"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Lukaku, Mahkotaku
🌹 Puisi: Mawar yang Menulis Namanya Sendiri
Dinding tipis ini tidak cukup tebal
Untuk menahan desah yang menusuk sukma
Di kamar sebelah, dua jiwa yang kukenal
Sedang merobek-robek harga diriku tanpa dosa
Air mata jatuh tanpa suara
Membasahi bantal, membentuk lautan luka
Tapi di antara lara yang menggila
Tanganku menulis—bukan surat, tapi dokumen pembalasan
Mereka pikir aku porselen yang akan retak
Mereka kira aku kaca yang siap hancur
Mereka tak tahu, di balik pintu yang kututup rapat
Aku sedang mengecor intan dari abu yang membakar
Biarlah malam ini aku menangis
Mengubur wanita bodoh yang pernah percaya
Karena esok, saat fajar tiba
Aku akan lahir kembali—bukan sebagai korban
Tapi sebagai hakim
Yang menulis vonis dengan tinta emosiku sendiri
Lukaku, mahkotaku.
Air mataku, mahkotanya.
Dan buku hitam kecil ini...
Adalah tahta yang sedang kurakit,
Satu nama durjana dalam satu waktu.
---
Malam itu, lampu kamar Alana sengaja tidak dinyalakan.
Gelap. Hanya cahaya bulan yang menyusup tipis melalui celah tirai, membentuk garis-garis perak di lantai marmer. Alana duduk di ujung tempat tidur, gaun pestanya masih melekat di tubuh—kain sutra ungu tua yang dulu dibelikan ayahnya untuk ulang tahunnya yang ke-22. Kini, di usia 26, gaun itu terasa seperti kain kafan yang membungkus mayat hidupnya.
Dari kamar sebelah, suara itu datang.
Tidak jelas. Tidak vulgar. Tapi cukup.
Desahan tertahan. Gelak tawa pelan. Bisik-bisik mesra yang sengaja direndahkan, seolah mereka pikir dinding ini cukup tebal untuk merahasiakan pengkhianatan.
Alana menutup mata.
Satu... dua... tiga...
Ia menghitung sampai sepuluh, seperti yang diajarkan ayahnya saat ia masih kecil dan marah karena mainannya direbut teman.
"Tarik napas, Nak. Hitung sampai sepuluh. Kalau masih marah, baru kita pikirkan langkah berikutnya."
Napasnya bergetar saat ditarik. Dadanya sesak saat dilepaskan.
Empat... lima... enam...
Tawa Viola terdengar lebih jelas kali ini. Tinggi, manja, penuh kemenangan. Alana bisa membayangkannya sekarang—sahabatnya itu tengah berbaring di atas seprai sutra yang ia sendiri pilih, di kamar yang ia sendiri dekorasi, bersama pria yang ia sendiri nikahi.
Tujuh... delapan... sembilan...
Air mata mulai menggenang di sudut mata. Tapi Alana tidak membiarkannya jatuh. Bukan karena ia kuat. Tapi karena ia terlalu lelah untuk menangis.
Sepuluh.
Alana membuka mata.
Masih marah. Tapi bukan marah yang membabi buta. Marah yang dingin. Marah yang jernih. Marah yang tahu persis apa yang harus dilakukan.
Perlahan, ia berdiri. Kakinya terasa ringan meski dadanya hancur. Ia melangkah ke meja rias—satu-satunya furnitur di kamar ini yang benar-benar miliknya. Peninggalan ibunya. Meja kayu jati tua dengan ukiran mawar di setiap sudut, ditempa dengan emas setipis daun.
Dari laci paling bawah, ia mengeluarkan sebuah buku.
Buku hitam kecil. Sampul kulit asli, pinggirannya dilapisi emas yang mulai pudar. Hadiah dari ayahnya saat ia lulus SMA. "Untuk menulis mimpi-mimpimu," kata ayahnya kala itu.
Alana tersenyum getir.
Malam ini, ia tidak akan menulis mimpi. Ia akan menulis nama.
Dari laci yang sama, ia mengambil pulpen—pulpen mahal bermata emas, hadiah pernikahan dari Richard tiga tahun lalu. Ironis. Alat tulis dari pengkhianat akan digunakan untuk menuliskan namanya sendiri di daftar hitam.
Ia duduk bersila di lantai, membuka halaman pertama.
Kosong.
Selama ini buku itu memang kosong. Karena selama ini Alana hanya jadi penonton dalam hidupnya sendiri. Tapi malam ini, ia akan mulai menulis.
Dari kamar sebelah, suara itu semakin jelas. Alana mendengar Richard tertawa kecil, lalu bisikan Viola: "Dia nggak akan tahu, kan?" Dan jawaban Richard: "Biarin. Lagipula dia terlalu bodoh buat curiga."
Alana tersenyum.
Terima kasih sudah meremehkanku. Itu akan membuat akhir kalian lebih menyakitkan.
Ia mulai menulis.
Richard Hartanto.
Tangannya tidak gemetar. Tulisannya rapi, elegan, seperti biasa. Tapi setiap goresan pulpen terasa seperti sayatan di hati yang sudah mati rasa.
Ia menulis di bawahnya: Pengkhianat pertama. Suami. Mencuri perusahaan ayahku. Berselingkuh dengan sahabatku. Membiarkanku hidup dalam kebohongan selama tiga tahun.
Lalu ia menulis lagi: Target: Hancurkan secara finansial. Ambil kembali semua yang menjadi hakku. Buat ia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya tanpa tahu siapa musuhnya.
Alana berhenti sejenak. Dari kamar sebelah, ada suara gesekan ranjang.
Lanjutkan.
Viola Santoso.
Tangannya berhenti sedikit lebih lama di nama ini. Viola. Sahabat sejak SMP. Teman berbagi rahasia. Orang pertama yang ia hubungi saat ayahnya meninggal. Wanita yang menangis di pemakaman, menggenggam tangannya, berbisik "Aku akan selalu di sini untukmu."
Dan kini wanita itu tengah bercinta dengan suaminya, tiga meter dari tempat Alana duduk.
Alana menulis: Pengkhianat kedua. Sahabat palsu. Iri hati sejak awal. Memanfaatkan kebaikanku. Menikam dari balik pelukan.
Lalu: Target: Hancurkan secara sosial. Buat ia merasakan bagaimana rasanya dikhianati orang yang paling dipercaya. Usir dari lingkaranku selamanya.
Dari kamar sebelah, tiba-tiba ada suara langkah. Pintu kamar mandi dibuka. Alana menahan napas. Andai Viola keluar sekarang—Andai ia melihat cahaya ponsel atau bayangan Alana di bawah pintu—
Tapi tidak. Air kamar mandi mengalir. Viola sedang mandi.
Dan dari ranjang, Alana mendengar Richard berdecak pelan. Lalu suara rokok dinyalakan.
Alana menulis lagi.
Nama-nama Lain.
Ia menuliskan nama-nama yang selama ini ia curigai. Para eksekutif perusahaan yang diam-diam berpihak pada Richard. Rekan-rekan bisnis yang ikut menggerogoti perusahaan ayahnya. Teman-teman sosialita yang selalu tersenyum manis di depan tapi membicarakan kejatuhannya di belakang.
Satu per satu. Dua belas nama total.
Di halaman terakhir, ia menulis untuk dirinya sendiri.
Alana Wijaya.
Ia berhenti. Matanya berkaca-kaca, tapi air mata itu tetap tidak jatuh.
Di bawah namanya, ia menulis: Korban. Bodoh. Terlalu percaya. Terlalu baik. Terlalu lemah.
Lalu ia mencoret semua kata itu dengan garis tebal.
Di sampingnya, ia menulis ulang:
Pewaris tahta Wijaya Group. Wanita yang akan bangkit dari abu. Ratu di kerajaannya sendiri. Pemburu yang menyamar sebagai mangsa.
Ia menambahkan satu baris terakhir, kali ini dengan senyuman tipis:
Mereka pikir aku sudah mati. Mereka tidak tahu, aku baru saja lahir.
Dari kamar sebelah, suara air mati. Viola selesai mandi.
Alana mendengar bisikan mesra, lalu suara pintu kamar ditutup—kamar mereka, bukan kamar Alana. Malam ini Richard akan tidur di kamar Viola. Di kamar yang seharusnya jadi kamar tamu, yang Viola paksa untuk didekorasi ulang tahun lalu dengan alasan "biar kalau aku nginep nyaman".
Alana menutup buku hitam itu perlahan. Ia mengecup sampulnya—bukan ciuman sayang, tapi ciuman sumpah.
Lalu ia menyimpan buku itu kembali ke laci paling bawah, di balik tumpukan surat-surat lama dari ayahnya.
Ia berdiri, berjalan ke jendela. Membuka tirai lebar-lebar.
Bulan purnama bersinar terang, seolah ikut menyaksikan kelahiran kembali seorang ratu.
Alana menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. Rambutnya acak-acakan. Riasannya luntur terkena air mata yang akhirnya jatuh juga—tapi hanya dua tetes. Matanya sembab, tapi di dalamnya ada api yang tidak pernah ada sebelumnya.
"Hai, ratu baru," bisiknya pada bayangan sendiri. "Selamat datang di dunia nyata. Di sini, cinta adalah kelemahan. Dan kepercayaan adalah senjata makan tuan."
Ia menyentuh kaca, menelusuri garis wajahnya sendiri.
"Ayah bilang, mawar selalu berduri. Tapi selama ini aku memotong duriku sendiri biar orang lain nyaman memetikku. Mulai besok..."
Ia tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
"Mulai besok, duriku akan tumbuh lebih tajam dari sebelumnya. Dan siapa pun yang mencoba memetikku akan berdarah."
Dari jauh, terdengar suara jam dinding berbunyi. Pukul dua pagi.
Alana melepas gaun pestanya perlahan. Ia melipatnya rapi, menyimpannya di lemari paling ujung—lemari yang berisi kenangan masa kecil, gaun-gaun pemberian ayah, foto-foto lama.
Ia mengganti piyama. Bukan piyama sutra mahal, tapi piyama katun lusuh yang dulu ia pakai saat SMA. Yang membuatnya ingat siapa dirinya sebelum semua kekacauan ini.
Ia merebahkan diri di tempat tidur. Menatap langit-langit.
Dari kamar sebelah, sekarang sunyi. Mereka mungkin tertidur dengan puas, dengan senyum kemenangan di wajah.
Alana memejamkan mata.
Tidurlah, Richard. Tidurlah, Viola. Nikmati malam-malam terakhir kalian dalam ketenangan.
Karena besok, saat kalian bangun...
Aku sudah mulai menulis babak pertama dari akhir kisah kalian.
Di luar, angin malam berdesir pelan. Membawa aroma mawar dari taman belakang—mawar merah yang ditanam ayahnya puluhan tahun lalu, yang tetap hidup meski tak pernah dirawat.
Mawar yang selalu berduri.
Mawar yang selalu bertahan.
Seperti pemiliknya.
---
[Bersambung ke Bab 7: Pakaian Bekas dan Rencana Besar]
"Dia pikir dia menang malam ini. Dia tidak tahu, aku baru mulai menghitung."
(ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄