NovelToon NovelToon
The Spy Cultivator [Haneen And Shadow System]

The Spy Cultivator [Haneen And Shadow System]

Status: sedang berlangsung
Genre:Pembunuhan / Sistem / Pembaca Pikiran / Time Travel / Transmigrasi / Solo Leveling
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sands Ir

Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.

Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.

Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.

Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.

Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?

Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.

Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Lembah bersalju

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Angin utara menusuk tulang. Tidak ada yang bisa menahan dinginnya seperti ini kecuali mereka yang terbiasa. Haneen menarik tudung jubahnya lebih rapat, tapi udara beku itu tetap mencari celah untuk masuk ke kulit. Di sampingnya, Yan Ling sudah membungkus wajah dengan syal tebal. Napas mereka keluar sebagai uap putih yang langsung membeku di udara.

"Kita sudah sampai," kata Haneen. Suaranya terdengar serak karena dingin.

Mereka berdiri di tepi tebing tinggi. Di bawah sana, terbentang lembah luas yang tertutup salju. Pepohonan pinus berdiri kokoh meski beban es menumpuk di dahannya. Sungai kecil membeku sebagian, hanya tersisa aliran air gelap di tengahnya. Tempat ini sepi. Terlalu sepi untuk ukuran dunia kultivasi yang biasanya ramai oleh pencari kekuatan.

"Tempat yang bagus," kata Yan Ling. Dia menuruni tebing dengan langkah hati-hati. Batu-batu di sini licin karena es. "Tidak ada orang. Tidak ada sekte. Hanya kita dan alam."

Haneen mengikuti Yan Ling turun. Kakinya sudah terlatih menginjak permukaan licin tanpa tergelincir. "Tapi kita harus membangun tempat tinggal sebelum malam turun. Suhu di sini bisa membunuh manusia biasa dalam satu jam."

Mereka sampai di dasar lembah saat matahari mulai condong ke barat. Cahaya oranye memantul di permukaan salju, membuat seluruh lembah berpendar kemerahan. Indah, tapi menipu. Di balik keindahan itu, kematian mengintai bagi siapa pun yang tidak siap.

Haneen membuka sistemnya. Dia sudah mengarsipkan semua senjata perang. Sekarang yang tersisa adalah alat konstruksi dan medis. Dia memilih item [Pondok Prefabrikasi Tahan Cuaca]. Harganya cukup mahal, tapi worth it untuk perlindungan jangka panjang.

"Mundur sedikit," perintah Haneen. Dia melempar sebuah kapsul logam kecil ke tanah datar di dekat sungai. ‘Ting’ Suara logam berbunyi nyaring.

Asap putih mengepul dari kapsul itu. Dalam hitungan detik, rangka besi mulai terbentuk. Dinding kayu solid muncul menyelimuti rangka itu. Atap genteng tersusun otomatis. Hanya dalam satu menit, sebuah pondok kayu berukuran sedang sudah berdiri kokoh di tengah lembah bersalju.

"Teknologi sistem memang selalu memudahkan," komentar Yan Ling. Dia menyentuh dinding kayu itu. Permukaannya hangat, meski udara luar membekukan. "Ada perapian?"

"Ada," jawab Haneen. Dia membuka pintu kayu yang sudah terpasang engsel otomatis. "Masuk. Aku nyalakan pemanas."

Mereka masuk ke dalam. Udara di dalam pondok jauh lebih hangat. Lantai kayu bersih tanpa debu. Di tengah ruangan, ada perapian batu yang sudah siap pakai. Haneen menyalakan api dengan pemantik sistem. Lidah api berwarna biru menyala, memberikan kehangatan instan.

Yan Ling melepaskan jubah tebalnya. Dia duduk di dekat api, mengulurkan tangan untuk merasakan panasnya. "Rasanya seperti mimpi. Kemarin kita masih dikepung pasukan elit. Hari ini kita duduk santai di tengah hutan es."

"Hidup memang aneh," kata Haneen. Dia duduk di seberang Yan Ling. Dia melempar beberapa batang kayu kering ke api. "Tapi aku lebih suka ini. Tidak ada yang perlu dibunuh. Tidak ada yang perlu diselamatkan. Kita cuma perlu bertahan hidup."

"Benarkah?" tanya Yan Ling. Dia menatap Haneen tajam. "Kau yakin bisa lepas dari masa lalu begitu saja? Kita menghancurkan Aliansi. Banyak orang kehilangan kekuasaan karena kita. Mereka pasti masih mencari."

Haneen diam sebentar. Dia menatap api yang menari-nari di perapian. "Aku tahu. Tapi kita tidak bisa hidup dalam ketakutan selamanya. Kalau mereka datang, kita hadapi. Kalau tidak, kita hidup."

"Kau terdengar lebih santai dari biasanya," goda Yan Ling. Ada senyum tipis di wajahnya. "Dulu kau selalu punya rencana cadangan untuk segala situasi."

"Sekarang aku punya kau," jawab Haneen singkat. Dia tidak menatap Yan Ling, tapi fokus pada api. "Kalau ada masalah, kita hadapi bersama. Itu rencana terbaik yang aku punya."

Yan Ling tertawa kecil. Tawa itu terdengar hangat di ruangan dingin itu. "Oke. Aku terima rencana itu."

Malam turun dengan cepat. Di luar, angin menderu lebih kencang. Suara serigala melolong jauh di kejauhan. Tapi di dalam pondok, mereka aman. Haneen mengeluarkan makanan kaleng dari sistem. Bukan makanan mewah, tapi cukup untuk menghangatkan perut.

Mereka makan dalam diam. Tidak ada kebutuhan untuk bicara terus-menerus. Kehadiran satu sama lain sudah cukup menenangkan. Setelah makan, Yan Ling membereskan piring sementara Haneen memeriksa keamanan sekitar melalui monitor sistem.

"Ada gerakan di utara," lapor Haneen tiba-tiba. Matanya menyipit melihat layar kecil di pergelangan tangan. "Tiga orang. Membawa senjata. Bukan hewan."

Yan Ling berhenti membersihkan piring. Dia menoleh ke arah jendela. "Pemburu?"

"Mungkin," jawab Haneen. Dia berdiri, mengambil pedang biasa yang sudah dia siapkan di dekat pintu. Bukan pistol. Bukan item sistem. Hanya pedang besi biasa. "Mereka mungkin mengira kita mudah karena tinggal di tempat terpencil."

"Kita usir atau kita hadapi?" tanya Yan Ling. Dia juga mengambil pedangnya.

"Usir dulu," kata Haneen. "Kita tidak cari masalah. Tapi kalau mereka memaksa..."

"Kita habisi," lanjut Yan Ling. Dia menyelesaikan kalimat Haneen dengan nada datar.

Mereka keluar dari pondok. Angin malam langsung menerpa wajah mereka. Salju mulai turun tipis-tipis, menutupi jejak kaki mereka. Haneen memimpin jalan menuju arah utara, menjauh dari pondok agar tidak merusak area tinggal.

Di balik bukit kecil, tiga orang pria berdiri membundar. Mereka memakai bulu hewan sebagai pakaian. Wajah mereka kasar, penuh bekas luka. Di pinggang mereka tergantung pedang berkarat dan kapak besar.

"Itu dia!" teriak salah satu dari mereka. Dia menunjuk ke arah Haneen. "Pondok baru muncul tiba-tiba. Pasti mereka punya harta karun!"

"Harta karun?" Haneen berhenti berjalan. Dia menatap ketiga orang itu dengan datar. "Kami cuma punya kayu dan batu."

"Jangan bohong!" bentak pria kedua. Dia maju selangkah, mengangkat kapaknya. "Orang tidak bangun rumah mewah di tempat kutukan ini tanpa alasan. Serahkan semua barang berharga kalian, atau kami ambil paksa!"

Yan Ling menghela napas. Dia melihat ke arah Haneen. "Mereka tidak mau mendengar alasan."

"Memang begitu cara orang semacam ini," jawab Haneen. Dia menarik pedangnya dari sarung. Logam berdecit pelan. "Satu kesempatan. Pergi sekarang, atau kalian tidak akan bisa berjalan pulang."

Ketiga pria itu tertawa. Tawa mereka kasar dan meremehkan. "Kau pikir kau bisa lawan kami? Kami pemburu serigala es! Kami sudah membunuh banyak orang di lembah ini!"

Pria pertama menerjang. Dia ayunkan kapaknya ke arah kepala Haneen dengan kekuatan penuh. Angin terdengar mendesis saat kapak itu membelah udara.

Haneen tidak bergerak sampai detik terakhir. Saat kapak itu hampir menyentuh hidung nya, dia melangkah ke samping. Hanya satu langkah kecil. Kapak itu menghantam tanah kosong, menimbulkan percikan es.

"Terlalu lambat," kata Haneen. Dia menggunakan gagang pedangnya untuk memukul pergelangan tangan pria itu. ‘Krak!’ Tulang retak. Pria itu menjerit, kapaknya jatuh ke salju.

Dua pria lainnya kaget. Mereka tidak menyangka target mereka sekuat itu. "Bunuh dia!" teriak pemimpin mereka.

Mereka menyerang bersamaan. Yan Ling maju menghadapi mereka. Gerakannya lincah di atas salju. Pedangnya menangkis serangan kapak dengan mudah. ‘Clang! Clang!’ Suara logam beradu menggema di lembah sepi.

Yan Ling tidak membunuh. Dia hanya melukai. Satu goresan di lengan. Satu tendangan di lutut. Dalam waktu kurang dari satu menit, ketiga pria itu sudah tergeletak di salju, mengerang kesakitan. Senjata mereka tersebar jauh dari jangkauan tangan.

Haneen berdiri di atas pemimpin mereka. Dia menunduk, menatap mata pria itu yang penuh ketakutan. "Aku sudah bilang. Pergi sekarang."

"Kamu... kamu monster," gagap pria itu. Darah mengalir dari hidungnya yang pecah.

"Kami cuma ingin ketenangan," kata Haneen. Dia menyarungkan pedangnya. "Kalau kalian kembali dengan niat jahat, aku tidak akan diam saja."

Haneen memberi isyarat pada Yan Ling. Mereka meninggalkan ketiga pria itu tergeletak di salju. Tidak ada yang mengejar. Mereka terlalu sakit dan terlalu takut.

Mereka kembali ke pondok. Haneen menutup pintu, mengunci semua jendela. Api di perapian masih menyala hangat.

"Kita akan punya banyak tamu seperti itu," kata Yan Ling. Dia duduk kembali di dekat api, menggosok tangan nya yang dingin. "Orang akan curiga melihat pondok muncul tiba-tiba di tempat terpencil."

"Biarkan mereka curiga," jawab Haneen. Dia duduk di samping Yan Ling. "Selama mereka tidak mengganggu, kita aman. Kalau mereka mengganggu..."

"Kita usir," kata Yan Ling sambil tersenyum. "Aku mulai paham polamu."

Mereka duduk diam mendengarkan angin di luar. Badai salju semakin kencang, menutupi jejak kaki para pemburu tadi. Besok pagi, mungkin jejak itu sudah hilang. Mungkin juga masalah itu akan kembali dengan jumlah lebih banyak.

Tapi untuk malam ini, mereka aman. Pondok berdiri kokoh. Api menyala hangat. Dan mereka masih bersama.

Haneen memejamkan mata. Dia mendengarkan suara napas Yan Ling yang teratur. Suara itu lebih menenangkan daripada notifikasi sistem mana pun.

"Istirahatlah," kata Haneen pelan. "Besok kita mulai bersihkan area untuk lapangan latihan."

"Siap," jawab Yan Ling. Dia berbaring di atas tikar tebal yang sudah disediakan sistem. "Bangunkan aku kalau ada serigala."

"Akan kubangunkan," janji Haneen.

Malam itu, mereka tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada bayangan musuh. Hanya ada putihnya salju dan hangatnya api.

Di luar, dunia mungkin masih mencari mereka. Aliansi mungkin masih mengirim pemburu. Naga Merah mungkin masih menyimpan dendam. Tapi di lembah es ini, Haneen dan Yan Ling sudah membangun benteng mereka sendiri.

Bukan benteng dari batu atau energi. Tapi benteng dari keinginan untuk hidup tenang.

Dan siapa pun yang mencoba menghancurkannya, akan belajar bahwa kedamaian mereka dijaga oleh dua orang yang sudah pernah menghancurkan dunia sekali.

Badai di luar semakin kencang. Tapi di dalam, api tidak pernah padam.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Bersambung…...

Jangan lupa like, komen dan share 😁

1
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor
Mbu'y Fahmi
lanjut thor👍👍
azka aldric Pratama
hadir 🌹
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Mbu'y Fahmi
huh ... thor serasa ikut dalam cerita...👍👍
Mbu'y Fahmi
deg² thor takut ketauan😄
Ahyar Alkautsar Rizky
keren thor😍
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Mbu'y Fahmi
lanjut thor... makin seru cerita nya
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor 🔥
Ara putri
semangat kak. jgn lupa mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Ahyar Alkautsar Rizky
izin save gambarnya ya thor 🙏
Fajar Fahri
ikut kedalam cerita
Fajar Fahri
visualnya kerenn 👍
Intan21
😍
Intan21
good
Saskia Natasya
alur cerita nya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!