NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Adrian pulang ke rumah Clara dengan membanting pintu mobil.

Supir pribadinya tidak berkata apapun, sudah cukup lama bekerja untuk tahu sifat dari majikannya.

Di dalam rumah Bi Lastri yang sedang merapikan ruang tamu langsung membaca situasi dari cara Adrian masuk dan memilih untuk mengambil kemocengnya dan pergi ke bagian rumah yang lain dengan sangat cepat.

Adrian melempar jasnya ke sofa. Melonggarkan dasinya.

Berjalan ke dapur mengambil segelas air dan meminumnya habis dalam tiga tegukan besar seperti orang yang sedang mencoba mendinginkan sesuatu yang terlalu panas di dalam dadanya.

"Kamu pulang lebih cepat dari yang aku kira."

Clara berdiri di ambang pintu dapur, baju kantornya masih rapi, rambut yang masih tertata. Ia menatap Adrian dengan cara yang tenang tapi matanya membaca semuanya dalam satu detik, cara Adrian masuk, jas yang dilempar ke sofa, gelas yang sudah kosong di tangannya.

"Kamu keluar dari kantor tanpa memberitahuku dulu." Clara berkata. "Menemui Elena lagi? dan sepertinya kamu tidak berhasil membujuknya?." Clara bertanya dengan nada sinis.

"Ya, tidak berhasil." Adrian mengulang dengan nada yang mengejek dirinya sendiri. Ia meletakkan gelasnya di counter dengan keras. "Ia mendorongku, Clara. Mendorongku seperti aku ini..." ia berhenti, menggeleng, "seperti aku orang asing."

Clara menatapnya dan tidak berkata apapun.

"Aku bilang padanya kita bisa selesaikan ini baik-baik. Aku bilang kita bisa mulai dari awal. Tapi dia...." Adrian menghela napas panjang dan membuangnya kasar, "dia tidak mau dengar apapun. Sama sekali."

"Tentu saja tidak mau dengar." Clara menjawab akhirnya dengan nada yang sangat datar. "Kamu pikir Elena Wirawan akan luluh hanya karena kamu datang ke kantornya dan bicara soal memulai dari awal?"

"Aku harus mencobanya, Clara."

"Kamu sudah mencoba." Clara memotong. "Berkali-kali. Di parkiran, di rumah keluarganya, di pesta, sekarang di kantornya." Ia berkata dengan tenang. "Dan setiap kali kamu mencoba kamu pulang ke sini dengan wajah seperti itu."

Adrian menatapnya. "Maksudmu apa?"

"Maksudku?" Clara menatap Adrian dengan tatapan dingin, "kamu selalu pulang ke sini, Adrian. Ke rumah ini. Ke aku." Suaranya masih terdengar tenang. "Tapi kamu tidak pernah benar-benar di sini."

Adrian berkedip. "Clara."

"Kamu pikir aku tidak tahu?" Clara berkata pelan. "Kamu pikir aku tidak melihat? Setiap kali kamu dari sana kamu bawa pulang semua itu ke sini, amarahmu, frustrasimu, semua yang Elena katakan padamu dan kamu cerita ke aku seperti aku ini tempat sampah untuk semua yang tidak bisa kamu keluarkan di depannya."

"Itu tidak benar, Clara."

"Sangat benar." Clara tidak meninggikan suaranya tapi ada sesuatu yang membuat Adrian merinding mendengar suara Clara yang tenang. "Kamu tahu berapa kali dalam sebulan terakhir ini kamu menyebut nama Elena di depanku? Kamu mau tahu jawabannya?"

Adrian tidak menjawab.

"Terlalu sering sampai aku tidak bisa menghitungnya." Clara berkata. "Di meja makan. Di ruang tamu. Bahkan saat kamu tidak bicara apapun, kamu duduk dan menatap ponselmu dan aku tahu kamu sedang memikirkan dia." Ia mengambil napas pelan. "Aku tahu karena wajahmu berbeda. Wajahmu selalu berbeda saat kamu memikirkan Elena."

Ruangan dapur itu hening. Di luar angin bergerak pelan menggerakkan tirai jendela.

"Clara...." Adrian melangkah ke arahnya.

"Jangan mendekat." Clara mengangkat tangannya. Satu gerakan kecil yang menghentikan Adrian lebih efektif dari kata apapun. "Jangan datang kepadaku sekarang dan bilang hal-hal yang kamu bilang setiap kali kamu merasa bersalah padaku. Aku sudah hapal semuanya, Adrian. Semuanya."

Adrian berdiri di tempatnya.

"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?" Clara melanjutkan, suaranya turun menjadi sangat pelan. "Bukan bahwa kamu masih mencintainya. Itu aku bisa terima perasaan tidak bisa dipaksa padam begitu saja." Ia menatap Adrian langsung dengan mata yang masih kering tapi menyimpan sesuatu yang sangat dalam. "Yang menyakitkan adalah kamu tidak pernah mau jujur. Padaku. Pada dirimu sendiri." Ia mengepalkan tangannya. "Kamu bilang kamu mencintaiku. Kamu bilang aku yang kamu mau. Tapi setiap keputusan yang kamu buat, setiap langkah yang kamu ambil semuanya tentang Elena."

"Itu tidak benar, Clara...."

"Berita itu." Clara memotong. "Kamu memberikan pernyataan ke portal itu bukan untuk membantu rencanaku. Kamu melakukannya karena kamu pikir itu akan membuat Elena kembali padamu." Matanya tidak bergerak dari wajah Adrian. "Benar tidak?"

Adrian diam. Dan diamnya itu lebih jujur dari jawaban apapun.

Clara mengangguk pelan, anggukan orang yang baru saja mendapat konfirmasi dari sesuatu yang sudah lama ia curigai.

"Aku membangun semua ini..." suaranya retak untuk pertama kalinya, hanya sedetik sebelum ia menariknya kembali, "semua rencana ini, semua yang aku lakukan, bukan hanya untuk Claresta. Kamu tahu itu." Ia memalingkan wajahnya ke jendela. "Tapi kamu tidak pernah melihat itu."

"Clara." Adrian melangkah ke arahnya lagi. "Aku...."

"Sudah cukup, Adrian." Clara berkata. Suaranya kembali datar. Kembali terukur. Seperti retak tadi tidak pernah ada. "Aku tidak mau bicara lagi malam ini."

"Kita perlu menjelaskan..."

"Aku bilang sudah cukup."

Adrian menatap punggung Clara yang menghadap jendela,

bahu yang tegak, tangan yang menggenggam, kepala yang tidak berbalik.

Ia membuka mulutnya. Lalu menutupnya lagi. Dan berjalan keluar dari dapur.

Clara berdiri di dapur yang sepi itu. Mendengar langkah kaki Adrian naik ke lantai atas. Mendengar pintu kamar di banting. Lalu hening.

Ia berdiri bersandar ke counter dengan kedua tangannya bertumpu di pinggir sink, menatap air yang menetes pelan dari keran yang tidak ditutup sempurna.

Clara menutupnya, Lalu ia membungkuk sedikit, kepala yang tertunduk, bahu yang akhirnya tidak tegak, napas yang keluar dalam satu hembusan panjang yang sudah ia tahan sejak Adrian masuk tadi.

Jika Elena masih ada. Adrian tidak akan pernah sepenuhnya memilihku.

Elena Wirawan.

Clara berucap dalam hati dengan bara yang sudah lama menyala pelan di tempat yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun.

Elena Wirawan tiba-tiba datang seolah dunia ini miliknya. Merusak segalanya yang sudah aku susun dengan rapi.

Elena Wirawan yang bahkan saat tidak ada di ruangan ini tetap berhasil mengambil Adrian dari sini.

Clara menegakkan punggungnya. Lalu berkata dengan penuh kebencian.

"Akan ku buat hidupmu tidak mudah, Tuan putri."

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!