NovelToon NovelToon
Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irara

Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.

Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.

Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.

Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.

“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”

Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.

Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.

“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”

Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah surat

Rhea merasa sakit di pelipisnya. Dia benar-benar terkejut, tetapi jika dipikir dengan saksama, hal ini wajar saja.

Lagipula, sekeras apa pun Rhea mencoba memutus hal-hal yang berhubungan dengan pemilik asli tubuh ini, orang-orang yang memiliki hubungan dengannya adalah manusia hidup. Mereka tetap menganggap Rhea Celeste masihlah orang yang sama.

Setelah memijat keningnya yang berdenyut, pandangan Rhea kembali tertuju pada secarik kertas di tangannya.

Untuk Rheaku sayang.

Dari belahan hatimu di kota tempat musik lahir dan selalu terdengar.

Bagaimana kabarmu? Surat yang kukirim minggu lalu belum kau jawab. Aku sangat khawatir sesuatu terjadi padamu. Jadi, aku mengirim surat lagi. Jika ada masalah, jangan ragu untuk memberitahuku.

Sudah setengah tahun kita berpisah. Aku merindukanmu. Hampir enam bulan lagi sebelum pemilihan kandidat Kaisar Arcana. Setelah hari itu, kau bisa kembali dan kita akan bertemu lagi, oke?

Ketika kau kembali, Festival Cahaya baru akan dimulai. Aku akan mengajakmu berkeliling dan berkencan, mendengarkan konser musik di aula hall. Aku sudah mendapatkan tiketnya dari seorang teman.

Aku tahu harimu di sana sangat berat, tetapi bersabarlah. Setelah tugasmu selesai, semuanya bakal sepadan.

Puji Dewa Cahaya, untuk kedamaian dan keselamatan.

Dari William.

“Aku celaka,” bisik Rhea dengan tangan gemetar.

Dia melipat surat itu menjadi kecil dan mengambil tumpukan kertas surat yang berserakan, membacanya dengan cepat.

Setelah beberapa waktu, Rhea melipat kertas-kertas itu dan menuangkan air di atasnya.

Air menyebar dengan cepat, membasahi kertas kecokelatan itu, tetapi kertas tersebut mengering dengan kecepatan yang mencengangkan. Ketika Rhea membuka kertas itu lagi, tulisan yang seharusnya luntur oleh air tetap terlihat jelas, tanpa noda sedikit pun.

“Sihir?” tebak Rhea.

Melihat hal itu, Rhea merasa kertas-kertas tersebut aman disimpan di sana. Mungkin ada semacam sihir yang membuat tulisan di surat itu hanya bisa dibaca oleh penerimanya, atau itu mekanisme sihir lain. Yang jelas, pemilik asli sebelumnya sudah berhati-hati.

Bagaimanapun Rhea memikirkannya…

Rhea Celeste adalah warga Kekaisaran Suci. Dengan kata lain, ia adalah seseorang yang seharusnya tidak berada di sini dan menjadi guru sihir putra mahkota dari salah satu kerajaan di bawah Kekaisaran Arcana.

Rhea sebenarnya tidak begitu memahami lika-liku politik antara kedua kekaisaran yang terlihat berseberangan hanya dari namanya.

Setelah empat hari berada di sini, Rhea hanya mendapatkan informasi sekilas dari dokter dan para pelayan yang suka bergosip tentang hal-hal acak. Pemahamannya tentang geografi tempat ini hanya sebatas bahwa dia berada di Kerajaan Romanov. Dan Kerajaan Romanov adalah salah satu kerajaan yang berada di bawah yurisdiksi Kekaisaran Arcana.

Untuk Kekaisaran Suci, Rhea hanya tahu bahwa tempat itu memiliki banyak bangsawan terkenal yang berambut putih keperakan sepertinya.

Rhea bahkan sempat tak sengaja mendengar hinaan tentang dirinya sebagai penjahat yang diusir dari Kekaisaran Suci, yang kabur ke tempat ini demi belajar sihir.

Dari cara pandang orang-orang istana terhadap Kekaisaran Suci saja, Rhea merasakan permusuhan yang pahit antara kedua kekaisaran.

Rhea merinding ketika memikirkan dirinya ketahuan sebagai orang Kekaisaran Suci yang ingin membuat keributan di acara penting negara musuh.

Kepalanya terancam bahaya. Kemungkinan dipenggal sangat tinggi sebelum dia sempat meminta pertolongan kepada pria bernama William ini.

Sambil memegang kepalanya, Rhea menatap buku sihir yang diberikan putra mahkota, lalu tersenyum kecut.

Rencananya dia ingin bersantai sedikit, tetapi mempelajari sihir lebih cepat adalah satu-satunya cara untuk menenangkan hatinya.

Rhea merasa mulas membayangkan jika dirinya tiba-tiba ketahuan, jadi dia buru-buru menenangkan pikirannya.

Saat ini tengah hari, jadi dia mencoba menyelesaikan satu buku sebelum makan malam tiba.

Mempelajari sesuatu yang baru memang sangat menyenangkan. Rhea begitu terfokus pada pekerjaannya kali ini sampai ketukan terdengar di pintu.

“Nyonya Celeste, makan malam Anda sudah siap. Bolehkah saya masuk?”

Ketika mendengar suara John di balik pintu, Rhea menyadari waktu berlalu begitu saja tanpa disadari.

Jendela di kamarnya sudah gelap, namun karena lampu di ruangan itu terang seperti siang, dia tidak menyadarinya.

“Masuk saja,” balas Rhea sebelum menutup bukunya dan berjalan ke sofa dengan meja kecil di tengah ruangan.

John membawa nampan berisi roti, kentang panggang, dan sup bening berisi sayuran yang tidak dia ketahui.

Karena melewatkan makan siang, perutnya sudah keroncongan. Namun, melihat makanan vegetarian yang sama untuk kesekian kalinya membuat Rhea kehilangan nafsu makannya.

Rhea menghela napas, mengambil sedikit roti, lalu mengunyahnya pelan.

“Ma-maaf, apa ada yang salah dengan makanannya? Sa-saya akan membawa hidangan baru!” John cemas. Ekspresi Rhea yang kehilangan nafsu makan terlihat jelas tanpa bisa disembunyikan.

“Tidak usah,” jawab Rhea lesu. “Kalau memang dapur membuat hidangan ini hari ini, aku tidak bisa pilih-pilih. Tapi kalau ada jatah daging untukku, bisakah kau membawanya?”

Rhea sebenarnya tidak pilih-pilih makanan, jadi dia bisa makan apa pun yang diberikan kepadanya.

Namun, bayangkan makan sayur, kentang, dan roti setiap kali makan selama empat hari, bahkan tanpa rasa gurih sedikit pun—siapa yang tidak gila?

Awalnya, karena baru bangun dari pingsan, Rhea memaklumi hal ini. Dia menganggapnya sebagai perintah dokter untuk pemulihan. Tetapi kali ini dia merasa harus mendapatkan protein untuk tubuhnya.

“Sekarang tubuhku sudah baik-baik saja. Makan makanan berat seperti daging sepertinya tidak masalah.” Rhea tersenyum canggung.

“Aku sudah muak makan hidangan orang sakit… Tapi ini bukan salahmu. Eh… aku tidak menyalahkanmu.”

Tubuh John gemetar lebih kencang setiap kali Rhea berbicara, membuatnya kewalahan dan merasa bersalah.

“John, tenanglah. Aku tidak marah. Tidak ada yang menyalahkanmu, jangan khawatir.” Rhea mencoba menepuk bahu John untuk menenangkannya, tetapi John mengelak dengan cepat.

Rhea mengusap pelipisnya lagi dan menghela napas lelah. Saat dia mendongak, getaran di tubuh John sudah berhenti, namun matanya masih menunjukkan ketakutan bercampur rasa tak percaya.

“John, duduklah di depanku. Aku ingin berbicara denganmu.”

Rhea menunjuk tempat di sampingnya, menepuknya pelan. Ia juga tersenyum tipis untuk menenangkannya.

“Ny-nyonya Celeste… i-itu tidak pantas…”

John mundur setengah langkah, bahunya menegang seolah siap kabur kapan saja.

Rhea tidak memaksanya berdiri lebih lama. Ia menarik lengan John dengan lembut namun tegas, lalu menahannya sebelum orang itu sempat bereaksi.

“John,” katanya pelan, “berapa umurmu tahun ini?”

“Pe-pelayan ini… tujuh belas tahun, beberapa bulan lalu,” jawab John cepat. Pandangannya jatuh ke lantai, seperti takut menatap wajah Rhea terlalu lama.

Rhea mengangguk kecil. “Berarti kita seumuran.” lalu tersenyum tipis. “Aku juga tujuh belas. Atau hampir delapan belas. Aku sendiri tidak begitu yakin.”

John mengangguk diam-diam.

“Jadi,” lanjut Rhea, suaranya tetap ringan, “kita bisa bicara sebagai teman sebaya, kan? Bukan sebagai nyonya dan pelayan.”

“Sa-saya tidak—”

Rhea menekan bahu John saat ia hendak berdiri. Tidak keras, hanya cukup untuk menghentikannya.

“Aku takut, John.”

Kata itu membuat John membeku.

“Bayangkan bangun tanpa ingatan apa pun,” lanjut Rhea. “Tidak tahu siapa dirimu, apa yang telah kau lakukan, atau kenapa semua orang menatapmu seolah kau sesuatu yang menjijikkan.”

John mengangkat kepalanya perlahan.

“Kamu orang pertama yang kulihat saat aku sadar,” kata Rhea lirih. “Dan kamu menjauhiku. Seperti aku bukan manusia.”

“A-aku tidak bermaksud—”

“Aku tahu,” potong Rhea cepat. “Tapi tetap saja sakit.”

Ia menarik napas, lalu berkata lebih pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.

“Aku tidak ingat melakukan kesalahan apa pun. Tapi dunia ini memperlakukanku seolah aku pernah melakukan dosa besar.”

“Apa kau tahu rasanya ditakuti tanpa tahu alasannya?” tanya Rhea.

John menggigit bibirnya. Bahunya yang tegang perlahan mengendur.

“Sepertinya… kami memang bersikap tidak adil kepada Anda, Nyonya Celeste,” katanya pelan. “Kami tahu Anda kehilangan ingatan, tapi tetap melihat Anda sebagai orang yang sama seperti sebelumnya.”

John menunduk lebih dalam. “Kalau itu menyakiti Anda… saya minta maaf. Atas nama para pelayan.”

“Terima kasih,” jawab Rhea tulus.

Namun John masih melanjutkan, “Te-tapi… tidak semua orang bisa langsung berubah,” katanya pelan. “Sebagian dari kami… masih menyimpan ketakutan. Dendam. Trauma.”

Rhea tidak mengganggunya, mendengarkan tanpa mengubah ekspresinya.

“Sa-saya sendiri pun,” lanjut John, suaranya hampir bergetar, “masih takut pada Anda.”

Rhea berkedip.“Takut ingatanku kembali?”

“I-iya!” John mengangguk cepat. “Jika kami lengah karena Anda terlihat baik sekarang… lalu ingatan itu kembali tiba-tiba—”

Rhea tiba-tiba tertawa.

“Wah,” katanya, “kalau begitu kalian memang bakal celaka.”

John membeku, lalu merasa kata-kata itu sangat lucu dan ikut tertawa. Perlahan, ekspresi tegangnya retak.

Tawa John menunjukkan tongkat antara keduanya memendek. Rhea diam-diam merasa bangga karena berhasil membujuk seseorang, walaupun itu sangat melelahkan.

“John,” panggil Rhea sambil tersenyum ramah. “Mulai sekarang, bolehkah aku bertanya tentang hal-hal yang tak kuingat?”

“Tentu saja!” John mengangguk cepat. Wajahnya memerah saat menyadari senyum Rhea tertuju padanya.

Rhea merasa lucu melihat reaksinya.

“Aku jadi penasaran,” katanya tiba-tiba. “Menurutmu… aku cantik?”

“Eh…?” John terperangah. “T-tentu! Maksudku…kamu sangat cantik!”

Itu bukan basa-basi. Hampir semua orang menganggap Rhea Celeste cantik. John pun tak terkecuali.

Rambut putih keperakannya berkilau, mata biru safirnya jernih, dan tubuh rampingnya seputih mutiara. Terlalu sempurna hingga terasa tak nyata.

Namun justru itu yang membuat Rhea heran.

Ia menyisir rambutnya dengan jari, lalu mengedip ke arah John. “Kalau begitu… kenapa kebanyakan orang yang tidak menyukaiku itu pria?” tanyanya ringan.

“Apa yang kulakukan pada kalian?”

Rhea tidak bisa tidak memikirkan hal-hal vulgar, tetapi segera menghilangkan pemikiran itu.

“Itu cerita yang panjang…”

John berdehem, melirik ke arah Rhea . “Jadi enam bulan yang lalu ketika pertama kali anda tiba di istana…”

“Seorang pria yang menjabat sebagai menteri perekonomian terpi—”

“Tolong tahan cerita itu dulu,” sela Rhea dengan wajah tegas. “Aku sangat lapar, bisakah kamu membawakanku hidangan lain? Yang ada dagingnya. Aku sedikit bisa menebak apa isinya, jadi lebih baik aku makan dulu.”

John menelan kembali ludahnya, merasa jengkel karena disela tiba-tiba setelah mencoba bersikap berani. Tetapi dia hanya bisa menuruti kemauan Rhea.

“Te-tapi Nyonya Celeste… Bisakah anda makan daging?”

Rhea benar-benar tak menyangka mendengar pertanyaan konyol itu. Lalu menjawab dengan berani, “Kenapa tidak? Aku manusia, John. bukan peri!”

Lalu ia menyipitkan mata ke arah john. “Atau kau mengira karena penampilanku seperti peri jadi tidak bisa makan daging?” tanyanya menyelidik.

John tertawa canggung, menggaruk kepala merahnya. “Bukannya kata anda makan daging itu berarti makan daging saudaramu sendiri? Dan juga merusak kemurnian aliran sihir anda?”

Rhea mengerutkan kening, menggeleng tak percaya. “Daging yang kamu maksud itu daging apa? Bukan daging manusia kan?”

“Maaf aku bisa makan daging sapi, ayam, ikan dan lainnya karena aku manusia bukan hewan.”

1
Manisaja
Sudah kuduga /Yawn/Akuh bilang tahan atu
Lily air: apa si kak gak ngerti, aku pusing ;)
total 1 replies
Andi Ilma Apriani
hadiiirrr thooorr
Manisaja
Aku tau dari kebiasaan mu buat sama baca cerita sukanya buat mc lemah gampang sakit atau pingsan padahal latarnya op, aku tahu tapi tolonglah dikendalikan ya ya? gak maksud ngajak berantem aku jangan maragh 🙏🙏 Jangan ngambeg awas
Lily air: ❤️┐(︶▽︶)┌❤️
total 1 replies
Manisaja
Lanjut!!!! Udah lumayan ngalir lancar gak kaku kayak pertams
Manisaja
Keliatan banget ini putra mahkota kalau gak regresi atau reikarnasi juga tingkahnya gak kayak bocah, bener gak dugaanku? 🧐
Lily air: kamu maunya gitu? oke kutulis gitu (¬‿¬ )
total 1 replies
Manisaja
Ulah gurumu itu Yang mulia sihirnya gak bener ngerusak kaca
Manisaja
Bisa sok keren juga dia 🤣
Manisaja
Gilakk pantesan cowo pada takutt tapi pelayan cewe gak diapa apain ya sama dia
Manisaja
Tak kusangka sangka ternyata kejadiaannya kayak ginj
Manisaja
Mi apa to?
Manisaja
Lah iya siapa yang nyangka kalau ngancemnya pake candaan ggak masuk akal?
Manisaja
Sebenarnya gak lucu tapi apa hah? Makan daging bisa nguras energi sihir?? aku baru tahu di sini
Manisaja
Lo Kok di skip gimana ceritanya? Cerita yang diceritain John mana?!!
Manisaja
Lah elah dipotong gini gak jelas iih
Manisaja
Apaan tuh 🧐🧐
Manisaja
Cowo imut
Manisaja
Putra mahkota siapa namanya? Belum disebuttin
Manisaja
Mmemuji di bawah sinar bulan? aku bayanginnya ko lucu ya🤣 Apa si yang lo tulis ra aamh
Manisaja
Novel baru ya raaa 🤣 Oke ku baca
Lily air: terserah baca aja gak ada yang larang :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!