NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Lia mencoba mendorong dada Regas, berusaha menciptakan jarak di antara mereka. Ketakutan dan rasa bersalah kembali menyeruak, mengingatkan bahwa mereka sedang berada di zona yang sangat berbahaya. Namun, bukannya melepaskan, Regas justru melingkarkan lengannya lebih erat di pinggang Lia, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu.

"Tolong, sebentar saja, Lia," bisik Regas dengan suara yang nyaris menghilang. "Lima tahun aku memeluk bayanganmu setiap malam. Izinkan aku merasakan kalau kamu benar-benar nyata di sini."

Lia mematung, tangannya yang tadi hendak memberontak kini terkulai lemas di samping tubuhnya. Ia bisa merasakan napas hangat Regas dan getaran di tubuh pria itu yang seolah sedang menyalurkan seluruh kerinduan dan penderitaan yang selama ini dipendam sendirian.

Tepat saat keheningan yang menyesakkan itu menyelimuti mereka, sebuah suara keras menghantam pintu.

Tok! Tok! Tok!

Gedoran itu tidak sabar dan penuh tuntutan. Lia tersentak hebat, matanya membelalak panik. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Regas, kali ini dengan paksa.

"Regas, ada orang di depan!" bisik Lia dengan nada gemetar. Pikirannya langsung melayang pada Elena atau mungkin pengawas apartemen. Jika ada yang melihat seorang guru sastra berada di dalam unit pribadi seorang wali murid yang sudah beristri di jam seperti ini, tamatlah riwayatnya.

Regas menegang. Ia memasang badan di depan Lia, memberi isyarat agar Lia masuk ke arah dapur yang agak tertutup. "Tetap di sana, jangan bersuara," perintahnya dengan nada rendah yang kembali otoriter.

Regas berjalan menuju pintu dengan raut wajah dingin yang biasa ia tunjukkan di ruang rapat direksi. Ia mengintip melalui lubang intip pintu, dan seketika bahunya merosot. Bukan Elena yang berdiri di sana, melainkan Abimana.

Regas membuka pintu hanya sedikit, menghalangi pandangan Abimana ke dalam ruangan. "Bi? Ada apa malam-malam begini?"

Abimana tampak terengah-engah, wajahnya pucat pasi di bawah lampu koridor yang remang. "Gas, Elena... dia tahu kamu menyewa unit di sini. Dia baru saja menghubungi ibumu dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju gedung ini bersama tim pengacara keluarga."

Lia yang mendengarkan dari balik dinding dapur merasa lututnya lemas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja.

"Mereka ingin melakukan penggerebekan, Gas. Mereka ingin bukti kalau kamu berselingkuh untuk mempermalukan azzalia dan itu sangat menguntungkan bagi mereka—dan yang paling penting, mereka ingin menghancurkan karier Azzalia malam ini juga," lanjut Abimana dengan suara mendesak. "Kamu harus membawa Lia keluar dari sini sekarang lewat pintu darurat!"

Regas menoleh ke arah dapur, menatap Lia yang kini sedang menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tangis. Perangkap yang dipasang ibunya lima tahun lalu ternyata belum selesai; mereka sedang bersiap untuk mencekik Lia sekali lagi.

Ikut aku, Lia. Jangan lepaskan tanganku," bisik Regas dengan otoritas yang tak terbantah. Ia menyambar kunci mobil dan sebuah jaket hitam untuk menutupi kepala Lia agar wajahnya tidak tertangkap kamera pengawas lorong.

Regas menarik Lia menuju pintu penghubung di balkon yang jarang digunakan, menembus area tangga darurat yang sunyi dan dingin. Sementara itu, Abimana segera melepas jasnya, melonggarkan kancing kemeja, dan mengacak-acak rambutnya sendiri agar terlihat seperti penghuni yang baru saja terbangun dari tidur.

"Bi, aku titip sisanya padamu," ujar Regas sebelum menghilang di balik pintu besi tangga darurat.

Abimana mengangguk mantap. Ia segera menutup pintu unit 402 dan bersandar di sana, menunggu "badai" yang akan segera datang. Benar saja, hanya dalam hitungan menit, pintu lift terbuka dengan denting yang keras. Elena melangkah keluar dengan wajah penuh amarah, didampingi oleh Nyonya Adhitama yang tampak sangat berkuasa, serta dua orang pria berpakaian necis yang membawa tas dokumen.

"Buka pintunya, Regas! Aku tahu kamu di dalam bersama wanita murahan itu!" teriak Elena sambil menggedor pintu tanpa henti.

Pintu terbuka perlahan. Abimana berdiri di sana dengan wajah mengantuk yang dibuat-buat. "Nyonya Elena? Nyonya Besar? Ada apa malam-malam begini?"

Elena tertegun, matanya menyapu seluruh ruangan yang tampak sepi. "Di mana Regas? Di mana Azzalia?!"

"Pak Regas sedang di kantor pusat untuk audit darurat, Nyonya. Unit ini saya yang sewa atas nama pribadi karena apartemen saya sedang dalam renovasi. Silakan periksa dokumen sewanya jika tidak percaya," jawab Abimana dengan nada tenang yang sangat meyakinkan, sambil menyodorkan map yang memang sudah ia siapkan sebelumnya.

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju kencang meninggalkan gedung apartemen, Lia duduk meringkuk di kursi penumpang. Tubuhnya masih bergetar hebat. Ia menatap telapak tangannya yang tadi digenggam erat oleh Regas.

"Kita mau ke mana, Regas? Kamu tidak bisa lari selamanya. Elena sedang hamil, dia istrimu di mata hukum," bisik Lia dengan suara yang nyaris hilang.

Regas mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke jalanan Jakarta yang mulai sepi. "Aku tidak sedang lari, Lia. Aku sedang membawamu ke tempat yang aman sebelum aku menyelesaikan semua ini. Aku sudah cukup sekali membiarkan mereka menghancurkanmu. Tidak untuk yang kedua kalinya."

Regas membelokkan mobilnya menuju sebuah rumah tua di pinggiran kota, rumah yang sangat sederhana dan jauh dari kemewahan Adhitama. Rumah yang dulu pernah mereka impikan untuk dibeli bersama saat masih kuliah.

"Turunlah. Ini satu-satunya tempat yang tidak mereka ketahui keberadaannya," ujar Regas sambil mematikan mesin mobil.

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!