya!" Ucap Wijoyo dalam hatinya.
Kemudian Wijoyo mengambil kendi dan langsung mengucurkan airnya ke dalam mulutnya.
"Ah! Segarnya!" Ucap Wijoyo yang tampak sangat menikmati buah buahan itu.
Wijoyo benar benar makan dengan sangat lahap pada saat ini.
Janu dan Rina terlihat puas melihat Wijoyo akhirnya mau makan. Setelah memakan semua buah buahan terlihat Wijoyo bersandar di batang pohon dan menatap langit.
Matanya masih berkaca kaca, "aku benar benar tidak menyangka, di tempat ini aku masih bisa merasakan kenikmatan yang sangat sulit aku bayangkan." Ucap Wijoyo.
Wijoyo kemudian menatap ke arah Janu dan Rina dengan ekspresi penuh terimakasih, "aku benar benar berterimakasih kepada kalian berdua. Kalian benar benar orang yang sangat baik." Ucap Wijoyo.
Janu menganggukan kepalanya, "santai saja Pak, kalau perlu nanti aku bawakan lebih banyak." Ucap Janu.
Wijoyo tersenyum tipis, dia menghirup udara secara perlahan. Wijoyo yakin sekali bahwa buah buahan yang di bawa oleh Janu ini adalah buah buahan bekal dari dunia luar.
Tidak mungkin ada buah buahan di tempat seperti ini.
Wijoyo menatap Janu, "kamu benar benar orang yang baik, oleh karena itu aku akan memberikanmu saran.." ucap Wijoyo.
"Saran?" Tanya Janu dengan ekspresi penasaran, "apa itu?"
"Kamu tahu tentang bangunan dekat kolam yang sebelum ini pernah aku ceritakan?"
Janu menganggukan kepalanya, "ya aku masih ingat." Jawab Janu.
Janu masih ingat bahwa Wijoyo ini pernah memperingatinya untuk jangan dekat dekat dengan villa dekat sungai kecil itu.
Entah karena apa alasannya Janu tidak tahu, padahal villa itu sangat nyaman.
"Bangunan pondok kayu itu berada di dekat sini, jangan pernah masuk! Kalau ada makanan jangan pernah di makan!" Ucap Wijoyo dengan sangat serius.
Ketika mendengar hal ini alis Janu berkedut, kemudian ia menatap piring dan kendi yang kini sudah kosong.
"Keparat, apa jangan jangan orang ini menyimpan dendam kesumat kepada pemilik villa itu?" Tanya Janu dalam hatinya.
"Dia saja lahap memakan makanan dari villa itu!" Imbuhnya.
Janu menghirup udara secara perlahan, ia memilih diam untuk saat ini, tidak membahas villa agar Wijoyo ini tidak canggung..
"Pak Wijoyo aku ingin pulang sebentar lagi, apakah kamu ingin ikut?" Tanya Janu, Basa basi.
Wijoyo kaget bukan main. Kemudian ia menatap ke arah Janu dengan tatapan serius, "kamu ingin pergi dari tempat ini?" Wijoyo menggelengkan kepalanya secara perlahan, "kamu tidak akan bisa, sudahlah terima saja takdirmu di sini."
Janu mengedutkan matanya, "takdir di sini? Waduh Pak Wijoyo sepertinya kamu salah paham, aku ini tamu di sini, aku bukan pekerja di villa itu mengapa aku harus menetap di sini?" Tanya janu.
Sementara Rina hanya diam saja menyimak obrolan mereka.
Wijoyo menghela nafas panjang, "apakah si bodoh ini masih belum paham dengan tempat ini?" Tanyanya dalam hati.
Wijoyo ingin memarahi Janu, namun ia segera mengurungkan niatnya mengingat Janu telah memberikan makanan terakhirnya untuk dirinya.
Wijoyo menghela nafas panjang, "aku akan memberikanmu satu kesempatan, ikuti aku maka kamu akan aman."
Janu langsung menggelengkan kepalanya, dia masih ingin hidup dengan normal, menikah dan punya anak, mengapa harus ikut menjadi pertapa?
"Tidak, aku akan pulang!" Ucap Janu.
Wijoyo menghela nafas lagi, benar benar tidak menyangka pemuda bodoh ini kembali menolaknya.
Wijoyo kemudian menatap Rina, "bagaimana denganmu Nona? Apakah kamu mau mengambil kesempatan dariku?"
Rina sedikit kaget di tanya seperti itu, ia langsung menggelengkan kepalanya, "terimakasih niat baikmu pak Wijoyo, namun aku juga harus ikut pulang bersama Janu karena di sini tidak ada sinyal, aku tidak bisa menghubungi keluargaku.." jawab Rina.
Wijoyo menatap kedua orang itu dengan jengkel, "kedua orang ini benar benar bodoh, apa mereka tidak tahu ini tempat apa?" Tanyanya dalam hati.
Wijoyo menghela nafas panjang, "ya sudah aku tidak akan memaksa, namun kalian berdua harus bertanggung jawab dengan pilihan kalian sendiri."
"Aku akan pergi dari tempat ini terlebih dahulu, terimakasih atas apa yang kalian berdua berikan kepadaku, kebaikan kalian akan aku ingat.." dengan cepat Wijoyo berdiri dan pergi dari tempat ini.
Rina dan Janu hanya memandangi mereka..
"Pak Wijoyo itu sepertinya agak miring ya?" ucap Rina sembari menggesek telunjuknya di alisnya sendiri.
"Hmm... mungkin karena dia terlalu sering bertapa.." jawab Janu.
***
Sementara itu di pedalaman hutan Tarjo terlihat berlari dengan sangat buru buru. Keringat membanjiri tubuhnya namun ia tak perduli, tujuan utamanya adalah mengabari berita bahagia ini kepada Mbah Sukini.
Ketika Tarjo melewati pohon pohon beringin besar ia melirik sesaat ke pohon pohon itu, "apa kalian lihat lihat?!" Bentak Tarjo kepada para kuntilanak hitam yang bersembunyi di atas pohon beringin itu.
Seketika itu juga para hantu di sana mengalihkan pandangannya.
Tarjo membusungkan dadanya pada saat ini, "ini adalah baju milik Tuan Janu! Apakah kalian kira kalian punya nyali untuk mengotorinya?" Tanya Tarjo penuh dengan percaya diri.
"Tunggu, seharusnya aku fokus mencari Mbah Sukini mengapa aku harus mengurusi hantu hantu tidak penting itu?" Ucap Tarjo yang kembali bergegas melewati pohon pohon demi mencari Mbah Sukini.
Akhirnya setelah mencari di berbagai sudut, Tarjo menemukan Mbah Sukini juga. Ia tampak bersembunyi di antara dua celah sempit bebatuan.
"Mbah Sukini, akhirnya aku menemu--" ucapan Tarjo berhenti ketika melihat kaki Mbah Sukini bengkak dan sepertinya terkilir.
Mbah Sukini membuka matanya secara perlahan, tatapan Mbah Sukini seolah mengisyaratkan dia sudah pasrah akan kematian.
"Oh kamu Tarjo..." ucap Mbah Sukini.
"Mbah, Sukini... apa yang terjadi padamu Mbah?" Ucap Tarjo dengan sangat panik.
"Cepat pergi! Patung Madono telah bangkit!" Ucap Mbah Sukini dengan serius, "sudah tidak ada jalan keluar dari tempat ini... patung itu akan membunuh siapapun yang mencoba keluar!"
"Lihat kakiku, aku sudah tidak bisa berjalan lagi. Sebaiknya kau pergi saja, biarkan tempat ini menjadi kuburanku!" Ucap Mbah Sukini.
"A.. a.. Apa?! Patung Madono?" Tanya Tarjo dengan kaget.