"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Happy reading<<<<<<<
<
"Cantik." celetuknya membuat Aryan menatapnya.
"Siapa?" tanya Aryan.
"Ada deh Bos, Gebetan baru. Abis ini Gue mau nembak dia ah. Cinta pandangan pertama gitu Lo. Gue memang Cowok brengsek dan
playboy, tapi pilihan terakhir Gue, bakal Gue cari cewek baik baik kaya dia." ujarnya dan kembali bermain basket sedangkan Aryan tak pusing. Tidak tau saja yang di bicarakan temannya itu adalah gadisnya.
Aryan kembali mencetak poin
"WOW!! AR LO THE BEST.." teriak Viona heboh.
"Ck, heboh banget ya. Ceweknya ketua Blackxabir ya?" tanya seorang gadis.
"Kagak tau." jawab temannya.
"Lo, kok kagak tau sih. Itu kan ketua cowok Lo masa kagak tau
sih." ujar temannya.
"Ya, Gue kagak tau dan nggak mau peduli." jawabnya santai.
Sedangkan Imlie hanya diam mendengarnya. Tidak tau saja Aryan sedang menatapnya intens.
"Ini cewek Gue. Nggak kasih semangat.. Malah bengong doang." batin Aryan kesal sendiri dan menatap Viona yang meneriaki namanya heboh.
"Lucu." batin Aryan terkekeh pelan.
Tak lama dari latihan basketnya selesai dengan cepat para Pria mendekati gadis gadisnya
mereka untuk meminta air minum.
"Thank's baby."
"Makasih Sayang."
Seperti itulah ucapan para Pria yang di berikan air minum oleh cewek mereka. Sedangkan Imlie berniat berdiri bersiap agar Aryan mendekatinya. Tapi, nihil Aryan malah berhenti di depan Viona. Dan dengan celat Viona memberikan air minum untuk Aryan dan mengusap keringat di dahi dan leher Aryan menggunakan handuk kecilnya.
Imlie menatap handuk dan air minum itu kemudian hendak membuangnya. Karena kesal sendiri.
"Eh, cantikkk.... Kenapa mau di buang? Buat Gue aja gimana? Kebetulan Gue kagak punya cewek nih." ujar Pria itu.
"Terserah." jawab Imlie.
"Thanks ya. Eh, btw nama Lo siapa?" tanyanya mengikuti langkah Imlie yang hendak pergi.
"Nggak usah sok asik." jawab Imlie.
"Dih, judes banget sih. Tapi, Gue suka." ujar Pria itu dan menarik tangan Imlie.
"HUUUUU.. GASKAN BROO.. PESONA PLAYBOY MEMANG NGGAK KALENG KALENG. SAT
SET SET LANGSUNG 'SAYANG'." teriak teman temannya sedangkan Aryan yang sedang asyik dengan Viona langsung menatap ke sumber suara.
Tapi, tidak melihat jelas apa yang terjadi karena teman temannya yang merengumuni kejadian di depan sana.
"Ck, jangan buka kartu dong kalian." teriak Pria itu pada teman temannya.
"Jangan dengerin mereka, Gue memang play boy tapi kalau Gue jadian sama Lo. Gue janji bakal insaf." ujarnya.
"Nggak minat." jawab Imlie
singkat dan membuat Pria itu semakin gencar mendekati Imlie yang sangat berbeda dari kebanyakan wanita.
"GUE SUKA SAMA LO... MAU NGGAK LO JADI CEWEK GUE IMLIEE... IYA NAMA LO IMLIE KAN?" teriak Pria itu karena tadi sempat membaca namanya Imlie di papan namanya.
Degh
Sedangkan Aryan yang tadi sempat tidak pusing lagi karena tak tau apa yang terjadi sebenarnya. Langsung saja berjalan ke depan mendengar nama sang kekasih di sebut.
"Iya Gue Imlie, tapi sorry Gue nggak mau terima Lo." jawab Imlie jengah.
"Memangnya kemapa? Apa Lo udah punya cowok?" tanya Pria itu lagi.
"Nggak ada." jawab Imlie santai tidak sadar jika Aryan sedang menatapnya.
"Nggak punya pacar?" batin Aryan.
"Nggak ada, terus alasannya kenapa Lo nolaknya Gue? Tampan udah tajir dari lahir. Soal prestasi ya gitu gitu aja sih. Tapi, insyaallah cocok lah buat cewek cantik dan menurut Gue sempurnah kaya Lo."
ujar Pria itu.
"Nggak ada." jawab Imlie dan berniat pergi tapi lagi lagi di tahan oleh Pria itu. Dan.....
Bugh bugh
"Berani sekalih Lo sentuh gadis Gue, hah?" marah Aryan menatap nyalang temannya itu.
"Hah? Gadis Gue? Bukannya ceweknya Bos buat Viona?" tanya Pria itu setelah meringis.
"Nggak." jawab Aryan singkat.
"Yang benar Bos?" tanyanya lagi menyulut kemarahan Aryan dan kembali melayangkan satu pukulan di wajah temannya itu.
"Tapi kenapa dia bilangnya kagak punya cowok? Dan Viona? Gue kirain Ceweknya Bos." ujarnya berani.
"Sialan.."
"Lo, pergi menjauh dulu kalau nggak mau masuk rumah sakit." ujar Ravel.
"Sudah Bro.." ujar Xavier, Aryan pun menoleh ke arah Imlie yang hanya diam dengan wajah santai.
"Ikut Gue." ujar Aryan menarik tangannya Imlie.
"Ck, buat apa lagi sih." lirih Imlie dan mengikuti langkah kakinya Aryan menuju ruang pribadinya Aryan di sekolah itu.
Brak
"Maksud Lo apa ngaku kalau
belum punya Cowok, hah?" bentak
Aryan.
"Nggak ada." jawab Imlie malas.
"Ooh, jadi sekarang Lo merasa
masih single gitu, sehingga
membiarkan banyak laki laki
brengsek di luar sana buat dekatin
Lo, hah?" bentak Aryan memegang
kedua bahu Imlie kuat membuat
Imlie meringis.
"Jawab b*ngsat." teriak Aryan di
depan wajahnya Imlie.
"Nggak juga." balas Imlie santai
membuat Aryan semakin emosi.
"Lo benar benar ya.. Gue harus
kasih Lo tanda biar Lo nggak
menganggap diri Lo singel lagi,
setelah ini ingat dengan baik." ujar
Aryan dan menangkup wajah Imlie
dan.....
"Eh, K-ak m-au ng-apain?"
tanya Imlie gugup. Tapi Aryan tidak
menggubrisnya.
Grep
"Kak, jangan kaya gini. Aku
mohon... Aku nggak mau Kak."
dengan cepat Imlie langsung
memeluk Aryan takut Aryan
menciumnya.
"Imlie, jangan membantah Gue
harus kasih Lo pelajaran" ujar
Aryan dan berniat melepaskan
dekapan Imlie itu tapi Imlie
memeluknya dengan erat.
"Nggak, Gue nggak mau.
Walaupun hanya ciuman." batin
Imlie.
"Imlie." geram Aryan.
"Maaf Kak, Aku minta maaf.
Jangan ya Kak, Aku mohon."
mohon Imlie yang sudah
mengeluarkan tangisannya. Dan
Aryan jadi luluh.
"Baiklah!! Tapi, ingat.. Jangan
ulangi lagi." ujar Aryan entah
kenapa emosinya suka berkurang
jika di peluk gadisnya.
Imlie hanya mengangguk
dalam pelukan Aryan.
"Shuuut.. Sudah ya.. Sorry Gue
nggak bakal melakukannya tanpa
sepertujuan Lo." bisik Aryan dan
mendekap Imlie menyalurkan
kasih sayangnya. Akhirnya Imlie
tanang.
Imlie selalu merutuki dirinya
karena terlalu lemah jika di
hadapan Aryan. Apa karena Aryan
sudah tau semua masalah dalam
hidupnya? Termasuk perlakukan
keluarganya. Jadi, Imlie merasa
ketergantungan sama Pria ini
walaupun sudah di sakiti berulang
kali..
"Naik." ujar Aryan.
"AR." panggil Viona dan berlari
ke arah Imlie dan Aryan.
"Terus, Gue pulangnya sama
siapa dong Ar?" tanya Viona.
"Hari ini Kamu bareng Mio
dulu ya. Aku mau antar Imlie
pulang." ujar Aryan lembut dan
mengusap kepalanya Viona.
"Jangan lama lama ya Ar.
Soalnya kan Kamu tau Mama sama
Papa Aku masih di luar kota. Aku
takut sendiri di rumah Ar." ujar
Viona.
"Ya, tapi kalau pulang jangan
lupa makan ya. Nanti Aku akan ke
rumah." ujar Aryan tanpa
memikirkan perasaan Imlie.
"Mampus Lo Imlie. Gue lebih
utama dari pada Lo." batin Viona.
Setelah itu Aryan dan Imlie
mulai meninggalkan sekolah
dengan motor besar itu.
"Ck, Imlie.. Peluk Gue." ujar
Aryan.
"Hm." jawab Imlie dan
melingkarkan tangannya memeluk
perutnya Aryan.
"Pintar." gumam Aryan
mengusap tangan gadisnya lembut
kemudian melajukan motornya
dengan cepat.
"Kak, boleh nggak. Kita ke
suatu tempat dulu, kaya danau gitu
kek." ujar Imlie di samping
telingannya Aryan.
"Lain kali aja ya Sayang! Gue
harus cepat ke rumahnya Viona dia
sendiri soalnya Lo ngertiin ya." ujar
Aryan.
"Oke." jawab Imlie singkat dan
Aryan tidak peka jika gadisnya ini
sedang kesal.
Bruum
"Makasih Kak." ujar Imlie
dengan wajah malas.
"Kenapa, hmm? Kenapa di
tekuk gitu wajahnya?" tanya Aryan
setelah melepaskan helm di kepala
gadisnya.
"Ck, pakai nanya lagi." batin
Imlie.
"Nggak cuman karena capek aja
Kak." bohong Imlie.
"Yaudah, masuk gih. Kalau ada
apa apa langsung telefon Gue ya."
ujar Aryan dan Imlie hanya
mengangguk.
Piiiiip
Suara klakson mobil langsung
menganggetkan Imlie yang sudah
melewati gerbang dia berbalik dan
melihat mobil Kakaknya. Alvian
dan Lolita nampak tertawa
bersama sama. Imlie dapat melihat
itu dari luar.
"Semoga kalian selalu bahagia
kaya gini." batin Imlie kemudian
melanjutkan langkahnya.
"Assalamualaikum." salam
Imlie setelah masuk ke dalam
rumah.
"Waalaikumsalam." kedua Pria
paru baya itu hanya menjawabnya
dalam hati. Imlie hanya menatap
senduh Mamanya yang sedang
memijit bahu Papanya yang sedang
mengetik di laptop.
"ASSALAMUALAIKUM WR.
WB. MAMA CANTIK DAN PAPA
TAMPAN." teriak Lolita heboh dan
seketika Imlie melihat raut wajah
ceria itu di wajah kedua orang
tuanya.
"Dek, pelan pelan dong
teriaknya." Peringat Alvian.
"Heheh iya. Maaf Kak." cengir
Lolita sok Imut. Imlie masih
terdiam melihat keluarga cemara
itu.
"Yasudah, gih ganti baju
Sayang.. Mama udah buatin
makanan kesukaan Kamu loh." ujar Melani mengecup kedua pipi
putrinya.
"Aaaaa makin Sayang deh sama
Mama.. Cup cup." dengan cepat
Lolita langsung mencium pipi
Mamanya dan memeluk sang
Mama.
"Loh, Papa nggak di cium nih?
Cuman Mama doang? Padahal tadi
Papa bantuin juga loh." ujar Pak
Mahen berpura pura cemberut.
"Iih, Papa kaya anaka kecil deh.
Sini.. Cup cup cup." Lolita langsung
mengecup pipi Papanya.
Imlie hanya menunduk dengan
senyuman getir kemudian
mengangkat kepalanya dan
matanya bertemu dengan
tatapannya Alvian yang sejak tadi
memperhatikannya.
Senyuman itu senyuman getir
tapi tersimpan senyuman tulus
karena melihat keluarganya
bahagia.
Dengan perlahan Imlie mundur
dan naik melewati tangga menuju
kamarnya. Alvian masih saja
menatap punggung rapuh itu.
"Imlie, ini definisi melihat
orang yang kita sayang bahagia.
Kita harus juga ikut bahagia
walaupun bukan kita alasannya
kebahagiaan itu." batin Imlie
kemudian masuk dan kembali
mengulangi pelajaran di sekolah
tadi.
Ya, Imlie adalah gadis
berprestasi di sekolah, tapi orang
tuanya saja yang tidak tau karena
mereka tidak peduli dengan Imlie.
Padahal Imlie berada di kelas IPA1
yaitu kelas unggulan dan setiap
tahun terus mendapatkan juara 1 di
kelas maupun umum.
Sedangkan Aryan awalnya dia
sekelas dengan Imlie, tapi karena
Viona yang hanya mampu berada di
kelas IPA 2. Maka, Aryan mengikuti
Viona karena untuk menjaga gadis
itu. Romantis bukan.....
Malam pun tiba Imlie menelfon
Aryan tapi tidak diangkat.
Ting
Kak Aryan<<<<<<<<
Picture
Imlie langsung membuka foto
itu dan itu adalah foto Aryan yang
tidur dengan kepala di
pangkuannya Viona.
"Ck, pasti ini Viona yang kirim,
sengaja banget buat mana manasin
Gue." kesal Imlie dan menyimpan
pesan itu. Kemudian menaruh
hpnya sembarangan.
"Aryan Cowok Gue apa si Viona
sih." batin Imlie frustasi.