Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Dua Wajah, Satu Nama
Lampu mobil itu masih menyilaukan ketika sosok itu melangkah mendekat.
Arkan.
Wajahnya tegas seperti biasa. Jasnya masih sama seperti tadi pagi. Tidak ada luka. Tidak ada bekas kekacauan.
Namun sesuatu terasa… berbeda.
Aluna berdiri kaku di samping Raisa. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia hampir tidak bisa mendengar suara mesin mobil yang baru saja berhenti.
“Arkan?” suaranya hampir tak terdengar.
Pria itu berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Masuk ke mobil,” katanya tenang.
Nada suaranya datar. Terlalu datar.
Raisa tidak bergerak.
Tatapannya tajam, mengamati setiap detail.
“Kau cepat sekali menemukan kami,” katanya dingin.
Arkan menoleh padanya perlahan.
“Aku tidak pernah kehilangan jejak.”
Kalimat itu membuat bulu kuduk Aluna berdiri.
“Apa maksudmu?” ia bertanya.
Arkan menatapnya. Tatapan itu familiar. Tapi ada sesuatu yang hilang—kehangatan yang biasanya terselip di sudut matanya.
“Kalian dalam bahaya,” katanya singkat. “Ikut aku.”
Raisa tetap berdiri di depan Aluna, sedikit menghalangi.
“Arkan yang mana?” tanyanya pelan.
Keheningan membeku.
Aluna menoleh cepat ke Raisa.
“Apa maksudmu?”
Raisa tidak menjawabnya. Ia hanya menatap pria di depan mereka tanpa berkedip.
“Kami baru saja melihat sesuatu,” lanjut Raisa. “Sesuatu yang menjelaskan banyak hal.”
Arkan memiringkan kepala sedikit.
“Oh?”
Aluna merasakan napasnya tercekat.
Foto itu.
Folder Proyek Aurora.
Arkan berdiri di samping Pak Aditya tujuh tahun lalu.
Sebelum kebakaran.
Sebelum semuanya runtuh.
“Kau ingin menjelaskan?” Raisa menekan.
Arkan tersenyum tipis.
Senyum yang terlalu tenang.
“Kalian membuka file itu.”
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Aluna mundur setengah langkah.
“Bagaimana kau tahu?” bisiknya.
Arkan tidak menjawab langsung.
Ia mengeluarkan ponselnya dan menampilkan layar.
Lokasi titik biru berkedip di atas peta.
Tepat di posisi mereka.
Aluna merasakan tubuhnya mendingin.
“Itu…” ia menyentuh lehernya refleks.
Liontin.
Raisa langsung mengerti.
“Ada pelacak,” katanya rendah.
Arkan mengangguk kecil.
“Aku menanamkannya lima tahun lalu.”
Dunia seperti berhenti berputar.
Lima tahun lalu.
Artinya…
Sejak awal.
Aluna merasa napasnya hilang.
“Kau… tahu tentang liontin ini?”
“Tentu.”
“Dan kau tidak pernah bilang padaku?”
“Karena kau belum siap.”
Kalimat itu terdengar sangat familiar.
Sama seperti yang Raisa katakan sebelumnya.
Aluna menoleh cepat ke Raisa.
Raisa membeku sesaat.
“Kau bekerja dengannya?” Aluna berbisik.
Raisa menggeleng pelan.
“Tidak.”
Namun keraguan sudah terlanjur tumbuh.
Arkan melangkah lebih dekat.
“Ayahmu datang menemuiku sebelum malam itu.”
Kalimat itu menghantam seperti petir.
“Apa?” suara Aluna pecah.
“Dia menunjukkan sebagian data. Dia tahu Konsorsium akan bergerak.”
“Dan kau bagian dari itu?” Raisa mendesak.
Arkan tertawa pelan.
“Kalau aku bagian dari mereka, kalian sudah mati.”
Sunyi.
Aluna mencoba membaca wajahnya.
“Apa itu Proyek Aurora?” tanyanya akhirnya.
Arkan terdiam sesaat.
Kemudian ia berkata pelan,
“Operasi penyusupan.”
Raisa menegang.
“Kau menyusup ke Konsorsium?”
Arkan mengangguk.
“Tujuh tahun lalu, Rendra memintaku menghadiri pertemuan tertutup. Saat itulah aku tahu perusahaan ini lebih busuk dari yang kukira.”
“Dan kau tidak keluar?” Surya akan marah jika ada di sini, pikir Aluna.
“Aku masuk lebih dalam.”
Raisa menatapnya tajam.
“Tanpa memberitahu siapa pun?”
“Ayah Aluna tahu.”
Jantung Aluna berdegup liar.
“Itu sebabnya foto itu ada,” Arkan melanjutkan. “Bukti bahwa aku pernah berdiri di sana.”
“Kenapa ayahku menyimpannya?” Aluna bertanya.
“Sebagai jaminan. Kalau aku berkhianat, foto itu bisa menghancurkanku.”
Keheningan berat menggantung.
Raisa menatapnya lama.
“Dan kau tidak pernah berkhianat?”
Arkan menatapnya balik.
“Belum.”
Jawaban itu membuat udara terasa semakin tipis.
“Belum?” ulang Aluna lirih.
Arkan mendekat satu langkah lagi.
“Aku mendekati pusat mereka. Tapi semakin dekat, semakin berbahaya.”
“Dan kebakaran itu?” Raisa bertanya.
Arkan menutup mata sejenak.
“Aku tidak tahu mereka akan membunuhnya malam itu.”
“Jadi kau memang ada di sana,” suara Aluna bergetar.
“Aku datang terlambat.”
“Dan pelacak di liontin?” Raisa menekan.
“Aku ingin memastikan dokumen itu tidak jatuh ke tangan yang salah.”
“Dengan mengawasiku?” Aluna hampir tidak percaya.
Arkan menatapnya.
“Aku mengawasimu karena kau adalah satu-satunya orang yang tidak boleh mati.”
Kalimat itu tidak terasa romantis.
Terasa seperti beban.
Tiba-tiba suara mesin mobil lain terdengar memasuki parkiran.
Lampu menyala dari sisi lain.
Raisa langsung menoleh.
“Itu bukan orang kita.”
Arkan mengumpat pelan.
“Aku diikuti.”
Mobil hitam lain berhenti tidak jauh dari mereka.
Pintu terbuka.
Dua pria turun.
Berpakaian gelap.
Gerakan mereka terlatih.
Konsorsium.
“Kalian berdua masuk ke mobilku,” Arkan berkata cepat.
“Kami tidak tahu apakah kami bisa percaya padamu,” Raisa membalas tajam.
Arkan menatapnya dingin.
“Kalian bisa tetap di sini dan mati.”
Pilihan yang tidak benar-benar pilihan.
Aluna menatap Arkan sekali lagi.
“Apa kau jujur padaku sekarang?” tanyanya cepat.
Arkan menatapnya dalam.
“Tidak semuanya.”
Kejujuran yang menyakitkan.
Namun anehnya, lebih bisa dipercaya daripada kebohongan manis.
Suara langkah kaki mendekat cepat.
Raisa mengambil keputusan.
“Kita masuk.”
Mereka berlari menuju mobil Arkan.
Tembakan meletus.
Peluru menghantam kap mobil.
Arkan membuka pintu dan mendorong Aluna masuk ke kursi belakang bersama Raisa.
Ia sendiri masuk ke kursi pengemudi dan langsung menyalakan mesin.
Mobil melesat keluar parkiran dengan kecepatan tinggi.
Tembakan lain terdengar, namun mereka sudah keluar ke jalan utama.
Beberapa detik hanya suara napas terengah dan mesin yang meraung.
Aluna memegang liontin erat.
“Kalau kau menyusup,” katanya pelan dari kursi belakang, “kenapa sekarang mereka mengejar kita terang-terangan?”
Arkan tidak menoleh.
“Karena Proyek Aurora hampir selesai.”
Raisa menegang.
“Selesai bagaimana?”
“Aku sudah mengumpulkan cukup bukti untuk menjatuhkan mereka.”
Aluna merasakan jantungnya berdetak lebih keras.
“Bukti di mana?”
Arkan tersenyum tipis.
“Bukan di liontin itu.”
Sunyi.
“Lalu di mana?” Raisa bertanya.
Arkan menatap kaca spion, memastikan mereka tidak diikuti.
“Kau pikir hanya ayahmu yang menyiapkan rencana cadangan?”
Aluna membeku.
“Kau punya salinan?”
“Lebih dari itu.”
Mobil berbelok tajam memasuki jalan tol.
Lampu kota melintas cepat di luar jendela.
Raisa menyempitkan mata.
“Kalau kau punya semua itu… kenapa menunggu lima tahun?”
Arkan terdiam beberapa detik.
“Karena aku menunggu orang yang tepat untuk mempercayainya.”
Aluna merasa dadanya menegang.
“Dan itu aku?”
Arkan tidak langsung menjawab.
“Kau adalah satu-satunya alasan aku tidak menghancurkan semuanya lebih cepat.”
Kalimat itu ambigu.
Mengandung pengakuan.
Sekaligus ancaman.
Raisa menatap lurus ke depan.
“Kalau begitu, siapa sebenarnya yang memimpin Konsorsium sekarang?”
Arkan menghela napas pelan.
“Itu pertanyaan yang sama yang kucari jawabannya selama tujuh tahun.”
Keheningan kembali turun.
Mobil melaju semakin jauh dari pusat kota.
Namun tiba-tiba—
Lampu peringatan di dashboard menyala.
Sistem navigasi mati.
Mesin tersendat.
Arkan mengerutkan kening.
“Tidak…”
“Apa?” Aluna panik.
“Sistem mobil diretas.”
Jantung Aluna terasa jatuh ke perutnya.
Mobil mulai melambat meski pedal gas diinjak penuh.
Di kaca spion, dua mobil hitam muncul.
Mendekat cepat.
Raisa berbisik pelan,
“Mereka tidak hanya punya penembak.”
Arkan menggertakkan gigi.
“Mereka punya akses.”
Mobil berhenti total di tengah jalan tol yang mulai sepi.
Lampu hazard berkedip.
Dua mobil hitam berhenti di belakang dan depan mereka.
Menjebak.
Pintu mobil belakang terbuka.
Beberapa pria turun.
Langkah mereka tenang.
Yakin.
Aluna merasakan napasnya membeku.
Arkan menoleh ke kursi belakang.
“Apapun yang terjadi, jangan berikan liontin itu.”
“Dan kau?” Aluna bertanya.
Arkan tersenyum tipis.
“Sudah kubilang. Proyek Aurora hampir selesai.”
Pintu mobil mereka ditarik paksa dari luar.
Cahaya lampu jalan menyinari wajah pria yang berdiri di sana.
Dan saat pria itu berbicara—
Suara yang keluar membuat darah Aluna benar-benar berhenti.
“Sudah cukup, Arkan.”
Suara itu sangat ia kenal.
Suara yang selama ini terdengar di telepon.
Suara yang mengirim pesan ancaman.
Suara yang berdiri di balik bayangan.
Raisa.
Aluna menoleh cepat ke sampingnya.
Namun kursi di sebelahnya kosong.
Raisa tidak ada di sana.
Dan pria yang berdiri di luar mobil—
Menyebutkan satu nama lagi.
“Bawa Aluna. Dia kunci terakhir.”
Dunia runtuh.
Orang yang mereka pikir melindungi—
Mungkin adalah dalang sebenarnya.
END BAB 19 🔥