Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.
Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.
Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang berbeda
“Semuanya memang tak bisa aku kendalikan, tapi aku bisa mengusahakannya semaksimal mungkin”
***
Kaluna sedang tertawa kecil di tengah lingkaran beberapa kenalannya. Tangannya bergerak lincah saat bercerita, matanya berbinar, gaunnya berkilau setiap kali ia bergeser di bawah cahaya lampu kristal.
Ia terlihat sepenuhnya bahagia.
Namun di sela tawa itu, tanpa sengaja pandangannya menangkap sesuatu.
Arkana.
Tunangan yang beberapa menit lalu berdiri di sampingnya kini berjalan menjauh—arahnya sama dengan Arsha yang lebih dulu meninggalkan ruangan.
Langkah Arkana tidak tergesa. Tapi terlalu fokus.
Kaluna terdiam sepersekian detik.
Temannya masih berbicara, tapi suaranya mendadak terasa jauh. Insting halus—yang sering kali diabaikan oleh orang yang terlalu percaya—kali ini berbisik pelan di benaknya.
Kenapa Arkana mengikutinya?
Kaluna tetap tersenyum. Ia tidak ingin terlihat berubah. Dengan sopan ia menyela percakapan, “Maaf ya, aku ke sana sebentar.”
Ia melangkah pelan, tidak mencolok. Tumit sepatunya tidak berbunyi keras di lantai marmer. Ia menjaga jarak saat melihat keduanya keluar menuju balkon.
Kaluna tidak langsung mendekat.
Ia berhenti beberapa langkah sebelum pintu kaca, cukup jauh agar tidak terlihat, cukup dekat agar suara samar bisa terdengar ketika angin membawa percakapan mereka.
Dan di sanalah ia mendengar.
Suara Arkana yang tidak pernah ia dengar sebelumnya—lebih emosional, lebih terbuka, lebih terluka.
Tentang SMA.
Tentang penolakan.
Tentang memilih kota dan negara yang sama.
Tentang menunggu.
Kaluna berdiri membeku.
Tangan yang tadi menggenggam clutch kini mengeras perlahan. Ia tidak pernah tahu detail itu. Ia tahu Arkana dan Arsha pernah dekat. Tapi tidak pernah sedalam itu. Tidak pernah sampai mengikuti lintas negara. Tidak pernah sampai… menunggu bertahun-tahun.
Lalu suara Arsha terdengar.
Tenang. Terkontrol. Jelas.
“Kamu sudah punya tunangan.”
“Hiduplah dengan tenang.”
“Tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki.”
Kalimat itu membuat napas Kaluna tertahan. Ada kelegaan yang menyusup lebih dulu sebelum rasa lainnya sempat muncul.
Arsha menolak.
Arsha tidak memberi ruang.
Arsha menutup semuanya dengan rapi.
Namun tetap saja… Kaluna tidak bisa mengabaikan satu fakta: tunangannya pernah mencintai perempuan itu sedalam itu. Dan mungkin—sebagian kecil di hatinya—masih menyisakan sesuatu. Dari balik kaca, Kaluna menatap dua siluet yang berdiri berdampingan di bawah cahaya kota. Wajahnya tetap tenang. Bahkan sudut bibirnya terangkat samar.
Tapi matanya?
Tidak lagi sebahagia beberapa menit lalu. Ia akhirnya mundur satu langkah, memilih kembali ke dalam pesta sebelum keduanya menyadari keberadaannya.Senyumnya kembali terpasang saat ia melebur di antara tamu. Namun malam itu, di balik tawa dan ucapan selamat, Kaluna menyadari satu hal—Cinta yang ia miliki mungkin nyata. Tapi bayangan masa lalu ternyata juga masih ada.
***
Nalaa menarik napas panjang dan kembali mengenakan wajah Arsha.
Begitu masuk ke dalam ballroom, suara musik dan tawa tamu kembali menyambutnya. Lampu-lampu kristal memantulkan kilau yang sama seperti sebelumnya, seolah tak ada percakapan emosional yang baru saja terjadi di balkon.
Nala berjalan dengan langkah tenang menuju meja minuman. Tangannya meraih satu gelas—entah apa isinya, ia bahkan tidak benar-benar peduli. Ia hanya butuh sesuatu untuk menenangkan tenggorokannya yang terasa kering.
Ia menyesap perlahan. Cairan itu dingin, namun tidak cukup untuk meredakan panas di dadanya.
Tiga hari lagi.
Arkana.
Masa lalu yang bukan miliknya.
Semua berputar di kepalanya.
Ia berdiri sendirian di antara keramaian, meminum minumannya dengan ekspresi yang tetap elegan. Tak ada yang tahu bahwa pikirannya sedang berlari.
Belum sempat gelas itu kosong, sebuah bayangan berhenti di sampingnya.
“Nona Arsha.”
Suara itu rendah dan formal.
Pras.
Asisten Erlic berdiri tegak, ekspresinya profesional seperti biasa. Tidak ada basa-basi di wajahnya.
“Tuan Erlic menunggu Anda di mobil,” ucapnya pelan namun tegas. “Beliau meminta Anda segera menemuinya.”
Nala menoleh perlahan.
“Sekarang?” tanyanya tenang, meski ada sesuatu yang kembali bergetar di dalam dirinya.
“Ya, Nona.”
Tidak ada penjelasan tambahan. Itu bukan permintaan. Itu perintah yang dibungkus kesopanan. Nala meletakkan gelasnya dengan hati-hati di atas meja. Jemarinya terlihat stabil, namun hanya ia yang tahu betapa cepat detak jantungnya kembali naik.
Kenapa Erlic menunggunya di mobil?
Bukan di ruang VIP.
Bukan di dalam pesta.
Tapi di mobil.
Ia mengangguk singkat pada Pras. “Baik.”
Tanpa pamit panjang pada siapa pun, Nala berjalan menuju pintu keluar. Gaunnya menyapu lantai dengan anggun, seolah ia hanya hendak pulang lebih dulu. Di luar, udara malam kembali menyentuh wajahnya.
Lampu-lampu area parkir lebih redup dibanding gemerlap di dalam. Dan di sana—di antara deretan mobil hitam yang terparkir rapi—sebuah mobil dengan mesin menyala menunggu.
Erlic ada di dalamnya.
Menunggu. Dan untuk alasan yang belum ia ketahui, Nala merasa malam ini belum selesai mengujinya.
***
Pintu mobil terbuka pelan.
Nala masuk tanpa suara, duduk di kursi penumpang di samping Erlic. Aroma khas interior mobil yang mahal langsung menyergapnya—dingin, bersih, terkontrol.
Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang.
Erlic duduk tegak di kursi pengemudi. Rahangnya mengeras. Tatapannya lurus ke depan, tidak menoleh sedikit pun ketika Nala masuk. Wajahnya tidak menunjukkan amarah yang meledak—justru lebih berbahaya.
Terlalu diam.
Terlalu tertahan.
Nala menoleh perlahan.
Baru saat itulah ia melihatnya.
Buku-buku jari Erlic memerah. Kulitnya terkelupas tipis, dan darah segar masih mengering di sela-selanya. Ada goresan baru yang belum sepenuhnya berhenti berdarah.
Ia baru saja memukul sesuatu.
Dan cukup keras.
Namun Erlic tetap tidak berbicara. Tidak menjelaskan. Bahkan tidak meliriknya. Di dalam mobil hanya terdengar suara mesin yang menyala pelan.
Nala tidak bertanya.
Ia tidak menuntut jawaban.
Ia hanya membuka pintu mobil lagi dan keluar tanpa sepatah kata pun. Langkahnya cepat tapi terukur menuju pos penjaga parkir. Petugas yang berjaga sempat terlihat bingung melihat tamu pesta mendatanginya sendirian.
“Permisi,” ucap Nala sopan namun tegas. “Apakah ada kotak P3K?”
Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan kotak kecil berwarna putih di tangannya.
Ia masuk lagi ke dalam mobil.
Masih sunyi.
Erlic tetap dengan posisi yang sama. Tangannya masih di atas paha, jari-jarinya mengepal samar. Nala membuka kotak itu tanpa suara. Ia mengambil kapas dan cairan antiseptik. Tanpa meminta izin, tanpa berbasa-basi, ia meraih tangan Erlic. Baru saat itu Erlic sedikit bereaksi—bukan menarik diri, hanya menoleh tipis seolah baru menyadari kehadirannya sepenuhnya.
Nala memegang tangannya dengan hati-hati.
“Diam,” ucapnya pelan, bukan sebagai perintah, tapi sebagai penenang.
Kapas menyentuh luka.
Erlic tidak meringis. Tidak bergerak. Hanya rahangnya yang sedikit mengencang saat cairan antiseptik menyentuh kulit yang terbuka.
Nala membersihkan darah itu satu per satu. Gerakannya lembut. Terlatih. Teliti.
Tidak ada pertanyaan tentang siapa yang ia pukul.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada ketakutan.
Hanya perhatian yang sunyi.
Setelah membersihkan lukanya, Nala membalut buku-buku jarinya dengan perban tipis, melilitkannya perlahan agar tidak terlalu ketat.
Tangannya hangat. Stabil. Dan untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke mobil, Erlic akhirnya menoleh menatapnya. Tatapan itu tidak lagi sepenuhnya keras.
Di dalam keheningan mobil yang tertutup rapat dari dunia luar, hanya ada dua orang—dengan luka yang berbeda. Yang satu terlihat di kulit. Yang satu lagi… tersembunyi jauh di dalam dada.