NovelToon NovelToon
PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / One Night Stand
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.

Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.

Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.

Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINTU YANG MULAI TERBUKA

Dua minggu setelah Rico pertama kali datang ke rumahnya, Anela mulai merasa hidupnya seperti sedang dikejar badai.

Bukan badai besar.

Lebih seperti hujan yang tidak berhenti.

Terus.

Mengganggu.

Tidak memberi ruang bernapas.

Karena Rico tidak pernah benar-benar pergi.

Kadang ia muncul di showroom.

Kadang hanya berdiri di parkiran dengan kopi di tangan.

Pernah juga mengirim makanan siang untuk semua sales dengan pesan singkat:

“Biar Anela gak bilang aku ganggu kerja.”

Yang tentu saja membuat semua rekan kerjanya heboh.

“Gila, Nela. Atlet nasional ngejar kamu,” kata Rika suatu siang.

Anela memutar mata.

“Dia ngejar semua perempuan.”

“Yang ini beda kelihatannya.”

“Kelihatannya saja.”

Tapi yang paling mengganggu bukan itu.

Yang paling mengganggu adalah… Rico tidak pernah memaksa.

Ia tidak menyentuh.

Tidak menahan.

Tidak membuat adegan dramatis.

Ia hanya… selalu ada.

Dan itu entah kenapa jauh lebih sulit untuk diabaikan.

Sampai suatu malam.

Anela baru saja pulang kerja. Badannya lelah, kepalanya penuh.

Ziyo sudah tidur di kamar.

Ia baru saja membuka sepatu ketika bel rumah berbunyi.

Sekali.

Lalu dua kali.

Anela langsung tahu siapa itu bahkan sebelum melihat ke jendela.

Ia membuka pintu dengan wajah sudah panas.

Dan benar saja.

Rico berdiri di sana.

Kaos hitam sederhana, rambut sedikit berantakan seperti baru selesai latihan malam.

Wajahnya terlihat lega melihat pintu terbuka.

“Hi.”

Dan entah kenapa… itu yang membuat Anela meledak.

“Kenapa kamu masih datang ke sini?!” katanya tajam.

Rico sedikit terkejut.

“Aku cuma—”

“Enggak, serius. Kamu pikir ini apa?”

Rico menutup mulutnya, membiarkannya bicara.

Dan emosi Anela yang selama ini ia tahan akhirnya keluar.

“Aku sudah bilang aku gak mau drama! Aku sudah bilang aku gak mau hubungan yang ribet!”

Ia menunjuk ke jalan.

“Kamu atlet terkenal! Hidup kamu penuh kamera, mantan, gosip, semua!”

Rico masih diam.

Itu justru membuat Anela semakin kesal.

“Dan kamu pikir datang terus ke rumahku itu romantis?”

Sunyi sejenak.

Angin malam bergerak pelan di antara mereka.

“Ini bukan film, Rico.”

Suaranya sedikit bergetar sekarang.

“Aku punya anak. Aku punya hidup yang harus aku jaga.”

Rico akhirnya bicara pelan.

“Aku tahu.”

“Kalau tahu kenapa kamu masih ngejar aku seperti ini?!”

Rico menatapnya lama.

Lalu menjawab jujur.

“Karena kamu terus menjauh sebelum memberi aku kesempatan.”

Anela tertawa pahit.

“Kesempatan buat apa? Jadi perempuan berikutnya di daftar kamu?”

Ekspresi Rico berubah sedikit.

“Bukan itu.”

“Media bilang begitu.”

“Media juga bilang banyak hal yang salah.”

Anela menggeleng.

“Masalahnya bukan cuma media.”

Ia menatap Rico langsung di mata.

“Masalahnya… aku terlalu tertarik sama kamu.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan membuat keduanya sama-sama terdiam.

Anela menghela napas berat.

“Itu masalahnya.”

Rico tidak bicara.

Ia menunggu.

“Kalau kamu cuma main-main, aku yang akan hancur,” lanjut Anela lebih pelan.

“Dan aku gak mau anakku melihat aku hancur lagi.”

Sunyi panjang.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Rico, pria itu terlihat benar-benar kehilangan kata.

Lampu jalan menerangi wajahnya yang kini jauh lebih serius.

“Anela…”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Aku bukan datang ke sini buat main.”

“Semua laki-laki bilang begitu.”

“Aku tidak semua laki-laki.”

Anela memandangnya lelah.

“Masalahnya aku gak tahu mana Rico yang asli.”

Sunyi lagi.

Lalu Rico berkata dengan nada yang jauh lebih tenang:

“Yang berdiri di depan rumahmu jam sembilan malam ini.”

Anela menatapnya.

Rico melanjutkan,

“Yang dimarahin kamu tapi tetap datang lagi.”

Ada jeda kecil.

“Yang belum pernah ngejar perempuan sekeras ini sebelumnya.”

Jantung Anela berdetak lebih keras, tapi ia menahannya.

“Aku gak minta kamu percaya aku sekarang.”

Rico mundur satu langkah dari pintu.

Memberi jarak.

“Tapi jangan hukum aku atas sesuatu yang belum aku lakukan.”

Anela tidak langsung menjawab.

Emosinya masih campur aduk.

Marah.

Takut.

Tertarik.

Semua sekaligus.

Rico akhirnya berkata pelan:

“Aku akan berhenti datang kalau kamu benar-benar bilang kamu gak mau lihat aku lagi.”

Sunyi.

Angin malam lewat lagi.

Anela berdiri di pintu rumahnya.

Melihat pria yang membuat hidupnya kacau beberapa minggu terakhir.

Pria yang terlihat seperti masalah.

Tapi juga… seperti sesuatu yang terlalu nyata untuk diabaikan.

Rico menunggu jawabannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

Anela tidak langsung tahu apa yang harus ia katakan.

Karena jauh di dalam dirinya, ada satu pertanyaan yang belum ia berani jawab:

Apakah ia benar-benar ingin Rico pergi?

Anela masih berdiri di ambang pintu.

Rico menunggu.

Tidak mendesak.

Tidak bicara lagi.

Hanya berdiri di bawah lampu jalan dengan ekspresi yang jauh lebih serius daripada biasanya.

Beberapa detik terasa seperti beberapa menit.

Akhirnya Anela menghembuskan napas panjang.

“Kamu itu bikin hidup orang ribet.”

Rico hampir tersenyum sedikit.

“Sering dibilang begitu.”

Anela menatapnya kesal.

“Ini bukan lucu.”

“Aku tahu.”

Sunyi lagi.

Anela akhirnya membuka pintu sedikit lebih lebar.

“Masuk sebentar.”

Rico terlihat sedikit terkejut.

“Serius?”

“Sebentar,” kata Anela tegas. “Dan pelan. Anakku tidur.”

Rico langsung mengangguk.

Ia masuk ke dalam rumah dengan langkah hati-hati.

Begitu pintu tertutup, suasana langsung terasa berbeda.

Rumah itu kecil tapi hangat.

Lampu kuning lembut.

Mainan anak di sudut ruang tamu.

Sofa sederhana dengan selimut kecil.

Rico melihat sekeliling sebentar.

Ekspresinya berubah sedikit.

Lebih lembut.

“Ini rumah kamu?”

Anela menyilangkan tangan.

“Iya.”

“Nyaman.”

“Terima kasih. Sekarang jelasin kenapa kamu gak bisa berhenti muncul di hidupku.”

Rico menatapnya lagi.

Dekat.

Tapi kali ini tanpa sikap santai biasanya.

“Aku sudah bilang.”

“Enggak. Kamu kasih jawaban romantis. Aku mau jawaban jujur.”

Rico berpikir sebentar.

Lalu berkata pelan,

“Karena aku suka kamu.”

Anela mendengus.

“Semua laki-laki suka aku di awal.”

“Aku bukan ngomong soal tertarik.”

“Bedanya?”

Rico menatapnya lama sebelum menjawab.

“Biasanya aku cepat bosan.”

Anela mengangkat alis.

“Wah, pengakuan yang bagus.”

“Tapi sama kamu… aku malah makin penasaran.”

Sunyi lagi.

Anela berjalan ke dapur kecil, mengambil segelas air, lalu kembali.

Ia duduk di kursi seberang sofa.

Menjaga jarak.

“Kamu tahu reputasi kamu gimana kan?”

Rico duduk di sofa perlahan.

“Iya.”

“Dan kamu ngerti kenapa aku susah percaya?”

“Iya.”

Anela menatapnya tajam.

“Jadi kenapa kamu tetap ngejar?”

Rico mengusap tengkuknya sebentar, seperti mencari kata yang tepat.

“Aku gak tahu kenapa kamu beda.”

Anela memutar mata.

“Kedengarannya seperti kalimat playboy.”

“Mungkin.”

Rico sedikit condong ke depan.

“Tapi aku belum pernah datang ke rumah perempuan jam sembilan malam cuma buat dimarahin.”

Anela menahan diri agar tidak tersenyum.

“Pengalaman baru ya?”

“Banget.”

Sunyi sebentar.

Ketegangan di antara mereka tidak hilang.

Justru terasa lebih nyata di ruang kecil itu.

Anela memperhatikan Rico.

Pria itu terlihat besar di sofa kecil rumahnya.

Bahu lebar.

Lengan kuat.

Energi atlet yang selalu terasa terlalu dekat dengan tubuhnya.

Dan sialnya… tubuhnya masih mengingat pria ini.

Ia cepat memalingkan pandangan.

“Kamu bikin aku bingung,” katanya pelan.

Rico menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena aku kesal sama kamu.”

“Masuk akal.”

“Tapi aku juga… gak bisa sepenuhnya mengabaikan kamu.”

Rico tidak menyela.

Anela melanjutkan,

“Dan itu yang bikin aku marah.”

Sunyi.

Rico akhirnya berkata pelan,

“Karena kamu takut.”

Anela langsung menatapnya tajam.

“Aku gak takut.”

“Kamu takut aku cuma sementara.”

Kalimat itu mengenai tepat sasaran.

Anela terdiam.

Rico tidak terlihat menang.

Ia hanya terlihat… memahami.

“Aku gak bisa janji masa depan sekarang,” lanjut Rico.

“Bagus. Karena aku juga gak minta.”

“Tapi aku bisa janji satu hal.”

Anela menunggu.

Rico menatapnya lurus.

“Aku gak ngejar kamu buat main.”

Sunyi panjang.

Dari kamar terdengar suara kecil.

Ziyo berguling di tempat tidur.

Keduanya langsung menoleh ke arah lorong kamar.

Beberapa detik kemudian rumah kembali tenang.

Anela menghela napas pelan.

“Kalau dia bangun, kamu harus pergi.”

“Oke.”

Rico berdiri perlahan.

Sekarang mereka berdiri lebih dekat lagi.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih hangat.

Anela menatapnya.

Masih ragu.

Masih curiga.

Tapi juga… tidak lagi sepenuhnya menutup pintu.

“Rico.”

“Ya?”

“Kalau kamu main-main…”

Rico menunggu.

“Aku benar-benar akan mengusir kamu dari hidupku.”

Rico mengangguk pelan.

“Fair.”

Sunyi lagi.

Lalu Rico tersenyum kecil.

“Berarti aku masih punya kesempatan.”

Anela memutar mata.

“Terlalu percaya diri.”

“Mungkin.”

Ia berjalan ke pintu.

Sebelum keluar, Rico menoleh lagi.

Tatapan mereka bertemu sekali lagi di bawah lampu ruang tamu.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

Ketegangan di antara mereka tidak hanya terasa seperti konflik.

Tapi juga… seperti awal sesuatu yang jauh lebih rumit.

Dan mungkin—

Jauh lebih berbahaya untuk hati mereka berdua.

1
Sartini 02
semangat kak....👍
Nina Sani: makasih kakak say 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!