melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
senyum yang tak dikenal
Pagi berikutnya di kantor Aurora Capital terasa berbeda bagi Alya.
Bukan karena suasana kantor berubah.
Melainkan karena posisinya di dalam perusahaan itu sudah mulai bergeser.
Beberapa orang kini menatapnya lebih lama. Bukan dengan rasa curiga, melainkan rasa ingin tahu.
Karyawan baru yang tiba-tiba dipanggil direktur di hari kedua bekerja tentu menarik perhatian.
Namun Alya tetap bekerja seperti biasa.
Ia membaca laporan, memeriksa angka, dan menuliskan catatan kecil di pinggir dokumen.
Dina yang duduk di meja sebelahnya menatapnya sambil menyandarkan dagu di tangan.
“Aku masih tidak percaya,” kata Dina.
Alya tidak mengangkat kepala.
“Tidak percaya apa?”
“Direktur Daniel memanggilmu langsung.”
Alya akhirnya menoleh sedikit.
“Mungkin dia hanya ingin memastikan aku tidak merusak laporan perusahaan.”
Dina tertawa kecil.
“Tidak. Daniel bukan tipe orang yang membuang waktu untuk hal kecil.”
Alya hanya tersenyum tipis.
Ia tidak ingin terlihat terlalu menonjol.
Namun kenyataannya, ia sudah berdiri satu langkah lebih dekat dengan dunia yang ingin ia masuki.
Beberapa menit kemudian, suasana kantor kembali berubah.
Kali ini lebih jelas.
Beberapa orang berdiri.
Beberapa yang lain merapikan pakaian mereka.
Dina berbisik pelan.
“Dia datang lagi.”
Alya tahu siapa yang dimaksud.
Langkah kaki terdengar dari koridor.
Agung Kusuma masuk ke ruangan itu dengan dua orang manajer di belakangnya.
Hari ini ia terlihat lebih santai dibanding kemarin.
Namun aura kepemimpinan itu tetap terasa.
Orang-orang secara alami memberi ruang saat ia berjalan melewati meja mereka.
Alya tetap menatap layar komputernya.
Namun ia bisa merasakan langkah Agung semakin dekat.
Beberapa detik kemudian langkah itu berhenti.
“Laporan kemarin sudah diperbarui?”
Suara Agung terdengar dari dekat.
Alya mengangkat kepala.
“Sudah, Pak.”
Agung berdiri di samping mejanya.
Ia mengambil dokumen yang Alya sodorkan.
Matanya membaca cepat.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu Agung berkata singkat.
“Kamu cepat belajar.”
Alya menjawab tenang.
“Saya hanya mengikuti data yang ada.”
Agung menutup dokumen itu.
Namun kali ini ia tidak langsung pergi.
Tatapannya sedikit menyipit.
Seolah mencoba mengingat sesuatu.
“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya tiba-tiba.
Jantung Alya berdetak satu kali lebih keras.
Namun wajahnya tetap tenang.
“Saya baru pindah ke kota ini.”
Agung menatapnya beberapa detik lagi.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Mungkin hanya perasaan saya.”
Ia mengembalikan dokumen itu.
“Teruskan pekerjaanmu.”
Kemudian ia berjalan pergi.
Dina langsung berbisik ketika Agung sudah cukup jauh.
“Dia jarang berbicara selama itu dengan karyawan baru.”
Alya hanya mengangkat bahu.
Namun di dalam dirinya, pikirannya masih memutar satu kalimat tadi.
Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?
Untuk sesaat, Alya merasa dunia hampir runtuh.
Namun sekarang semuanya kembali tenang.
Wajah barunya benar-benar bekerja.
Sore hari tiba lebih cepat dari yang Alya kira.
Daniel memanggilnya lagi ke lantai atas.
Kali ini ruangan direktur terasa lebih santai.
Tidak ada dokumen menumpuk di meja.
Daniel berdiri di dekat jendela sambil memegang secangkir kopi.
“Kamu bekerja dengan baik hari ini,” katanya.
Alya berdiri di depannya.
“Terima kasih.”
Daniel menatapnya sebentar.
“Agung Kusuma menyebut namamu tadi.”
Alya sedikit terkejut.
“Benarkah?”
Daniel tersenyum kecil.
“Dia bilang analis baru di timku cukup menarik.”
Alya tidak tahu harus merasa bangga atau waspada.
Daniel melanjutkan.
“Itu berarti kamu sudah menarik perhatian yang tepat.”
Ia berjalan kembali ke meja dan mengambil sebuah map.
“Besok malam ada acara makan malam dengan beberapa investor.”
Daniel menyerahkan map itu.
“Aku ingin kamu ikut.”
Alya membuka map itu.
Daftar tamu di dalamnya membuat matanya sedikit melebar.
Beberapa nama pengusaha besar.
Dan satu nama yang tidak ia sangka.
Agung Kusuma.
Alya menutup map itu perlahan.
“Kenapa saya?”
Daniel menjawab santai.
“Karena aku ingin melihat bagaimana kamu berbicara dengan orang-orang penting.”
Ia tersenyum tipis.
“Anggap saja ini ujian kecil.”
Alya mengangguk pelan.
“Baik.”
Namun ketika ia keluar dari ruangan itu, pikirannya tidak lagi tenang.
Besok malam.
Ia akan duduk di satu meja dengan pria yang dulu menghancurkan hidup kakaknya.
Dan pria itu tidak akan mengenalinya.
Malamnya di apartemen, Alya duduk di sofa sambil membaca daftar tamu acara itu.
Raka berdiri di dapur kecil membuat kopi.
Ketika Alya menyebut nama Agung, Raka hanya berhenti sejenak.
Lalu kembali menuang air panas.
“Jadi kamu akan bertemu dia lagi,” katanya.
Alya mengangguk.
“Dalam acara makan malam.”
Raka membawa dua cangkir kopi dan duduk di seberangnya.
“Bagus.”
Alya menatapnya.
“Bagus?”
Raka tersenyum kecil.
“Semakin cepat kamu terbiasa berada di dekat mereka, semakin kuat kamu nanti.”
Alya memikirkan kata-kata itu.
Kemudian ia berkata pelan.
“Aku tidak tahu bagaimana rasanya ketika duduk di meja yang sama dengannya.”
Raka menjawab tenang.
“Seperti duduk dengan orang asing.”
Alya terdiam.
Mungkin itu benar.
Sekarang Agung memang seperti orang asing baginya.
Bukan lagi pria yang dulu sering datang ke kedai kecil Wulan.
Bukan lagi pria yang tersenyum sambil memesan kopi hangat.
Sekarang ia hanya seorang pria dalam dunia bisnis besar.
Seseorang yang bahkan tidak mengenali wajah adik perempuan Wulan.
Alya berdiri dan berjalan ke jendela.
Lampu kota terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Ia memikirkan Wulan.
Kemudian perlahan tersenyum.
Namun senyum itu bukan senyum pahit.
Lebih seperti senyum tenang seseorang yang akhirnya menemukan jalannya.
Di belakangnya, Raka memperhatikan tanpa berkata apa-apa.
Ia tidak tahu apa yang Alya pikirkan saat itu.
Namun satu hal terlihat jelas.
Alya tidak lagi terlihat seperti gadis yang hancur oleh kehilangan.
Sekarang ia terlihat seperti seseorang yang baru memulai kehidupan baru.
Dan mungkin, tanpa disadari siapa pun…
Langkah-langkah kecil yang ia ambil di kota besar itu akan mengubah banyak hal di masa depan.
Bukan dengan suara keras.
Bukan dengan kekacauan.
Melainkan perlahan.
Seperti senyum misterius yang baru saja muncul di wajah seorang wanita yang tidak lagi dikenali oleh masa lalunya.
Alya masih berdiri di dekat jendela apartemen ketika Raka kembali duduk di sofa.
Lampu kota di luar terlihat seperti hamparan cahaya yang tidak pernah benar-benar padam. Dari ketinggian itu, semua terlihat tenang.
Namun Alya tahu, di balik gedung-gedung tinggi itu ada banyak permainan yang tidak pernah terlihat oleh orang biasa.
Ia memutar gelas kopi di tangannya.
“Acara makan malam itu… di mana?” tanyanya akhirnya.
Raka menatapnya sebentar.
“Sebuah hotel di pusat kota. Tempat yang sering dipakai untuk pertemuan bisnis.”
Alya mengangguk pelan.
“Jadi bukan hanya investor?”
Raka tersenyum tipis.
“Di dunia bisnis, makan malam seperti itu jarang hanya tentang makan.”
Ia meneguk kopinya.
“Biasanya keputusan besar justru dibuat di meja makan.”
Alya kembali melihat daftar tamu di map yang ia bawa.
Nama-nama itu terasa berat.
Orang-orang yang selama ini hanya ia lihat di berita bisnis.
Dan besok malam ia akan duduk di ruangan yang sama dengan mereka.
Perasaan gugup tentu ada.
Namun bersamaan dengan itu ada juga rasa penasaran.
“Menurutmu… Agung akan datang lebih awal?” tanya Alya tiba-tiba.
Raka mengangkat alis sedikit.
“Kamu ingin mengamatinya?”
Alya tidak langsung menjawab.
Namun beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
“Aku ingin melihat bagaimana dia sekarang.”
Raka tidak menanggapi dengan serius.
Ia hanya mengangguk kecil.
“Kamu akan melihatnya sendiri besok.”
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Namun kali ini terasa lebih ringan.
Alya tidak lagi memikirkan masa lalu dengan rasa sakit yang sama seperti dulu.
Kini semuanya terasa seperti bagian dari cerita yang sedang berjalan.
Keesokan paginya di kantor Aurora Capital, suasana terasa sedikit lebih santai karena sebagian besar tim sibuk mempersiapkan acara malam itu.
Dina datang dengan ekspresi bersemangat.
“Alya!”
Alya menoleh dari layar komputernya.
“Ada apa?”
Dina menarik kursi dan duduk di dekatnya.
“Aku dengar kamu ikut acara makan malam investor malam ini.”
Alya mengangguk kecil.
“Direktur Daniel yang memintaku.”
Dina menghela napas panjang.
“Kamu benar-benar beruntung.”
Alya tersenyum tipis.
“Kenapa?”
“Karena acara seperti itu biasanya hanya dihadiri manajer senior.”
Dina lalu menatap Alya dengan mata berbinar.
“Dan makanannya luar biasa.”
Alya tertawa kecil.
“Jadi kamu iri karena makanannya?”
“Sebagian besar, iya,” jawab Dina sambil tertawa.
Percakapan ringan itu membuat Alya sedikit lebih rileks.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke kota ini, ia merasa seperti orang biasa.
Bukan seseorang yang menyimpan rahasia besar.
Beberapa jam kemudian Daniel keluar dari ruangannya dan berjalan ke arah meja Alya.
“Alya.”
Alya langsung berdiri.
“Ya, Pak.”
Daniel memperhatikan pakaiannya yang masih sederhana.
“Kamu sudah menyiapkan pakaian untuk malam ini?”
Alya sedikit terdiam.
“Belum.”
Daniel tersenyum kecil.
“Kalau begitu pulanglah lebih awal hari ini.”
Ia menyerahkan sebuah kartu kecil.
“Pergi ke butik ini.”
Alya melihat kartu itu.
Nama butik terkenal tertera di sana.
“Pak, saya tidak yakin".
Daniel mengangkat tangan menghentikannya.
“Itu bagian dari persiapan.”
Ia menambahkan dengan nada ringan.
“Investor biasanya lebih percaya pada orang yang terlihat percaya diri.”
Alya mengangguk pelan.
“Baik.”
Sore hari Alya benar-benar pergi ke butik yang dimaksud.
Tempat itu jauh lebih mewah daripada toko pakaian yang pernah ia datangi sebelumnya.
Seorang staf langsung menyambutnya dengan ramah.
Setelah beberapa percobaan pakaian, akhirnya Alya memilih sebuah gaun sederhana berwarna hitam.
Elegan tanpa terlihat berlebihan.
Ketika ia melihat dirinya di cermin butik itu, ia sempat terdiam.
Wajah baru.
Pakaian baru.
Lingkungan baru.
Jika Wulan masih hidup, mungkin kakaknya akan terkejut melihatnya sekarang.
Namun Alya justru tersenyum kecil.
Bukan senyum sedih.
Lebih seperti senyum seseorang yang sedang berjalan menuju sesuatu yang belum diketahui.
Malam mulai turun ketika Alya kembali ke apartemen.
Raka sudah berdiri di ruang tamu mengenakan jas hitam.
Ia menoleh ketika Alya masuk.
Untuk beberapa detik ia tidak berkata apa-apa.
Alya mengangkat alis.
“Apa?”
Raka tersenyum tipis.
“Kamu terlihat seperti orang yang berbeda.”
Alya mengambil tas kecilnya.
“Bukankah itu memang tujuannya sejak awal?”
Raka tertawa pelan.
“Benar.”
Ia mengambil kunci mobil dari meja.
“Ayo. Kita tidak boleh terlambat.”
Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju hotel tempat acara itu diadakan.
Lampu-lampu kota kembali memantul di jendela mobil.
Alya melihat ke luar dengan tenang.
Di suatu tempat di kota yang sama, seseorang dari masa lalunya mungkin sedang bersiap menghadiri acara yang sama.
Namun orang itu tidak akan tahu bahwa malam ini mereka akan bertemu lagi.
Bukan sebagai dua orang yang pernah saling mengenal.
Melainkan sebagai dua orang asing yang duduk di meja yang sama.
Dan mungkin…
Ketika pertemuan itu terjadi, akan ada satu senyum kecil yang membuat malam itu terasa sedikit lebih menarik dari yang direncanakan siapa pun.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.