Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Mika berdiri mematung di pinggir jalan, tepat di bawah bayangan pohon mangga yang besar agar tidak terlihat dari jendela posko. Di depannya, Alvaro menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kekecewaan dan pemahaman yang mendalam. Cahaya bulan sabit yang tipis menyinari rahang tegas pria itu, membuatnya terlihat seperti patung dewa yang sedang tidak senang.
"Nggak, Al. Kita harus jaga jarak. Aku belum siap," bisik Mika dengan nada yang sangat memohon. Matanya bergerak liar, waspada pada setiap bunyi pintu yang terbuka dari arah posko. "Plis... aku di sini cuma mahasiswa yang KKN, bukan buat pacaran. Nanti kalau kamu bawa aku ke sana sebagai 'pendamping', warga bisa mikir aneh-aneh. Reputasi kamu sebagai Kades bisa hancur, dan nilai KKN aku bisa taruhannya."
Alvaro menarik napas panjang, deburan napasnya terdengar berat di keheningan malam. Ia maju satu langkah, membuat Mika terdesak ke batang pohon. "Kamu pikir saya peduli dengan reputasi kalau itu menyangkut kamu?"
"Tapi aku peduli, Al!" sela Mika cepat. "Tolong, biarkan hubungan ini... rahasia dulu. Setidaknya sampai tugasku selesai."
Alvaro terdiam cukup lama, sebelum akhirnya ia mengangguk kaku. "Baiklah. Kalau itu yang kamu mau. Tapi jangan harap saya tidak akan memperhatikan kamu dari jauh di sana."
Mika mengembuskan napas lega yang panjang. "Makasih. Yaudah, kamu jalan duluan. Jangan terlalu mencolok. Aku bakal berangkat bareng Siti dan Asia sebentar lagi."
Alvaro tidak menjawab. Ia hanya menatap Mika untuk terakhir kalinya malam itu dengan tatapan yang seolah ingin menelan Mika bulat-bulat, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan langkah tegap khas seorang pemimpin yang sedang menekan emosinya.
Mika menunggu sampai punggung Alvaro benar-benar hilang di tikungan jalan sebelum ia memberanikan diri kembali ke depan pintu posko. Ia merapikan kebaya kutubaru berwarna kuning kunyit yang ia kenakan—pakaian yang sebenarnya sengaja ia siapkan untuk tampil cantik malam ini, meski alasannya ia sembunyikan rapat-rapat.
Tepat saat ia hendak melangkah masuk, Siti dan Asia keluar dari posko. Mereka berdua sudah tampil rapi. Siti mengenakan batik cokelat, sementara Asia tampil modis dengan tunik panjang.
"Ayo, Mik! Lo nungguin siapa di situ? Udah jam segini, ntar kita telat dapet berkatnya Mbah Darmo!" seru Asia sambil membetulkan posisi tas selempangnya.
Mika tersentak, tangannya refleks meraba-raba semak di samping teras. "Iya! Ini... ini tadi ada ular! Gue cek doang kok, takutnya masuk ke dalem pas kita tinggal nanti," kilah Mika dengan suara yang sedikit terlalu tinggi.
"Ular?!" Siti langsung melompat ke belakang Asia. "Mana? Gede nggak? Ih, emang ya desa ini tuh banyak banget setannya, eh, hewannya maksud gue!"
"Udah pergi kok, tadi masuk ke selokan. Yuk, yuk, berangkat!" Mika segera mendorong kedua temannya agar berjalan lebih dulu, tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk menoleh ke arah jalan setapak tempat Alvaro baru saja menghilang.
Rumah Mbah Darmo sudah dipenuhi warga. Harum nasi tumpeng, ayam ingkung, dan sambal goreng kentang menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Tikar-tikar digelar di ruang tamu yang luas, memisahkan barisan bapak-bapak di satu sisi dan ibu-ibu di sisi lain.
Di barisan paling depan, di kursi kehormatan, Alvaro duduk berdampingan dengan Mbah Darmo dan beberapa tokoh masyarakat. Ia terlihat sangat berwibawa dengan batik motif parang berwarna gelap. Wajahnya kembali menjadi "robot"—dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Mika duduk di barisan mahasiswa KKN, agak jauh di belakang. Namun, sepanjang acara doa bersama berlangsung, ia bisa merasakan panas di pipinya. Setiap kali Mbah Darmo berbicara, Alvaro seolah-olah sedang menatap ke arah depan, namun Mika tahu, titik fokus mata pria itu adalah dirinya.
"Neng Mika, kenapa kebayanya kok digulung-gulung terus lengannya? Gerah ya?" bisik Siti yang duduk di sampingnya.
"Eh? Iya, lumayan panas ya di sini," jawab Mika asal, padahal udara malam itu cukup dingin. Masalahnya adalah, setiap kali mata mereka beradu secara tidak sengaja, Mika merasa seperti ada aliran listrik yang membuatnya ingin segera lari.
Setelah doa selesai, acara makan-makan dimulai. Saat Mika sedang mengantre untuk mengambil nasi, Lilis tiba-tiba muncul di sampingnya. Gadis desa itu tampak sangat rapi dengan kebaya merah menyala dan riasan wajah yang tebal.
"Nggak usah kegatelan, Mbak," bisik Lilis tepat di telinga Mika saat mereka sedang mengambil kerupuk. "Mas Al itu orang terpandang di sini. Dia nggak mungkin serius sama orang kota yang cuma numpang lewat kayak kamu."
Mika menghentikan gerakan sendoknya. Ia menoleh ke arah Lilis dengan senyum paling manis namun paling mematikan yang pernah ia miliki. "Mbak Lilis, mending fokus sama nasinya aja. Takutnya kalau Mbak kebanyakan ngomong, nanti tersedak kabel biru lagi. Inget kan, sanksi bersih-bersih Balai Desa belum selesai?"
Wajah Lilis seketika berubah pucat pasi, lalu menjadi merah karena marah. Ia mendengus kasar dan pergi menjauh.
Namun, drama tidak berhenti di situ. Alvaro, yang tadinya sedang mengobrol dengan sesepuh desa, tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju meja prasmanan—tepat ke arah Mika berdiri.
Siti dan Asia langsung saling sikut. "Tuh, tuh, arah jam 12, singa mendekat!" bisik Asia.
Mika menahan napas. Tolong, Al, jangan deket-deket, batinnya berdoa.
Alvaro sampai di depan meja. Bukannya menyapa Mika dengan mesra, ia justru mengambil piring dengan gerakan formal. "Mbak Mikayla, bagaimana progres laporan harian untuk hulu barat? Jangan sampai acara syukuran ini membuat tugas kamu terbengkalai."
Mika tertegun. Suara Alvaro begitu kaku, begitu profesional, hingga ia sendiri hampir percaya kalau kejadian di bawah pohon jati tadi pagi hanyalah mimpi.
"Sedang diproses, Pak Kades. Besok pagi sudah ada di meja Bapak," jawab Mika dengan nada yang tak kalah kaku.
"Bagus. Saya tunggu pukul delapan tepat." Alvaro mengangguk singkat, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Siti mengembuskan napas panjang. "Gila, si Fir'aun itu bener-bener ya. Orang lagi mau makan enak malah ditagih laporan. Untung lo nggak jantungan, Mik."
Mika hanya tersenyum tipis, pura-pura sibuk mengaduk sambalnya. Namun, di balik piringnya, ia merasakan ponselnya di kantong kebaya bergetar. Ia membukanya perlahan di bawah meja.
Alvaro: "Kebaya kuning itu sangat berbahaya untuk kesehatan jantung saya. Besok jam delapan jangan telat. Saya mau menagih 'harga' karena sudah bersandiwara jadi robot di depan teman-temanmu."
Mika hampir saja tersedak nasi kuningnya. Ia melirik ke arah depan, dan ia melihat Alvaro sedang meminum tehnya, namun matanya menatap Mika dari balik cangkir dengan kilat nakal yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.
"Mati gue besok pagi," batin Mika sambil tersenyum malu, hatinya berbunga-bunga di tengah riuhnya suara warga Desa Asih.