NovelToon NovelToon
Kupilih Keduanya

Kupilih Keduanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: A19

Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak laki-lakinya itu.

Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.

Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.

Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?

ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Laki-laki Menyebalkan

Disebuah mall ternama di ibukota tampak seorang gadis cantik sedang memilih-milih pakaian di Toko Fashion brand terkenal.

"Yang ini aja deh gw suka banget nih modelnya"

Diambilnya sebuah dress selutut warna biru langit dengan motif kupu-kupu berlengan sebahu itu. Namun tiba-tiba ada sebuah tangan juga yang ingin mengambilnya

"Eh apaan nih main srobot-srobot aja lo!" kesalnya

"Gw yang duluan ngincer nih baju. Jadi mending lo pilih yang lain aja" tenyata seorang pemuda tampan yang berniat merebut baju pilihan gadis remaja tadi.

"Enak aja lo ngomong. Jelas-jelas gw dulu yang ambil nih baju" gadis itu pun tak mau mengalah.

"Udah deh lo ngalah aja sama gw" pemuda tadi juga keukeuh tak mau mengalah.

"Dimana-mana cowo yang ngalah njir. Lagian ngapain lo beli baju cewe kek gini. Jangan-jangan lo cowok g..." belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapan nya, pemuda tersebut sudah memotong nya dengan nada ngegas.

"Enak aja!!! GW COWO NORMAL YA" ucapnya tak terima lalu setelah nya bergegas pergi dengan membawa baju yang sedari tadi mereka perebutkan tanpa gadis itu sadari.

Setelah jauh barulah gadis itu sadar ia telah kecolongan.

"Ah sial!!! Semoga aja gw gak bakal ketemu lagi sama tuh cowo sinting" Kesalnya lalu berjalan keluar dengan menghentakan kaki nya dari Toko dan memutuskan untuk pulang ke rumah.

***

"Loh sayang, muka kamu kenapa kusut gitu?ada masalah?" Tanya seorang wanita cantik berumur 40 tahun kepada seorang gadis yang baru memasuki rumahnya dengan wajah kesal.

"Vanya ada masalah sayang?" Wanita yang berstatus ibu dari gadis bernama Vanya itu bertanya kembali karna sang putri tak menjawab dan hanya diam duduk disebelahnya.

"Tadi Vanya ketemu cowo gila mah di mall" Kesalnya.

"Mana ada orang gila bisa masuk ke mall sayang" Sinta sang Mama tampak memikirkan ucapan putri tersayangnya itu.

"Ada mah, nyatanya tadi Vanya ketemu. Vanya ke kamar dulu ya mau bersih-bersih" Vanya beranjak dari sofa Ruang Tengah rumahnya menuju tangga untuk ke kamar nya. Ia sedang malas menaiki lift.

Rumah nya ini memiliki 3 lantai dengan fasilitas lengkap. Bahkan rumahnya sudah bisa disebut sebagai Mansion. Wajar saja karna ia anak seorang Danu Wiratmadja yang terkenal karna kesuksesan nya di dunia bisnis entah itu di dalam maupun luar negeri.

Sinta hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu.

***

Disebuah halaman rumah mewah lantai 2 di kawasan perumahan elit tampak seorang pemuda turun dari mobil sport kesayangan nya dengan wajah cerah. Sang mama yang melihat itu pun mendekati sang putra dan menyudahi kegiatan menyiram tanaman miliknya.

"Anak mama lagi seneng nih kayanya" Goda sang mama sambil menaik turunkan alisnya.

"Habis jalan ya sama cewe?" Pasalnya putra tampan nya ini tak pernah terlihat sekalipun dekat dengan seorang gadis hingga membuatnya khawatir.

"Nggk kok ma. Vano lagi seneng aja tadi habis dari mall jalan-jalan sebentar hehe" Kilahnya dengan cengiran khas seorang Vano.

"Masa sih? Kok seneng banget gitu kayak habis kencan sama cewe" Ria kembali menggoda putranya.

"Pacar Vano lagi ada urusan ma jadi gabisa nemenin Vano pergi" Ucapnya keceplosan lalu spontan menutup mulutnya.

"Loh kamu punya pacar? Jadi kapan nih dikenalin ke mama sama papa?" Ria tambah gencar menggoda putranya yang sekarang sedang terlihat seperti maling tertangkap basah.

"Em anu itu ma Vano baru 1 bulan jadian jadi em kalo udah saatnya bakalan Vano kenalin ke mama papa" Ucapnya ragu sambil merutuki kebodohannya karena bisa sampai keceplosan.

"Baiklah kalo gitu. Yaudah sana gih bersih-bersih terus kalo udah kamu makan ya" Ria memaklumi masalah putranya yang belum mau terbuka masalah hubungan asmaranya.

***

3 jam kemudian, setelah mandi Vanya turun ke Ruang Makan karna saat di mall tadi ia tidak sempat makan siang.

Namun saat sampai dimeja makan ia langsung berhambur memeluk seorang lelaki tampan berusia 4 tahun lebih tua darinya yang sangat ia rindukan.

"Aaaa kak Fian kapan pulang dari Paris? Vanya kangen tauk" Vanya akan sangat manja dengan Fian yang memang jarang berada di rumah karna sibuk mengurusi perusahaan papa mereka yang berada diluar negeri.

Sinta dan Danu hanya tersenyum melihat kedekatan kedua anak tersayangnya. Mereka berdua bersyukur Vanya bisa menerima kehadiran Fian ditengah keluarga mereka yang notabene anak angkat Sinta dan Danu dulu saat Vanya masih berusia 7 tahun.

"Udah dong sayang biarin kakak mu makan dulu. Pasti dia sangat lapar setelah perjalanan nya dari Paris" Danu kasian melihat Fian yang tampak sangat lelah itu.

"Iiiih papa ganggu aja. Yaudah deh ayo kita makan" Vanya tampak semangat karena kepulangan kakaknya.

Sinta, Danu dan Fian kompak menggelengkan kepalanya.

"Emmm masakan mama selalu enak. Di Paris gaada nih makanan se enak masakan mama" Puji Fian tak bohong karna memang selama di Paris ia selalu merindukan masakan mama tercintanya.

Meskipun banyak pelayan dirumah, namun untuk masalah makanan selalu Sinta yang mengurus sepenuhnya. Pelayan hanya bertugas membantu sedikit dan menata makanan yang sudah ia buat ke meja makan.

"Bisa aja kamu nih. Yaudah makan yang banyak sayang. mama masak banyak makanan kesukaan kamu" Sinta senang mendengar pujian putranya.

Setelah selesai makan Sinta dan Danu menuju Ruang Keluarga untuk menonton TV berdua. Sedangkan Fian menuju kamarnya yang tak jauh dari Ruang Makan. Ia akan beristirahat karna besok ia akan ke kantor cabang di kotanya untuk mengecek perusahaan.

Vanya juga kembali ke kamarnya. Sebenarnya ia ingin bermanja-manja pada kakaknya karna masih belum tuntas melepas rindu, tapi ia juga kasihan melihat kakaknya terlihat sangat lelah.

***

Vanya merasa bosan didalam kamar hanya duduk diam bermain ponselnya. Ia melirik jam gambar doraemon di dinding kamarnya yang menunjuk kan pukul 8 malam.

Setelah makan bersama tadi pukul 5 sore, keluarga Wiratmadja memang tidak melaksanakan rutinitas makan malam mereka yang biasanya dilakukan pukul 7 malam. Karna kepulangan Fian, Sinta memasak makanan lebih awal dari biasanya. Danu juga pulang lebih awal yang biasanya pulang menjelang makan malam.

Vanya memutuskan untuk menyiapkan buku sekolah karena besok adalah hari senin. Setelah itu ia bergegas tidur setelah memastikan tidak ada tugas untuk besok.

***

Seorang pemuda tampan berjalan tergesa-gesa keluar dari Restoran milik sepupu nya dengan menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Namun karna tak memperhatikan jalan ia menabrak seorang gadis berwajah datar hingga gadis itu jatuh terduduk di depan pintu masuk Restoran.

"Woi pake mata dong lo kalo jalan!!!" Gadis itu bangkit dari duduknya sambil mengusap bokongnya yang terasa ngilu.

Pemuda tadi yang sedang dalam mood yang buruk pun tak terima "Makannya jangan ngehalangin jalan goblok!!!" Ucapnya dengan nada dingin.

"Udah salah pake nyolot lagi lo! Minta maaf nggak atau..." Belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapan sudah dipotong oleh pemuda didepannya.

"Dah lah gak penting ngurusin cewe kaya lo. Nih uang buat biaya lo kerumah sakit"

Pemuda tadi mengeluarkan 10 lembar uang pecahan 100 ribuan dari dompetnya dan meletakkan nya di tangan kanan gadis itu lalu pergi begitu saja meninggalkan gadis yang semakin kesal karena perlakuan semena-mena nya itu.

"Dia pikir gw ga mampu apa bayar rumah sakit. Hist awas aja kalo ketemu lagi. Eh ngapain juga gw ketemu lagi sama cowo rese kaya dia amit-amit deh" Gadis itupun tak jadi masuk ke Restoran dan memutuskan untuk pulang.

***

Seperti biasa Vanya bangun pagi lalu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah selesai ia merapikan tempat tidurnya kemudian bergegas mandi.

Tepat pukul 6 pagi ia telah selesai bersiap untuk kesekolah dengan make up natural seperti biasa dan rambut dikuncir kuda. Ia pun turun kebawah untuk sarapan.

"Pagi semuanya" Sapa Vanya dengan semangat sambil menampilkan senyum manis nya

"Pagi sayang" Sinta, Danu dan Fian serempak menjawab

Keempatnya pun sarapan bersama

"Vanya berangkat dulu ya ma, pa, kak " Vanya pamit setelah menghabiskan 1 piring nasi goreng Udang kesukaannya.

"Kakak anter ya Van kan kita searah" Fian ikut bangkit saat Vanya sedang menyalami tangan Sinta dan Danu dan kemudian mencium pipi kedua orang tuanya seperti biasa.

"Asyiiiikkk ayo kak" Vanya sangat senang karna ia memang lebih suka diantar kakak atau papanya ketimbang membawa mobil sendiri ataupun dengan supirnya.

"Kalian berdua hati-hati ya sayang" Sinta pun membawakan bekal makan siang kepada Fian.

"Siap ma makasih ya" Fian pun mencium pipi mama dan papa nya.

***

Didalam perjalanan Vanya berceloteh tiada henti. Vanya selalu cerita apapun yang dia alami kepada Fian. Vanya merasa nyaman curhat pada Fian yang selalu bisa memberi saran apabila ia ada masalah.

Fian senang melihat Vanya yang semangat sekali bercerita. Ia sangat menyayangi Vanya dan menganggap Vanya seperti adik kandungnya. Bahkan ia tak akan segan pada siapapun yang berani menyakiti Vanya barang seujung kuku pun. Ia akan menghancurkan orang tersebut tanpa pandang bulu.

"Ah udah sampai. Vanya berangkat dulu ya kak" Vanya menyalimi tangan Fian lalu mencium pipi kirinya.

Setelah Vanya masuk ke dalam sekolah, barulah Fian menjalankan mobilnya yang berhenti di samping halte sekolah Vanya.

"Pagi Van" Seorang pemuda tampan menyapa Vanya dengan senyuman manisnya.

"Pagi" Vanya membalas sapaan pemuda yang tak lain teman sekelasnya yang bernama Raza dengan nada datar.

Vanya memang terkenal cuek di SMA Bhakti Wiratmadja. Ia hanya bersikap beda saat bersama kedua sahabatnya karna memang mereka sudah bersahabat lama.

Sekolahnya ini memang milik Papanya tetapi ia meminta agar identitas nya dirahasiakan. Ia tak mau orang-orang berteman dengannya karna harta yang dimiliki keluarga Vanya. Ia mau memiliki teman yang berteman dengan tulus bukan karna harta.

Vanya memiliki dua sahabat. Satu diantaranya adalah sepupunya dari pihak sang ayah. Sedangkan satunya lagi karena mereka kenal saat masih duduk di bangku SMP.

Namun tak banyak yang tau jika Vanya bersaudara dengan salah satu sahabatnya. Vanya selalu tampil sederhana di sekolahnya sedangkan saudaranya itu selalu tampil mewah kemana-mana. Bahkan ia belum pernah membawa mobil kesekolah karna memang ia malas menyetir sendiri ataupun di supiri.

Jika ayah atau kakaknya mengantarnya itupun hanya sampai halte tak tak jauh dari gerbang sekolah. Jika tidak diantar ia akan memilih naik motor scoopy kesayangan nya agar tidak terkena macet meski ia selalu berangkat pagi sekali jika ke sekolah.

Vanya dan Raza berjalan beriringan dengan hening menuju kelas mereka. Raza yang tau sifat cuek Vanya pun enggan memulai obrolan takut tak direspon. Vanya hanya menanggapi seperlunya saja bila ada yang mengajaknya bicara.

Tetapi jika sudah bersama sahabatnya Vanya akan berubah menjadi gadis konyol seperti melupakan sikap cueknya selama ini.

Setelah sampai di kelas Vanya duduk ditempatnya yang berada di sebelah Rain yang notabene saudara sepupunya itu. Sedangkan sahabatnya Lea duduk di depan mereka sebangku dengan Raza.

Mereka duduk didepan meja guru karna keempatnya termasuk siswa pandai di kelas XI IPA 1. Kelasnya para siswa siswi pandai di sekolah mereka.

Rain yang sudah datang lebih awal terlihat sedang memperbaiki tampilan rambutnya yang ia gerai dengan model curly diujung nya. Rain sangat memperhatikan penampilannya itu. Ia juga selalu tampil modis setiap harinya.

Vanya dengan jail mengacak rambut Rain yang sebelumnya sudah sangat rapi. Rain mencak-mencak dengan kejailan saudaranya itu. Selain cerewet bila sudah didepan sahabatnya Vanya juga sangat jail sebenarnya.

"Iiiihhh Vanya!!!gw nata nih rambut 1 jam tauk dan lo hancurin gitu aja seenak udel lo. Omaygat rambut kesayangan gw yang malang" Rain menata kembali rambut kebangganya seperti semula dengan wajah cemberut.

"Ah lebay lo. Dirapiin bentar juga beres" Vanya tertawa melihat Rain yang semakin cemberut dibuatnya.

Rain memang sangat tak suka bila ada yang menyentuh rambutnya. Namun ia juga tak bisa marah pada saudara tengilnya itu. Ia sudah biasa dengan kejailan Vanya.

Kelas yang semula kosong lambat laun mulai ramai dengan para siswa siswi yang mulai berdatangan. 5 menit sebelum bel Lea datang dengan ngos-ngosan seperti biasa.

"Huft ahirnya sampai juga" Lea duduk didepan meja guru disebelah Raza yang duduk di samping tembok

"Duh si Ratu Telat mulai ada kemajuan nih"

Vanya meledek Lea yang sedang kipas kipas menggunakan buku mapel pertama kelas mereka. Lea memang terkenal siswi yang selalu datang terlambat, meski begitu sekolah tak berani mengeluarkan nya karna ia termasuk anak dari donatur terbesar disekolah.

"Gw lagi males aja dengerin suara jelek tuh guru botak" Lea berucap sambil menghadap belakang yang notabene meja Rain dan Vanya tanpa melihat guru yang ia bicarakan sudah ada di depan mejanya.

"Ganindra Azalea Aldrick. KELUAR KAMU SEKARANG DARI KELAS SAYA!!!" Teriak Pak Sarno guru mapel fisika di SMA Bhakti Wiratmadja yang terkenal killer.

Lea terlonjat kaget mendengar teriakan Pak Sarno yang saat ini sedang menampilkan wajah garang nya di depan meja Lea.

"Eh Pak Sarno. Kok mukanya kayak lagi seneng gitu si pak? Habis menang undian lotre ya pa..." Belum sempat Lea menyelesaikan ucapannya Pak Sarno memotong dengan wajah yang semakin merah menahan amarah.

"CEPAT KAMU KELUAR DARI KELAS SAYA SEBELUM SAYA HUKUM KAMU!!!"

"Eh iya iya pak saya keluar" Lea langsung lari ngibrit dengan cengiran tanpa dosanya.

Rain dan Vanya hanya geleng-geleng kepala. Ketiga sahabat itu memang sering berbuat onar dikelas meski tak sampai harus masuk ke BK.

Lea menuju kantin untuk mengisi perutnya yang kosong. Lea memang selalu datang terlambat karna ia selalu bangun kesiangan. Kedua orangtuanya terlalu sibuk mengurusi urusan mereka sendiri tanpa memerdulikan putri semata wayangnya.

Anya merupakan wanita sosialita yang sibuk mengurusi kegiatan sosialita dilingkungan perumahannya. Sedangkan Gahardi ayah Lea sibuk mengurusi perusahaan besar keluarganya sehingga keduanya jarang berada dirumah.

Meskipun begitu, Lea adalah anak yang penurut tak pernah menentang perintah Anya dan Gahardi walaupun terkadang ia tidak suka keduanya yang berlaku seenaknya.

***

Bel istirahat telah berbunyi. Lea memang tadi tidak mengikuti 2 pelajaran yang berlangsung. Ia hanya duduk dikantin meskipun ia sudah selesai makan 3 jam yang lalu. Ia tak berniat mengikuti 2 pelajaran yang diampu 2 guru yang memang terkenal killer.

"Wah gila lu Ndro malah enak-enakan dikantin" Vanya yang baru datang langsung menghabiskan es teh Lea yang tinggal setengah gelas dengan santainya.

"Gak suka amat lo kayanya sama Pak Sarno dan Bu Yuni. Kalo mapel mereka selalu bolos lo dasar"

Rain ikut duduk di samping Lea tepatnya di sebelah kanan Lea sedangkan Vanya di sebelah kiri seolah mengapit Lea yang sepertinya enggan untuk bersuara.

"Yeee malah diem. Sariawan lu Ndro?" Vanya bergurau mencoba untuk menghibur Lea yang sepertinya sedang ada masalah.

"Gw lagi bingung banget nih guys" Lea akhirnya buka suara setelah melihat kedua sahabatnya yang terdiam menunggu ia bicara.

Rain dan Vanya sama-sama terdiam menunggu Lea melanjutkan perkataannya.

"Gw dijodohin sama anak temen bisnis papa" Lea berucap lirih dengan lesu.

Rain yang memang terkenal ratu drama diantara ketiganya langsung menjerit heboh membuat Vanya dan Lea menatapnya tajam. Yang ditatap hanya nyengir kuda.

"Sorry sorry gw kaget banget soalnya" Rain nyengir sambil menunjukan jarinya yang membentuk simbol perdamaian.

"Lo serius Le?" Vanya tau Lea memang suka bercanda tapi melihat Lea yang sepertinya serius membuat ia bertanya dengan hati-hati.

"Udah berapa kali gw bilang jangan panggil gw Le ntar dikiranya gw ikan lele tauk"

Disaat seperti ini masih sempat-sempatnya Lea protes perihal nama panggilannya. Ia memang tak suka dipanggil Le seolah-olah menyebut dirinya itu ikan yang sangat ia benci dari Lea kecil.

"Udah deh gak usah di permasalahin dulu. Kita bahas masalah yang lebih penting!" Rain memutar kedua bola matanya.

Meskipun ia yang paling lebay dan suka drama, tetapi Rain lah yang paling dewasa saat menghadapi masalah serius daripada kedua sahabat absurd nya itu.

Bila ada masalah selalu Rain yang mempunyai solusi efektif saat ketiganya memiliki masalah.

"Jadi bener lo dijodohin sama anaknya temen papa Gahardi?" Tanya Rain karna masih belum percaya dengan perkataan Lea.

Karna lamanya persahabatan mereka, ketiganya sudah menganggap orangtua sahabatnya seperti orangtuanya sendiri.

"Ngapain juga gw bohong? Gw lagi pusing banget sekarang. Mau nolak pun gw gabisa. Katanya mereka udah jodohin gw saat gw dan tu cowo masih TK. Orangtua tu cowo sahabat MaPa saat mereka kuliah di London" Lea menceritakan apa yang saat ini menganggu pikirannya.

"Em rumit juga si. Kalo menurut gw lo terima aja deh tu perjodohan. Lo jalanin dulu kalo emang lo masih ga bisa menerima tu cowo kedalam hidup lo ya lo tinggal bilang ke mama papa. Mereka tentunya pengen yang terbaik buat lo. Kalo lo gak bahagia masa mereka masih mau maksain perjodohan ini si? Kita kan udah hapal sifat kedua orang tua lo Gan"

Saat berbicara Vanya dan Rain akan memanggil Lea dengan nama depannya agar Lea tidak protes saat dipanggil Le ataupun Ya.

"Nah gw setuju tu sama Rain" Vanya menyetujui usulan Rain yang memang menurutnya itu ide yang brilian.

"Tauk ah gw pusing. Ntar kita ke basecamp kuy gw lagi sumpek banget nih di rumah" Lea masih tampak menimang usulan dari Rain. Ia masih ragu untuk bersikap bagaimana.

"Boleh boleh kebetulan kemaren Kak Fian pulang dari Paris dan bawa banyak oleh-oleh"

Basecamp yang Lea maksut yaitu kamar Vanya. Lea memang sudah tau siapa Vanya. Awalnya ia terkejut namun lambat laun ia terbiasa. Diantara ketiganya rumah Vanya lah yang paling lengkap fasilitasnya sehingga rumah Vanya menjadi tempat mereka untuk berkumpul.

"Wah mantep nih pasti Kak Fian banyak beli barang branded dari Paris buat kita-kita"

Rain yang memang penyuka shopping langsung bersemangat mendengar Fian pulang. Pasalnya Fian memang selalu membeli banyak oleh-oleh untuk kedua sahabat Vanya apalagi untuk Rain yang termasuk saudaranya juga.

"Yeee lansung ijo aja mata lo" Lea kemudian tertawa meledek Rain yang memang tak bisa jauh-jauh dari barang branded.

Mereka bertiga pun tertawa bersama entah apa yang mereka tertawakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!