NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15.GEMA DI BALIK PINTU SAFE ZONE

Pintu logam raksasa itu tertutup dengan denting mekanis yang halus, seketika memutus hawa kematian dan aroma busuk dari lorong Grotto. Begitu segel pintu terkunci, keheningan yang absolut menyelimuti mereka, bukan keheningan yang menakutkan, melainkan ketenangan yang suci.

Di dalam Safe Zone, udara terasa sejuk dan murni, membawa aroma samar kayu cendana dan sisa-sisa sihir kuno yang statis. Berbeda dengan kegelapan di luar, ruangan ini bermandikan cahaya biru lembut yang berasal dari kristal-kristal Mana yang tertanam di langit-langit. Kristal itu berpendar dengan ritme yang teratur, seperti detak jantung sebuah peradaban yang menolak untuk mati.

Alaric berdiri terpaku di ambang pintu. Matanya menyapu seisi ruangan dengan ketakutan yang bercampur kekaguman. Lantainya terbuat dari marmer hitam yang tidak berdebu sedikit pun. Furnitur di sana, mulai dari sofa panjang berbalut kulit Wyvern hingga meja kerja dari kayu Ironoak, tampak baru saja dibersihkan pagi ini. Padahal, secara logika, ruangan ini telah terkunci selama lebih dari seratus tahun.

"Ini... tidak mungkin," bisik Alaric, suaranya parau dan bergetar. "Waktu di sini tidak sekadar berhenti. Ruangan ini berada di luar aliran dimensi yang kita tinggalkan. Ini adalah teknologi tingkat tinggi peninggalan era Player."

Arka tidak menyahut. Ia berjalan santai melewati Alaric yang masih mematung, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa panjang dengan helaan napas yang sangat lega. "Ah, akhirnya... Aku bisa berbaring di tempat yang nyenyak. Grotto benar-benar tempat yang buruk untuk aku."

Jiro, Kael, dan Elara hanya bisa melongo. Mereka menyentuh permukaan meja yang halus, merasa seperti sedang bertamu ke dalam istana dewa. Namun, bagi Arka, tempat ini hanyalah sebuah ruang istirahat lama yang membosankan.

...

Alaric tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia melangkah menuju sebuah rak pajangan di sudut ruangan. Di sana, tertata rapi beberapa benda yang tampak remeh: sebuah belati kecil yang gagangnya sudah terkelupas, botol kaca kosong yang berpendar warna pelangi, dan sepotong kain lap abu-abu yang kusam.

"Jangan sentuh itu, Komandan," suara Arka terdengar dari sofa, matanya terpejam. "Itu hanya sampah yang ditinggalkan pemiliknya karena malas membuangnya sebelum logout... maksudku, sebelum mereka pergi."

Alaric mengabaikan peringatan itu. Ia memusatkan energi sucinya ke ujung jari dan memindai belati karatan tersebut. Detik berikutnya, ia menarik tangannya seolah tersengat aliran listrik ribuan volt. Wajahnya pucat pasi.

"Sampah?!" Alaric menoleh ke arah Arka dengan tatapan yang hampir histeris. "Belati ini... intinya terbuat dari Star-Iron murni! Logam yang hanya bisa ditempa di suhu inti Gunung Ignis, tempat yang sekarang sudah runtuh dan tertutup lava! Dan kain ini... ini bukan kain lap biasa. Ini adalah pintalan serat World Tree yang mampu meredam sihir tingkat tujuh tanpa tergores sedikit pun! Kau menyebut semua pusaka legendaris ini sebagai sampah?"

Arka hanya menggaruk kepalanya, tampak sangat terganggu dengan teriakan Alaric. "Yah, bagi pemiliknya dulu, belati itu cuma alat kupas apel yang sudah tumpul. Tidak perlu dilebih-lebihkan, Komandan. Kau membuatku pusing."

Alaric merasa fondasi dunianya runtuh. Apa yang dianggap Arka sebagai benda remeh adalah harta karun nasional yang bisa memicu perang besar antar kerajaan jika keberadaannya diketahui. Ia mulai menyadari bahwa standar kekuatan Arka tidak berada pada skala yang sama dengan manusia modern.

..

Di sudut lain, terdapat sebuah meja kerja yang dipenuhi dengan gulungan perkamen. Di tengahnya, tergeletak sebuah buku bersampul kulit hitam yang memancarkan aura tekanan mental yang halus. Alaric mendekatinya dengan sangat hati-hati, seolah buku itu bisa meledak kapan saja.

Ia membuka halaman pertama, namun keningnya berkerut. Tulisan di dalamnya bukan aksara manusia modern, bukan pula bahasa kuno ksatria suci. Itu adalah rangkaian simbol geometris, angka-angka biner, dan kode rumit yang sangat asing.

"Aksara Langit?" gumam Alaric. "Catatan rahasia para Player yang dicari-cari oleh para penyihir kerajaan selama berabad-abad..."

"Bukan Aksara Langit," Arka tiba-tiba sudah berdiri di samping Alaric tanpa suara. Gerakannya begitu cepat hingga Alaric tidak sempat bereaksi. Arka menatap buku itu dengan tatapan nostalgia yang sangat dalam.

"Itu cuma catatan harian seorang pria yang frustrasi," lanjut Arka pelan. "Dia mengeluh karena teman setimnya selalu menghabiskan stok ramuan penyembuh tanpa ijin. Di baris ketiga itu, dia menulis: 'Jika si bodoh itu mencuri ramuanku lagi, aku akan menendang pantatnya keluar dari tim, bahkan jika dia adalah tank terbaik di server.'"

Alaric membeku. Tangannya yang memegang buku itu gemetar hebat. "Kau... kau bisa membacanya? Dengan kelancaran seperti itu?"

Arka terdiam sejenak. Ia menyadari lidahnya baru saja terpeleset terlalu jauh. Ia segera menarik wajah seriusnya dan kembali memasang senyum bodoh yang menyebalkan. "Ah, tidak... aku cuma menebak-nebak saja. Gambar simbol di sampingnya kan mirip orang sedang marah, iya kan?"

"Jangan bohong padaku, Arka!" suara Alaric meninggi, bergema di ruang aman tersebut. "Simbol di baris ketiga itu adalah kode enkripsi algoritma sihir tingkat tinggi. Butuh waktu berbulan-bulan bagi tim kriptografi terbaik istana untuk memecahkan satu kalimat. Dan kau membacanya seolah itu hanya surat kabar pagi!"

Arka mundur selangkah, mengangkat tangannya seolah menyerah. "Oke, oke. Mungkin aku punya bakat bahasa yang aneh. Jangan terlalu serius, Komandan."

...

Tiba-tiba, suhu di dalam ruangan terasa sedikit menurun. Udara dari luar yang merembes masuk membawa hawa dingin dari lorong Grotto yang berbahaya. Ketiga murid Arka—Jiro, Kael, dan Elara—mulai menggigil. Zirah standar peringkat B milik mereka tidak dirancang untuk menahan Frost Aura yang dihasilkan oleh kedalaman dungeon peringkat S ini.

Arka mendesah panjang. "Repot sekali."

Ia berjalan menuju sebuah peti besi besar yang tersembunyi di bawah meja kerja. Tanpa kunci, ia hanya menendang engsel peti itu hingga terbuka dengan sekali hentakan. Dari dalamnya, ia membuka inventory seolah olah mengeluarkan benda dari kotak tersebut, benda itu adalah tiga set pelindung ringan berwarna perak kusam yang memancarkan cahaya redup.

"Kemari, kalian bertiga," panggil Arka. "Pakai ini. Baju zirah kalian itu sampah murahan yang bisa pecah kapan saja. Ini cuma barang cadangan yang kutemukan di gudang tua. Pakai saja supaya kalian tidak mati membeku dan merepotkanku nanti."

Alaric memperhatikan dengan saksama saat ketiga remaja itu mengenakan zirah perak tersebut. Begitu logam dingin itu menyentuh kulit mereka, zirah itu mengeluarkan suara klik mekanis yang halus. Logamnya menyusut, menyesuaikan diri secara otomatis dengan bentuk tubuh penggunanya—sebuah teknologi Living Armor yang sudah dianggap punah.

Zirah itu memancarkan pendaran mana yang sangat stabil, menciptakan perisai transparan yang tidak terlihat namun sangat kuat di sekitar penggunanya. Alaric mendekat ke arah Jiro, matanya menyempit untuk membaca ukiran kecil di bagian kerah zirah tersebut.

Detik itu juga, jantung Alaric seolah berhenti berdetak. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Di sana, terukir sebuah gelar dalam bahasa kuno yang hanya ada dalam buku-buku sejarah terlarang di perpustakaan rahasia raja:

[PROPERTY OF: THE VOID KING - ARKAELUS]

...

Alaric mundur tiga langkah, punggungnya menghantam dinding marmer dengan keras. Ia menatap Arka yang sekarang sedang membantu Elara mengencangkan tali zirahnya dengan cara yang sangat santai, seolah ia baru saja memberikan kaus oblong biasa.

"Arkaelus..." bisik Alaric. Suaranya serak, penuh dengan ketakutan yang murni. "Nama itu... itu bukan sekadar nama. Itu adalah identitas asli dari pemimpin faksi Legendary Players. Pria yang dijuluki Void King Sang Raja Kehampaan karena mampu menghapus satu pasukan ksatria hanya dengan satu jentikan jari."

Arka berhenti bergerak. Keheningan yang sangat berat dan menekan kini menyelimuti ruangan tersebut. Ketiga muridnya menatap Arka dengan bingung, namun mereka bisa merasakan perubahan atmosfer yang mendadak menjadi sangat menyesakkan.

"Pintu ini terbuka hanya dengan sentuhanmu," Alaric melanjutkan, suaranya parau. "Kau membaca bahasa mereka seperti bahasa ibumu sendiri. Kau memiliki akses ke semua benda mitos ini. Dan kau... kau memberikan zirah sang raja kepada murid-muridmu seolah itu hanya baju bekas."

Alaric jatuh berlutut di atas lantai marmer. Ia tidak lagi melihat Arka sebagai paman desa yang malas. Ia melihat seorang monster yang telah hidup melintasi zaman. Seorang dewa perang yang bosan dengan dunianya.

"Kau bukan keturunan para Player, kan?" tanya Alaric, matanya bergetar menatap lantai. "Kau adalah dia. Kau adalah sang legenda abadi yang diceritakan dalam dongeng... pria yang kekuatannya berada di luar logika manusia masa kini. Benar kan, Void King Sang Raja Kehampaan?"

Arka berdiri tegak. Wajah malasnya benar-benar hilang. Matanya yang tadinya sayu kini memancarkan aura yang sangat tua, dalam, dan penuh beban sejarah yang luar biasa berat.

"Komandan," suara Arka kini terdengar jauh lebih dalam, berwibawa, dan dingin. suara yang mampu memerintah ribuan pasukan. "Aku sudah bilang padamu di depan gerbang tadi... tempat ini sangat membosankan. Seharusnya kau tetap diam dan menganggapku sebagai paman desa yang beruntung."

Arka melangkah mendekati Alaric yang masih berlutut.

"Sekarang, setelah kau tahu segalanya," ucap Arka dengan nada yang membuat bulu kuduk Alaric berdiri, "apakah kau siap menanggung beban rahasia ini seumur hidupmu, atau kau ingin aku menghapus dirimu sekarang juga?"

Alaric menengadah, menatap mata Arka. Untuk pertama kalinya, sang Komandan Ksatria Suci menyadari bahwa dunia yang ia tahu hanyalah sebuah panggung sandiwara, dan pria di depannya adalah pemilik panggung tersebut.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!