Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Pria yang Kembali
...— ✦ —...
Pukul tujuh lima puluh pagi, Kirana sudah berdiri di ruang depan.
Bukan karena ia ingin terlihat menunggu — tapi karena ia tidak bisa duduk. Sudah dua kali ia mencoba sarapan, dua kali ia meletakkan sendoknya kembali tanpa benar-benar makan. Perutnya terlalu penuh dengan sesuatu yang bukan makanan: antisipasi, kecemasan, dan satu pertanyaan yang terus berputar seperti koin yang dilempar tapi belum mendarat.
*Bagaimana caranya menjadi istri yang meyakinkan bagi pria yang tidak pernah aku temui secara langsung?*
Seren lewat di lorong dengan Amethysta yang sudah rapi dalam gaun biru muda, rambutnya dikepang dua seperti biasa.
Gadis kecil itu melirik ke arah Kirana, lalu melirik ke arah pintu utama, lalu kembali ke Kirana — dengan ekspresi yang membaca situasi lebih cepat dari yang seharusnya bisa dilakukan seorang anak tujuh tahun.
"Ayah sebentar lagi?" tanyanya pelan.
"Sebentar lagi," jawab Kirana.
Amethysta mengangguk kecil. Ia tidak berlari ke pintu seperti anak-anak yang merindukan ayahnya biasanya berlari. Ia hanya berdiri di sisi Seren, tenang dan berjarak — anak yang sudah belajar bahwa kepulangan seseorang tidak selalu berarti keadaan menjadi lebih baik.
Kirana menelan rasa pahit yang tiba-tiba muncul di tenggorokannya.
Tepat pukul delapan, suara mobil terdengar di luar. Lalu suara pintu. Lalu langkah kaki yang berat dan terukur di teras — langkah kaki seseorang yang terbiasa memasuki ruangan dengan kehadiran penuh, bukan sekadar tubuh.
Pintu utama terbuka.
Dan Xavier Zhang masuk ke dalam rumahnya.
...✦ ✦ ✦...
Kirana pernah menulisnya dengan kata-kata: *"Xavier Zhang adalah pria yang membuat ruangan terasa lebih kecil bukan karena tubuhnya yang tinggi, tapi karena gravitasinya."* Waktu itu ia pikir itu adalah kalimat yang bagus untuk novel. Kini, berdiri tiga meter dari pria itu secara langsung, ia menyadari bahwa ia tidak membesar-besarkan apapun.
Xavier Zhang memang seperti itu.
Ia sekitar tiga puluh delapan tahun, dengan rambut hitam sedikit acak setelah perjalanan panjang, mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya tajam — tulang rahang yang tegas, mata gelap yang langsung bergerak memetakan ruangan saat ia masuk — tapi ada kelelahan di sudut matanya yang tidak bisa disembunyikan oleh posturnya yang tegap.
Matanya menemukan Amethysta pertama.
Sesuatu di wajahnya melunak seketika — bukan dramatis, tidak berlebihan, tapi nyata. Ia jongkok, membuka tangannya, dan Amethysta — yang tadi berdiri berjarak — melangkah maju dengan langkah yang tidak sepenuhnya ragu, tidak sepenuhnya yakin, dan masuk ke dalam pelukan ayahnya.
"Tuan Putri," gumam Xavier pelan, memeluknya sebentar sebelum melepaskannya dan memeriksa wajah gadis kecil itu dengan ibu jarinya. "Sudah besar."
"Ayah baru pergi sebulan," kata Amethysta datar.
Xavier tertawa kecil — singkat, tulus. "Sebulan itu lama kalau kamu masih tujuh tahun."
Lalu matanya bergerak. Melewati Seren yang memberi anggukan hormat. Dan berhenti pada Kirana.
Kirana berdiri di tempatnya, tidak bergerak, dan mencoba untuk tidak terlihat seperti seseorang yang baru pertama kali bertemu dengan suaminya sendiri.
Xavier berdiri, menatapnya. Tidak ada senyum yang datang langsung — ada jeda sejenak, penilaian yang dilakukan dengan cara yang tampak seperti biasa tapi Kirana tahu bukan biasa. Ia yang menuliskan bahwa Xavier Zhang selalu membaca ruangan sebelum meresponnya.
"Gwyneth," sapanya akhirnya. Nada yang sama dengan di telepon kemarin — nama yang diucapkan seperti pertanyaan yang belum diajukan secara langsung.
"Xavier." Kirana memilih untuk tidak bergerak duluan. Membiarkan jarak itu tetap ada, natural, tidak memaksakan keakraban yang mungkin tidak sesuai dengan pola yang Xavier kenal dari istrinya.
Ia melangkah maju, berhenti di jarak yang terasa sopan tapi tidak dingin, dan berkata, "Perjalanannya baik?"
"Panjang." Xavier menatapnya satu detik lebih lama dari yang terasa biasa. "Tapi baik."
...✦ ✦ ✦...
Sarapan bersama terasa seperti ujian yang tidak ada kunci jawabannya.
Mereka duduk bertiga di meja makan — Xavier di ujung, Kirana di sisinya, Amethysta di seberang dengan mangkuk bubur yang Seren siapkan. Percakapan mengalir dengan cara yang terukur: Xavier menceritakan perjalanannya dengan singkat, menanyakan kabar rumah, menanyakan bagaimana kunjungan Direktur Hansel kemarin berjalan.
"Baik," jawab Kirana. "Direktur Hansel tampak puas."
"Dia bilang kamu sangat... berbeda dari yang ia ingat." Xavier mengucapkannya sambil memotong rotinya, tidak menatap langsung. "Katanya kamu lebih hangat."
Kirana memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Orang bisa berubah."
"Bisa." Xavier mengangkat matanya sekarang, menatap langsung. "Pertanyaannya kenapa, dan kenapa sekarang."
Di seberang meja, Amethysta makan buburnya dengan tertib, pura-pura tidak mendengar — tapi Kirana bisa melihat sendok gadis kecil itu bergerak lebih pelan, telinganya memasang.
"Tidak ada alasan khusus," kata Kirana akhirnya. "Aku hanya berpikir bahwa beberapa hal perlu... diperhatikan ulang."
Jawaban yang ambigu. Tidak memuaskan. Tapi Xavier tidak mendesaknya — ia hanya mengangguk pelan, kembali ke rotinya, dan mengalihkan perhatian ke Amethysta.
"Bagaimana sekolahmu, Tuan Putri?"
Dan Amethysta, yang selama ini makan dalam diam, mengangkat kepalanya dan mulai bercerita tentang pelajaran sains yang ia sukai minggu lalu — tentang sistem tata surya, tentang planet-planet, tentang fakta bahwa Saturnus bisa mengapung di air kalau ada bak yang cukup besar.
Xavier mendengarkan dengan penuh perhatian, bertanya di tempat yang tepat, tertawa di bagian yang lucu. Dan Kirana, yang duduk di antara mereka, menyaksikan dinamika itu dengan perasaan yang berlapis-lapis.
Inilah yang tidak pernah berubah dalam novel aslinya — kecintaan Xavier pada putrinya yang tulus, kegembiraan Amethysta saat berbicara dengan ayahnya yang hangat. Tapi dalam novel itu, momen-momen ini selalu berakhir dengan Gwyneth yang memotongnya dengan satu komentar dingin, atau mengalihkan perhatian Xavier dengan hal lain, atau sekadar membuat suasana menjadi cukup tidak nyaman hingga Amethysta berhenti berbicara dan kembali ke mode diamnya.
Kali ini Kirana tidak melakukan itu.
Ia hanya duduk, minum tehnya, dan membiarkan momen itu berlangsung selama yang diperlukannya.
...✦ ✦ ✦...
Setelah sarapan, Xavier memintanya bicara berdua.
Mereka duduk di ruang kerja — ruangan yang sudah menjadi tempat Kirana menghabiskan banyak waktu dua hari terakhir, cukup untuk membuatnya merasa sedikit lebih familiar. Xavier duduk di sofa, bukan di balik meja, yang Kirana artikan sebagai sinyal bahwa ini bukan percakapan bisnis.
"Ada yang ingin kamu ceritakan padaku?" tanyanya langsung.
Kirana menatapnya. Ia mempertimbangkan berbagai jawaban yang mungkin dalam sepersekian detik — jawaban Gwyneth yang asli, jawaban yang aman, jawaban yang tidak membuka terlalu banyak.
Lalu ia memilih jawaban yang paling mendekati kebenaran tanpa benar-benar menjadi kebenaran penuh.
"Aku berpikir banyak selama kamu pergi," kata Kirana pelan. "Tentang rumah ini. Tentang Amethysta." Jeda singkat. "Tentang cara aku... menjalankan semuanya selama ini."
Xavier tidak langsung menjawab. Ia menatapnya dengan cara yang membuat Kirana merasa seperti sedang dibaca — bukan dengan tidak nyaman, tapi dengan serius, dengan perhatian penuh yang mungkin justru lebih menakutkan daripada kemarahan.
"Dan?" tanyanya akhirnya.
"Dan aku rasa ada beberapa hal yang harus berubah." Kirana memilih setiap kata seperti memilih pijakan di atas batu licin. "Bukan semua sekaligus. Tapi mulai dari sekarang."
"Hal-hal seperti apa?"
Kirana menatap tangannya sendiri — tangan Gwyneth yang panjang dan terawat — dan berkata, "Cara aku bersikap pada Amethysta."
Keheningan yang turun setelah kata-kata itu terasa berbeda dari keheningan sebelumnya. Lebih berat. Lebih berisi.
Xavier duduk sangat diam. Terlalu diam. Dan untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke rumah tadi pagi, Kirana melihat sesuatu di wajah pria itu yang tidak ia tuliskan dalam novelnya — atau mungkin ia tuliskan, tapi tidak pernah benar-benar memahaminya sampai sekarang, sampai melihatnya langsung.
Lega. Xavier Zhang terlihat lega.
Seperti seseorang yang sudah lama menahan napas dan baru saja mendapat izin untuk melepaskannya.
"Gwyneth," katanya pelan, suaranya turun ke nada yang lebih pribadi. "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi..." Ia berhenti. Mulai lagi. "Aku senang kamu bilang ini."
Kirana tidak menjawab. Tenggorokannya terasa aneh.
Karena dalam novel yang ia tulis, Xavier tidak pernah mendapat momen ini. Gwyneth yang asli tidak pernah duduk di ruangan ini dan mengucapkan kata-kata seperti itu. Dan Xavier — Xavier yang mencintai istrinya dengan cara yang buta dan setia — tidak pernah tahu bahwa ia sudah lama menunggu tanpa sadar bahwa ia menunggu.
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi," kata Kirana akhirnya, dan itu adalah kebenaran yang paling utuh yang bisa ia berikan. "Tapi aku ingin mencoba melakukan yang benar. Mulai sekarang."
Xavier menatapnya lama. Lalu ia mengangguk — satu kali, pelan, seperti sebuah perjanjian yang tidak perlu tanda tangan.
"Kalau begitu kita mulai dari sana," katanya.
...✦ ✦ ✦...
Sore harinya, Kirana menemukannya di perpustakaan kecil di sayap barat — ruangan yang tidak pernah ia masuki sebelumnya karena dalam novelnya tidak cukup penting untuk dideskripsikan secara detail.
Ternyata ruangan itu indah. Rak-rak kayu tua penuh buku, satu jendela besar menghadap taman, kursi baca yang tampak sudah sering digunakan. Dan di salah satu kursi itu, Xavier duduk dengan buku terbuka di pangkuannya tapi matanya menatap ke luar jendela.
Ia tidak mendengar Kirana masuk.
Kirana berdiri di ambang pintu sejenak, mengamati pria itu tanpa ia sadari. Ada sesuatu dalam cara Xavier duduk sendirian seperti ini — lebih manusiawi dari gambaran yang selalu ia tulis. Bukan pengusaha sukses dengan gravitasi yang memenuhi ruangan. Hanya seorang pria yang kelelahan setelah perjalanan panjang, duduk di antara buku-buku lama, memikirkan sesuatu yang tidak ia ucapkan.
"Xavier."
Ia menoleh. Tidak terkejut — atau menyembunyikannya dengan baik. "Gwyneth."
"Boleh aku duduk?"
Alis Xavier naik tipis — pertanyaan yang rupanya tidak biasa. Tapi ia mengangguk, dan Kirana duduk di kursi di seberangnya, dan mereka berdua diam sejenak dalam ruangan yang berbau kertas tua dan kayu.
"Kamu suka membaca?" tanya Kirana.
"Dulu." Xavier menutup bukunya. "Sekarang lebih sering pura-pura membaca."
"Kenapa pura-pura?"
Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Karena buku ini sudah aku buka di halaman yang sama selama tiga bulan."
Kirana menatap punggung buku di tangannya. Sebuah novel tebal dengan judul yang tidak ia kenali. Tapi cara Xavier memegangnya — dengan ibu jari menyelip di antara halaman yang sama, selalu halaman yang sama — bercerita lebih banyak dari kata-kata.
"Bagian mana yang susah dilanjutkan?" tanya Kirana pelan.
Xavier menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu, dengan cara yang terasa seperti keputusan kecil yang sudah lama ditunda, ia membuka buku itu ke halaman yang selama ini ia tandai.
Kirana membaca kalimat di bagian atas halaman itu.
*"Kadang kita tidak tahu bahwa sesuatu sudah berubah sampai kita berdiri di tempatnya lagi dan sadar bahwa tidak ada yang terasa sama seperti sebelumnya."*
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Tidak perlu.
Di luar jendela, taman mulai berwarna keemasan oleh cahaya sore. Di suatu tempat di lantai atas, suara langkah kaki kecil bergerak cepat — Amethysta, mungkin sedang berlari ke kamarnya, mungkin sedang mengejar sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh anak tujuh tahun.
Dan di perpustakaan kecil di sayap barat, dua orang yang saling tidak mengenal sepenuhnya — satu karena lupa, satu karena tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk tahu — duduk berdampingan dalam diam yang, untuk pertama kalinya, tidak terasa seperti jarak.
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...