Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Hari demi hari berlalu begitu saja. Namun bagi Darrel, waktu terasa berjalan sangat lambat, ada kehampaan yang diam-diam mengisi hari-harinya. Anak sekecil itu harus belajar menahan rindu sendirian.
Padahal banyak sekali yang ingin ia ceritakan.
Tentang nilai ulangannya yang tinggi, tentang pelajaran yang ia pahami dengan mudah, dan hal sekecil ini ingin rasanya ia berbagi dengan orang tersayang.
Namun sekarang, semuanya harus ia simpan sendiri. Penjagaan terhadapnya semakin ketat. Bahkan Nathan sampai menyuruh guru-guru di sekolah untuk tidak mengizinkan Darrel mendekati kantin.
Awalnya Darrel sempat memprotes. Namun sayang, protesnya tidak didengar, bahkan tidak ada jawaban ataupun penjelasan. Hanya larangan yang terasa semakin menekan.
Saat ini Darrel duduk diam di dalam kelas. Bel istirahat sudah lama berbunyi. Anak-anak lain berhamburan keluar, tertawa, berlari menuju kantin atau halaman sekolah.
Namun Darrel tetap duduk di bangkunya. Di depannya tergeletak kotak bekal yang disiapkan neneknya pagi tadi, ia hanya menatap kotak itu lama.
Sejak dua hari terakhir, ia bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Bukan karena makanannya tidak enak. Tapi karena entah kenapa… nafsu makannya perlahan menghilang.
Darrel menelan ludah pelan. “Mbak… aku pengin nasi gorengmu,” gumamnya lirih.
Aroma nasi goreng dari kantin seperti masih teringat jelas di kepalanya. Anak itu mengepalkan kedua tangannya.
“Sebenarnya ada apa…?” bisiknya pada dirinya sendiri.
“Antara Mbak sama Daddy… kenapa Daddy begitu membenci Mbak Kantin?”
Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Namun tidak ada satu pun yang bisa menjawabnya.
Sementara itu, di kantin sekolah. Andin berdiri di balik meja dagangannya, sesekali matanya melirik ke arah deretan kelas di seberang halaman.
Berharap melihat satu sosok kecil keluar dari sana.
Darrel.
Namun harapan itu kembali pupus. Sudah dua hari terakhir Andin tidak melihat anak itu muncul di kantin. Biasanya, meskipun hanya sebentar, Darrel selalu menyempatkan diri untuk keluar.
Meskipun tidak berani mendekat, ataupun menyapa seperti biasanya, dan sekarang anak itu seperti benar-benar menghilang.
Andin menghela napas pelan.
“Ya Allah…” bisiknya lirih.
“Apakah Nathan benar-benar menjauhkan anaknya dariku…?”
Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Karena tanpa ia sadari, bukan hanya Darrel yang merindukan pertemuan kecil itu.
Ia juga.
☘️☘️☘️☘️
Hari itu pelajaran berjalan seperti biasa, guru di depan kelas masih menjelaskan materi yang harus mereka catat di buku masing-masing. Anak-anak tampak sibuk menyalin tulisan di papan tulis, beberapa terlihat mulai menguap karena udara siang yang terasa hangat.
Namun berbeda dengan Darrel.
Anak itu sedari tadi hanya menunduk di bangkunya. Pensil yang ia pegang bergerak pelan, tapi tulisan di bukunya mulai tidak beraturan. Kepalanya terasa berat, pandangannya pun sesekali berkunang-kunang.
Sejak dua hari terakhir ia hampir tidak makan dengan benar.
Bekal dari neneknya hanya ia buka lalu kembali ditutup, sementara uang jajan yang biasanya ia gunakan untuk membeli nasi goreng di kantin kini tidak pernah terpakai lagi.
Perutnya terasa kosong, tapi anehnya ia tidak benar-benar merasa lapar. Yang ia rasakan justru lemas yang perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Darrel mencoba mengangkat kepalanya dan melihat ke arah jendela kelas. Dari sana samar-samar terlihat atap kantin sekolah.
Bayangan Andin tiba-tiba muncul di dalam pikirannya.
“Mbak…,” gumamnya lirih tanpa sadar.
Tangan kecil itu kembali menekan kepalanya yang mulai terasa panas.
Guru di depan kelas masih berbicara, tapi suara itu perlahan terdengar semakin jauh di telinganya.
“Darrel, kamu sudah selesai menulis?” tanya guru tiba-tiba.
Anak itu berusaha mengangguk, namun tubuhnya justru terasa semakin berat. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
“Rel?” panggil salah satu temannya yang duduk di sebelahnya.
Namun belum sempat Darrel menjawab, tubuh kecil itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Bruuk!
Kepalanya jatuh ke atas meja dengan cukup keras.
Sekelas langsung gaduh. “Pak! Darrel pingsan!” teriak salah satu murid.
Guru yang tadi mengajar langsung bergegas mendekat. Saat menyentuh kening anak itu, wajahnya langsung berubah panik.
“Panas sekali…”
Beberapa murid langsung disuruh memanggil guru piket dan membawa Darrel ke UKS. Tubuh kecil itu tampak begitu lemah saat diangkat oleh dua orang guru.
Di luar kelas, suasana yang tadinya tenang berubah menjadi sedikit heboh.
Sementara itu di kantin, Andin yang sedang membereskan peralatan masaknya tiba-tiba merasa dadanya berdebar aneh.
Padahal suasana kantin sudah mulai sepi sejak bel masuk berbunyi. Hanya tersisa beberapa piring kotor dan wajan yang belum sempat ia cuci.
Tangannya berhenti sesaat saat dari kejauhan ia melihat beberapa guru berlari tergesa-gesa menuju gedung UKS. Entah kenapa hatinya langsung diliputi rasa tidak tenang.
Seolah ada sesuatu yang sedang terjadi.
“Ya Allah… kenapa perasaanku jadi begini,” gumamnya pelan.
Andin mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia kembali merapikan meja dagangannya yang sudah hampir kosong, namun entah kenapa matanya terus saja melirik ke arah gedung UKS dari kejauhan.
Perasaan tidak enak itu semakin kuat, seakan ada sesuatu yang sedang menimpa seseorang yang ia kenal. Namun Andin mencoba menepis pikiran itu. Mungkin hanya anak yang jatuh saat bermain, atau sekadar sakit biasa.
Tanpa ia sadari…
anak yang selama dua hari ini ia tunggu-tunggu ternyata sedang terbaring lemah di sana, dengan tubuh yang panas tinggi.
Selesai membereskan dagangannya, Andin mencoba menghentikan salah satu anak yang berlarian ke arah UKS.
“He, ada apa?” tanya Andin dengan wajah serius.
“Itu Mbak Kantin… Darrel pingsan!”
Deg!
Hati Andin seperti runtuh seketika mendengar jawaban itu. Tanpa banyak bertanya lagi, ia langsung berlari menuju gedung UKS.
Langkahnya tergesa-gesa, bahkan napasnya mulai terengah. Entah kenapa dadanya terasa sesak, seolah sesuatu yang buruk benar-benar sedang terjadi pada anak itu.
Sesampainya di depan UKS, Andin memperlambat langkahnya. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat beberapa guru berdiri mengelilingi ranjang kecil di dalam ruangan itu.
Tubuh Darrel terbaring lemah dengan wajah pucat dan keringat yang membasahi dahinya.
Andin hanya berdiri di ambang pintu. Tangannya gemetar, tapi ia tidak berani masuk begitu saja.
Namun tiba-tiba…
anak kecil itu bergerak pelan di atas ranjang.
Bibirnya yang kering bergetar, seolah sedang mengigau.
“…Mbak…”
Suara itu lirih.
Sangat lirih.
“…Mbak Kantin… jangan pergi…”
Deg!
Jantung Andin seolah berhenti berdetak.
Dari balik pintu UKS itu, ia mendengar dengan jelas anak yang selama ini ia rindukan… memanggil namanya dengan suara yang lemah.
Air mata Andin langsung jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. "Rel maafin Mbak."
Bersambung.