Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Bukan sekadar bersatu, Lan," bisikku pelan, merasakan detak jantungnya yang kini selaras dengan napasku. "Tapi kita tumbuh lebih kuat dari luka-luka itu."
Arlan mencium puncak kepalaku lama, seolah sedang menyerap seluruh beban yang selama ini kupikul sendirian. "Aku janji, Ran. Kali ini, tidak akan ada lagi rahasia. Tidak akan ada lagi celah untuk siapa pun masuk di antara kita. Aku akan membayar tiga tahun yang hilang itu dengan sisa hidupku."
Enam Bulan Kemudian.
Suasana kantor pusat pagi ini tampak berbeda. Tidak ada lagi suasana mencekam atau tatapan takut dari para staf saat aku melangkah melewati koridor. Aku masih Rania yang tegas, tapi binar di mataku telah kembali. Lipstik merah marun yang dulu menjadi senjataku untuk terlihat galak, kini kuganti dengan warna peach yang lebih lembut.
"Selamat pagi, Bu Rania," sapa sekertarisku dengan senyum tulus.
"Pagi, Maya. Tolong siapkan berkas proyek Jogja, ya. Hari ini penandatanganan kontrak terakhir," jawabku ramah.
Aku masuk ke ruanganku. Di atas meja, tidak ada lagi mawar putih dari Rendra. Sebagai gantinya, ada sebuah botol minum kecil berisi jus jeruk segar dan secarik kertas kecil: “Jangan lupa sarapan, Sayang. Sampai bertemu di ruang rapat. - Direktur Operasionalmu.”
Aku tersenyum. Ya, Arlan tidak lagi menjadi bawahanku. Setelah pulih sepenuhnya dan memberikan kesaksian yang meruntuhkan dinasti Harva, Ayah justru melihat potensi besar dalam dirinya. Arlan kini memimpin divisi baru, membuktikan bahwa ia bukan pria "miskin" atau "lemah" seperti yang Harva tuduhkan. Ia adalah pria yang berintegritas.
Tepat pukul sepuluh, pintu ruang rapat terbuka. Arlan masuk dengan kemeja biru navy—warna yang sama saat pertemuan pertama kami yang menyakitkan dulu. Namun kali ini, tidak ada rasa mual. Yang ada hanyalah rasa bangga.
Rapat berjalan lancar. Siska telah divonis penjara atas kesaksian palsu dan pemerasan, sementara Harva harus mendekam di balik jeruji besi dengan seluruh asetnya yang disita negara. Keadilan benar-benar telah ditegakkan.
Setelah ruang rapat kosong, Arlan menghampiriku. Ia tidak lagi menjaga jarak. Ia menarik kursinya mendekat, lalu menggenggam tanganku di atas meja rapat yang dulu menjadi saksi kedinginanku.
"Ingat janji kita dulu pas SMA, Ran? Tentang melihat matahari terbit di Borobudur sebagai pasangan yang sukses?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Aku ingat, Lan. Sangat ingat."
"Tiketnya sudah siap untuk akhir pekan ini. Kita kembali ke Jogja, tapi kali ini bukan untuk mencari luka. Kita kembali untuk berdamai dengan kota itu," Arlan mengecup jemariku.
Aku mengangguk pasti. Tiga tahun lalu, aku lari dari Jogja dengan hati yang hancur. Sekarang, aku akan kembali ke sana untuk menjemput kebahagiaan yang sempat tertunda.
Takdir mungkin pernah memisahkan kami dengan cara yang paling kejam, memaksa kami menjadi asing di bawah atap perusahaan yang sama. Namun, pada akhirnya, cinta yang jujur akan selalu menemukan jalan pulang, tidak peduli seberapa tinggi tembok es yang dibangun untuk menghalanginya.
Kami bukan lagi dua orang yang hanya "Kembali Bertemu", tapi kami adalah dua jiwa yang telah "Benar-benar Bersatu"
Perjalanan dari Jakarta menuju Jogja kali ini terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi air mata yang membasahi jendela kereta, tidak ada lagi sesak yang menghimpit dada. Di sampingku, Arlan menggenggam tanganku sepanjang jalan, seolah memastikan bahwa aku benar-benar di sana, bersamanya.
Begitu kaki kami berpijak di Stasiun Tugu, aroma khas Jogja—perpaduan antara bakpia, melati, dan sisa hujan—menyambut kami. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, jantungku tidak berdegup karena ketakutan.
"Kita sampai, Ran," bisik Arlan lembut.
Kami tidak langsung menuju hotel. Arlan membawaku menyusuri Malioboro di malam hari. Kami berjalan kaki, membaur di antara kerumunan orang dan alunan musik pengamen jalanan yang membawakan lagu-lagu romantis.
"Ingat tempat ini?" Arlan menunjuk sebuah kedai gudeg lesehan di pinggir jalan yang dulu sering kami datangi saat masih kuliah.
Aku mengangguk, tersenyum lebar. Kami duduk bersila di atas tikar, memesan dua porsi gudeg lengkap dengan krecek pedasnya. Saat suapan pertama masuk ke mulutku, rasa itu seolah menarikku kembali ke masa lalu—tapi kali ini tanpa rasa sakit.
"Rasanya masih sama," ucapku tulus.
"Karena cintaku juga masih sama, Ran. Bahkan lebih besar," balas Arlan sambil mengusap sudut bibirku yang terkena bumbu.
Besok paginya, sebelum fajar menyingsing, kami sudah berada di pelataran Candi Borobudur. Kabut tipis menyelimuti stupa-stupa megah, menciptakan suasana magis yang menenangkan. Kami berdiri berdampingan, menatap ufuk timur menunggu sang surya muncul.
Saat semburat jingga mulai memecah kegelapan, Arlan berlutut di depanku. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari sakunya.
"Ran, tiga tahun lalu Jogja menjadi saksi kehancuran kita. Hari ini, di depan kemegahan Borobudur, aku ingin Jogja menjadi saksi awal kehidupan baru kita," ucapnya dengan suara bergetar. "Rania, maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu bersamaku? Menjadi satu-satunya wanita yang aku cintai sampai napas terakhirku?"
Air mataku jatuh, tapi kali ini adalah air mata kebahagiaan yang murni. Aku mengangguk pasti, membiarkan Arlan menyematkan cincin emas putih itu di jariku.
"Ya, Arlan. Aku mau," bisikku parau.
Kami berpelukan erat di bawah cahaya matahari terbit yang mulai menghangatkan bumi. Di tempat yang dulu menjadi janji kosong saat SMA, kini janji itu menjadi nyata.
Kami melangkah turun dari candi dengan tangan bertautan. Jogja bukan lagi kota penuh luka. Bagiku, Jogja telah menjadi kota kemenangan—tempat di mana aku kehilangan segalanya, namun akhirnya menemukan kembali duniaku yang sempat hilang.
Tembok es itu telah mencair sepenuhnya, digantikan oleh kehangatan cinta yang kini abadi.