Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Pemberontakan Dimulai
"Lima menit. Kau terlambat lima menit."
Dominic berdiri berkacak pinggang di ambang pintu ruangannya. Matanya menatap tajam jam tangan mahal di pergelangan tangan kirinya, lalu beralih menatap sosok Harper yang baru saja melangkah keluar dari lift khusus eksekutif.
Harper sama sekali tidak mempercepat langkahnya. Wanita itu berjalan santai melintasi lorong, mengabaikan tatapan membunuh bosnya. Tidak ada raut panik atau permintaan maaf di wajahnya. Dia meletakkan tas jinjingnya di atas meja kerjanya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat buat.
"Jam kerjamu dimulai pukul delapan tepat. Sekarang pukul delapan lewat lima. Keterlambatan adalah tanda ketidakbecusan manajerial!" bentak Dominic. Suaranya menggema di lantai yang masih sepi itu.
"Jalanan macet," jawab Harper singkat. Dia menarik kursi kerjanya lalu duduk bersandar dengan nyaman, seolah ini adalah ruang tamunya sendiri.
"Alasan murahan! Kau bisa bangun lebih awal atau naik helikopter perusahaanku!" Mata Dominic tiba tiba terpaku pada bagian bawah meja Harper. Pria itu menyipitkan mata, seolah baru saja melihat hantu. "Tunggu dulu. Sepatu apa yang kau pakai itu?"
Harper mengangkat sedikit kaki kanannya dari bawah meja, memamerkan sepasang sepatu olahraga kanvas berwarna putih bersih.
"Sepatu lari," jawab Harper santai.
Wajah Dominic memerah seketika. "Di mana sepatu hak tinggimu? Kau melanggar protokol berpakaian karyawan tingkat eksekutif! Kau tahu aturan perusahaan ini! Semua staf wanita wajib memakai sepatu formal dengan hak minimal lima sentimeter!"
"Aturan itu bikin kakiku lecet," balas Harper sambil menyalakan layar komputernya. "Lagi pula, kau sendiri yang menyuruhku mencari kandidat gila untuk menggantikanku, kan? Aku butuh mobilitas tinggi untuk menangkap orang gila. Sepatu hak tinggi cuma akan membuatku tersandung saat berlari mengejar mereka."
"Ganti sepatumu sekarang juga!" perintah Dominic mutlak. "Penampilanmu merusak citra eksklusif lantai ini. Klien besar dari luar negeri akan datang sebentar lagi. Kau kelihatan seperti anak magang yang sedang tersesat mencari kantin!"
Harper mendengus pelan. Tangannya lincah mengetikkan kata sandi di layar komputer tanpa ragu sedikit pun. "Pecat saja aku kalau kau tidak suka melihat sepatuku. Selesai urusan. Aku bisa langsung pulang dan tidur nyenyak."
Dominic menggeram tertahan. Jantungnya berpacu cepat. Ancaman Harper semalam ternyata bukan sekadar gertakan sambal belaka. Wanita ini benar benar mengibarkan bendera perang secara terbuka. Harper mulai merusak tatanan sempurnanya, mulai dari jam masuk hingga cara berpakaian. Dominic merasa otoritas mutlaknya sedang diinjak injak oleh sepasang sepatu lari murahan.
"Kau pikir kau bisa memberontak dariku dengan cara kekanak kanakan seperti ini?" cibir Dominic sinis. Pria itu melangkah maju, mendekati meja Harper untuk memberikan tekanan intimidasi. "Sepatu jelekmu itu tidak akan mengubah fakta bahwa kau masih terikat kontrak denganku. Selama denda satu miliar itu belum lunas, kau harus mematuhi semua perintahku. Termasuk aturan berpakaian."
Harper berhenti mengetik. Dia mendongak, menatap langsung ke kedua bola mata Dominic yang memancarkan kilat kemarahan egois.
"Aku tidak sedang memberontak, Dom," ucap Harper tenang. "Aku sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang tidak sehat ini. Kau mencari-cari kesalahan orang lain tanpa alasan logis? Bagus. Mulai detik ini, aku juga akan bekerja sesuka hatiku."
"Kau gila," bisik Dominic. Pria angkuh itu kehabisan kata kata. Debat mulut dengan Harper saat mode barbar wanita itu aktif adalah sebuah misi bunuh diri.
Harper memutar kursinya kembali menghadap monitor. Tanpa banyak bicara, dia membuka laci meja, mengeluarkan sepasang penyuara telinga nirkabel berwarna putih, lalu memasangnya di kedua telinganya.
Dominic ternganga melihat kelakuan sekretarisnya itu.
"Apa yang kau lakukan? Lepas benda itu dari telingamu!" bentak Dominic keras.
Harper sama sekali tidak merespons. Tangannya sibuk menyusun tumpukan dokumen di atas meja. Dia mulai bersenandung kecil, seolah Dominic hanyalah patung pajangan yang tidak memiliki suara.
"Harper Sloane! Aku sedang bicara padamu!" Suara Dominic naik satu oktaf. Pria itu memukul meja Harper cukup keras.
Harper melirik sekilas, tersenyum sangat tipis, lalu menaikkan volume musik di perangkatnya. Wanita itu benar benar menutup akses komunikasi secara sepihak.
Wajah Dominic berubah menjadi gelap gulita karena menahan amarah. Harga dirinya sebagai seorang penguasa bisnis hancur berkeping keping di depan meja sekretarisnya sendiri.
Sambil menggertakkan gigi, Dominic membalikkan badan, berjalan tegap dengan langkah menghentak kasar menuju ruangannya. Dia membanting pintu kayu mahoni itu hingga dinding kaca di sekitarnya ikut bergetar hebat.
Dari balik kaca transparan, Dominic menatap tajam ke arah Harper yang masih duduk tenang di luar sana dengan penyuara telinga terpasang. Pria itu mendengus kasar, lalu meraih gagang telepon di atas meja kerjanya. Jari telunjuknya menekan tombol panggilan cepat yang langsung terhubung ke pesawat telepon di meja Harper.
Di luar sana, lampu indikator merah pada telepon meja Harper menyala berkedip kedip terang. Layar digitalnya menampilkan tulisan besar: PANGGILAN MASUK - CEO.
Harper menoleh menatap telepon tersebut. Senyum sinis terukir tajam di bibirnya.
Tanpa melepas alat di telinganya, jari telunjuk Harper terulur pelan, menekan tombol warna merah berlogo gagang telepon tertutup.
Panggilan ditolak.
Di dalam ruangannya, Dominic menatap gagang telepon di tangannya dengan mata membelalak lebar. Suara nada putus yang berulang ulang terdengar seperti ejekan langsung ke gendang telinganya.
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣