ON GOING | UPDATE SETIAP HARI
Hari dimana seharusnya Ayra Rayana bertemu klien pertamanya justru membuat dia terjatuh ke dalam kehidupan klien pertamanya itu. Regana Satya terpaksa menarik Ayra dalam kehidupannya tanpa rencana dan terjadi secara tiba-tiba.
"Bagaimana Pak Rega? Proposal ini apakah sudah sesuai?"
"Sepertinya kamu harus mengganti semuanya" Ucap Rega
"ganti jadi proposal pernikahan sepertinya cocok" Lanjut Rega
"cancel aja pak makasih!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azrinamanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Keluarga
Seharian sudah ayra lalui dan gak semua berjalan dengan lancar. moodnya agak sedikit buruk karna kejadian tadi di kantor rega yang membuatnya malu
pukul 4 sore ayra sudah sampai di rumah, ayra hanya merebahkan diri di kasurnya sambil menatap langit-langit kamar. yang dia rasakan sepi dan sangat sunyi tapi memang itu kesehariannya
tidak lama ada suara bell rumahnya, baru saja dia rebahan namun harus menemui orang yang sedang membunyikan bellnya
"siapa ya?" tanya ayra, di depannya ada 2 orang perempuan yang sedang membawa baju yang di lapisi plastik di bagian luarnya dan koper silver bersama tas kecil nya
"saya ditugaskan pak rega untuk merias anda"
dengan gelagapan ayra mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumahnya
"saya siapkan minum sebentar ya" ucap ayra
"jangan bu terimakasih suguhannya, pak rega menyiapkan kami food truck di depan. katanya biar bu ayra ga repot" tutur perias itu
yang mendengarnya hanya menganga, menurutnya ini berlebihan! tapi bagimana? dia konglomerat ya jadi wajar menghamburkan uangnya untuk hal seperti ini. dia langsung menghubungi rega untuk memastikan dan pastinya memarahinya karna berlebihan
"pak rega yang bener aja!! jangan boros!" omel ayra namun rega hanya terkekeh
"udah nurut aja! inget ya jam setengah 7 saya jemput!" jawab rega memutuskan teleponnya sepihak
akhirnya ayra menyerah dan menuruti permintaan rega karna memang benar dia yang paling diuntungkan. setelah beberapa saat ayra sudah selesai dengan riasannya, terlihat simple tapi tetap elegan
"sudah selesai bu, saya izin pamit ya bu"
"terima kasih ya hati-hati"
tepat pukul 19.30 mobil rega sudah di depan rumah ayra. dengan balutan dress hitam lengan panjang berwana putih dan renda putih di bagian bawahnya, masih terlihat tertutup walaupun bagian lengan panjangnya transparan.
rega yang melihat ayra keluar dari rumahnya hanya menatapnya dengan muka datar namun dia cukup terpesona dengan kecantikan ayra karna biasanya dia hanya memakai riasan sederhana.
"ko bengong? ayo takut macet di jalan!" ucap ayra masih dengan nada yang agak keras. rega yang sadar langsung memasuki mobilnya dan menancapkan gasnya menuju rumah utama
di dalam sana hanya ada keheningan dari keduanya, hingga akhirnya ayra menyalakan radio agar tidak terlalu canggung. tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka hingga akhirnya sampai di tempat tujuan.
ayra di buat terkagum karna melihat bangunan classic modern. rega mengulurkan tangannya untuk menggandeng ayra masuk ke dalam rumahnya dan tak lupa memberikan ayra paperbag untuk di berikan ke eyangnya
di depan pintu sudah ada beberapa orang dengan memakai pakaian seragam menunduk hormat dengan rega
"masih ingat kan apa aja isi dokumen itu? oh iya jangan lepas dari pandangan saya!" tanya rega dengan berbisik, ayra menjawabnya dengan anggukannya lalu kembali berjalan ke dalam
"eyang selamat ulang tahun ya" ucap rega sambil memeluknya
"ini siapa?" tanya eyangnya
"calon istri rega eyang, kenalin namanya ayra rayana" ucap rega memperkenalkan ayra, ayra langsung maju memberikan paper bag
"selamat ulang tahun eyang, senang bertemu eyang" ucap ayra dengan senyum manisnya
"oh ya eyang ti sama mama mana?" tanya rega
"ada di taman belakang, bawa ayra ya kenalin ke keluarga besar" tutur eyang lalu di jawab anggukan dan senyuman oleh rega
"kalo mama nanya yang aneh-aneh senyum aja biar aku yang jawab"
"aku?" ucap ayra membeo
"lupa yaa kita harus ganti panggilan dari saya jadi aku!"
kali ini ayra kembali tersenyum sambil menundukan kepalanya karna tersipu malu
'jangan baper ayra! inget ini perjalanan bisnis aja ga lebih!' ayra membatin
sampai di taman belakang, rega membelalakan matanya karna melihat ada audry. dia yakin sekali pasti audry akan merusak segalanya. Rega langsung merangkul pinggang ayra agar lebih mendekat, ayra yang reflek mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum canggung.
"ada saingan kamu, jd kamu harus ikut aku jangan lepas dari pandangan aku!" ucap rega
audry yang sadar dengan keberadaan rega lalu dia menghampirinya sambil bergelayut manja
"aku kira kamu ga dateng, soalnya ga jemput aku" ucap audry masih bergelayut manja
'dih lu siapa ngomong bgtu?' batin ayra jengah melihat kelakuan audry
rega yang sadar ayra ga nyaman dengan keberadaan audry, dia langsung menghempaskan tangan audry dan sedikit mendorong audry hingga sedikit menjauh dan membuat audry kesal dan malu.
"jaga jarak kamu, saya dan kamu hanya sebatas teman gak akan pernah lebih! hargai calon istri saya! permisi!" ucap rega, ayra tersenyum merasa menang dari cewek yang bernama audry
"ma kenali-" ucapan rega terpotong karna mamanya menyambar omongannya lalu mamanya langsung memeluk ayra
"ya ampun sayang,ayra ya?"
"mama seneng loh ketemu kamu, oh iya kenalin mamanya rega, panggil aja mama diva dan yang ini eyang ti ina" ucap mama diva lalu ayra menyapa eyang ti dan memeluknya
"ma aku anak mama loh! kenapa ayra doang yg di sapa?" protes rega
"anak ini ya kebiasaan! malu tuh sama calon istri! jaga sikap ga!" omel mamanya membuat rega menciut namun ayra justru tertawa melihat rega yang kekanakan di depan mamanya
"maaf ya emang gini rega kekanakan kalo sama mamanya" ucap eyang ti sambil terkekeh
"nanti setelah acara ini kita kumpul dulu ya, ayra harus di kenalin ke keluarga besar kita" ucap eyang ti
"kamu makan dulu ya sama rega, mama sama eyang ti mau nyapa tamu yang lain. gapapa kan ditinggal?" tanya mama diva
"iya tante gapapa" jawab ayra
"eitss ko tante sih? mama dong! kan bentar lagi kamu jg jadi anak mama! yaudah mama tinggal ya!"
sepeninggalan eyang ti dan mama diva. rega dan ayra mulai menelusuri makanan yang ada di sana, tentu saja dengan rega yang masih setia merangkul pinggang ayra seakan tidak boleh terlepas dari dirinya
"pak masih lama acaranya?" tanya ayra yang sudah mulai habis energinya karna tidak terbiasa dengan bertemu orang banyak
"ganti panggilan itu! emg aku bapak kamu?!" jawab rega
"terus apa?" tanya ayra, pertanyaan ayra belum terjawab tapi sudah terpotong karna seorang pria memanggil rega dan menghampiri mereka berdua
"woyy ga!! bawa gandengan nih!" teriak niko sepupu rega
"kenalin ko ini ayra calon istri gua"
"niko, sepupu rega" ucap niko mengulurkan tangannya, saat ingin membalas sapaan tangan dari niko, rega menepis tangan niko dan dengan cepat memegang tangan ayra
"jangan sentuh! nanti kamu gatel" ucap rega ke ayra
"sembarang lu ga! emg gua ulet apa?!"
"udah mas, sepupu kamu loh itu jangan begitu!" dengan spontan ayra memanggil rega dengan sebutan mas, dan itu membuat niko terkekeh
"sweet banget lah pasangan baru ini! yaudah deh gua tinggal ya, kalian nikmatin aja bye ra!"
rega langsung melihat ke arah ayra dengan tatapan bingung, namun di hati kecilnya dia merasa senang karna di panggil dengan sebutan itu.
"coba ulangi! tadi manggil apa?!" tanya rega menggodanya
ayra ingin meninggalkannya namun dengan cepat cepat rega menahannya dan tidak sengaja ayra tersandung membuat mereka berada di posisi rega memeluknya dan ayra berada di pelukan rega
"kan aku udah bilang jangan lepas dari pandangan aku" ucap rega masih dengan memeluk ayra
"awhh..." rintih ayra saat merasakan kakinya lumayan sakit karna heelsnya membuat kakinya lecet
mendengar rintihan itu, rega langsung menggendong ayra dan berjalan masuk ke dalam rumah. di sepanjang jalannya mereka berdua menjadi pusat perhatian karna aksi dari rega
"tuh liat ada pahlawan" ucap niko ke gio sambil terkekeh
"itu ayra?" tanya gio di jawab anggukan oleh niko
"oh ternyata dia" gumam gio
disisi lain, ada sepasang mata yang melihatnya dengan tatapan tidak suka
sampai dalam rega mendudukan ayra di sofa lalu meninggalkan ayra untuk mengambil kotak P3K dan sepatu. dengan telaten rega mengobati luka lecet dari
"harusnya ngomong kalo ga nyaman! udah selesai, pakai sepatu ini aja!" ucap rega sambil memakaikan sepatu ke ayra
"sepatu siapa? punya pacar bapak ya?" tanya ayra
"punya kamu! aku udah liat kamu ngerasa ga nyaman tapi ternyata kamu ga ngomong! jadi aku inisiatif beli ini!"
"sayang ko manggilnya bapak?" protes rega dengan nada manja
"mau di tabok tangan kanan atau kiri?" tanya ayra lalu rega terkekeh melihat respon ayra