"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Blood and Tears
Bau asap mesiu dan bau logam dari darah segar memenuhi lorong sempit Sektor 4 yang mulai runtuh. Alarm peringatan meraung-raung, cahayanya yang merah berputar-putar menciptakan bayangan monster di dinding beton. Di tengah kekacauan itu, Jungkook berdiri seperti karang yang dihantam ombak, mendekap tubuh Shine yang masih setengah sadar dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam pistol Glock yang sudah panas.
"Jungkook... lari..." bisik Shine, suaranya nyaris tenggelam oleh suara reruntuhan di atas kepala mereka.
"Diamlah, Shine. Aku tidak akan membiarkan seujung kuku pun dari mereka menyentuhmu lagi," geram Jungkook.
Namun, di ujung lorong yang gelap, sisa-sisa tentara bayaran Hansung Group muncul. Mereka adalah unit eliminasi terakhir—orang-orang yang tidak peduli pada nyawa mereka sendiri, hanya peduli pada perintah untuk memusnahkan bukti. Salah satu dari mereka, yang bersembunyi di balik pilar baja, membidikkan senapan laras panjangnya tepat ke arah dada Shine.
Insting Jungkook berteriak. Ia tidak punya waktu untuk membidik. Dalam sepersekian detik yang menentukan hidup dan mati, Jungkook memutar tubuhnya, memposisikan dirinya sebagai tameng absolut.
DOR!
Suara tembakan itu menggema, lebih nyaring dari ledakan sebelumnya.
Jungkook tersentak. Tubuhnya terdorong ke depan. Peluru kaliber tinggi itu menembus bahu kanannya, merobek rompi taktis dan dagingnya hingga darah segar menyembur, membasahi wajah Shine yang berada dalam pelukannya.
"JUNGKOOK!" Shine berteriak. Ia merasakan panasnya darah Jungkook yang membasahi kulitnya.
Jungkook berlutut, napasnya tersengal, namun tangannya masih mencengkeram bahu Shine dengan posesif. Ia meringis, mencoba menahan rasa sakit yang membakar seluruh saraf di lengan kanannya. Senjatanya terjatuh, berdenting di lantai semen yang dingin.
"Aku... tidak apa-apa..." ucap Jungkook, suaranya parau dan bergetar. "Hanya... sedikit goresan."
Tentara bayaran itu keluar dari bayang-bayang, langkah kaki mereka yang berat mendekat dengan ritme yang mematikan. Mereka melihat Jungkook yang sudah tidak berdaya, dan Shine yang gemetar ketakutan.
"Target masih bernapas. Eksekusi sekarang," ucap salah satu pria berbaju hitam itu melalui interkom.
Melihat moncong senjata kembali diarahkan pada pria yang baru saja menaruh nyawa demi dirinya, sesuatu di dalam diri Shine meledak. Selama ini, ia adalah burung dalam sangkar yang hanya bisa melihat dan meramal. Ia adalah Oracle yang pasif, yang jiwanya selalu butuh diselamatkan.
Namun, melihat darah Jungkook yang terus mengalir, kesedihan Shine berubah menjadi murka yang murni. Ketakutannya menguap, digantikan oleh energi dingin yang membekukan udara di sekitarnya.
"Jangan... berani... menyentuhnya!"
Shine berdiri perlahan. Rambutnya yang berantakan tertiup oleh angin energi yang tiba-tiba muncul dari ruang hampa. Matanya, yang biasanya biru lembut, kini memancarkan cahaya putih yang membutakan—tanda bahwa ia sedang memanggil seluruh sisa kekuatannya, melampaui batas yang bisa ditanggung tubuh manusianya.
Jungkook menatapnya dengan ngeri. "Shine, jangan! Mantranya akan membunuhmu!"
Shine tidak mendengar. Ia mengulurkan kedua tangannya ke arah para pengepung itu. Bibirnya bergerak cepat, merapalkan mantra kuno yang hanya dicatat dalam kitab-kitab terlarang keluarga Kim—mantra yang tidak hanya melihat masa depan, tapi memanipulasi frekuensi atom di sekitarnya.
"Vox Aeterna: Fragmina!"
Sebuah gelombang sonik yang tak kasat mata namun menghancurkan keluar dari tubuh Shine. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan gema dari dimensi lain yang memekakkan telinga.
BOOM!
Lampu-lampu neon di lorong itu meledak serentak. Kaca-kaca laboratorium hancur menjadi debu. Para tentara bayaran itu terlempar ke dinding seperti boneka kain, organ dalam mereka bergetar hebat hingga mereka pingsan seketika dengan darah keluar dari telinga. Kekuatan mantra itu begitu besar hingga langit-langit beton retak dan debu jatuh menutupi segalanya.
Setelah gelombang itu mereda, Shine terhuyung. Cahaya di matanya padam, dan ia ambruk ke depan.
Jungkook, dengan sisa kekuatannya, menangkap tubuh Shine. Ia tidak memedulikan bahunya yang hancur. Ia hanya memedulikan napas Shine yang semakin pendek.
"Shine! Bangun! Jangan tinggalkan aku!" Jungkook berteriak, air mata kini bercampur dengan darah di wajahnya.
Tepat saat itu, RM dan tim medis Suga menerobos masuk ke lorong yang hancur. Mereka tertegun melihat pemandangan di depan mereka—puluhan tentara elit yang tumbang tanpa luka tembak, dan Jungkook yang mendekap Shine di tengah reruntuhan.
"Suga! Cepat!" raung RM.
Suga segera berlutut di samping mereka. Ia melihat luka tembak Jungkook yang parah, namun perhatiannya langsung tertuju pada Shine yang suhu tubuhnya menurun drastis.
"Dia melakukan Overload," ucap Suga dengan wajah pucat. "Jungkook, kau harus melepaskannya agar kami bisa membawanya ke tandu!"
"TIDAK!" Jungkook mengeratkan pelukannya, matanya liar seperti binatang yang terluka. "Aku yang akan membawanya! Siapkan oksigen di mobil!"
Jungkook berdiri, meski kakinya gemetar dan bahu kanannya lunglai tak berguna. Ia menggendong Shine dengan satu tangan yang masih berfungsi dan bantuan bahu kirinya, berjalan melewati RM dan Jin yang hanya bisa diam terpaku melihat ketangguhan yang tidak masuk akal itu.
Perjalanan kembali ke Seoul terasa seperti selamanya. Di dalam ambulans yang melaju kencang, Suga sedang sibuk memasang berbagai kabel monitor pada tubuh Shine. Sementara itu, seorang perawat mencoba mengobati bahu Jungkook.
"Tuan, saya harus mencabut sisa peluru ini sekarang," ucap perawat itu gemetar.
"Lakukan saja tanpa bius," sahut Jungkook datar. Matanya tidak pernah lepas dari wajah Shine yang memakai masker oksigen. "Jangan buang waktu untukku. Fokus pada dia."
Jin duduk di sudut ambulans, menatap adiknya dan koki pribadinya itu. Untuk pertama kalinya, Jin menyadari bahwa cintanya sebagai kakak tidak akan pernah bisa menandingi ikatan berdarah yang baru saja tercipta di laboratorium itu. Jungkook telah memberikan darahnya, dan Shine telah memberikan jiwanya demi melindungi satu sama lain.
Saat perawat mencabut serpihan peluru dari bahu Jungkook dengan tang, Jungkook hanya mendesis pelan, tangannya yang kiri tetap menggenggam tangan Shine dengan erat. Tidak ada air mata kesakitan, hanya tatapan penuh puja pada gadis yang sedang berjuang di antara hidup dan mati.
"Kau benar-benar gila, Jeon Jungkook," bisik Jin lirih.
Jungkook menoleh sedikit, wajahnya pucat pasi karena kehilangan banyak darah, namun senyum miringnya kembali muncul. "Aku sudah bilang, Tuan Kim... dia adalah jantungku. Dan siapa pun yang mencoba menghentikan detaknya, harus melewati mayatku dulu."
Malam itu, di bawah raungan sirine ambulans, sebuah janji baru terukir. Bukan janji antara majikan dan pelayan, melainkan janji antara dua jiwa yang telah saling menandai dengan darah dan air mata. Bahwa di dunia yang penuh dengan konspirasi dan keserakahan ini, mereka adalah satu-satunya kebenaran yang tersisa.
Shine masih belum sadar, namun di dalam tidurnya yang gelap, ia merasakan hangatnya tangan Jungkook. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menjadi Oracle, ia tidak lagi melihat masa depan yang mengerikan. Ia hanya melihat warna hitam yang tenang, karena ia tahu, saat ia membuka mata nanti, pria dengan aroma kayu cendana itu akan tetap ada di sana, menjaganya.
...****************...